...MISTERI MAYAT TERPENDAM...
...Dewa Payana...
...Bagian 3...
“Kenapa kamu bisa seteledor ini sih, Dek?” tanya Arvan seraya mendekati daun pintu dapur yang menuju belakang luar rumah. “Kamu lupa lagi mengunci pintu dapur, hhmmm?”
‘Lupa mengunci pintu dapur?’ Lasmi bertanya-tanya heran. ‘Bagaimana mungkin? Aku ingat betul, sejak sore tadi aku sudah mengunci pintu itu. Lagipula, sehabis bebenah, aku gak lagi pergi ke belakang. Buat apa?’
“Tapi aku udah menguncinya tadi, Mas,” elak Lasmi mencoba menjelaskan pada Arvan suaminya.
Balas lelaki tersebut, “Ini buktinya … pintu masih sedikit terbuka, Dek. ‘Gimana coba kalo sampe ada orang masuk ke dalam rumah? Sementara cuma ada kamu dan Lingga di sini. Haduh, kamu ini, Dek … Dek ….”
Lasmi berpikir-pikir kini.
‘Apa mungkin … bayangan tadi itu benar-benar ada orang yang masuk ke dalam rumah, ya?’ tanyanya masih keheranan. ‘Tapi siapa dan mau apa? Gak ada barang-barang yang hilang di rumah ini, kok.’
Lasmi memperhatikan dengan saksama setiap perabotan rumah tangga yang ada di dalam rumah. Semuanya masih tertata dan berada di tempatnya masing-masing. Tidak ada satu pun yang hilang maupun berpindah.
Arvan segera memeriksa kondisi pintu dan memastikan tidak ada yang rusak. Namun semuanya dalam keadaan baik. Tidak ditemukan bekas congkelan maupun pengrusakan sama sekali.
“Besok-besok … sebelum kamu masuk kamar, kamu pastiin semua pintu dalam keadaan terkunci ya, Dek,” kata Arvan usai merapatkan kembali daun pintu dapur tadi. Lalu memeriksa kamar mandi untuk memastikan tidak ada seseorang yang berada di sana. “Lagian … kamu ini orangnya gampang panikan, sih. Aku ‘kan, tadi lagi lembur, Dek. Nyari tambahan uang buat bayar sisa utang kita ke Pak Sodikin.”
Lasmi memahami kesibukan yang sering dilakukan oleh suaminya tersebut. Semenjak memutuskan untuk membeli rumah tersebut, Arvan memang kerap mencari uang tambahan guna mencukupi kebutuhan hidup serta membayar sisa pembelian yang belum sepenuhnya lunas.
Rumah yang dipilih oleh Arvan dan Lasmi memang bukan hunian baru. Pemilik sebelumnya bernama Sodikin adalah seorang duda tua sakit-sakitan dan sedang membutuhkan biaya untuk berobat. Harganya pun relatif murah dan sangat terjangkau.
“Bagaimana, Dek?” tanya Arvan saat itu, meminta pendapat Lasmi atas pemilihan rumah tua yang hendak mereka beli tersebut. “Kondisi rumahnya memang gak begitu bagus-bagus amat. Tapi, buat sementara, kita bisa menempatinya dengan nyaman, kok. Tinggal ngerombak sana-sini sedikit, biar kelihatan bagus.”
Lasmi berpikir-pikir terlebih dahulu beberapa saat sambil melihat-lihat kondisi rumah tersebut serta keadaan di sekitar tempat. Letaknya berada persis di pinggir sebuah jalan perkampungan dan tidak terlalu ramai, bersebelahan dengan hunian yang sama-sama sudah terlihat lapuk yang didiami oleh seorang perempuan tua bernama Bu Tedjo bersama anak gadisnya, Sulis.
Terletak agak berjauhan dengan rumah tetangga-tetangga lain, tapi memiliki pemandangan asri jika menengok ke belakang. Tepatnya di belakang pintu dapur yang langsung menghadap perkebunan luas, menjorok ke bawah.
“Tapi harga yang ditawarkan Pak Sodikin masih di atas sisa tabungan kita, Mas,” kata Lasmi agak sedikit keberatan. “Uang kita … mungkin … cuma sepertiganya saja. Terus sisanya lagi, mau nyari tambahan dari mana?”
Arvan tersenyum dan tampak tenang. Ujar lelaki tersebut kemudian, “Justru itu, Dek. Pak Sodikin nawarin ke aku, soal sisanya itu … kita bisa ngangsurnya per bulan sampe lunas nanti.”
Timbul rasa ragu pada hati Lasmi. Dengan penghasilan Arvan yang sekarang, apakah mereka mampu membayar sisa angsurannya itu setiap bulan? Sementara pekerjaan suaminya yang sekarang, penghasilannya pun sangat jauh berbeda dari gaji sewaktu sebelum terkena PHK massal. Namun jika tidak segera berpindah dari tempat tinggal dulu, justru ketidaknyamanan Lasmi semakin tidak bisa terbendung, karena harus hidup seatap bersama Bu Marsih, orangtua angkat Arvan sekaligus berperan sebagai mertuanya Lasmi.
Maka tidak ada pilihan lain bagi perempuan tersebut agar bisa segera hengkang dari rumah Bu Marsih, terkecuali membeli hunian lain dengan harga terjangkau.
“Kapan lagi kita bisa pindah dan memiliki rumah sendiri, Dek,” kata Arvan sebelumnya. “Mumpung ada duit,” imbuh lelaki itu memberi saran. “Kalo dikira-kira sih, emang kita gak mungkin bisa membeli rumah yang bener-bener nyaman dan baru dengan kondisi keuangan kita sekarang. Yaaa, paling enggak … kita gak perlu ngontraklah. Takutnya malah seumur-umur kayak ‘gitu. Kapan bisa mandirinya, Dek?”
Benar juga jika dipikir-pikir, menurut Lasmi, perlu bertahun-tahun dan biaya besar jika hendak mengambil kredit perumahan. Sekarang ada tawaran yang cukup ringan, dimana sisa angsuran kekurangan pembayaran atas pembelian rumah bekas Pak Sodikin tidak akan memakan waktu lama. Hanya saja perlu kesabaran serta efisiensi keuangan sehari-hari untuk mencukupi kebutuhan hidup. Itu pun karena Lintang —anak mereka— masih berusia balita dan belum membutuhkan biaya pendidikan.
Maka, tanpa dipikir panjang lagi, Lasmi segera menerima saran dari Arvan agar lekas menyanggupi penawaran yang diberikan oleh Pak Sodikin. Rumah tersebut pun dibeli dengan harga yang terbilang murah serta syarat tidak memberatkan. Tidak menjadi masalah, walaupun hanya terdiri dari beberapa ruas ruangan; depan, tengah, satu kamar tidur, dan dapur yang bersebelahan dengan kamar kecil.
Dengan pekerjaan baru yang dimiliki oleh Arvan sekarang, biaya kebutuhan hidup rumah tangga mereka memang sedikit terkendala. Maka dari itu, setiap ada kesempatan, lelaki tersebut sering menghabiskan hari-harinya dengan menunaikan kewajiban di tempat kerja serta menjalani rutinitas jam lembur demi mendapatkan kelebihan penghasilan.
Disamping karena keadaan tersebut tadi, lokasi pekerjaan Arvan pun tidak begitu jauh dari keberadaan hunian mereka yang baru. Paling membutuhkan waktu tidak lebih dari satu jam perjalanan pulang-pergi dengan menggunakan kendaraan bermotor yang mereka miliki.
Hal-hal lainnya tidak terlalu dipikirkan oleh pasangan Arvan dan Lasmi, termasuk keberadaan tetangga mereka yang bernama Bu Tedjo tersebut, perempuan tua aneh berambut putih dan selalu digelung di atas kepala.
“Kalian yang beli rumahnya si Sodik itu, ‘kan?” tanya Bu Tedjo pada awal Arvan dan Lasmi bertemu dengannya.
“Betul, Bu,” jawab Arvan setelah melirik istrinya, Lasmi.
Perempuan tua itu menyunggingkan seulas senyum tawar. Sorot matanya begitu dingin dan tampak acuh jika tidak disapa terlebih dahulu.
Sambil mengunyah daun sirih yang telah dicampuri sedikit bahan rempah-rempah khusus, Bu Tedjo melirik-lirik sejenak pada sosok Arvan.
“Syukurlah ….,” kata perempuan tua tersebut kemudian. “Akhirnya sekarang … aku mempunyai tetangga baru. Kuharap, semoga kalian betah tinggal di rumah baru kalian itu.”
“O, iya … tentu saja, Bu,” balas Lasmi dengan senyum sedikit dipaksakan, sembari memegangi lengan suaminya.
Sorot mata Bu Tedjo dan sikap dinginnya, membuat Lasmi merasa agak tidak nyaman berlama-lama mengobrol dengan tetangganya tersebut.
Timpal Arvan sedikit berbasa-basi, “Doain aja, Bu. Moga istri saya ini juga betah tinggal di sini dan kita bisa bertetangga dengan baik.”
Bu Tedjo mengikik sebentar sambil memperhatikan Arvan dan Lasmi secara bergantian dan terakhir menatap sayu pada Lintang yang berada dalam belitan kain carik di gendongan ibunya.
‘Anak yang manis ….,’ puji perempuan tua itu disertai kelopak mata menyipit pada sosok Lintang. ‘Tapi sayang sekali, dia terlahir dari hubungan terkutuk kedua orangtuanya. Hhmmm, aku mencium ada aroma lain dari anak itu ….’
...BERSAMBUNG ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments