...MISTERI MAYAT TERPENDAM...
...Dewa Payana...
...Bagian 18...
"A-apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya Ibu Tedjo seraya menghampiri anaknya yang berkondisi polos. "A-apa yang kalian bertiga lakukan di rumah ini?"
Lalu pandangan orang tua tersebut beralih pada sosok Sarmin yang tergeletak dengan keadaan yang serupa dengan Sulis. Hal yang paling mengejutkan, tentu saja dengan adanya lelehan darah di lantai. Itu berasal dari kepala lelaki itu serta Melati.
"M-mamaaakkk ....," panggil Sulis dengan suara lirih.
Napas perempuan itu masih sedikit tersengal-sengal dan sesekali mengelus lehernya yang kesakitan. Dia duduk berjongkok, menyender pada dinding ruangan dengan kaki melipat untuk menutupi d*da serta **** ************* dari pandangan Ibu Tedjo.
Sejenak ibunya berpikir-pikir dengan memperhatikan kondisi tubuh putrinya dan Sarmin. Lantas kembali beralih pada Melati.
'Sepertinya ... telah terjadi sesuatu antara anakku dan lelaki itu,' bisik Ibu Tedjo di dalam hati. 'Lalu ... hubungannya dengan anaknya Pak Sodikin itu, apa pula?'
Sebagai orang tua yang sudah banyak merasakan asam-garam kehidupan, benaknya pun mulai mengerucut dan menduga-duga. Apalagi setahu dia, Sarmin dan Melati mempunyai hubungan dekat sebagai sepasang kekasih. Lantas mengingat kondisi Sulis sekarang ....
"Ya, Tuhan ....," desah Ibu Tedjo seraya mengelus d*da.
Merasa kasihan terhadap Sulis, maka langkah pertama yang dilakukan oleh perempuan tua tersebut tentunya adalah mendekati anaknya. Dia menarik tubuh dan membantu berdiri.
Sulis sedikit menolak karena merasa malu. Namun tarikan tangan ibunya yang keras, mau tidak mau segera dia turuti.
"Masuk kamarmu, Nak, dan jangan keluar sebelum Mamak pinta," ujar Ibu Tedjo sembari menuntun anaknya memasuki kamar. "Kenakan pakaianmu dan tunggu di sini."
Lagi-lagi Sulis hanya bisa menurut pasrah. Dia beranjak menuju kamar tidur, dibantu oleh ibunya.
Ibu Tedjo mengambilkan beberapa potong pakaian dari lemari dan menyodorkannya pada Sulis. Setelah itu dia keluar, kembali dari sana, setelah menutup rapat pintu kamar.
'Ya, Tuhan ....,' desah kembali orang tua tersebut seraya memperhatikan kedua sosok muda-mudi yang tergelatak di lantai bersimbahkan darah. 'Apakah mereka masih hidup?' tanyanya dengan perasaan was-was.
Setelah memastikan pintu rumah dalam keadaan terkunci rapat, Ibu Tedjo segera mendekati tubuh Sarmin dan Melati. Memeriksa nadi keduanya dengan saksama.
'Astagaaa ....,' pekik perempuan tua tersebut dengan wajah memucat pasai. Spontan tangan serta tubuhnya bergetar hebat dan jatuh terduduk sambil memandangi kedua sosok tadi. 'Mereka sudah mati,' imbuhnya kembali di antara detak jantung yang mengetuk kencang. 'Apa yang aku lakukan tadi? Aku hanya berusaha melindungi anakku sendiri. Aku tidak bermaksud untuk ....'
Sejenak Ibu Tedjo mengingatkan saat baru tiba di rumah tadi. Beberapa meter menjelang menginjakkan kaki di beranda depan sana, tiba-tiba dia seperti mendengar lenguhan seseorang dari dalam, ditambah dengan kondisi pintu yang terkuak lebar.
"Sulis ....!" seru Ibu Tedjo langsung teringat pada sosok anaknya yang ditinggal sendirian di rumah sejak kepergiannya tadi petang.
Buru-buru perempuan tua itu pun mempercepat langkah dan setiba di ambang pintu yang terkuak lebar itulah, dia melihat Sulis tengah dicekik oleh lelaki yang dia kenal sebagai Sarmin.
Maka tanpa berpikir panjang, dia pun segera memburu mereka berdua dan melayangkan batang tongkat di tangannya ke arah kepala Sarmin.
BUK!
Tidak ayal, hantaman keras yang disertai tenaga besar tersebut mengenai kepala calon menantu tetangganya tersebut. Sarmin langsung jatuh tersungkur ke lantai, sekaligus melepaskan cengkeraman jemarinya pada leher Sulis.
Sungguh Ibu Tedjo tidak bermaksud melukai anak muda tersebut. Dia hanya ingin menyelamatkan Sulis yang tampak sudah kepayahan dan hampir saja kehabisan napas dicekik Sarmin.
Kejadiannya begitu cepat berlalu dan kini kedua sosok muda-mudi itu tergeletak di lantai rumahnya dalam keadaan tidak bernyawa. Jika saja waktu bisa kembali diulang, Ibu Tedjo berharap bukanlah kematian yang harus mengakhiri peristiwa nahas tersebut. Namun kini, semuanya telah terjadi.
'Ya, Tuhan ... bagaimana sekarang? Tidak mungkin aku memberitahukan kejadian ini pada orang-orang,' kata Ibu Tedjo merasa bingung. 'Karena ini pasti akan menyebabkan anakku terseret dalam masalah ini.' Dia memandang sosok Melati. 'Gadis itu ... aku sendiri tidak tahu, bagaimana dia ada di sini dan menemui ajal di dalam rumahku sendiri. Apa dia mati oleh kekasihnya ... ataukah justru Sulis yang melakukannya?'
Tidak mungkin bagi Ibu Tedjo mempertanyakan itu semua sekarang, di saat kondisi anaknya yang sedang tertekan seperti itu. Walau bagaimanapun juga, dia bersikeras untuk tetap melindungi putri semata wayangnya tersebut.
Maka, setelah berpikir panjang, akhirnya perempuan tua itu memutuskan untuk segera membereskan masalah tersebut secepatnya dan secara sendirian. Semakin sedikit yang mengetahui kejadian itu, besar kemungkinan untuk bisa mencari selamat dari jeratan hukum.
Seorang diri, Ibu Tedjo memutuskan untuk menguburkan mayat Sarmin dan Melati di dalam rumahnya. Ruangan yang paling tepat, tentunya adalah bagian terbelakang. Dapur, begitu pikir perempuan tua yang berprofesi sebagai dukun pengobatan alternatif tersebut.
Susah payah dia menggali tanah dengan kedalaman yang tidak begitu menjorok, akan tetapi yang terpenting tentunya bisa segera melenyapkan bukti serta jejak-jejak.
Kondisi tempat tinggal yang agak berjauhan dengan tetangga lain, selain rumah Pak Sodikin, tentunya turut memberi keuntungan bagi Ibu Tedjo untuk mempersempit aroma kebusukan dari apa yang telah dia lakukan terhadap kedua muda-mudi tersebut.
Sebagai seorang dukun mumpuni, Ibu Tedjo paham betul bagaimana memperlakukan dan mencegah agar aroma kedua jenazah tadi, yakni Sarmin dan Melati, tidak sampai menimbulkan atau mengeluarkan aroma tertentu dengan kondisi pemakaman yang tidak begitu dalam tersebut. Ditambah sedikit ritual khusus, perempuan tua itu pun melakukan lelaku khusus untuk mengunci agar arwah muda-mudi itu tidak sampai bergentayangan.
Hampir menjelang pagi, barulah semuanya bisa dituntaskan. Ibu Tedjo bangkit dari posisi semedinya di depan hamparan lantai tanah dapur yang dijadikan penguburan kedua mayat sosok muda-mudi tadi. Kondisinya sudah merata dan rapi kembali. Nyaris tidak memperlihatkan adanya keanehan pada permukaan dapur rumahnya tersebut. Karena letak dan lokasi yang ada adalah di dekat pondasi atau sudut ruangan tempat dimana rak piring diletakkan. Jika menarik garis lurus, kuburan Melati dan Sarmin berada persis bersebelahan dengan dapur rumah milik keluarga Arvan.
Setelah semuanya dirasa usai dituntaskan, Ibu Tedjo pun bergegas menuju kamar putrinya dan bermaksud untuk memeriksa kondisi Sulis di dalam sana.
"Nak ....," panggil orang tua itu begitu membukakan pintu kamar.
Tampak Sulis sedang terbaring memiring di atas tempat tidur, membelakangi arah pintu, masih dalam keadaan telanjang bulat seperti sebelumnya.
"Ya, Tuhan ... Sulis anak Mamak ....," desah Ibu Tedjo miris dan lekas mendekati sosok anaknya.
Hal pertama yang dilakukan adalah dengan memeriksa tubuh Sulis untuk memastikan bahwa dia masih hidup. Perempuan tua itu bersyukur senang, karena kondisi badan anak semata wayangnya tersebut masih menghangat dan nadi berdenyut.
'Sulis ... Mamak tidak menyangka, kalau selama Mamak tinggal pergi sendirian di rumah, ternyata kamu melakukan hal terkutuk dengan anak laki-laki itu, Nak,' kata Ibu Tedjo di dalam hati setelah memeriksa **** ***** Sulis. Tampak seperti ada bercak cairan putih yang sudah mengering di sana dan sebagai orang tua berpengalaman, dia tahu makna akan hal tersebut. 'Entah bagaimana awalnya kamu bisa melakukan itu dengan dia, Nak? Mengapa tak kamu katakan pada Mamak, kalau kamu menyukai anak laki-laki jah*nam itu. Tentu tak akan seperti inilah harus berakhir dan terjadi ....'
Setelah diperiksa, ternyata Sulis dalam keadaan pingsan. Di sekujur kulit lehernya terdapat memar membiru bekas cekikan Sarmin.
Ibu Tedjo tidak menyangka sama sekali, bahwa kondisi putrinya itu kini, adalah awal dari segala bencana yang siap-siap akan dihadapi oleh Sulis kelak.
Apa yang terjadi?
Anak perempuan dukun tua tersebut mendadak kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Bukan hanya itu saja, tekanan batin yang mendera begitu hebat, turut pula menyebabkan gangguan besar pada kejiwaannya.
Sulis mendadak menjadi perempuan pendiam, juga penakut. Keceriaannya pun sirna. Kini dia berubah menjadi sosok yang dingin, kaku, dan dengan sorot mata menyeramkan. Hal itu pula yang menyebabkan dia kini terlihat seperti layaknya perempuan aneh ....
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments