Bagian 19

...MISTERI MAYAT TERPENDAM...

...Dewa Payana...

...Bagian 19...

" ... Sampai sekarang, keberadaan Melati dan Sarmin pacarnya, masih belum ada kabar lanjutannya, Mbak," ucap Bu Ningsih di akhir penuturannya pada Lasmi. "Kalo saya gak salah denger sih, Melati dibawa kabur oleh Sarmin ke sebuah tempat terpencil, dan seringkali mereka berpindah-pindah menetap."

"Hhmm, masa sih? Kabar dari siapa?" tanya Lasmi tidak percaya.

Mata Bu Ningsih melirik ke arah dimana rumah Lasmi berada. "Siapa lagi ....," katanya kemudian diiringi senyuman kecut. "Semua orang percaya, apa pun yang disampaikan sama dia."

"Bu Tedjo?" Lasmi ingin memastikan sosok yang dimaksud oleh Bu Ningsih barusan.

Kembali perempuan tua tersebut tersenyum masam dan berkata, "Mbak pikir, sedari tadi kita lagi ngomongin siapa? Hiks."

Sosok istri Arvan itu mengangguk-angguk pelan. Namun jauh di lubuk hati mendalam, timbul pertanyaan-pertanyaan susulan yang belum sanggup dia jawab sendiri kini.

'Sepertinya, hampir semua warga di sini menaruh rasa takut pada Bu Tedjo,' pikir kembali Lasmi sibuk sendiri. 'Pertanyaannya adalah mengapa. Ya, kenapa mereka sampe harus takut? Bukannya selama ini Bu Tedjo dikenal sebagai dukun berobat? Orang yang suka membantu warga yang mengalami sakit di luar kemampuan pihak medis.'

"Terus ... kalo emang keberadaan anaknya Pak Sodikin dan kekasihnya itu sudah diketahui, kenapa sampai sekarang belum ada inisiatif mendatangi kediaman mereka, Bu?" tanya Lasmi. "Mungkin dari pihak Pak Sodikinnya sendiri?"

Bu Ningsih mendengkus, seraya menggelengkan kepala. "Hhmmm, apa Mbak gak denger kata-kata saya tadi, kalo mereka berdua sering berpindah-pindah tempat?" ucapnya dengan nada meninggi.

"Pasangan perumahtangga mana yang tinggalnya berpindah-pindah ya, Bu?" tanya Lasmi menyindir. "Lagipula, kalo dipikir-pikir ... hubungan antara Melati dan Sarmin itu ... kayaknya gak sebentar alias sudah lama. Apa iya, dalam jangka selama itu pula, mereka belum mendapat restu dari Pak Sodikin? Ini hanya kemungkinan saja, ya. Terus ... Sarmin membawa kabur Melati menjelang hari pernikahan mereka? I-ini ... kok, sulit banget ya buat saya---"

BUK!

"Ssttt ....," tukas Bu Ningsih seraya menepuk lengan Lasmi. "Jangan gegabah kalo ngomong, Mbak. Hati-hati."

Kening Lasmi berkerut hebat dan spontan menatap wajah tetangga jauhnya tersebut. Kemudian bertanya penasaran dengan suara hampir berbisik, "Emangnya kenapa sih, Bu?"

"Pokoknya hati-hati aja, Mbak. Jangan asal bicara mengenai itu sembarangan. Sebab, takut ... jangan sampe kejadian yang menimpa Pak Sodik itu, terulang kembali pada kita-kita," ujar Bu Ningsih disertai kilatan mata aneh saat berbicara.

"Apa? Pak Sodikin maksud Ibu?" Lasmi sampai mengulang mengucapkan nama lelaki yang satu itu dan langsung diangguki oleh Bu Ningsih.

Kemudian perempuan tua tersebut menjawab kembali, "Iya, maksud saya ... Pak Sodikin. Pemilik lama rumah yang Mbak Elas beli itu."

Lasmi masih penasaran dan sedikit tidak merasa sabar, karena penuturan yang diungkapkan oleh Bu Ningsih tersebut terpatah-patah atau tidak membulat secara sekaligus. Maka dari itu, dia pun kembali bertanya dan bertanya. "Emangnya kenapa sih dengan Pak Sodikin, Bu?"

"Lho, masa Mbak ini gak tahu? Selama ini emang gak pernah ketemu sama Pak Sodik?"

Lasmi menggelengkan kepala. "Selama ini hanya suami saya yang ketemu sama Pak Sodikin, Bu. Saya belom pernah ketemu sama dia secara langsung," tuturnya. "Tapi ... selama itu pula, kami gak pernah punya pikiran apa pun tentang Pak Sodikin. Yang terpenting bagi kami adalah ... segera memiliki rumah sendiri. Itu saja, Bu."

Sejenak Lasmi teringat pada serangkaian kisah pahit yang kerap dia dapatkan selama tinggal bersama Ibu Marsih, mertuanya sekaligus ibu angkat dari Arvan.

Menurut penuturan lanjutan dari Bu Ningsih, setelah menunggu lama kabar tentang keberadaan Melati yang belum kunjung ditemukan, Bu Tedjo dan Pak Sodik terlibat perselisihan kecil. Entahlah tentang perkara apa, tidak banyak orang yang tahu. Yang pasti sejak itu, Pak Sodik seringkali sakit-sakitan.

" ... Dia pergi dan menjual rumah untuk biaya berobat, atas penyakit yang belum juga kunjung sembuh," kata Bu Ningsih akhirnya. "Sekarang, Pak Sodik lebih suka menetap di perbukitan sana, mengurus persawahan dan perkebunan."

'Hhmmm, pantes aja ... Mas Arvan sering ngeluh kecapekan tiap kali habis nemuin Pak Sodikin,' pikir Lasmi di dalam hati.

Tidak ada tambahan khusus di pengujung pembicaraan mereka berdua setelah itu. Padahal, Lasmi sangat penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi dengan pemilik rumah yang dia beli sebelumnya tersebut.

Ini tetap menjadi sebuah teka-teki yang berkepanjangan.

Lantas, Lasmi pun kembali ke rumah bersama Lintang di dalam gendongan. Entahlah, terhadap anaknya pun, terkadang dia merasakan ketidaknyamanan jika harus meninggalkan anak berusia empat tahun tersebut sendirian di rumah. Terlebih setelah kejadian sebelumnya, dimana terdapat luka memar di kaki anak itu usai tertidur siang.

Awal-awal menemukan anaknya demikian, Lasmi pun panik dan segera menghubungi nomor Arvan. Namun sosok Bu Tedjo pun muncul di antara mereka. Dia datang untuk menolong.

"Saya denger suara Mbak ini barusan. Saya pikir ada apa, makanya buru-buru ke sini ....," kata Bu Tedjo beralasan.

Kekalutan yang sedang dirasakan oleh Lasmi, tidak serta merta turut memperhatikan darimana sosok Bu Tedjo tersebut datang. Tahu-tahu saja sudah berdiri di ambang pintu dan memanggil-manggil Lasmi.

Setelah dijelaskan seadanya, lantas tanpa dipinta pun, Bu Tedjo segera merangsek mendekati sosok Lintang.

Sekilas, anak tersebut tampak seperti sedang tertidur lelap. akan tetapi kelopak matanya kerap bergerak-gerak disertai lenguhan napas pendek-pendek.

"Ada apa dengan kaki anak saya, Bu? Perasaan ... tadi pagi belom saya lihat kayak 'gitu," kata Lasmi menjelaskan. "Tahu-tahu ... barusan saya perhatiin, kok merah-merah begitu? Apakah ini---"

Tukas Bu Tedjo secepatnya, meminta Lasmi untuk tetap tenang, "Gak apa-apa, Mbak. Tenang saja. Anakmu baik-baik saja, kok."

"Tapi kakinya itu, Bu. Merah-merah kayak habis di---"

"Namanya Lintang, 'kan?" tanya Bu Tedjo aneh dan diangguki oleh Lasmi. "Dia anak hebat, bahkan cukup kuat."

Lasmi melirik pada sosok perempuan tua tersebut. "Maksud Ibu ....?"

"Ah, enggak ..., gak apa-apa. Maksud saya ..., anakmu ini baik dan sehat, kok," ujar Bu Tedjo lekas tersadar dan tersenyum kecut sambil memalingkan muka dari tatapan. Dia mengusap-usap kaki Lintang pada area betis yang terdapat warna kemerahan seperti bekas kekerasan.

Bu Tedjo merapal beberapa bait kalimat yang tidak dimengerti oleh Lasmi, lalu meniupkan napas tiga kali ke dalam sebuah botol.

"Olesin kaki anakmu itu dengan minyak ini setiap hendak tidur ....," kata Bu Tedjo usai melakukan ritual khususnya.

Lasmi menerima dengan tangan bergetar dan hati masih diliputi berbagai pertanyaan aneh.

'Apakah Lintang pernah jatuh? Terkilir? Terkena pukulan benda lainnya mungkin?' membatin perempuan tersebut seorang diri. 'Tapi ... gak sekalipun dia mengeluh apa-apa. Semuanya tampak baik-baik aja, Tapi sekarang ....'

Kembali dia memperhatikan memar di bagian betis Lintang dengan saksama. Sepintas jika diperhatikan lebih mendalam, bentuk merahnya seperti bekas cengkeraman tangan orang dewasa. Lengkap bersama garis-garis vertikal yang membentuk seperti jari-jemari.

...BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!