...MISTERI MAYAT TERPENDAM...
...Dewa Payana...
...Bagian 6...
"Heh, Dek!" Arvan mencolek lengan sang istri yang tampak sedang termenung di sampingnya. "Diajak ngobrol kok, malah ngelamun?" imbuh kembali lelaki tersebut seraya melirik-lirik ke arah Lasmi.
"Ah, Mas ....," desah perempuan itu begitu tersadar dari bayang-bayang kejadian yang telah dia lalui beberapa hari sebelumnya.
"Lagi mikirin apaan sih, Dek? Nih, makanan kesukaanmu. Dari tadi kamu anggurin terus, ih," goda Arvan, kali ini sambil menyuapi istrinya dengan penganan yang telah dia beli di tengah perjalanan pulang tadi.
Lasmi menggeleng. Tampaknya tidak sedang bernafsu sama sekali dengan jajanan kesukaannya tersebut.
Arvan mendecak bingung. Terpaksa dia nikmati sendiri kini seraya melihat-lihat ke arah meja makan. Kosong. Hanya ada seonggok piring yang ditutupi dengan selembar kertas koran di atasnya.
"Bu Tedjo ngasih makanan lagi?" tanya lelaki tersebut setelah mengamati onggokan piring tadi.
Lasmi mengangguk, lantas menjawab pelan, "Hampir tiap sore dia ngirimin masakan, Mas. Sampe-sampe, aku sendiri bingung."
Arvan mengerutkan kening, heran. Balasnya kemudian di antara kunyahannya, "Kok, malah bingung? Bukannya malah bagus? Jadi ... kamu gak perlu lagi repot-repot masak."
Lasmi melirik pada suaminya diiringi dengkus napas berat.
"Iya, sih. Tapinya ....," ucap perempuan tersebut tidak lantas menuntaskan kalimatnya. Sejenak dia beralih menoleh ke arah piring di atas meja tadi. " ... Aku jadi ngerasa gak enak aja, Mas."
"Gak enak kenapa?" tanya kembali Arvan masih bingung dengan apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan oleh istrinya itu. "Gak usah mikir yang enggak-enggak deh, Dek. Mestinya, justru kita bersyukur, punya tetangga baik seperti Bu Tedjo itu. Walaupun sebelumnya ... yaaa ... dia terlihat seperti orang aneh, tapi seenggaknya ... sekarang malah kebalikannya, 'kan?"
Lasmi tidak menimpali ucapan suaminya barusan. Pikiran perempuan itu ---justru malah--- teringat pada percakapan dia dengan beberapa tetangga lain sewaktu berbelanja ke sebuah warung tadi siang.
'Apa aku ceritain aja ya, sama Mas Arvan?' tanya Lasmi di antara perasaan bimbangnya. 'Tapi ... aku sendiri sebenarnya belum begitu yakin dan percaya sama omongan mereka tentang Bu Tedjo tadi siang itu. Mas Arvan pun kayaknya begitu, sih. Jadinya ... yaaa, percuma juga kalo capek-capek aku sampein.'
"Dek ....," panggil Arvan kembali mengoyak lamunan istrinya. "Ngelamun lagi?" tanyanya terheran-heran. "Kenapa lagi, sih? Ada apa? Masih mikirin kejadian yang tadi?" cecar lelaki tersebut dengan empat pertanyaan sekaligus.
Spontan Lasmi menoleh ke arah dapur. Dimana sebelumnya mendengar suara-suara gaduh, yang dia masih yakini, berasal dari ruangan paling belakang tersebut. Apalagi dengan kondisi pintu yang terkuak setelah diperiksa oleh Arvan tadi.
Refleks lelaki itu pun turut melihat ke arah pandangan istrinya. Kemudian dia menarik napas dalam-dalam.
"Aku juga paham kok, Dek," kata Arvan seraya membereskan bungkusan sisa makanan yang belum habis dia santap di depannya. "Kita ... terutama kamu, masih belum terbiasa tinggal di sini. Masih butuh waktu untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru ini. Tapinya ...." Ucapan lelaki itu terjeda sebentar untuk melihat raut wajah Lasmi yang tampak murung. "Bukannya ini pilihan kita berdua, buat ngejauh dari Ibu?"
"Aku gak mempermasalahkan tentang rumah ini, Mas," balas Lasmi perlahan. "Tapi ... situasi di sini akhir-akhir ini, terutama---"
"Suara-suara aneh itu?" tukas Arvan diiringi senyuman kecutnya. "Ah, mungkin itu cuma halusinasi kamu aja, Dek. Buktinya ... selama aku di rumah, aku gak pernah denger atau nemuin yang aneh-aneh tuh di sini. Semuanya tampak normal-normal aja."
Lasmi mengiyakan di dalam hati. Benar sekali apa yang dikatakan oleh suaminya barusan. Kejadian-kejadian yang dia rasa ganjil tersebut, seakan-akan tidak pernah muncul atau mendadak menghilang begitu Arvan berada di rumah.
'Apa mungkin ini cuma perasaanku saja?' tanya Lasmi pada dirinya sendiri. 'Tapi suara-suara itu begitu nyata aku denger dan selalu berasal dari dapur. Itu pun seringkali diawali dengan perilaku Lintang yang suka ngedadak nangis-nangis.'
"HP kamu masih ada kuota internetnya 'kan, Dek? Tadi waktu kita ngobrol ... kok, ngedadak nomor kamu jadi gak bisa aku hubungi," ucap Arvan dan Lasmi pun tiba-tiba teringat pada kejadian tadi. Di tengah percakapan, mendadak hubungan telepon mereka terputus. Berulangkali dia mencoba untuk menyambungkannya kembali, tapi tetap nihil.
"Lho, aku pikir justru kamu yang kehabisan paket data, Mas," timpal Lasmi keheranan. "Aku coba berkali-kali, tetep aja gak terhubung."
Arvan mengekeh sejenak, lantas menjawab, "Lah, di kantor ... aku 'kan, pake wifi, Dek. Mana ada kehabisan paket internet. HP kamu aja 'ngkali yang begitu?"
"Gak tahu, Mas," balas Lasmi sambil menggelengkan kepala. "Perasaan masih banyak, deh. Orang baru kemaren ngisi yang 4 GB, kok."
" ... Atau jaringan aja 'ngkali ya, yang lagi error?" timpal Arvan menduga-duga. "O, iya ... kamu mau makan ini gak? Kalo enggak, aku taroh di meja aja, ya?"
Lasmi menggeleng pelan dan menjawab, "Simpen aja deh, Mas. Tutupin pake tudung saji."
Arvan manggut-manggut. Dia segera bangkit dan membawa makanan yang dibelinya tadi dan menaruhnya di atas meja. Tidak lupa, sesuai dengan permintaan istrinya barusan, dia pun mengamankannya dengan penutup makanan yang terbuat dari bilah bambu.
Sebelum kembali ke tempat semula, lelaki itu memperhatikan beberapa saat pada onggokan piring yang berisi makanan pemberian dari Ibu Tedjo. Begitu disingkap penutup kertas korannya, hanya berupa masakan biasa dan tampak tidak menggugah selera.
'Masakan nenek-nenek ....,' seloroh Arvan merasa geli sendiri kala membayangkan sosok perempuan tua penghuni rumah sebelah itu mengolah masakan tersebut.
BRAK!
"Astagaaa ....!" seru Arvan terkaget-kaget. Spontan dia menoleh ke arah suara barusan terdengar. Dari ruangan dapur. Begitu menoleh ke belakang, sosok Lasmi sudah tidak ada lagi di tempatnya semula.
Lelaki itu berpikir, mungkin istrinya itu sudah beranjak duluan ke kamar tidur.
Maka dengan rasa penasaran, Arvan pun segera melangkah menuju ruangan dapur untuk melihat-lihat. Gerangan benda apa yang terjatuh tadi di sana.
'Tikus sialan ....,' gerutu Arvan begitu melihat sesosok makhluk kecil berwarna abu-abu dan moncong mengerucut ke depan, berlari di antara peralatan dapur yang tersusun rapi di dalam rak. Kemudian matanya tertuju pada sebuah wadah, tergeletak di lantai dapur.
"Huuss ... huuss!" seru Arvan hendak mengusir makhluk kecil tersebut.
Tikus itu berlari kaget dan ketakutan, menyelip di antara tumpukkan perabot dapur. Lalu berusaha kabur dengan cepat dan tangkas menaiki dinding. Kemudian melompat menuju sudut ruangan dapur.
Tiba-tiba saja, timbul rasa penasaran di dalam hati lelaki tersebut. Ditunggu beberapa lama, sosok makhluk pengerat itu tidak kunjung muncul kembali. Mungkin bersembunyi di balik karung yang menyender pada sudut dinding dapur.
"Hhmmm, mau lari ke mana kamu, hama bedebah?" tanya Arvan seraya mengambil sebuah sapu ijuk dan bersiap-siap hendak menggebuk tikus tadi dengan ujung gagang sapu tadi.
Perlahan-lahan dia mendekat dengan langkah berjinjit penuh kewaspadaan. Tangan kirinya bergerak menjulur hendak menarik karung yang bersandar di sudut ruangan tersebut.
Namun begitu sandaran karung tadi diungkit ke depan, sosok tikus yang dicarinya itu sudah tidak ada lagi di sana. Yang terlihat, justru sebuah lobang kecil membulat, terpampang nyata di antara keremangan cahaya lampu dapur.
'Lobang ....?' gumam Arvan heran. 'Sejak kapan ada lobang tikus di sini? Seingatku waktu berbenah dapur beberapa hari lalu, tidak ada lobang apa pun di sini. Masa sih, dalam hitungan hari, makhluk jahanam itu berhasil membobol dinding ini?'
Dengan rasa penasaran yang ada, lelaki tersebut mencoba memasukkan ujung gagang sapu ke dalam lobang itu. Ternyata cukup dalam dan hampir memakan hingga setengahnya panjang pegangan sapu di tanggannya itu.
Arvan mencoba mendorong dengan bantuan sedikit tenaga, akan tetapi sudah tidak bisa lagi dan rasanya sudah mentok di dalam sana. Entah karena terkena ujung dinding lobang atau berkelok. Namun yang pasti, begitu dia menarik kembali gagang sapu tersebut, tiba-tiba menguar aroma tidak sedap di sekitar tempat. Busuk, seperti ....
'Kok, kayak bau ****** ....?'
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments