Bagian 5

...MISTERI MAYAT TERPENDAM...

...Dewa Payana...

...Bagian 5...

Sejak saat itu, mendadak sikap dingin Bu Tedjo pun berubah melunak dan ramah terhadap keluarga Arvan, terkhusus pada laki-laki yang satu itu. Jika sebelumnya perempuan tua tersebut sering terlihat acuh, tidak demikian kini. Hampir setiap hari, selalu saja berusaha bertegur sapa maupun berkirim makanan teruntuk tetangga barunya itu.

Sebagai warga baru, tentu saja Lasmi dan Arvan sangat senang dengan perilaku dan sikap Bu Tedjo itu. Tidak jarang pula, di kala -----waktu-waktu--- senggang, perempuan tua bergelung rambut putih tersebut datang bertandang ke rumah mereka, walaupun hanya sekadar untuk berbincang-bincang ringan.

"Kami ini baru beberapa tahun menjalani rumah tangga, Bu," tutur Lasmi mengawali cerita saat bersama Bu Tedjo. "Dulu ... saya dan Mas Arvan sama-sama bekerja di satu perusahaan yang sama. Sampai kemudian, kami pun menjalin hubungan dan menikah. Namun karena aturan perusahaan pula, salah satu dari kami harus mengundurkan diri dan pilihan itu jatuh pada saya sendiri ...."

Bu Tedjo menyimak dengan saksama kisah hidup yang diungkapkan oleh Lasmi.

Lanjut perempuan yang hampir mencapai usia kepala tiga itu bercerita, "Setelah menikah, saya tinggal bersama di rumahnya Ibu Marsih atau ibu dari suami saya sendiri, Mas Arvan. Tapi ... sebenarnya ... beliau itu, Ibu Marsih, bukan ibu kandungnya Mas Arvan. Melainkan ibu angkat."

"Ibu angkat?" tanya Bu Tedjo mengulangi kalimat terakhir yang diucapkan oleh Lasmi barusan. "Lalu ... orangtua kandung dari suamimu sendiri, ke mana?"

Lasmi tersenyum kambing. Sejenak, dia membayangkan akan jalinan kisah hidupnya yang telah lalu. Kemudian menjawab pertanyaan dari sosok di sampingnya tersebut, "Kami, saya dan Mas Arvan, sama-sama belum pernah mengenal orangtua kami, Bu. Kami berdua tumbuh besar di panti asuhan yang berbeda. Lantas, kami berdua dipertemukan di tempat pekerjaan. Mungkin karena sama-sama memiliki dasar nasib yang serupa itulah, akhirnya ... kami pun semakin dekat dan ... memutuskan untuk menikah."

Menurut Lasmi, setelah beranjak dewasa, dia memutuskan untuk meninggalkan panti asuhan yang telah merawat serta membesarkannya. Mencoba peruntungan dan mengadu nasib dengan jalan mencari penghidupan di tempat lain. Bekerja sebagai buruh pabrik dan tinggal di sebuah kos-kosan kecil yang teramat sederhana.

Perkenalan Lasmi dengan Arvan pun karena setiap hari mereka berdua kerap bertemu di tempat pekerjaan. Kebetulan, lelaki yang kini telah menjadi suaminya itu, dulu adalah atasan dia sendiri yang bertindak sebagai Karu atau Kepala Regu dan Lasmi adalah anggota tim.

Bilur-bilur cinta mulai tumbuh subur seiring dengan frekuensi kedekatan mereka berdua setiap saat. Dari hubungan itu pula, Lasmi tahu bagaimana latar belakang kehidupan Arvan sebelumnya. Hampir mirip dengan nasib yang pernah dia miliki dulu. Sama-sama tidak pernah mengenal orang tua sendiri. Entah yatim piatu ataukah orang-orang yang telah berjasa menghadirkan mereka ke dunia tersebut, masih hidup.

Mengenai Arvan yang diasuh oleh Ibu Marsih, dulu sewaktu masih seusia anak-anak sekolah dasar, laki-laki tersebut diadopsi. Namun malang, suami Ibu Marsih mengalami sebuah kecelakaan lalu lintas yang fatal hingga merenggut jiwa. Ayah angkat Arvan tersebut meninggal dunia, bertepatan saat dia baru menginjakkan kaki di bangku SLTP.

Kondisi perekonomian keluarga Ibu Marsih langsung jatuh melorot, hingga menyebabkan perempuan tua tersebut ---terpaksa--- harus mempertahankan hidup dengan cara berjualan kecil-kecilan. Maka dari itu, selepas menuntaskan jenjang pendidikan di bangku SLTA, Arvan langsung bertekad untuk bekerja sambil berkuliah di sebuah universitas terbuka.

Namun sayang sekali, di tengah perjalanan mendalami pendidikan kuliahnya, Arvan terpaksa harus berhenti karena satu alasan, yakni menikahi Lasmi.

Ibu Marsih yang banyak menaruh harapan besar pada Arvan, sangat menyesali langkah yang harus ditempuh oleh anak angkatnya tersebut. Tadinya, perempuan tua itu menginginkan Arvan menuntaskan kuliahnya hingga selesai dan meraih status sebagai seorang sarjana berstrata satu. Akan tetapi keputusan sudah terlanjur diambil dan terpaksa harus menjalani hidup demikian adanya.

Kehadiran Lasmi yang tidak pernah diharapkan, menyebabkan hubungan antara mertua dan menantu tersebut berlangsung tidak pernah harmonis. Bagi Ibu Marsih, Lasmi tidak ubahnya adalah sebagai benalu yang telah menghancurkan impian serta cita-cita dia dan anak angkatnya itu.

Maka tidaklah heran, Lasmi kerap berkeluh kesah pada Arvan agar segera berpindah tempat tinggal dan terpisah dari lingkungan atau keberadaan Ibu Marsih. Namun Arvan kerap menolak dan meminta istrinya tersebut agar bersabar terlebih dahulu, sampai dia menemukan solusi terbaik bagi semuanya.

"Aku ini gak mungkin ninggalin Ibu, Dek," kata Arvan kala itu. "Selama ini, kehidupan Ibu gak lepas dari bantuan dan pemberian sisa uang gajiku. Kalo mengandalkan dagangan Ibu, ah ... itu sama sekali gak cukup. Soalnya Ibu sudah mulai tua dan gak bisa bekerja seperti dulu lagi."

Lasmi sangat memahami perasaan keberatan suaminya jika sampai meninggalkan sosok yang telah banyak berjasa bagi Arvan, akan tetapi mengingat sikap Ibu Marsih yang tidak kunjung mereda sejak mereka menikah, setidaknya membuat perempuan itu memiliki alasan tersendiri untuk berpisah dari mertuanya tersebut.

"Mudah-mudahan saja ... suatu saat kita akan menemukan jalan keluarnya ya, Dek," ujar Arvan sekadar ingin menenangkan kondisi batin Lasmi yang semakin tersiksa.

Ucapan Arvan itu bagaikan sebuah doa yang mustajab. Tidak berapa lama, perusahaan tempat lelaki itu bekerja mengalami kebangkrutan. Arvan adalah salah satu dari sekian ribu karyawan buruh yang di-PHK. Dengan berbekal uang pesangon yang ada itulah, akhinya mereka berusaha mencari hunian baru untuk ditempati dan pilihan yang ada ternyata jatuh pada rumah sederhana miliki Pak Sodikin.

"Hhmmm, saya pikir sebelumnya, kalian ini cuma ngontrak di sini, Mbak Las," ujar Ibu Tedjo di pengujung penuturan Lasmi yang panjang lebar. "Tapi syukurlah, dengan begitu, berarti kalian akan menetap di sini selamanya, 'kan? Hehehe," imbuh kembali perempuan tua berambut putih yang digelung di atas kepala tersebut.

"Yaaa ... mudah-mudahan aja sih begitu, Bu," timpal Lasmi seraya mendesah. "Seenggaknya ... sekarang perasaan saya jauh lebih tenang daripada sebelumnya."

Ibu Tedjo mendelik-delik masam, tanpa sepengetahuan Lasmi tentunya.

"Ibu sendiri ....," lanjut istri Arvan tersebut gantian kini yang ingin mengetahui kondisi keluarga tetangganya itu. "Saya sering lihat, Ibu tinggal sama anak Ibu? Siapa namanya?"

Ibu Tedjo tidak segera menjawab. Raut wajah perempuan tua tersebut mendadak berubah dan memperlihatkan gerak tubuh yang seakan-akan merasakan ketidaknyamanan akan pertanyaan dari Lasmi barusan.

"Ah, saya lupa ....," kata Ibu Tedjo seperti ingin mengalihkan arah pembicaraan. "Ini sudah agak siang. Saya harus kembali ke rumah dan menyiapkan makan siang untuk anak saya, Mbak Las."

'Hhmmm, kenapa pertanyaanku tadi gak dijawab sama Bu Tedjo ini, ya?' tanya Lasmi di dalam hati, memendam rasa penasaran yang kian mendalam akan sosok anaknya Ibu Tedjo yang kerap bersikap aneh tersebut. 'Kayaknya ... dia gak ingin aku mengenak sosok anaknya itu. Tapi kenapa? Bahkan ... sudah sedewasa itu, masih saja harus dilayani orang tua. Aku kira, kayaknya cuma beda beberapa tahun dariku sendiri.'

Tergopoh-gopoh, Ibu Tedjo pun buru-buru pamit untuk kembali ke rumahnya. Sementara Lasmi sendiri, turut bergegas memasuki kamar, dimana Lintang sedang asyik tergolek sendiri di atas tempat tidur.

Anak laki-laki berusia empat tahun itu, sekilas memang tampak seperti sedang terlelap nyenyak. Namun jika diperhatikan secara saksama, bola matanya laksana bergerak-gerak di balik katupan kelopak. Sampai kemudian, begitu Lasmi mendekat, dia melihat ada merah lebam pada bagian betis bocah tersebut.

"Astaga ... Lintang!" seru Lasmi terkaget-kaget.

...BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!