...MISTERI MAYAT TERPENDAM...
...Dewa Payana...
...Bagian 9...
Arvan melongok sebentar keluar. Melihat-lihat pada deretan toilet yang berjejer di sebelah.
"Kenapa gak pake toilet yang lain aja, sih?" tanya lelaki yang merupakan seorang Karu (Kepala Regu) yang bertugas pada shift III malam itu. "Itu ... yang onoh kayaknya kosong."
Sosok bernama Vina tersebut celingukan ke arah ruangan toilet yang ditunjuk oleh Arvan barusan. Tampak tergambar di wajahnya rasa ragu serta ketakutan.
Jawab Vina bimbang, "A-anu, Kak ... kalo yang sebelah ... saya takut. Mana gak ada temen lagi di sini. Makanya, saya mau pake ruangan yang ini aja, biar lebih deket Hehehe."
Perempuan itu tampak meringis-ringis sambil pegangi perut, seperti hendak menahan rasa mulas.
"Ya, udah. Kamu pake aja yang sebelah. Biar saya tungguin di sini," kata Arvan akhirnya. Sengaja menyuruh agar perempuan tersebut menggunakan ruangan toilet di sebelah. Maksudnya mencegah supaya jangan sampai keberadaan Lasmi di dalam, tidak diketahui olehnya. 'Bisa gawat kalo sampe dia tahu ada Lasmi di sini,' bisik lelaki tersebut di dalam hati. 'Bisa rame entar seisi pabrik, nih.'
Tanya Vina kembali merasa heran dengan keberadaan atasannya yang tidak segera keluar dari dalam toilet, "Emangnya Kak Arvan belom beres?"
"Gak usah banyak tanya, deh. Cepetan sono, kamu masuk ke toilet sebelah. Saya tungguin di sini, deh," seru Arvan mulai ketar-ketir karena Vina tidak juga segera beranjak dari hadapannya.
"I-iya, Kak, i-iya ....," timpal perempuan itu akhirnya seraya buru-buru masuk ke dalam ruangan toilet yang ditunjuk oleh Arvan barusan.
Namun insting Vina sebagai seorang perempuan, hati dan benak dia merasakan ada sesuatu yang tidak beres terhadap sosok lelaki yang menjadi atasannya tersebut.
'Ada apa ya dengan Kak Arvan? Kok, dia nyuruh aku make toilet ini, sih? Emangnya ... dia lagi ngapain di sebelah?' Bertanya-tanya Vina, sekaligus penasaran. 'Wah ..., jangan-jangan dia lagi ....'
Maka perempuan itu pun tidak segera berjongkok di kloset, walaupun dera rasa mulas itu kian menjadi-jadi, akan tetapi mengintip melalui celah pintu ruangan toilet yang sengaja tidak dia tutup secara merapat.
Tidak berapa lama, Arvan pun terlihat keluar bersama Lasmi. Sontak mata Vina membelalak besar disertai mulut menganga lebar.
'Tuh, bener 'kan apa yang aku kira juga ....,' kata Vina mulai menduga-duga. 'Kak Arvan pasti lagi ngelakuin sesuatu. Hhmmm, pantesan aja dari tadi si Lasmi lama banget gak balik-balik ke line mesin. Rupanya ... mereka berdua ketemuan di sini.'
Masih dengan suara setengah berbisik, Arvan menyuruh Lasmi agar segera kembali ke tempat kerja. Bergabung bersama karyawan lain yang sedang bertugas pada malam itu.
"Kamu duluan aja ke sana ya, Las. Entar aku nyusul. Biar gak sampe nimbulin kecurigaan sama pekerja lain," kata Arvan, tapi bisiknya masih terdengar samar-samar oleh Vina yang sedang mengintip di toilet sebelah. "Aku harus nungguin si Vina dulu."
Lasmi mengangguk pelan dan segera bergegas meninggalkan sosok kekasihnya tersebut, dengan langkah yang agak terpincang-pincang.
'Hhmmm ...,' deham Vina semakin yakin kini dengan dugaannya tadi. 'Kak Arvan dan si Lasmi, pasti udah ngelakuin sesuatu di dalem tadi. Aku yakin banget. Mana cara jalan si Lasmi kayak kesakitan 'gitu lagi ....'
Jiwa gibah Vina pun spontan berkibar. Dia merasa senang karena punya bahan yang bagus untuk diperbincangkan bersama teman-temannya di dalam pabrik sana nanti.
Setelah melihat Lasmi pergi, buru-buru Vina melanjutkan niatnya, yakni hendak buang hajat besar yang sejak awal dia tahan-tahan. Lagipula, dia khawatir jika sampai berlama-lama mengintip, justru akan ketahuan oleh sosok Arvan yang sedang berdiri menungguinya di luar.
Sejak kejadian pada malam tersebut, desas-desus pun mulai tersiar dengan sangat cepat di lingkungan kerja mereka. Hampir dari setengah pekerja perempuan yang berada di dalam satu shift atau regu di bawah kepemimpinan Arvan, serentak menjauhi Lasmi. Bukan karena segan atau ada hal lain, akan tetapi mereka merasa benci terhadap kedekatan lelaki itu dengan Lasmi.
Arvan adalah sosok lelaki yang banyak diminati oleh anak buahnya. Status bujangan, memiliki wajah keren dan fisik yang menunjang, serta posisi pekerjaan bagus. Perempuan jomlo mana yang tidak menaruh harapan bisa menjadi kekasih laki-laki tersebut. Namun selentingan kabar jika Lasmi sudah berhasil di-'garap' oleh Arvan, menjadikan kaum gadis-gadis itu merasa kalah saingan.
"Lihat aja, entar juga kalo si Lasmi udah bunting, pasti bakalan ditinggalin sama si Arvan!" kata salah seorang pekerja perempuan di sana yang sedang sibuk bekerja sambil berbincang-bincang gibah.
"Ih, najis!" timpal yang lain tidak mau kalah sambil memasang muka jijik begitu melirik pada keberadaan Lasmi yang tidak jauh dari mereka. "Jadi perempuan kok, murahan banget. Mau-maunya berbuat mesum di toilet. Kalo gua sih, ogah!"
"Emang elu ngelihat bener kalo mereka abis berbuat intim, Vin?" tanya pekerja lain pada Vina.
Jawab sosok yang ditanya, "Enggak juga, sih. Tapi gue yakin banget, kalo si Vina emang abis di-'garap' sama si Arvan malem itu. Soalnya ... dari cara jalannya aja, kayak kesakitan 'gitu."
"Kesakitan apaan?" tanya teman-teman Vina serempak.
Vina mendelik dan menjawab judes, "Apaan lagi? Pasti barangnya, dong!"
"Ih, najis!"
Imbuh Vina berpendapat, "Setahu gue ... kalo perempuan baru kehilangan keperawanannya, pasti sakit. Bener gak, Temen-temen?"
Yang lain mengiakan dan saling mengangguk-angguk.
"Jangan-jangan ... sakit karena punya si Arvan gede, Non!" timpal yang lain, yakni seorang perempuan yang sudah menikah dan langsung direspons oleh teman-temannya dengan tatapan mata melongo.
"Dih, Bu Yati ngomongnya vulgar banget, sih!"
"Lah, emang bener, 'kan? Saya ini udah punya suami, Nona-nona. Jadi saya tahu banget, dah!" balas sosok perempuan yang bernama Yati barusan. "Lagian, zaman sekarang ... apanya yang tabu, sih. Anak-anak gadis seperti kalian, pasti udah pada pernah ngelihat barang laki-laki. Hihihi."
Mereka pun tertawa-tawa dan spontan mengundang perhatian terhadap pekerja lainnya. Termasuk Lasmi sendiri.
Kekasih Arvan itu merasa dirinyalah yang sedang diperbincangkan mereka. Karena tidak sekali-dua kali, tatapan para pekerja yang berbeda line/mesin tersebut, seringkali melirik-lirik ke arahnya.
'Ya, Tuhan ....,' membatin Lasmi, merasa tidak enak hati. 'Aku yakin, mereka lagi ngomongin aku. Pasti kejadian pada malam itu sudah banyak yang tahu. Tapi dari siapa, ya? Gak mungkin Mas Arvan menceritakan sama semua orang.'
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments