...MISTERI MAYAT TERPENDAM...
...Dewa Payana...
...Bagian 12...
Bulan demi bulan berlalu, tidak ada sedikit pun perubahan sikap pada diri Ibu Marsih terhadap Lasmi. Kebencian orangtua tersebut pada menantunya malah kian menjadi-jadi. Tidak terkecuali setelah anak yang dikandung ---bernama Lintang--- itu terlahir, bahkan hingga kemudian berusia empat tahun.
Bagi Ibu Marsih, Lasmi adalah sosok perempuan yang tidak pernah dia harapkan menjadi seorang menantu, sekaligus ibu dari cucunya sendiri. Sebab, gara-gara dia pula, impiannya untuk memiliki besan kaya raya, menjadi sirna sudah.
Sementara itu Arvan, bukan tidak mengetahui akan perilaku ibu angkatnya tersebut terhadap Lasmi. Dia masih merasa tidak tega jika harus meninggalkan Ibu Marsih sendirian di rumah dan memilih tinggal terpisah bersama anak-istrinya.
"Sabarlah dulu untuk sementara waktu, Dek," kata Arvan ketika Lasmi memintanya berpindah rumah, "aku belum masih nyari dan nunggu waktu yang tepat buat pindah."
"Mau sampe kapan lagi, Mas?" tanya Lasmi sudah sedemikian tidak merasa nyaman hidup bersama ibu mertuanya tersebut. "Dari awal-awal kita nikah sampe sekarang, aku udah berusaha bersabar menghadapi sikap ibumu itu, tapi ... kayaknya aku harus ngambil keputusan sendiri, Mas. Terserah kamu mau setuju atau enggak."
"Ya, Tuhan ... Dek Las," seru Arvan mulai mengubah panggilan terhadap istrinya itu semenjak memiliki anak. "Emang kamu mau ngapain?"
"Aku mau pergi dari sini!" jawab Lasmi ketus.
"Pergi ke mana? Kamu 'kan, gak punya keluarga, Dek, selain aku sendiri sebagai suamimu," timpal lelaki itu kembali. "Tunggulah. Bersabar. Aku juga lagi berusaha."
"Usaha apa? Mau sampe kapan aku nunggu?" Lasmi mengelap lelehan air matanya di pipi. "Selama ini sikap kamu sama aku, apa? Gak sekalipun kamu mempedulikan aku, Mas!"
"Siapa bilang aku gak peduli sama kamu?" balas Arvan kesal. "Kamu pikir selama ini yang aku lakuin buat siapa? Ya, buat kamu juga. Termasuk Lintang anak kita, Dek. Bukan buat orang lain."
"Mana buktinya?" tanya Lasmi tetap mengotot. "Tiap kali cerita tentang sikap Ibu sama kamu, mana ada pedulinya? Kamu hanya diam, diam, dan diam saja. Pernah gak kamu ngomong sama Ibu, 'gimana perasaanku selama ini? Enggak, 'kan?"
"Ssttt ....," pinta Arvan dengan memberi isyarat pada istrinya. "Jangan keras-keras ngomongnya, Dek. Nanti kedengeran sama Ibu."
"Aku gak peduli! Biar Ibu kamu tahu dan denger sendiri!" sahut Lasmi malah makin meninggi nada suaranya. "Aku udah gak tahan, Mas! Aku ingin pergi dari sini!"
Lekas Arvan mendekap tubuh istrinya dengan erat. Membiarkan perempuan yang dia cintai tersebut menangis di dadanya.
"I-iya ... kita pergi dari sini ya, Dek," kata lelaki itu dengan hati perih. "T-tapi ... tolong beri waktu buatku, untuk memikirkan ini. Karena ... sekarang, aku juga lagi berat mikirin yang lain."
"Berat mikirin buat ninggalin Ibu kamu?" tanya Lasmi di antara sedu sedannya di dada Arvan.
"B-bukan, Dek. Bukan itu ....," jawab suaminya berat. "A-aku ... a-aku lagi mikirin tentang kerjaanku, Dek."
Lasmi melepaskan diri dari dekapan Arvan, lantas memandangi wajah lelaki terkasih yang sudah lima tahun membersamainya.
"Ada apa dengan kerjaanmu, Mas? Kamu lagi ada masalah dengan pihak perusahaan?" tanya Lasmi mendadak ingin tahu.
Arvan menarik napas dalam-dalam. Rasa sesak di dada, kini kian mendera. Dia berpikir, apa perlu istrinya tersebut mengetahui tentang permasalahan yang selama ini tengah dia pikirkan?
"A-aku terancam di-PHK, Dek," ungkap Arvan akhirnya dan langsung direspons Lasmi dengan belalak mata dan mulut menganga lebar. "Perusahaan tempatku kerja, terancam pailit. Kemungkinan besar, para pekerja akan dirumahkan untuk sementara waktu. Sebagian lagi, malah akan di-PHK. Termasuk aku."
"Ya, Tuhan ....," seru Lasmi terkejut. "Terus, rencana kamu selanjutnya apa, Mas, kalo sampe bener-bener di-PHK?"
Arvan mendesah, gusar. Bingung harus menjawab apa. Sementara dia berpikir, bagaimana dengan nasib anak-istri serta ibu angkatnya jika dia sampai benar-benar kehilangan pekerjaan kelak?
"Entahlah, Dek. Mungkin ... aku harus secepatnya nyari kerjaan baru," jawab Arvan akhirnya. "Kalo buat buka usaha sendiri, aku masih ragu. Aku sama sekali gak punya keahlian yang bisa dibanggakan. Pendidikanku sendiri hanya sebatas tamatan SLTA. Tapi ... sekarang, tanggung jawabku sudah bertambah, kalian berdua dan juga Ibu."
Lasmi terdiam. Dia tidak ingin mendesak maupun menuntut apa-apa lagi. Mendadak merasa iba dan enggan menambah beban pikiran yang kini tengah dirasakan sosok lelaki yang dia cintai tersebut.
Di dalam posisi itu, memang serba sulit. Sementara masalah dirinya sendiri masih belum bisa tertuntaskan. Maka salah satu opsi yang diambil bagi Lasmi adalah dengan cara mengenyampingkan ego diri dan fokus membangun spiritual suaminya agar tidak jatuh terpuruk.
Sampai kemudian, menjelang rencana PHK tersebut terjadi, Arvan pun berusaha untuk mencari pekerjaan baru dan berhasil mendapatkannya, walaupun dari segi gaji atau pendapatan masih jauh lebih baik dari tempat kerja sebelumnya.
"Gak apa-apa, Mas. Seenggaknya, kamu sudah dapet kerjaan baru lagi dan kehidupan rumah tangga kita bisa sedikit terbantu," ujar Lasmi menyemangati suaminya.
"Ya, begitulah, Dek. Aku bersyukur banget bisa ngedapetin istri sekuat kamu," timpal Arvan merasa sedikit lega kini. "Nanti rencananya, kalo aku udah ngedapetin uang pesangon, aku akan nyari rumah buat tempat kita bersama, Dek."
Lasmi merasa sangat senang sekali mendengarnya. Dari dia pula, rencana untuk membeli hunian baru itu tertindaklanjuti.
"Kita cari rumah bekas aja, Mas," kata Lasmi memberi saran. "Jangan ngambil yang kreditan kayak KPR. Disamping mahal, proses pembayarannya juga suka lama."
"Terus, maunya kamu bagaimana, Dek?" tanya Arvan ingin mengetahui jalan pikiran istrinya tersebut.
Sejenak Lasmi berpikir sambil menatap Lintang yang sedang terlelap di atas tempat tidur, kemudian berkata, "Kita cari rumah bekas yang harganya jangan sampe ngelebihin uang pesangon yang kamu terima, Mas. Terpenting, kita bisa pisah dari Ibu dan jangan terlalu jauh juga dari tempat kerjaan kamu yang baru itu."
"Buat Ibu sendiri 'gimana, Dek? Apa kita pergi begitu aja?" Arvan benar-benar ingin menguji dan mengetahui jalan pikiran istrinya tersebut.
"Kita sisihin aja sedikit buat nambah-nambah modal Ibu usaha, Mas," jawab perempuan tersebut dengan bijaksana. "Walau bagaimanapun juga, udah semestinya emang ... kita harus mandiri dan tinggal terpisah dari Ibu. Maaf, bukan berarti apa-apa. Aku gak pernah membenci Ibu, walaupun ... Ibu itu bukan ibu kandungmu, Mas."
Arvan mengangguk-angguk, sekaligus menyadari dan membenarkan ucapan istrinya tersebut. Ibu Marsih memang bukan ibu kandungnya. Namun biar bagaimanapun juga, orang tua tersebut telah berjasa bagi Arvan.
"Apa? Kamu mau ninggalin Ibu, Van?" tanya Ibu Marsih ketika rencana mereka untuk berpindah disampaikan pada perempuan tua tersebut. "Kamu tega, ya? Setelah sekian lama kamu Ibu urus dan Ibu besarkan, ini balasanmu sama Ibu?"
Berat memang harus meninggalkan salah satu sosok yang lelaki tersebut cintai. Namun keputusan harus tetap diambil, demi kenyamanan dan mempertahankan keutuhan rumah tangga dia bersama Lasmi.
"Tapi ... Arvan gak akan sepenuhnya ninggalin Ibu, kok," balas lelaki itu kemudian setelah lama berdebat dengan Ibu Marsih. "Arvan akan tetap ngasihin sebagian gaji Arvan nanti buat Ibu dan sesekali Arvan juga bakal sering nengokin Ibu."
"Halah! Itu alasan kamu saja, Van!" bentak Ibu Marsih marah. "Ini pasti karena ulah istrimu itu! Dia yang telah mempengaruhi pikiran kamu, 'kan?"
Arvan tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Maafin Arvan, Bu, kalo keputusan ini memberatkan Ibu," imbuh kembali suami Lasmi tersebut. "Tapi ... Arvan sekarang udah dewasa dan punya tanggung jawab sendiri. Arvan harus menunaikan kewajiban Arvan sebagai suami dari Lasmi."
Ibu Marsih menatap tajam anak angkatnya itu. Dia merasa benar-benar kecewa kini. Dulu sudah menolak dijodohkan dengan perempuan pilihan, kini malah lebih memilih istrinya ketimbang dia sendiri.
"Kalo saja Ibu tahu bakal seperti ini balasanmu, Ibu gak bakalan pernah sudi buat ngadopsi kamu, Van," ujar Ibu Marsih menyakitkan hati. "Lebih baik ... aku gak pernah punya anak sama sekali! Aku menyesal! Aku kecewa! Ternyata anak kecil yang aku urus dan aku besarkan ini, sekarang malah durhaka padaku!"
"Astaga ... Ibu ....," desah Arvan terkejut mendengar kata-kata dari mulut ibu angkatnya tersebut.
Mendadak rongga pernapasannya menyesak, diikuti dengan rasa perih menggores kisi-kisi hatinya.
...BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments