Bagian 8

...MISTERI MAYAT TERPENDAM...

...Dewa Payana...

...Bagian 8...

Auman Arvan menggema secara tidak sadar, memenuhi ruangan toilet kecil, tempat dimana untuk pertama kalinya melakukan hubungan terlarang tersebut. Aliran darahnya seketika mengentak, laksana meninju kisi-kisi jantung.

Untuk beberapa saat, keduanya terdiam dalam lenguh napas yang memanas. Saling merapatkan badan seperti enggan terlepas di antara lelehan peluh yang membanjiri.

"Kamu menikmatinya, Las?" tanya Arvan. "Sudah gak begitu sakit 'kan, sekarang?" imbuhnya kembali seraya melepaskan dekapan secara perlahan-lahan.

Lasmi tidak menjawab. Namun dari ringis di wajah serta lelehan air mata di pipi, itu sudah merupakan sebuah penjelasan bagi Arvan.

"Maafkan aku, Las. Aku nyakitin kamu, ya?" Kembali lelaki bertubuh kekar dengan enam kotak menggurat di kulit perutnya itu bertanya.

Lasmi berusaha tersenyum, walaupun terbersit rasa lirih itu masih menyesakinya.

"Aku mencintaimu, Mas," ujar perempuan yang baru saja kehilangan mahkota kesuciannya tersebut dengan nada tercekat. "Apa pun yang kamu lakuin padaku, aku akan menerimanya sepenuh hati."

"Aku juga mencintaimu, Las," balas Arvan pelan.

Malam itu, untuk pertama kalinya mereka saling menanggalkan kesucian masing-masing. Arvan sebagai seorang perjaka, begitu juga dengan Lasmi yang merupakan sesosok perawan tulen. Demi sebuah pembuktian akan hubungan sepasang kekasih yang dilandasi rasa cinta kasih. Di saat yang bersamaan pula, secara tidak sadar, keduanya telah membuka gerbang permasalahan yang siap menjerat di kemudian waktu.

Arvan mundur dan bersandar di dinding ruangan toilet dengan sisa napas yang masih memburu.

TOK! TOK! TOK!

"Hei, siapa di dalem? Lama banget sih, dari tadi? Gue mao boker, nih!" seru seseorang dari luar.

Arvan dan Lasmi sontak terkejut. Mereka bingung harus berbuat apa. Keluar bersamaan, tidak mungkin. Pastinya akan menimbulkan prasangka aneh-aneh bagi orang lain. Walaupun pada kenyataannya, mereka berdua memang sudah melakukan hal yang tidak wajar malam itu.

"Mas, 'gimana, nih?" tanya Lasmi panik dan cepat-cepat mengenakan kembali setengah dari pakaiannya yang ---sejak awal--- dibiarkan melorot terbuka.

Jawab Arvan dengan suara sama-sama berbisik sebagaimana kekasihnya tersebut, "Tenang ..., kamu rapiin dulu celana sama bajumu itu. Kita keluar dari sini jangan bareng-bareng."

"Woy ...! Siapa sih, di dalem?" tanya lagi satu suara di luar toilet dengan suara keras. "Buruan, gue mao boker, woy!"

Sahut Arvan dari dalam ruangan seraya memberi isyarat ---dengan jari telunjuk menempel di bibir--- pada Lasmi, agar jangan ikut membalas seruan seseorang di luar, "Iya, sebentar!"

Perlahan-lahan lelaki itu membuka pengunci daun pintu dan menguaknya sedikit demi sedikit.

"Eh, Kak Arvan ....," ujar sosok di luar tadi yang ternyata adalah seorang perempuan yang usianya tidak begitu jauh dari Lasmi, "kirain siapa tadi, Kak. Hehehe."

Arvan mengernyit dan memandangi tersebut. "Mau ngapain sih lu, Vina? Pake teriak-teriak segala?" tanyanya dari balik pintu. Sengaja tidak menguaknya lebar-lebar agar jangan sampai keberadaan Lasmi di dalam, terlihat oleh perempuan bernama Vina itu.

"Duh, maaf, Kak," ujar Vina langsung berubah nada serta volume suaranya. "Saya kebelet, nih. Pengen buang air besar."

Arvan melongok sebentar keluar. Melihat-lihat pada deretan toilet yang berjejer di sebelah.

"Kenapa gak pake toilet yang lain aja, sih?" tanya lelaki yang merupakan seorang Karu (Kepala Regu) yang bertugas pada shift III malam itu. "Itu ... yang onoh kayaknya kosong."

...BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!