Bagian 10

...MISTERI MAYAT TERPENDAM...

...Dewa Payana...

...Bagian 10...

"Enggak. Aku gak pernah ngomong ama siapa pun, Las," jawab Arvan begitu ditanyai oleh Lasmi pada suatu ketika. "Lagian buat apa? Itu 'kan, rahasia kita berdua. Gak mungkinlah aku ngebuka sendiri. Aneh-aneh aja pertanyaanmu itu, Las."

"Tapi ... aku pikir, hampir semua anak-anak pabrik tahu tentang aku dan kamu, Mas," ujar Lasmi bersikukuh. "Terus ... siapa dong yang pertama kali nyebarin gosip itu? Aku jadi gak nyaman kerja satu shift sama mereka, Mas."

Sebenarnya Arvan sudah menduga jika orang pertama yang patut dia curigai tentunya tidak lain dari sosok Vina. Karena hanya dia seorang yang berada di tempat kejadian pada malam tersebut. Namun bukti-bukti tidak dia miliki untuk menuduh secara sembarangan. Apalagi jika sampai bertanya pada yang bersangkutan, sudah tentu akan menimbulkan kecurigaan besar pada sesama pekerja yang lain.

Satu-satunya cara adalah mereka tidak merespons gosip yang ada. Cukup mendiamkan dan lanjut merajut hubungan secara intens.

Berkaca pada pengalaman yang sudah terjadi, Arvan dan Lasmi pun semakin berhati-hati dalam menjaga sikap selama berada di lingkungan kerja. Namun di luar itu, perbuatan terlarang yang belum semestinya mereka berdua lakukan itu, kerap diulang dan terulang. Hingga akhirnya, sesuatu yang tidak diharapkan pun mulai datang menghampiri.

"Aku hamil, Mas," ungkap Lasmi pada Arvan beberapa bulan setelahnya. "Aku udah gak dapet menstruasi beberapa minggu ini."

"Udah kamu cek?" tanya Arvan terlihat santai.

Lasmi mengangguk pelan. Lantas mengeluarkan sebuah benda dari dalam tas yang biasa dia bawa dan menyerahkannya pada lelaki tersebut.

Arvan meneliti dengan saksama pada benda kecil, pipih, dan memanjang di tangannya. Ada dua garis merah tertampak di sana berwarna kemerahan.

Sebagai lelaki dewasa yang sudah banyak mengetahui tentang dunia perempuan, Arvan paham sekali makna dari dua garis yang telah dia lihat tersebut.

"Ya, sudah," kata Arvan masih terlihat santai dan sama sekali tidak memberikan reaksi kaget sama sekali. "Aku akan bertanggungjawab, Las. Aku akan segera menikahimu."

"Beneran, Mas?" tanya Lasmi dengan mata berbinar-binar. "Serius kamu akan menikahi aku?"

Jawab Arvan mantap, "Iyalah. Kamu pikir selama ini aku main-main sama kamu, hhmmm? Aku serius sama kamu, Las. Aku mencintaimu."

Senyum semringah pun sontak menggurat dari garis tawa di wajah Lasmi. Dia sangar senang sekali dengan jawaban yang diungkapkan oleh kekasihnya tersebut. Tidak disangka, jika lelaki yang telah memacarinya sekian bulan itu, kini akan menjadi milik dia seutuhnya.

Bagaimana tidak? Semula Lasmi sendiri merasa ragu dan khawatir jika Arvan akan mengingkari janji dia sebelumnya. Maklum saja, sosok lelaki itu terkenal kerap menjadi harapan dari perempuan-perempuan seusia Lasmi. Terutama di lingkungan pekerjaan mereka.

Demi mewujudkan janji pada Lasmi, akhirnya Arvan pun mengungkapkan keinginannya untuk menikah pada Ibu Marsih. Namun jawaban yang tidak diharapkan pun, justru keluar dari bibir perempuan tua tersebut.

"Kawin? Serius kamu mau kawin, Van?" tanya Ibu Marsih tampak terkejut. "Terus ... 'gimana dengan posisi Ibu kalo kamu udah nikah entar, Van? Kamu pasti bakalan ninggalin Ibu, 'kan?"

Arvan tersenyum dan lantas menjawab perlahan, "Ya, enggaklah, Bu. Arvan gak bakalan kemana-mana, kok. Arvan masih tetap tinggal sama Ibu. Hanya saja, entar ... berikut tambah satu lagi, yaitu menantu Ibu. Hehehe."

Dijelaskan seperti itu, bukannya paham, Ibu Marsih malah semakin menampakkan rasa kekhawatirannya.

"Maksud Ibu ....," kata perempuan tua tersebut kembali berujar, " ... kalo kamu udah punya istri, kamu pastinya gak bakalan ngasih Ibu duit lagi 'kan, Van? Pasti semua uang gajimu itu, kamu kasihin sama istri kamu."

Lagi-lagi lelaki tersebut tersenyum-senyum. Kemudian menjawab dengan suara pelan dan lembut. "Lho, kok Ibu mikirnya begitu? Ya, enggaklah, Bu. Walaupun udah nikah, Arvan masih tetep bakal ngasih uang ke Ibu, kok."

"Serius?" tanya Ibu Marsih masih belum percaya.

"Iyalah, Bu," balas Arvan meyakinkan. "Bagi Arvan, Ibu itu segala-galanya. Ibu dan almarhum Ayah, udah ngasih Arvan sesuatu yang paling bagus dan baik di dunia ini sejak Arvan kecil dulu."

"Walaupun Ibu dan Ayahmu bukan orangtua kandungmu?"

"Aahhh ....," desah Arvan merasa tidak menyenangi dengan istilah yang digunakan oleh orangtuanya tersebut. "Ibu angkat atau Ibu kandung, bagi Arvan sama aja, Bu. Ibu ini adalah Ibu Arvan sendiri, yang telah banyak berjasa buat kehidupan Arvan dari dulu sampe sekarang Arvan dewasa." Dia menggenggam jemari ibunya dan lanjut berkata, "Hanya saja, sekarang Arvan udah ngerasa ... udah waktunya Arvan memiliki pasangan, Bu. Arvan ingin menikah."

Ibu Marsih menatap sosok anak angkatnya tersebut dengan pandangan tajam.

Ungkap orangtua tersebut akhirnya, "Baguslah kalo emang kamu udah punya keinginan buat segera menikah, Van." Dia menarik napas terlebih dahulu. Sekadar ingin melegakan ruang paru-parunya yang mendadak sesak dan menyempit. "Kebetulan ... Ibu udah nyiapin seseorang buat kamu."

"Seseorang?" Kedua alis Arvan sontak mengentak ke atas. "Maksud Ibu---"

"Ibu punya temen lama, Van," tukas Ibu Marsih mulai bertutur. "Beberapa waktu lalu, kami ngobrol-ngobrol dan sampe akhirnya ... dia ngungkapin hal yang sama."

"Perihal apa?" tanya Arvan mulai menduga-duga. Dia merasa ucapan ibu angkatnya ini, agak sedikit melenceng dari harapan semula.

"Yaaa ... boleh dibilang kayak yang Ibu rasain selama ini, Van," jawab Ibu Marsih. "Dia punya anak perawan yang belum juga nikah. Umurnya mungkin agak sedikit di atas kamu, Van."

"Terus?" Arvan semakin merasa penasaran dan dugaan yang terbersit di dalam benaknya pun kian mendekati.

Diawali sebuah senyuman manis, Ibu Marsih kembali berungkap, "Kalo kamu mau, kamu boleh nikah sama anak temennya Ibu itu."

"Astaga ....!" seru Arvan terkejut. "Ibu bermaksud ngejodohin Arvan sama anaknya temen Ibu itu?"

Ibu Marsih mengangguk.

"Iya, Van. Temennya Ibu itu ... ngerasa rendah diri karena anak perempuan semata wayangnya belum juga menikah. Padahal ... umurnya sudah di atas 30'an tahun, Van."

"Astaga ....!" Kembali lelaki tersebut berseru kaget.

"Tapi ... walopun dia lebih tua dari kamu, anaknya cantik lho, Van. Cocok sama anak Ibu yang ganteng ini. Hehehe."

"Maksudnya bukan begitu, Bu. Tapi Arvan ini---"

"Tenang aja, Nak," tukas kembali Ibu Marsih seperti tidak ingin memberikan kesempatan kepada anaknya untuk menolak atau pun berpendapat. "Nanti ... kalo sampe kamu nikah sama dia, kamu gak perlu lagi capek-capek kerja di pabrik. Karena temennya Ibu itu, bakal ngasih kamu modal buat bikin usaha sendiri. 'Kan, bagus tuh. Lagian, kondisi hidup mereka, gak kayak kita sekarang ini, Van. Pokoknya, kamu pasti bakalan seneng, deh."

Arvan menggelengkan kepala. Ungkap lelaki tersebut dengan sangat terpaksa, "Enggak, Bu. Arvan udah punya calon sendiri. Pilihan Arvan sendiri."

Kedua alis Ibu Marsih pun mendadak bergerak naik disertai kening berkerut hebat.

"Sejak kapan kamu pacaran, Van? Ibu gak pernah lihat kamu bawa-bawa perempuan."

Jawab Arvan mantap, "Ada, Bu. Namanya ... Lasmi. Dia sama-sama pekerja pabrik kayak Arvan. Hubungan kami udah berjalan beberapa bulan yang lalu."

Mendadak raut wajah Ibu Marsih seperti tidak menyukai akan keterusterangan anak angkatnya tersebut.

"Kamu ini 'gimana sih, Nak?" timpal perempuan tua itu dengan nada meninggi. "Kamu ini cuma pekerja pabrik, terus ngedapetin calon istri dari lingkungan pabrik juga? Mau kayak 'gimana entar rumah tangga kamu, Van."

"Yaaa ... gak 'gimana-'gimana, Bu. Normal dan umum aja kayak rumah tangga orang lain," jawab Arvan semakin optimis untuk menikahi Lasmi yang kini sudah berbadan dua tersebut. "Lagian, apa salahnya Arvan punya istri orang pabrik, Bu?"

Ibu Marsih mendengkus dan berkata kemudian, "Maksud Ibu ... kalo kamu jadian sama anaknya temen Ibu itu. kehidupan kamu bakalan terjamin, Van. Gak mesti jadi orang suruhan terus seumur hidup kamu."

Arvan menggelengkan kepala.

"Enggak, Bu. Arvan tetep akan menikah dengan calon istri pilihan Arvan sendiri. Bukan dengan perempuan lain, apalagi anaknya temen Ibu itu," ujar Arvan memastikan.

"Emang kenapa kamu harus mertahanin perempuan pilihan kamu sendiri, Van? Apa dia lebih berharga dan lebih bernilai dari anaknya temen Ibu Itu?" tanya Ibu Marsih penasaran.

Agak lama Arvan tidak lekas menjawab pertanyaan ibu angkatnya itu. Sampai kemudian, usai mengawali dengan tarikan napas mendalam, dia pun menjawab, "Karena ... dia udah memiliki ... calon cucu Ibu, sekaligus anak Arvan sendiri, Bu."

"Apa?" seru Ibu Marsih terkejut luar biasa.

Wajah perempuan tua itu sontak memerah padam, disertai belalak mata yang cukup mengerikan.

...BERSAMBUNG...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!