"Tidak apa-apa. Lagian, kalian bisa menjadi saksiku. Ya, 'kan?"
Imbran tersenyum dan sama sekali tidak memedulikan masalah ini.
Sementara Salsa yang melihat Imbran begitu berani merasa sedikit khawatir. Bagaimanapun, Imbran barusan mengatakan bahwa dia hanya seseorang yang tahu sedikit tentang keterampilan medis dan seharusnya bukan dokter sungguhan. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada orang busuk itu?
Dalam sekejap, pria yang terbaring di tanah tiba-tiba terbatuk. Semua orang sontak terkejut dan bernapas lega mendapati bahwa wajah pria itu telah kembali normal dan menjadi merah berseri. Bahkan, napasnya juga menjadi lebih stabil.
Sudah sembuh?
"Aku ... apa yang terjadi pada diriku barusan?"
Pria itu duduk di tanah dengan linglung dan bertanya dengan ragu-ragu.
"Apakah kamu memiliki penyakit jantung?
Tanya seseorang di samping Pemuda yang ingin kau peras itu telah menolongmu. Cepat berterima kasih pada penyelamatmu!"
"Jika aku jadi dia, aku Tidak bakalan peduli dengan orang yang berani memerasku."
Banyak orang di sekitar mulai merasa kasihan dengan Imbran.
"Ehem. Bocah, terima kasih."
Ekspresi wajah pria paruh baya itu tampak canggung. Di bawah tekanan orang-orang, dia tetap harus berterima kasih kepada Imbran.
Kemudian, Imbran melambaikan tangannya dan berkata sambil tersenyum, "Itu cuma hal sepele. Yang penting kamu jangan memerasku."
"Nak, aku benar-benar Tidak memerasmu. Aku juga ditipu. Aku baru saja membeli ini. Aku juga Tidak tahu itu barang palsu."
Pria itu sungguh ingin menangis.
Imbran mengambil batu tinta dari tangan Salsa dan hendak mengembalikannya kepada pria itu. Namun, dia secara terkejut menyadari bahwa dirinya sepertinya telah mendapatkan keterampilan pencerahan baru, yaitu mengetahui keaslian barang antik.
Kini, dia seperti seorang ahli yang telah terjun di industri barang antik selama puluhan tahun. Dengan melihatnya sekilas, dia sudah bisa membedakan
apakah barang ini asli atau palsu.
Sepertinya, ini berkat tetesan air spiritual yang tidak sengaja tepercik ke matanya barusan. Hanya saja, dia tidak tahu berapa lama ini akan bertahan.
Batu tinta itu memang palsu, tetapi samar-samar memancarkan cahaya emas. Dia melirik orang-orang di sekitarnya dengan aneh, lalu memastikan bahwa cahaya ini sepertinya hanya bisa dilihat oleh dirinya.
Apa mungkin ini benar-benar sebuah barang berharga?
Bagaimanapun, dia tidak perlu buru-buru mencari uang. Jika itu sungguh barang berharga, dia sungguh mendapatkan keuntungan besar.
Itulah sebabnya, Imbran menatap pria itu
dan berkata sambil tersenyum, "Kalau begitu, sebaiknya kamu menjual batu tinta ini kepadaku saja. Lagian, aku juga sangat menyukainya. Kamu juga bisa mendapatkan kembali modalnya, 'kan? Bagaimana?"
Imbran menyentuh sakunya dan mengeluarkan dua juta rupiah. Kemudian, dia melambaikannya ke arah pria itu.
"Aku menawar dengan harga dua juta rupiah."
"Apa? Du-Dua juta rupiah?"
Ekspresi wajah pria itu jelas-jelas menjadi suram.
Kemudian, dia berkata dengan terbata-bata dan tidak puas, "Nak, aku membeli batu tinta ini dengan harga enam miliar rupiah. Tapi, kamu hanya menawarkan dua juta rupiah? Logika dari mana itu?"
"Apa kamu mau mencicilnya?"
Imbran tersenyum dan mengeluarkan nota asli yang terjepit di balik sertifikat keaslian. Harga yang tertera di atasnya ternyata hanya lima ratus ribu rupiah.
ini membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Haha, pemeras yang benar-benar cukup bodoh. Kamu ingin membodohi orang dengan ini? Dasar Tidak punya moral!"
"Benar. Orang itu baru saja menyelamatkan mu, tapi kamu masih ingin mencari uang haram. Benar-benar Tidak tahu malu."
"Tuan muda itu sudah bilang bahwa dia bersedia membelinya seharga dua juta rupiah, tapi dia masih saja ingin menaikkan harga. Benar-benar orang serakah."
Orang-orang di sekitar menunjuk muka pria itu sambil mengkritiknya. Pria itu seketika merasa malu dan sungguh ingin bersembunyi.
Kemudian, dia segera melambaikan tangannya dan berkata, "Baiklah, anggap saja aku sial. Aku akan memberi batu tinta ini secara cuma-cuma untukmu. Oke?"
"Kalau begitu, terima kasih banyak."
Imbran memegang batu tinta itu dan membantingnya ke tanah dengan cepat.
Batu tinta itu langsung retak dan pecah menjadi dua bagian.
Semua orang menarik napas dalam-dalam saat melihat adegan ini.
Mereka berpikir di dalam hati, mungkin pemuda ini bertindak seperti itu hanya untuk melampiaskan amarah nya kepada pria paruh baya tersebut supaya dia tidak melakukan kejahatan lagi ke depannya.
Namun, semua orang segara merasa terkejut. Mereka mendapati Imbran mengeluarkan sebuah emas batangan berkilau dari batu tinta yang hancur itu.
"Wah! Ternyata, benar-benar ada barang berharga. Aku untung banyak, deh. Pantas saja, barang palsu ini begitu berat."
Imbran meletakkan emas batangan kecil itu di telapak tangannya dan merasa senang. Kebetulan, harga emas sedang naik baru-baru ini. Batangan emas kecil ini bisa dijual setidaknya puluhan juta rupiah.
Kini, puluhan juta rupiah memang bukan apa-apa bagi Imbran, Namun siapa yang akan mengeluh karena uangnya kebanyakan?
Melihat adegan ini, pria paruh baya itu sangat marah. Dia sama sekali tidak menyangka ada misteri yang tersembunyi di dalam barang palsu yang dibeli nya itu. Bisa-bisanya, ada harta rahasia di dalam sana.
Namun, apa pun yang dikatakan saat ini sudah terlambat. Dia sendiri yang memberikan batu tinta itu. Sementara itu, batang emas kecil itu juga ditemukan oleh Imbran sendiri.
Seharusnya, dia meminta sedikit uang barusan. Kini, dia bukan hanya tidak mendapatkan apa-apa, tetapi malah rugi lima ratus ribu rupiah. Benar-benar bodoh bukan
Imbran mengambil emas batangan kecil
itu.
dan berjalan ke depan bersama Salsa. Setelah berjalan beberapa langkah, Salsa tiba-tiba meraih tangan Imbran dengan emosi.
Dia lalu segera bertanya, "Imbran, apakah kamu benar-benar menguasai keterampilan medis? Aku mohon, tolonglah kakekku!"
Salsa telah melihat kemampuan Imbran
Barusan saat menyembuhkan pria paruh baya itu.
tadinya dia menduga Imbran tidak akan berhasil namun duga-an nya ternyata Salah Dia baru tahu bahwa Imbran hanya ingin bersikap rendah hati dengan mengatakan hanya sedikit Memahami tentang medis.
Mungkin, Imbran benar-benar memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit kakeknya.
Kakeknya sudah tidak punya banyak waktu lagi. Kini, Salsa hanya bisa mencoba segala cara dan tidak akan melepaskan kesempatan apa pun. Jika
bisa menyelamatkan kakeknya, dia akan sangat bersyukur.
"Oke, oke. tunggu Di acara ulang tahun kakek mu nantinya, aku akan bantu untuk memeriksanya."
Imbran sangat Lugas dan langsung menyetujuinya.
Setelah berjalan beberapa menit, Salsa dan Imbran tiba di sebuah toko barang antik. Kakeknya paling Gemar mengkoleksi Tulisan kaligrafi. Dia juga mengoleksi berbagai kaligrafi dan lukisan di rumah. Salsa ingin memilih sebuah kaligrafi dan lukisan untuk kakeknya sebagai hadiah ulang tahun.
Imbran mengikuti Salsa untuk berjalan masuk ke dalam toko. Dia merasa terkejut karena menemukan bahwa dirinya bisa langsung mengetahui keaslian dari barang-barang itu.
Setelah Salsa masuk dan melihat sejenak,
Dia tiba-tiba mengerutkan alis dan berbalik untuk Hendak pergi.
"Heyy? Kenapa Mau pergi baru juga datang?"
Imbran melirik Salsa dengan bingung dan bertanya dengan ragu-ragu.
"Semua barang di toko ini sepertinya palsu."
Suara Salsa tidak keras, Namun terdengar jelas di dalam toko. Pemilik toko sontak merasa tidak senang dan berjalan keluar.
Dia menatap Salsa sambil mengernyit dan bertanya, "Nona, apa maksudmu? Kualitas barang-barang di tokoku terjamin dan semuanya asli. Atas dasar apa kamu menuduh dan mengatakan barang-barang di tokoku ini semuanya palsu?"
"Ini sangat sederhana, kok. Itu karena karya asli Lukisan Pemandangan Bulan Terang yang tergantung di dindingmu itu
ada di rumahku. Jadi, lukisan di sini adalah barang palsu menurutku"
Salsa sangat percaya diri mengatakan hall tersebut.
"Kamu harus bertanggung jawab atas kata-katamu. Lukisan di tempatku ini memang karya asli. Saudara, tolong bantu aku. Bagaimana bisa ada seorang gadis Liar Berkeliaran disini?"
(To Be Continued)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Alfi
Lanjutkan kak seru cerita nya..
2023-06-07
2