Imbran terkejut,tatkala dia di mintai petugas polisi menyerahkan nomor handphone nya tetapi dia setuju untuk meninggalkan nomor teleponnya.
"jika tidak ada urusan lain lagi aku pergi dulu, ya."
"Ya silahkan dokter sakti."
Gondo buru-buru memberi jalan. "Kamu bisa pergi kapan saja. Hati-hati di jalan ya."
Sikap sopan ketua polisi tersebut membuat Imbran ingin segera pergi, Yuri bertanya dengan ragu" Meskipun dia menyelamatkan nyawa Paman Gondo Seharus nya Paman Gondo tidak perlu begitu hormat padanya, 'kan?"
"Kamu tidak mengerti." jawab Gondo tersenyum. "Betapa besar nyali seseorang sampai bisa menggunakan barang seperti ini untuk menyelamatkan orang lain yang dia tidak kenali? Selain itu, lain kali jangan panggil aku 'Paman lagi Waktu kerja."
Gondo berbicara sambil melirik Banas. Banas hanya bisa berpura-pura tidak mendengar apa yang mereka ucapkan.
Satu setengah jam kemudian, Nathan memasuki sebuah bar yang berada di Pinggiran kota dalam keada-an panik.
Di ruang ekslusif lantai atas, Dickiano Sedang minum Wine yang tampak mewah dengan santai. dan detik berikutnya, pintu ruangan ekslusif tersebut terbuka paksa karena didobrak.
Nathan masuk dengan bahu yang sakit dan tampak kacau.
"kamu Lawan Imbran saja bisa sampai begini? Ayo cicipi Wine ini kita berpesta
untuk merayakan keberhasilan mu dan semua nya sudah ku kusiapkan"
Nathan buru-buru menggelengkan kepalanya. " Wine nya tidak perlu ajudan mu Boru gagal menyelesaikan misi dan aku hampir ditangkap polisi."
Krak!.
Botol wine yang tampak mewah dihancurkan Dickiano.
Kemudian, Dickiano langsung maju dan menendang perut Nathan. "Sialan, kenapa kamu harus pulang kalau Boru ditangkap?
Tugas kecil begini saja kalian bisa gagal?"
Setelah lelah menendang dan memukul,
Nathan yang hanya terdiam Dickiano duduk kembali ke posisi sebelumnya. Wajahnya juga sedikit muram.
Setelah bertahan dari pukulan dan tendangan dickiano selama beberapa Saat Nathan akhirnya bangkit dari lantai. Dia menyeka darah di sudut bibir wajahnya.
"Tuan Muda Dickiano, ini bukan salahku. Imbran terlalu pintar dan kuat. Tujuh atau delapan orang yang seharus nya bisa mengalahkan nya harus menelan pil pahit dalam hitungan menit. Dia benar-benar seperti manusia super!"
"Jangan mencari-cari alasan atas Ketidak mampuanmu!" teriak dickiano.
aku telah cukup lama mengenal Imbran Apa kemampuan Imbran? Imbran hanyalah orang yang tidak berguna! dan suka membual,! camkan itu ucap dickiano
Gangster yang selalu bertarung Sepanjang hidup nya seperti Boru saja bisa dikalahkan oleh Imbran? Lelucon apa ini? Nathan pasti salah perhitungan sehingga para polisi datang dan menangkap mereka apalagi boru adalah buronan yang terkenal.
Memikirkan hal ini, kemarahan Dickiano melonjak mengancurkan Gelas yang di pegang nya.
Dia melirik Nathan sekilas. Saking takutnya, Nathan mundur beberapa meter ke sudut ruangan dan dia menundukkan kepala, siap menerima konsekuensi nya.
Di sisi lain, Imbran sampai di rumah Kontrakan nya,
Tidak tau kenapa, Imbran merasa sedikit tidak Rela ketika melihat isi rumahnya.
Tepat saat, pemilik kontrakan berjalan dan hendak melewati Imbran.
"Dia langsung menghentikannya."
"Permisi bi aku akan segera pindah dari sink Kuberi tahu sekarang, ya."
bibi pemilik kontrakan tercengang tiba-tiba Imbran menghentikan nya dan berkata seperti itu "Imbran, meskipun kamu baru bayar uang sewanya beberapa waktu lalu dan sudah tertulis di kontrak kita. Aku tidak akan kembalikan uangmu."
Sekarang be-berapa juta rupiah sudah bukan nominal yang besar di mata Imbran.
"Tidak perlu. Tolong carikan saja mobil pik-up untukku. Biar aku bisa pindahkan barang-barangku."
apa yang terjadi padamu imbran? Jangan-jangan kamu memenangkan lotre ya?
"tidak ada terjadi apa-apa" ucap Imbran yang tidak suka terlalu mengumbar kekayaan nya saat ini.
setelah be-berapa saat menunggu akhir nya mobil tersebut datang juga
di lantai bawah. Imbran langsung pergi ke vila dengan semua barang-barangnya.
Di tengah tiupan angin senja suasana hati Imbran menjadi sangat bahagia.
Setelah duduk di mobil selama lebih dari setengah jam, dia baru sampai di depan Vila elite.phoenix
Kini, seorang pria paruh baya berdiri di depan pintu. Dia terus menoleh ke sekitar dengan wajah suram.
"Paman, ada apa?" tanya Imbran.
Pria itu kaget sekali melihat Imbran. "Kamu pemilik vila ini?"
Pria itu sangat emosi ketika dia melihat Imbran
"Bisa-bisanya anak sialan itu sembarangan memberikan Vila mewah ini pada orang lain! Benar-benar Membuat ku marah!" gumam pria paruh baya tersebut
Saya Orang tuanya Salsa? Imbran kaget sejenak dan tidak tahu harus berkata apa.
apa
Setelah tertegun sebentar, pria itu buru-buru bangun. Dia mengeluarkan selembar cek dan memberikannya pada Imbran. "Nak, terimalah Vila dan tiga puluh miliar rupiah ini. Kita diskusikan dahulu, kamu menjauh dari kehidupan putriku? Kalian berdua bukan berasal dari dunia yang sama mengerti."
"Paman, jangan salah paham. Kami...
"Kenapa? Masih Belum cukup uangnya?" Mata pria itu melotot.
"Ditambah vila ini, aku sudah memberi kamu Lima puluh miliar rupiah. Kamu harus tahu diri dimana seseorang sepertimu harus berpijak!"
Kemarahan Imbran pun tersulut oleh perkataan pria tersebut. Apakah orang kaya semua nya seperti ini yang selalu memandang rendah orang lain?
"Paman, aku belum melakukan apa-apa sekarang, tapi sudah dapat empat puluh miliar rupiah darimu. Kalau benar-benar terjadi sesuatu di masa depan, bukankah aku bisa dapat lebih banyak uang?" ujar Imbran yang berpura-pura memanasi keadaan dan menjadi pria mata duitan.
Arman hampir saja pingsan karena marah dan geram tangannya gemetaran saat dia menunjuk muka Imbran.
"Kamu serakah sekali! Kalau aku mau, aku punya banyak cara untuk membuatmu menghilang di dunia ini.
"Paman Mengancamku?
Imbran pun tersenyum mencibir "Lalu, apakah Paman percaya, aku juga punya banyak cara untuk membuat Salsa mengambil cuti hamil!"
Dasar bajingan! Umpat Arman.
Dia tidak bisa berkata-kata. Wajahnya sampai menjadi berona merah.
Sekarang Imbran tidak akan berbelas kasihan lagi kepada orang yang memandang rendah dirinya.
saat ini dia bisa membeli Villa di tempat lain. Dia sangat tidak menyukai orang kaya yang sombong.
"Hebat kamu, ya! Tunggu saja,Nanti urusan kita belum berakhir!"
Arman langsung pergi dengan marah-marah
Imbran pun mengusap hidungnya sedikit berlebihan...
Dia harus menjelaskannya pada Salsa nanti.
"Pak, tolong dimasukin ke dalam ya barang-barang tersebut. Ucap imbran memberi perintah kepada sang sopir.
Sopir Pik-up Pun tercengang. "Nak, sepertinya kamu tidak akan bisa tinggal lama di vila ini setelah kamu ribut begitu dengan calon ayah mertuamu."
"Tidak apa-apa, pak aku masih bisa beli dengan uang ku sendiri." kata imbran sambil membantu membawa semua barang-barangnya itu ke dalam halaman vila.
Tepat setelah berkemas barang bawaan nya, ponsel Imbran tiba-tiba berdering. Ada panggilan dari nomor yang tidak diketahui.
Mungkinkah dari rumah? Imbran pun Lekas menjawab telepon.
"Imbran bajingan, hebat kamu, ya! Bisa-bisanya kamu menjerumuskan bawahanku ke penjara!"
Imbran segera mengenali suara tersebut "Dickiano? Aku sudah tahu semua ini ada hubungannya denganmu. Apa selanjutnya kamu akan turun tangan sendiri sini ayo aku tunggu?" tantang Imbran
"Jangan terlalu buru-buru, aku pasti akan penuhi keinginanmu. Selanjutnya, aku akan membuatmu tahu apa itu penyiksaan yang sesungguhnya!"
Setelah berbicara, Dickiano langsung menutup telepon.
"Tut.
"Tut.
Apa kamu sudah gila? Wajah Imbran penuh dengan kebingungan. Dia langsung melempar ponselnya ke samping dan tidak ingin mengurus hal-hal sepele.
Setelah membenahi vila, Imbran melihat ponselnya lagi.
Salsa masih belum membalas pesannya.
Ketika Imbran hendak menelepon, bel pintunya berbunyi.
"Ding'dong
"Imbran, ini aku Salsa Kamu sekarang ada di Vila, 'kan?"
Imbran agak sedikit panik dan bergegas berjalan keluar.
"Salsa, pas sekali kamu datang. Aku hanya bercanda dengan ayahmu tadi Kamu jangan tersinggung, ya."
"Itu tidak penting sekarang ini yang penting." Wajah Salsa sedikit memerah. Butuh waktu lama sebelum dia berkata, "Kamu ada waktu luang tidak beberapa hari ke depan? Kakekku ulang tahun, kamu harus datang, ya."
ada Apa ini?
Sudut mulut Imbran berkedut karena menerima kejutan satu per satu hari ini Imbran menelan Saliva nya dan bertanya dengan tenang, "Aku pergi dengan status apa kesana?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments