Imbran melihat sekelilingnya di mana beberapa orang tergeletak di tanah. Sepertinya tidak ada cara untuk menjelaskan hal dengan pihak polisi yang salah paham.
Imbran pun menggaruk kepala karena bingung.
"Pak Polisi, kamu salah paham. Mereka menyergap aku, lalu aku serang balik. Kalau tidak percaya, periksa saja CCTV ...
Sambil berbicara, Imbran menunjuk kamera pengawasan di atas kepalanya. Namun, dia baru sadar kalau kabelnya telah putus sejak lama.
Apa-apaan ini?
Yusran benar-benar ingin mengumpat.
Sepertinya para gangster ini telah melakukan persiapan yang sangat matang sebelum beraksi.
Namun, seorang petugas polisi wanita di sebelah berbeda pendapat.
"Senior, apakah kita salah? Tidak mungkin dia sendirian bersembunyi di sini dan menyerang mereka, 'kan?"
"Lalu, orang yang melapor barusan itu sangat mencurigakan. Rasanya tidak seperti orang baik."
Nathan mendengar semua percakapan itu dari luar gang.
Seketika, wajahnya berubah masam.
Setelah melihat sekeliling, kebetulan ada orang yang lewat. Nathan pun membulatkan tekad. Dia mengeluarkan dua juta rupiah dari saku dan menghampiri mereka.
"Kak, tolong dong. Nanti kalau aku bilang sesuatu pada polisi, kalian semua ikut mengangguk dan bilang 'iya'. Setelah selesai nanti, aku kasih kalian dua juta rupiah lagi!"
Mereka saling memandang dan tersenyum, lalu mengangguk siapa orang bodoh yang tidak mau uang jika hanya disuruh bicara "Iya saja"tentu mereka bukan orang bodoh tersebut.
Tepat saat itu, polwan datang dan melambai pada Nathan "Pak, tolong ke sini sebentar. Ada yang perlu kami tanyakan."
"Sebentar, aku sekalian cari beberapa saksi untukmu!"
Sembari berbicara, Nathan pun buru-buru memasukkan uang ke tangan beberapa orang itu. Kemudian, dia berjalan ke arah petugas tersebut.
Begitu sampai, Nathan langsung berkata,
ini saksi yang juga melihat pria itu memukul orang tak bersalah para anak muda ini hampir diserang, tapi untungnya aku larang mereka ke gang. Barulah
Mereka selamat."ucap nathan dengan nafas getir.
Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi sehingga mereka hanya bisa terus mengangguk di samping.
Ternyata benar?
Polisi wanita itu menunduk dan merenung sejenak. Rasanya, ada sesuatu yang hilang di dalam cerita saksi itu.
Mobil polisi lain pun lewat dan berhenti di pinggir jalan karena melihat polwan sedang berdiskusi.
Pria paruh baya dengan banyak pangkat bintang di bahunya turun dari mobil. Polwan yang melihat siapa yang datang segera menghampirinya untuk memberi hormat. "Kenapa Pak Gondo di sini?"
"aku cuma Patroli lewat sini. Aku lihat kamu berdiri sini, makanya datang untuk bertanya kamu butuh bantuanku tidak."
Sebelum polwan itu menjawab, Nathan Dengan ekspresi menjilat datang "Apakah Bapak adalah Pak Gondo yang terkenal atas pembasmian kejahatan kriminal dan semacam nya? Ada orang yang melakukan tindakan kekerasan di sini. Sudah banyak orang yang terluka. Cepat
suruh bawahan bapak tangkap dia!"tunjuk nathan ke arah Imbran
Apa-apaan ini?
Gondo Cahyono menatapinya dengan ekspresi tidak suka. Dia paling membenci seorang penjilat.
"Bawa aku ke sana. Lihat siapa yang berani membuat masalah."
Kemudian, mereka berjalan ke arah Imbran
Baru sampai di samping gang, sebuah vas tiba-tiba jatuh dari langit dan pecah di depan Gondo.
Seketika, itu Pak gondo terkejut dan terkena serangan jantung dan jatuh ke tanah. dia Mencoba Meraba-raba sakunya dan mengeluarkan botol obat yang selalu disiapkan nya tetapi isinya kosong.
Polwan yang melihat Senior nya terjatuh itu langsung panik. " Gawat Penyakit Pak Gondo kambuh lagi. Cepat-Cepat Hubungi Ambulans dia berteriak.
Banas Sirjait buru-buru datang. Dia pun tercengang melihat situasi ini.
"Astaga, harus bagaimana ini? Apakah Pak Gondo akan jadi direktur pertama yang mati karena kaget?
Imbran mengintip dari belakang, lalu berjalan mendekat.
"PERMISI" teriak Imbran
"Sebenarnya, aku menguasai beberapa metode pertolongan pertama. Biar aku coba?"
Banas langsung mencekik Imbran. "Dasar bajingan, Lancang kau jangan sembarangan bicara! Apakah kau bisa bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan Pak Gondo?"
"Biar dia coba saja.teriak petugas wanita yang panik. Napas Pak Gondo sudah hampir hilang!"
Mendengar ini, Imbran segera mendorong Banas ke samping. Dia mengeluarkan sebotol kecil air mineral dari sakunya.
Kemampuan khususnya langsung diaktifkan sehingga terjadi sedikit perubahan pada air mineral Imbran segera membuka tutup botol dan mencekoki sebotol air ke mulut pak Gondo.
Semoga saja bisa! gumam nya.
Pada saat ini, kepala Imbran penuh dengan keringat. Bagaimanapun, dia juga tahu sedikit tentang Pak Gondo ini. Gondo sendiri berhasil menggetarkan seluruh organisasi gelap di kota stanfford.dan Gondo juga merupakan seorang pahlawan sejati. Jadi,tanpa banyak berpikir dia langsung ingin mencoba menyelamatkannya.
Setelah beberapa waktu, napas Gondo berangsur-angsur menjadi lebih kuat.dan Wajahnya juga mulai berona merah.
Banas buru-buru mendorong Imbran menjauh dan menekuk satu lututnya untuk membantu Gondo bangun.
"Apa Pak Gondo baik-baik saja? Aku benar-benar kaget setengah mati."
Gondo memaksakan senyum di wajahnya dan berdiri tegak dengan bantuan Banas. Setelah melihat sekeliling, dia langsung berjalan ke arah Imbran dan memegangi
kedua tangan Imbran.
"Nak, tidak, maksudku Dokter sakti., kamu baru saja menyelamatkan nyawaku! Terima kasih banyak!"
Imbran tersenyum canggung. "Aku hanya sekedar beruntung. Aku pernah melihat orang lain menyembuhkan penyakit ini sebelumnya. Jadi, aku juga belajar sedikit."
Pada saat yang sama, ekspresi Gondo tampak sangat bersemangat.
"Kalau begitu, bisakah kamu perkenalkan ahli itu? Lalu, obat sakti yang kamu kasih aku. Obatnya benar-benar mujarab. Tidak hanya menyembuhkan penyakitku, juga masih ada rasa manisnya sekarang. Obat ini benar-benar obat sakti."
Benarkah sehebat itu? Imbran sendiri pun sedikit tidak percaya.
"Beliau hanya beri aku sedikit, lalu entah ke mana perginya."
Mendengar ini, ekspresi Gondo tampak sedikit kecewa.
Tidak ada seorang pun yang tidak menginginkan obat sakti! Jika bisa didapatkan dan dianalisis komposisinya, mungkin bisa memberi manfaat untuk banyak orang.
"Nak, kamu tidak seharusnya menggunakan barang berharga ini untuk menyelamatkan aku."
Sudut mulut Imbran berkedut-kedut karena melihat ekspresi penyesalan diwajah Gondo. Itu hanya terbuat dari air biasa, mengapa begitu dianggap berharga? pikirnya
"Meskipun penyakitmu sudah lebih baik sekarang, kamu tetap harus istirahat. Aku pergi dulu, ya."
Kemudian, Imbran segera mengulurkan tangannya. "Pak Polisi, ayo kita jelaskan masalah ini di kantor polisi. Aku tidak mau difitnah."
Apa?
Wajah Gondo berubah seketika.
"Berhenti kalian berdua! Jelaskan apa yang sedang terjadi!"
Banas menggaruk kepalanya dan menjelaskan keseluruhan masalah secara singkat.
"Dasar bodoh!" Gondo menghela napas. Kemudian, dia mengamati orang-orang yang tergeletak di tanah. "Pria botak itu adalah gangster di wilayah pasir putih. Julukannya Boru."
"Tim tiga sudah mengawasi mereka cukup lama, tapi mereka jarang beraksi sehingga tidak pernah mendapatkan bukti yang kongres.
Tak disangka kalian bisa menangkap banyak orang dalam salah paham hari ini!"
Mengapa bisa begini?
Banas buru-buru melepaskan borgol Imbran.
"Pak, maafkan kecerobohanku tadi. Aku minta maaf."
Imbran buru-buru menggelengkan kepala. "Bapak adalah petugas dinas, tidak perlu bersikap seperti ini padaku. Apalagi Bapak juga tertipu."
Polisi wanita yang bernama Yuri Cahyono pun tersadarkan. Dia buru-buru keluar, dan mencari Nathan namun dia tidak menemukan dimana pemuda tersebut.
Cepat sekali bajingan itu kabur!
"Maaf, komplotannya tadi sudah kabur. Tapi, kita bisa mendapatkan informasi dengan menginterogasi mereka, 'kan?"
Imbran tidak berkomentar. "Karena semuanya sudah jelas, aku bisa pergi,
'kan?"
Saat ini, Imbran buru-buru ingin mengakhiri transaksi rumah sewaannya dan pindah ke vila besar tersebut.
"Tunggu, Nak, aku belum sempat tanya siapa namamu. Bisakah kamu tinggalkan nomor teleponmu?"
Gondo memberi isyarat mata pada Yuri agar mencatat nomor telepon Imbran.
(To Be Continued)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments