"Nona, aku sudah bawakan kunci perumahan vila kita. apakah anda sendiri yang akan mengantar Pak Imbran untuk Melihat vilanya sekarang?"
Staf pemasaran menyela percakapan me. Dia datang dengan ekspresi menyanjung dan sering memberi tatapan centil pada Imbran.
Biar aku saja jawab Salsa,dingin
Salsa memasukkan ginseng kembali ke dalam ranselnya. Setelah melirik kunci itu, dia langsung membuat keputusan.
"Bawa kunci vila dekat laut dan urus administrasi pengalihan namanya."
Mendengar bahwa dia akan segera memiliki vila dengan pemandangan laut, Imbran langsung menelan air liurnya dan mengeluarkan kartu ATM nya.
"Ini semua tabunganku. kurang lebih dua puluh miliar ada di kartu itu, apakah cukup..."
"Hahaha!"
Suara tawa Salsa pun menyela
Perkataan Imbran.
"Itu hanya vila. Aku langsung kasih kamu saja. Semua itu tanah keluargaku dan tidak seberapa mahal."
tanpa sungkan lagi imbran berterima kasih,namanya orang kaya pasti memiliki kuasa? Sudut mulut Imbran pun Tersenyum manis.
Tidak lama kemudian, Staf Reall estate selesai mengurus Semua pra-syarat administrasinya. Dia menyerahkan Surat. Rumah yang telah ditandatangani manajer administrasi kepada Imbran.
"Kamu mungkin belum tahu tempatnya, 'kan? Aku antar kamu ke sana dulu ya." Sambil Berbicara, Salsa lalu berjalan keluar bersama Imbran.
***
Di Sisi lain, Nathan langsung menyerbu keluar ketika pintu dibuka.
Para Satpam juga Tercengang. Mereka Segera mengejarnya, tetapi sudah Tertinggal jauh.
"Nona, maafkan kami ... " Ketua satpam segera berlari kemari. Dia menundukkan kepala dan siap dimarahi.
Namun, Imbran melambaikan tangannya dengan santai. "Lagi pula, tadi tidak terjadi apa-apa. Masalah ini sampai di sini saja. Aku sudah tidak sabar ingin lihat rumah baruku."ucap Imbran tanpa memperdulikan masalah sepele tentang nathan.
Salsa menganga,dan tidak berbicara. Setelah itu, dia mengantar Imbran ke vila dengan pemandangan laut yang sangat panorama sekali
Di sisi lain, Nathan berlari ke dalam gang sempit di dekat kantor pemasaran perumahan dengan panik. Dia tersandung
tempat sampah sebelum berhenti dan terengah-engah. Dia tidak menghiraukan lalat yang berdengung di samping.
Tepat pada saat ini, beberapa suara langkah kaki perlahan mendekat.
"Tidak disangka ternyata cepat juga kamu lari, ya. Kalau tidak pakai mobil, benar-benar sulit untuk kejar kamu!"
Nathan langsung panik. Dia mengambil batu bata di samping sambil mewaspadai orang di sekitarnya.
"Kenapa kalian mengejarku sampai sejauh ini? Kalian juga kacung Keluarga Lunar? Cepat pergi dari sini! Kalau tidak, awas kulempar dengan batu bata ini!"
Mendengar ucapan tersebut orang di depannya tertawa mengejek.
"Penakut sepertimu juga berani melawan Keluarga Lunar? Benar-benar cari mati! Tapi, kamu seharusnya berguna untuk Tuan Muda."
Nathan kebingungan mendengarnya. Namun, orang itu langsung mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
Setelah berbicara singkat, dia menyodorkan ponselnya kepada Nathan.
nathan mengambil ponsel itu dengan hati-hati. Begitu didekatkan nya ke telinga, dia mendengar suara yang familiar.
"Teman lamaku, lama kita tidak bertemu."
Suara ini, Dickiano Angkasa?
Seketika, Nathan juga tampak bingung.
"Aku tidak akan basa-basi denganmu. Kalau kamu ingin beraliansi denganku untuk melawan Imbran, langsung ketemu aku." Dickiano menutup teleponnya setelah selesai bicara.
Di samping, beberapa orang melakukan gestur tangan mempersilakan.
"Kenapa kamu bengong saja?"
Setelah berpikir lama, Nathan membulatkan tekad dan pergi bersama mereka.
***
Satu jam kemudian, Imbran sampai di vila dengan Ciri khas pemandangan laut yang Asri.
Begitu pintunya dibuka, tampak banyak kotak kaca di halaman yang cocok digunakan untuk membudidayakan ikan.
Interiornya sudah siap dan lengkap dengan segala macam perabotan.
"Aku memang siapkan vila ini untukmu. Semoga kamu suka."
Imbran mengangguk. Dia sangat menyukai Vila ini.
Gaya dekorasi desain nya,
benar-benar adalah yang terbaik.
Salsa menyerahkan kunci vila kepada Imbran. "Mulai hari ini, kamulah pemilik vila ini. Kabari aku saja kalau kamu butuh apa-apa."
Memangnya, ini masih belum cukup memuaskan? Imbran pun basa-basi sedikit dengannya.
"Di sisi lain, Nathan tiba di sebuah kedai teh dan masuk ke dalam. Dickiano sedang minum teh bersama seorang pria botak dengan tato di lengannya.
"Teman lamaku, pilihanmu sangat tepat."
Nathan langsung ke intinya. "Katakan saja, bagaimana rencanamu untuk melawan Imbran? Apa yang harus kulakukan?"
"Jangan buru-buru." Dickiano menuangkan secangkir teh untuk Nathan.
"Dari informasi yang ku dapat kan katanya kamu kerja di Grup Phoenix, ya? Harusnya kamu sangat akrab dengan kawasan vila di sana, 'kan?"
"Tentu saja." Nathan menepuk dadanya. "Pada dasarnya, aku pernah mendatangi hampir semua vila di sana."
Baguslah kalau begitu!
Baru setelah itu, Dickiano berkata, "Sebenarnya, aku telah mengamati Imbran untuk waktu yang lama. Untuk melawan dia, hanya bisa menggunakan cara keras. Tidak bisa terlalu lunak padanya!"
Boru yang duduk di seberang meregangkan otot-otot nya yang kekar.
"Tuan Muda Dickiano, bukankah ini alasan kenapa anda memanggil kami di sini? Lagi pula, inilah pekerjaan kami. Kalau ada kesempatan, kami pasti akan melakukan pelampiasan untukmu!"
Nathan pun menelepon seseorang ...
Dickiano juga menoleh pada Nathan
"Jangan khawatir, meskipun aku sudah dipecat, aku masih punya koneksi. Mudah sekali untuk mencari tahu tempat tinggal nya.
Dua jam kemudian, Imbran berencana pulang ke rumah Kontrakan nya untuk mengambil sesuatu.
Namun, dia kembali diincar oleh beberapa orang begitu dia keluar dari kompleks. Baru saja sampai di tempat sepi, tujuh atau delapan orang tersebut sontak mengerumuni dan mengepung Imbran.
Imbran menatap ganas kepada mereka sambil meregangkan pinggangnya.
"Setelah mengikutiku begitu lama, akhirnya kalian mau muncul juga?"
Imbran selalu merasa dirinya diawasi secara diam-diam dalam beberapa waktu terakhir ini, Mereka akhirnya muncul saat ini.
Ternyata mereka telah lama ketahuan?
Boru mendengkus dingin. "Kamu ternyata kejam juga, ya. Tapi, tidak ada gunanya!"
Dengan satu lambaian tangan Boru
para anak buah nya serempak mengeluarkan tongkat besi dan menunjuk wajah Imbran dengan ganas.
Imbran sedikit kecut karena tatapan ganas dari rombongan Boru
Namun, memikirkan perubahan yang terjadi pada tubuhnya Akhir-akhir ini, rasa kecut itu tiba-tiba menghilang. Dia langsung menyerbu ke Gerombolan gank boru.
Dalam pertarungan, hendaklah menaklukkan pemimpin lawan lebih dulu!
Imbran langsung meninju dagu Boru. Boru terpental sejauh lebih dari tiga meter dan jatuh ke tanah. Dia pingsan seketika.
Melihat ketua mereka di serang tanpa melawan gangster lainnya maju serempak.
Namun, Imbran bagai dirasuki oleh dewa perang. Dia dengan mudah menjatuhkan mereka semua. Semuanya terbaring di tanah sambil melolong kesakitan.
Di samping tempat sampah dekat sana, Nathan mengawasi situasinya sepanjang
pertarungan
Keringat Dingin mengalir tiada henti ketika dia melihat Imbran menjatuhkan semua gangster kekar yang bukan bocah kemaren sore. mereka semua sudah sering melakukan kegiatan ilegal yang tak terhitung jumlah nya, namun di mata Imbran mereka semua tak ubah semut di injak mati
Sial, kapan Imbran menjadi begitu pandai bertarung? Memikirkan hal itu Nathan Pun Jadi ngeri sendiri,
Tepat saat ini, sebuah mobil polisi berhenti di samping. Nathan Dia seolah mendapat ide. Senyuman jahat tersungging di wajahnya yang mesum Dia langsung berjalan keluar.
"Polisi, To-tolong! Ada orang di sana yang memukul orang dengan sembarangan. Sudah beberapa orang yang terluka!"
Apa?
Beberapa petugas polisi itu segera berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Nathan.
Sampai di sana, benar seperti yang
dikatakan oleh Nathan, Imbran berdiri di tempatnya dan ada beberapa orang yang tergeletak di tanah.
"Kamu, angkat tanganmu dan jongkok!" teriak petugas polisi.
Imbran menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Pak Polisi, maksudnya aku?"
"Siapa lagi kalau bukan? Kamu.
kamu terlibat dalam kasus melukai orang dengan sengaja. Mari ikut dengan kami!"
dan jelaskan semua nya di kantor.
(To Be Continued)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments