Kebetulan Imbran baru saja turun dari taksi. Dia datang ke sebuah kantor Real-estate untuk melihat Perumahan dan meninjau langsung lokasi tersebut. Saat ini, dia sangat bersemangat karena impiannya akan segera terwujud.
Namun, ponselnya tiba-tiba berdering sebelum dia masuk.
Begitu tersambung, Salsa berkata langsung ke intinya di telepon, "Di mana kamu? Aku baru beli barang bagus. Biar kamu lihat juga, deh."
"apa itu"
"nanti aja,jawab Salsa"
Imbran sangat tertarik.
Dia pun menjawab, "Aku di kantor pemasaran Grup Phoenix. Aku cuma lihat-lihat saja"
"Kamu tunggu sebentar, ya. aku akan segera ke sana."
Selesai berbicara, Salsa menutup telepon dan langsung masuk ke dalam mobil. Setelah dipikir-pikir, dia menelepon seseorang. "Paman bertugas di kantor pemasaran perumahan kita, 'kan?"
Di sisi lain, Imbran melamun beberapa detik sambil melihat ponselnya.
Orang yang aneh. Imbran bergumam dalam hati dan memasuki kantor Real-eastet tersebut.
Begitu masuk, beberapa staf pemasaran serempak menatap Imbran Sinis dan Jijik.
Setelah melihat penampilan Imbran. Mereka pun mengabaikannya.
"Halo, aku ingin...
"belum sempat Imbran bertanya Imbran langsung disela oleh salah satu dari mereka.
"Toiletnya belok kanan lurus terus jangan masuk pintu kanan itu Ruang HRD Jangan sampai kotor."
Apa maksudnya? Imbran tampak bengong.
"Aku ingin beli rumah bukan ke toilet. Bisakah kalian perkenalkan vila dengan Desain Pemandangan laut kalian?"
Salah seorang staf yang mendengar perkataan imbran sontak terkejut dan menjatuhkan Pena nya ke lantai. Mereka semua menatap Imbran dengan kaget.
Setelah jeda yang cukup lama, seseorang akhirnya bertanya, "Dari rumah sakit jiwa mana orang ini? Dia kira apa tempat kita ini? Bisa-bisanya dia bilang dia mau beli rumah?"
Tepat saat ini, manajer pemasaran segera datang dan melihat-lihat di depan pintu.
"Aneh. Katanya ada tamu terhormat yang datang, 'kan? Mana orangnya?"
"Tidak ada tamu terhormat, tapi ada satu orang gila, ucap salah satu staf yang mendengar perkataan sang manager.
Mendengar ini, Sang Manajer baru menoleh pada Imbran dan langsung terkejut.
"Imbran, ternyata kamu?"
Nathan Nugraha? Wajah Imbran sedikit masam. setelah melihat orang yang baru datang,?
Beberapa bulan yang lalu, mereka adalah teman kuliah. Namun, mereka tidak menyukai satu sama lain.
Keluarga Nathan relatif kaya. Dikatakan bahwa Nathan mendapatkan pekerjaan yang baik melalui koneksi orang dalam berbagai bidang. Tidak disangka Nathan adalah Seorang manajer dari Grup Phoenix
Setelah bertatapan beberapa detik, Nathan Pun Mulai bicara.
"Aku kira siapa? Ternyata kamu Imbran. Dilihat dari pakaianmu, sepertinya kamu belum mendapatkan pekerjaan, 'kan? Kami kebetulan sedang mencari petugas kebersihan. Apa kamu mau coba?"
Staf Pemasaran di Samping langsung berkata dengan sarkastis, "Dia datang untuk membeli vila, bagaimana mungkin jadi petugas kebersihan?"
Detik berikutnya, semua orang tertawa terbahak-bahak.
"Bagus juga, tapi kamu bisa kembali di lain hari. Nanti akan ada tamu terhormat. Kamu menghalangi kami di sini."
"Kamu yakin?" Mendengar Nathan yang hendak mengusirnya, Imbran pun berdiri di tempat sambil Memicingkan matanya.
Benar-benar bodoh! Natham berpikir dalam hati. Kemudian, dia menoleh pada satpam di sampingnya.
Begitu dia melambaikan tangan, para satpam segera paham. Mereka pun menyingsingkan lengan baju dan hendak mengusir Imbran
"Tepat saat ini, mereka dihentikan oleh...
"Aku justru mau lihat siapa yang berani mengusir tamu terhormatku!"
"Memangnya siapa kamu?" celetuk Nathan sambil berbalik. Detik berikutnya, wajahnya menjadi pucat pasi."No-Nona, maafkan kelancanganku."
Kemudian, Nathan menampar dirinya sendiri sebanyak dua kali. Wajahnya bengkak seketika.
"Grup Phoenix memangnya punya keluargamu?" Melihat perubahan sikap para staf, Imbran segera menoleh pada Salsa dengan sangat terkejut dan berkata Salsa "Kamu"
"Kakekku beli beberapa bidang tanah Dulu saat dia masih muda. gak nyangka, makin hari makin berkembang dan jadilah perusahaan ini."
Benar-benar rendah hati. Gumam imbran pun berkomentar dalam hati.
Detik berikutnya, Salsa menghampiri
Imbran dengan marah. "Kamu juga. Kenapa kamu tidak beri tahu aku kalau kamu tidak punya tempat tinggal? Kamu bisa suruh aku mencarikan perumahan yang mewah untukmu!"
Melihat perubahan situasi ini, Nathan berkeringat dingin dan tanpa rasa malu, datang dengan ekspresi menyanjung.
"Teman kuliahku ini ingin beli vila, Bagaimana pengaturannya menurut Nona?"
Sekarang baru panggil teman kuliah?
Salsa menyeringai. "sepertinya aku tadi tidak mendengar kamu bilang begini saat aku berada di depan pintu tadi."
Mampus...
Nathan hanya bisa berdiri sambil bengong di samping dan menundukkan kepala.
"Semua ini tidak penting. Kemas barang-barangmu. Aku tidak ingin lihat kamu lagi di perusahaan kami."
Apa?
Nathan nyaris jatuh berlutut karena kakinya lemas.
"Nona, mohon beri aku satu kesempatan lagi. Pamanku adalah direktur perusahaan Phoenix. Untuk itu, tolong ampuni aku."Nona;
Salsa tersenyum misterius. "Malah mengaku sendiri! Aku akan telepon nanti. Kalian bisa pergi bersama-sama."
Mengapa bisa begini?
Malang tiada datang tunggal!
Mata Nathan membelalak. Napasnya jelas jauh lebih berat dan terengah-engah.
"Meskipun aku menyinggung orang kampungan ini, Nona tidak perlu memecat aku, 'kan?"
"Coba kamu ulangi?" Tatapan Salsa menjadi lebih tajam. Dia mengepalkan dua tangannya erat-erat. "Siapa pun kamu,
Kamu tidak berhak untuk menghina Imbran! "Mulai hari ini, seluruh industri properti akan menolak untuk mengerjakan kalian.
Dasar wanita ******!
Kemarahan di hati Tommy langsung tersulut. Dia mengambil model
perumahan di samping dan berlari kencang untuk menghantamkannya dengan keras ke kepala Salsa.
Pada saat kritis, Imbran langsung maju dan memblokirnya dengan lengan.
Krak!
Model perumahan itu hancur berserakan. Imbran segera menendang Tommy sampai terpental mundur lebih dari empat meter.
Kemudian, semua satpam bergegas menjatuhkan Nathan,!
Salsa buru-buru menghampiri Imbran dan melihat nya dengan wajah cemas dan khawatir. "Apa lenganmu baik-baik saja? Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang."
Imbran menolak mentah-mentah, "Tidak apa-apa. Kulitku tebal, sama sekali tidak sakit."
Sembari berbicara, Imbran menarik Lengan bajunya. Tidak ada goresan sedikit pun di sana.
Sehebat itu? Salsa menganga karena terkejut.
"Jangan bicarakan ini dulu. Bukankah kamu bilang mau tunjukkan sesuatu
padaku?"
Imbran buru-buru mengubah topik untuk mencegah Salsa curiga padanya.
Salsa baru sadar. Dia mengeluarkan kotak kayu dari ransel dan membukanya dengan hati-hati.
Isinya adalah sebatang ginseng yang seperti lobak.
Imbran tercengang di tempat. Selain tidak ada tanahnya, bukankah ini ginseng yang baru saja dia jual?
"Ini namanya ginseng berusia 100 tahun. Aku baru saja beli seharga sepuluh miliar rupiah."
Sudut mulut Imbran berkedut. Sesaat kemudian, dia baru berkata, "Keluarga Lunar benar-benar kaya...'
(To be Continued)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments