"Penampilan dan akar keempat ginseng ini hampir identik dengan ginseng berusia 100 tahun. Akan tetapi, Imbran tahu bahwa khasiat obat yang terkandung dalam keempat ginseng ini dua kali Lipat lebih kuat dari ginseng liar berusia 100 tahun diluaran sana,!
Bagaimanapun juga, ginseng-ginseng ini dihasilkan dengan Pemadatan air spiritual.
Dengan hati-hati, Imbran membungkus ginseng-ginseng ini dengan kain. Setelah itu, dia keluar dengan membawa dua ginseng. Jumlah uang di rekeningnya masih kurang delapan miliar rupiah untuk mencapai dua puluh miliar rupiah. Jadi, dia akan menggenapinya dengan menjual dua ginseng ini.
"untuk dua ginseng yang tersisa, dia akan menyimpannya dahulu. Mungkin saja suatu saat dia
akan membutuhkannya."
"Imbran yang duduk di taksi mendadak menyadari bahwa dirinya sangat sibuk dua hari ini. Entah sibuk berlayar di laut atau bepergian dengan menggunakan taksi. Setelah membeli vila dan mobil, dia harus beristirahat dengan baik selama beberapa hari.
Jika pemikiran Imbran ini diketahui oleh pemuda-pemudi yang sedang berjuang, mengais Redzeki dia pasti akan dihajar habis-habisan. Dia terlalu menjengkelkan.
Bukankah, dia hanya menangkap beberapa udang di laut dan menggoda wanita cantik selama sehari? Apanya yang sibuk? Dia bahkan telah mendapatkan beberapa miliar rupiah dari Wanita itu, Dia masih berpura-pura polos setelah untung besar!
Namun, Imbran yang memiliki kemampuan hebat memang berpikir begitu.
Tidak lama kemudian, taksi berhenti di luar toko obat tradisional terbesar di Starfford, Apotek Pratama. Setelah membayar Taxi,Imbran pun masuk ke toko.
Apotek Pratama didekorasi dengan sangat elegan dan memiliki Aroma bau tanaman herbal.
Seorang gadis cantik berusia 16 atau 17 tahun dengan rambut Tergerai Lurus dan aura muda menghampirinya, lalu bertanya dengan sopan, "Halo, Kak. Apa Anda ingin membeli bahan obat?"
"Tidak, aku datang untuk bertanya, apakah kalian mau membeli bahan obat dariku?" Imbran merasa agak malu dengan gadis itu.
"Apotek Pratama kami memiliki pemasok khusus bahan obat agar kami bisa menjamin bahwa setiap bahan obat itu asli. Jadi, kami tidak menerima bahan obat biasa. Tapi, kami masih menerima beberapa bahan obat yang berharga," Jawab gadis itu dengan sangat profesional.
"Baguslah. Aku punya dua tanaman ginseng liar yang ingin aku jual kepada kalian. Mintalah bosmu untuk keluar dan melihat barangnya." Imbran merasa lega karena Apotek Pratama mungkin akan menerima ginsengnya.
"Ginseng? Bisakah saya melihatnya dulu kak?" kata gadis itu sambil melirik Imbran.
Apotek Pratama juga menjual bahan obat seperti ginseng. Ketika gadis itu mendengar bahwa Imbran hendak menjual ginseng, dia sontak berpikir bahwa ginseng yang dijualnya hanyalah ginseng liar yang menurutnya biasa saja Jadi, dia tidak terlalu antusias.
"Tentu."
Imbran juga tidak terlalu peduli. Bagaimanapun, barang yang mau dijual memang harus diperlihatkan terlebih dahulu.
Setelah Imbran membuka kain yang membalut ginseng, kedua mata gadis itu
langsung terbelalak.
Dia memang belum pernah melihat ginseng berusia 100 tahun. Namun, dilihat dari penampilan ginseng yang dikeluarkan pria di depannya ini jelas merupakan ginseng liar yang berusia tua.
"Kak, silahkan ikuti saya. saya akan membawa Anda bertemu dengan bos apotek ini" kata gadis itu dengan hormat. Setelah melihat ginseng Imbran, sikap gadis itu juga berubah.
Imbran mengikuti gadis itu ke belakang toko. Mereka sampai ke sebuah halaman kecil. Banyak bahan obat yang ditata rapi di pengki bambu dan dikeringkan di rak memancarkan bau bahan obat.
Di sana, ada seorang pria tua berusia 60-an tahun dan berjanggut yang mengenakan jas putih panjang dan kacamata bulat. Dia tampak sangat berpengalaman dalam pekerjaannya.
"Kakek, kakak ini ingin menjual dua ginseng liar ke Apotek kita," kata gadis tersebut kepada sang pria tua dengan riang.
Mendengar ucapan gadis itu, Imbran sontak menatapnya penasaran. Tak disangka, gadis ini adalah cucu bos apotek ini.
"Sepertinya, ginseng yang dibawa olehnya sudah sangat tua. Kalau tidak, kamu tidak mungkin membawanya menemuiku." Pria tua itu menatap cucunya sambil tersenyum.
Dari kata-katanya, terdengar jelas bahwa dia sangat menyayangi cucunya.
"Kakek, aku memang tidak bisa menyembunyikan apa pun darimu." Gadis itu menyanjungnya.
"Dasar gadis kecil," kata pria tua itu. Kemudian, dia menatap Yusran dan berkata, "Nak, bisakah aku melihat
ginsengmu?"
"Tentu," Jawab Imbran sambil menyerahkan ginsengnya.
Setelah pria tua itu mengambil ginseng itu, dia mengamatinya dengan saksama.
Tak lama, ekspresi terkejut, muncul di wajah pria tua itu.
Kemudian, dia mendongak dan menatap Imbran. "Nak, bolehkah aku bertanya di mana kamu menggali dua ginseng ini?"
Pria tua itu bisa membuka toko bahan obat tradisional yang begitu besar karena memiliki wawasan yang begitu luas tentang bahan obat tradisional. Dengan sekilas pandang, dia tahu bahwa kedua ginseng ini baru saja digali.
"Ini...
Untuk sesaat, Imbran benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Mungkinkah, aku harus jujur memberitahunya bahwa dua ginseng ini baru saja aku gali dari pot tanaman?
Tentu saja, meskipun dia berkata begitu, mereka juga tidak akan percaya.
"Hahaha. Sepertinya aku bertanya terlalu jauh." Pria tua itu tidak peduli, bagaimanapun juga, ini adalah rahasia orang lain. "Ngomong-ngomong, apa kamu benar-benar bersedia menjual dua ginseng ini? Apa kamu tidak tahu tentang khasiat ginseng?"
"Saya butuh uang," ucap Imbran dengan blak-blakan. "Saya tidak tahu banyak tentang ginseng ini. tapi saya juga tahu bahwa kedua ginseng ini sudah cukup tua."
"Ya, kedua ginseng ini sama-sama berusia 100 tahun, kualitasnya juga sangat bagus. Keduanya adalah ginseng berusia 100 tahun berkualitas terbaik yang pernah aku lihat."
Ketika pria tua itu bicara, matanya tertuju
pada dua ginseng itu. Sorot matanya
penuh dengan keterkejutan dan sukacita.
Terlihat jelas bahwa pria tua itu sangat
menyukai bahan obat tersebut.
Melihat bahwa pria tua itu tidak menyembunyikan apa-pun tentang ginsengnya, Imbran sontak tersenyum tanpa mengatakan ара-ара.
Tentu saja, jika pria tua itu mengatakan bahwa kedua ginsengnya itu belum cukup tua atau kualitasnya buruk, Imbran akan mengambil ginseng itu dan segera pergi. ginseng berusia 100 tahun sangat langka di dunia. Begitu muncul, ginseng itu pasti akan terjual dengan harga fantastis
Bagaimanapun, ginseng berusia 100 tahun adalah Bahan obat untuk memperpanjang hidup.
"Nak, apa kamu benar-benar bersedia menjualnya?" tanya pria tua itu memastikan lagi.
"Ya, saya butuh uang. Saya akan bertanya langsung, Anda bersedia membayar berapa untuk kedua ginseng ini?" tanya Imbran dengan gamblang.
"Aku bersedia membayar enam belas miliar rupiah untuk dua ginseng ini." Setelah memikirkannya sejenak, pria itu menyebutkan harga. "Aku ingat bahwa tiga tahun lalu, ada pelelangan ginseng berusia 100 tahun. Harganya mencapai Delapan miliar rupiah. Saat itu, rumah lelang menarik sejumlah komisi atas transaksi itu. Tapi, aku akan membayarmu langsung tanpa menarik komisi."
Pria tua itu bersedia membayar delapan miliar rupiah per satu ginsengnya karena yakin akan kuantitas ginseng ini. Jika tidak, dia tidak akan membayar harga setinggi itu.
"Deghhh.
"Oke. Jadi, enam belas miliar rupiah, ya." Ketika Imbran mendengar jumlah uang itu, jantungnya sontak berdegup kencang.
Namun, dia tetap mempertahankan ekspresi wajah dan nada bicaranya setenang mungkin.
"Nak, berapa nomor rekeningmu? Aku akan mentransfer uangnya kepadamu sekarang." Melihat Imbran setuju, pria tua itu pun tersenyum lugas.
Bagaimanapun juga, ginseng berusia 100 tahun adalah barang langka. Tidak peduli apakah kedua ginseng ini disimpan atau dijual, dia tidak akan rugi.
Setelah uangnya masuk ke rekening, Imbran bersiap untuk pergi.
(To Be Continued)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments