"kehidupan masyarakat Kini sudah lebih baik. Berbagai penyakit pun datang Makin kaya orang itu, makin takut pula dia akan kematian. Orang-orang yang hidup dengan nyaman dan bahagia tentu saja tidak ingin mati Di umur yang terbilang masih hanya karna sebuah penyakit.
Tidak apa-apa kalau hanya menderita penyakit ringan. Dengan kemutahiran teknologi saat ini, mereka hanya mengeluarkan uang untuk menyembuhkannya.
Namun, jika seseorang menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan oleh alat" Tekhnologi menjadi kaya pun tidak ada gunanya.
Jika "aku" bisa menggunakan kemampuan tetesan air Spiritual untuk menyembuhkan penyakit orang-orang, uang pasti akan datang berbondong-bondong ke dompetku.
Selain mendapatkan uang dia juga akan mendapatkan banyak koneksi.
Namun, menemukan cara untuk memproduksi tetesan air spritual bukanlah tugas yang mudah untuk Imbran Lagi pula, sesuatu tentang medis harus di pahami dasar-dasar nya dulu,
Setelah berpikir cukup lama, Imbran masih belum menemukan cara apa pun untuk menggunakan tetesan air spritual ini. Dia hanya bisa mengesampingkan masalah ini untuk sementara waktu dan menunggu peluang berikutnya di masa depan.
Imbran merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Setelah mengecek beberapa hal di ponsel, dia pun tertidur.
Imbran sudah tidur, tetapi beberapa orang lainnya masih belum tidur.
Di tempat hiburan termewah di Starfford Kelab Bintang.
Di sebuah ruangan pribadi mewah No.989
Dickiano sedang memikirkan cara untuk Menyingkirkan Imbran dengan ekspresi Serius.
Seorang pria berpakaian mewah dan seumuran dengan Dickiano merangkul seorang wanita genit. Dia berkata dengan ekspresi acuh tak acuh, "Kak Dickiano, menurutku, minta saja Boru mengirim seseorang untuk memberi Bocah itu pelajaran."
"Terlalu ringan jika aku langsung memberinya pelajaran begitu saja. Dia sudah berani menyentuh wanitaku. Jadi, dia harus diberi pelajaran yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya" jawab Dickiano dengan ekspresi dingin.
Sejujurnya, Dickiano kesulitan menghadapi Imbran. awalnya, dia menggunakan Relasi nya menghalangi jalan pemuda itu untuk mencari pekerjaan sehingga dia bisa mengintimidasinya sesuka hati. Namun, bocah itu seakan di bantu oleh Dewa keberuntungan Bisa mendapatkan makanan laut.
Dan uang yang di hasilkan lebih dari Miliaran rupiah.
Untuk saat ini aku rasa bocah itu sama sekali tidak mengkhawatirkan masalah pekerjaan.
Pemuda itu tidak kekurangan uang dan tidak punya kelemahan lainnya. Dalam menghadapi orang seperti ini, Dickiano tidak punya cara selain mengirim seseorang untuk menghajarnya diam-diam Dan membiarkan musuh nya menikmati sisa hidup dirumah sakit itu pun jika uang nya masih cukup.
"Gampang saja. kak Minta saja Boru untuk menangkapnya dan menyiksanya habis-habisan selama beberapa hari. Dia pasti akan kapok. Selama dia tidak mati, masalah lainnya akan mudah diselesaikan."
Pria berpakaian mewah itu meraba-raba tubuh wanita di sampingnya sambil berkata, "Saat itu, kamu tinggal memotret penampilannya yang menyedihkan. Menurutmu, apa Salsa masih akan menyukainya?"
"Benar juga, Samsul, kenapa aku tidak kepikiran, ya? Hubungi Boru sekarang juga. Selama dia menyelesaikan tugas nya dengan baik, aku pasti akan membayarnya dengan harga tinggi," jawab Dickiano. Perkataan Samsul ini membuat Dickiano seketika bersemangat.
"Kak Dickiano, kamu pasti jadi linglung karena terlibat langsung dengan masalah sepele seperti ini. Apalagi, kamu terlalu peduli pada Salsa. Itu sebabnya kamu tidak kepikiran tentang cara ini. Jangan khawatir, serahkan saja masalah ini padaku. Aku pasti akan mengurusnya sampai beres."
Samsul Sunjaya melepaskan tangannya dari tubuh wanita itu, lalu menepuk dadanya dengan yakin.
Keluarga Sunjaya termasuk keluarga yang lumayan kaya di Starfford. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan Keluarga Dickiano mereka tidak ada apa-apanya. Jadi, Samsul selalu menjadi pengikut Dickiano dan sekalian bertugas memberikan saran.
"Begitu Imbran terbangun dari tidurnya, dia langsung melihat ke arah pot kaktus.
Dia mendapati bahwa kaktus itu tidak hanya hidup kembali, tetapi juga tumbuh dua kali lipat lebih besar.
Saat ini, Imbran tiba-tiba mendapat inspirasi. Jika tetesan air yang dia padatkan memiliki efek seperti itu, bagaimana jika dia memberikannya pada benda lainnya?
Misalnya, ginseng, fallopia multiflora, dan bahan obat berharga lainnya.
Memikirkan hal ini, Imbran sontak merasa bahwa pemikirannya kemarin itu salah. Meskipun tetesan air itu tidak bisa digunakan untuk mengobati penyakit, dia bisa menggunakannya untuk mengultivasikan bahan obat.
Imbran buru-buru mandi dan keluar.
"Setelah sarapan, dia pergi ke pasar dan menghabiskan seratus ribu rupiah untuk membeli sekantong kecil bibit ginseng liar.
Setelah itu, dia menghabiskan empat ratus ribu lagi untuk membeli empat pot besar dan sekantong besar tanah. Kemudian, dia kembali ke rumah Kontrakannya dan mulai menyibukkan diri.
Pertama-tama, dia mengisi keempat pot dengan tanah, lalu menempatkan satu bibit ginseng liar di setiap pot. Terakhir, dia mulai memadatkan air spiritual.
Tetesan air yang dia padatkan kemarin penuh dengan energi kehidupan sehingga Imbran menyebutnya air spiritual.
Dia tidak menggunakan setetes air spiritual untuk menyiram bibit ginseng liar seperti saat menyiram kaktus kemarin, tetapi menggunakan satu mangkuk air bersih lalu mencampur satu tetes air spiritual.
Ginseng liar adalah bahan obat yang
berharga. Makin tua, ginsengnya akan makin berharga. Jadi, dibutuhkan lebih banyak energi spritual untuk menumbuhkannya.
Jadi, Imbran memutuskan untuk menuangkan semangkuk air spiritual ke bibit ginseng untuk melihat efeknya.
Setelah empat mangkuk air spiritual dituangkan, Imbran segera mendapati bahwa tanah yang awalnya berwarna cokelat perlahan-lahan berubah menjadi hitam dan memancarkan sebuah aroma samar.
Selanjutnya, tibalah waktunya untuk menyaksikan keajaiban.
Tiga menit kemudian, bibit ginseng liar itu berkecambah dan menumbuhkan daun yang menerobos tanah. Kemudian dengan kecepatan kedipan mata, daun perlahan tumbuh dan bertambah besar. Lalu, bibit itu berbunga dan akhirnya berbuah.
Kejadian ini seperti efek video yang
dipercepat.
Setelah buahnya matang sepenuhnya, Imbran memetiknya. Terdapat dua bibit di dalam setiap buah.
Totalnya, ada 53 buah kecil. Imbran memanen 106 bibit dari semua buah itu.
Setelah menyimpan bibitnya, Imbran terus mengamati perubahan pada ginseng Lain nya.
Ginseng ini tidak banyak berubah jika dilihat dari luar. Namun, Imbran bisa merasakan bahwa akar dan batang yang ada di bawah tanah terus berubah-ubah
Setelah mengamati selama setengah jam, ginseng-ginseng itu perlahan berubah. Namun, Imbran sudah tidak punya kesabaran lagi untuk mengamati mereka. Dia mengambil ponselnya dan memeriksa lokasi dan harga vila secara daring.
Imbran punya lebih dari dua belas miliar rupiah di rekeningnya. Seharusnya, itu
cukup untuk membeli satu vila seluas 300 atau 400 meter persegi.
Namun, Imbran tidak menemukan jenis vila yang bisa langsung dibeli dan ditinggalinya di internet. Tampaknya dia harus pergi ke perusahaan real estat nya secara langsung untuk melihat-lihat.
Imbran mengecek WhatsApp dengan bosan. Grup kelas sangat sepi.
Bagaimanapun juga, semua orang baru saja lulus. Teman-temannya mungkin sedang sibuk mencari pekerjaan atau bahkan sudah bekerja. Mana ada yang punya waktu luang untuk berbasa-basi di dalam grup?
Imbran menggelengkan kepalanya, lalu memainkan game sebentar.
Waktu berlalu dengan cepat. Pada pukul 15.00, Imbran akhirnya menyadari bahwa ginsengnya sudah berhenti tumbuh.
Imbran langsung menaruh ponselnya ke samping, lalu mengamati ginseng itu dengan saksama.
Dengan hati-hati, dia menggali ginseng itu dari pot dengan tangannya. Dia menaruhnya di atas selembar kain putih yang sudah disiapkan sejak tadi dan mengamati keempat ginseng tersebut dengan cermat.
(To be Continued)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments