"Heyyy. Bocah sialan. Mau Lari dari tanggung-jawab kamu ya?"
Pria di seberang yang barangnya pecah meraih pergelangan tangan Imbran dan mencengkram nya.
"Kamu sudah memecahkan barang antik ku Jika kamu Tidak ganti Rugi, jangan harap bisa pergi dari sini. Jangan paksa aku panggil polisi untuk menangkapmu."
karna perbuatanmu yang sembrono seperti ini.
Orang-orang di sekitar yang berkumpul untuk menonton keributan menjadi makin banyak, Imbran merasa dirinya memang sulit untuk melarikan diri di tengah kekacauan yang tidak dia ketahui'?
Dia bertahan dan melihat seperti apa kedok sang penipu ini.
"Kamu yakin suruh aku ganti rugi, Namun setidaknya kamu harus menunjukkan padaku barang antik apa yang sebenarnya pecah.”
"Hmph."
Pria itu mendengkus marah dan mengambil tas kain dari lantai.
Sambil membukanya, dia berkata, "Ini adalah barang berharga yang baru saja aku beli di toko barang antik. Nama nya Batu tinta dan berusia 500 tahun yang lalu dari dinasti kuno yang bernilai enam miliar rupiah."
Kata-kata singkat pria itu membuat orang-orang yang menonton di sekitar terkejut.
Sepertinya, bocah miskin ini akan terkena batunya.
"Benarkah? Memangnya kalau kamu bilang enam miliar rupiah, harganya
benar-benar segitu? kamu Mau membodohi siapa?"
Imbran tampak tidak percaya. Pria itu pun membuka batu tinta dan memang tampak beberapa garis retakan karena terjatuh,
"Bocah, saya tidak mau tahu kamu harus ganti Rugi saya ada nota dan Lisensi membelinya. Harga yang tertera di sini adalah enam miliar rupiah. Tidak lebih dan tidak kurang sepeser pun."
Pria itu mengeluarkan nota dan menjentikkan jarinya dengan pelan. Harga yang tertera sama persis dengan apa yang dia katakan.
"Hadiah ini sebenarnya aku pilih setengah bulan yang lalu dan akan aku berikan kepada seseorang besok. Kamu sudah menghabiskan waktuku begitu lama, lalu ditambah dengan ganti rugi batu tintaku
ini. Total yang harus kamu ganti adalah dua puluh lima miliar rupiah. Masalah ini baru bisa dianggap selesai."
Pria itu jelas-jelas memeras.
Banyak orang yang membelalakkan mata mereka dan menghela napas diam-diam. kasihan Bocah ini benar-benar mendapat masalah besar hari ini.
Itu adalah dua puluh lima miliar rupiah. Penampilan bocah ini terlihat seperti orang miskin. Mungkin saja, uang di seluruh tubuhnya bahkan tidak sampai dua juta rupiah. Mana mungkin dia memiliki begitu banyak uang dan mampu mengganti rugi?
"Apa-apaan dua puluh lima miliar rupiah.
kamu benar-benar tamak.
Imbran memutarkan bola matanya dan melihat.
menatap pria itu seperti melihat seorang idiot. Ekspresi wajahnya tampak tidak senang.
"Tunggu"
Suara seorang gadis tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Semua orang serempak melihat ke arah suara itu berasal. Salsa sedang berjalan kemari.
Banyak pria yang tercengang dan terpesona saat melihat dirinya. Bahkan, pria yang barangnya pecah tadi pun terus menelan air ludah dan menatapnya lekat-lekat.
Sementara itu, Salsa tidak memedulikan siapa pun. Sebaliknya, dia langsung berjalan ke sisi Imbran dan mengambil batu tinta dari tangan pria paruh baya itu.
"Heyyy, kamu... apa yang ingin kamu lakukan?"
Menghadapi wanita cantik di depannya, suara pria paruh baya itu pun menjadi lebih lembut saat melontarkan pertanyaan.
Salsa mengambil batu tinta dan mengamatinya. Dia juga menyentuh tekstur dengan tangannya. Kemudian, dia langsung mematahkan satu bagian kecil dari celah retakan.
Imbran yang melihat ini pun ikut merasa sakit hati. Dia berpikir, Salsa memang putri orang kaya. Bisa-bisanya dia mematahkan batu tinta yang bernilai enam miliar rupiah begitu saja?
Pria itu segera menunjuk Salsa sambil berkata pada orang-orang di sekitar, "Kalian harus menjadi saksiku.
Lihat Gadis ini telah mematahkan batu tintaku. Kalau mereka berdua Tidak ganti rugi hari ini, jangan harap bisa pergi dari sini."
"Kamu membawa barang palsu dan sudah berkeliaran seharian di sini, 'kan? dan bertemu seseorang yang Tidak mengerti barang antik, kamu akan langsung menuduhnya. Bukankah itu agak Tidak manusiawi?"
Nada bicara Salsa terdengar kasar.
"Gadis cantik kamu berbicara itu harus pakai logika. Atas dasar apa kamu mengatakan barangku palsu? Apa kamu mengerti barang antik?"
Pria itu menatap Salsa dengan sinis. Pada umumnya, di antara mereka yang datang ke pasar barang antik, hanya orang-orang berumur yang lebih berpengalaman.
Sementara itu, anak muda yang gegabah seperti mereka tampak tidak mengerti apa-apa.
"Baik dari segi warna maupun tekstur, batu tinta dari dinasti kuno itu berwarna abu-abu. Tapi, batu tintamu berwarna
cerah. Itu terlihat baru dicetak belakangan ini. Selain itu, nota dan sertifikat keaslianmu juga palsu. Sertifikat barang asli menggunakan stempel bahan metal, sedangkan punyamu dicap dengan stempel biasa ukiran sendiri, 'kan?"
"hahaa.Salsa tertawa dan berkata dengan logis sampai-sampai Imbran yang mendengarnya pun merasa kagum.
Dia tidak bisa menahan diri untuk memuji, "Salsa, kamu benar-benar hebat. Tak disangka, kamu juga seorang juru tafsir."
"Aku gak termasuk juru tafsir. Kakekku yang mengajariku semua ini."
Salsa sedikit tersenyum. Ketika dia kembali menatap pria itu, ekspresi wajahnya tiba-tiba menjadi serius.
Dia berteriak, "Kalau kamu masih Tidak pergi, aku akan memanggil polisi.
Nantinya, kita akan tahu apakah kami yang menghancurkan barang antik berhargamu atau kamu yang sengaja menggunakan barang palsu untuk memeras uang orang-orang."
"Kamu ... ka-kalian... kalian keterlaluan."
Setelah Salsa membongkar kedok, pria itu marah hingga jantungnya berdebar kencang. Pria itu tiba-tiba memegang dadanya dan jatuh kesakitan. Napasnya juga terengah-engah, seolah-olah akan
mati kapan saja.
"Gawat, gawat. Ini sudah menelan korban. Cepat panggil ambulans!" teriak orang di sekitar dengan panik.
Salsa juga terkejut. Dia memegang batu tinta dan mundur beberapa langkah. Tidak disangka, pria ini begitu lemah. R
Salsa hanya mengekspos kebohongan nya, tetapi pria itu malah marah sampai jatuh sakit.
"Telepon apa-an? Kalau tunggu ambulansnya datang, dia pasti sudah mati. Minggir."
Imbran bergegas melewati kerumunan. Awalnya, dia mencari sesuatu di tubuh. pria itu, lalu menemukan sebotol obat penyakit jantung. Dia baru tahu bahwa pria itu memang menderita penyakit jantung.
Dia segera membuka botol obat, tetapi isi di dalamnya kosong. Imbran pun merasa sangat kesal.
"Dasar sialan. Kamu memerasku, tapi aku malah harus menyelamatkan nyawamu. Apa-apaan ini?"
Imbran segera membuka botol yang ada di tangan pria itu. Dia meletakkan tutup botol di tangan dan mulai memadatkan air spiritual dengan pikirannya.
Dalam sekejap, air spiritual seukuran tutup botol pun telah dipadatkan. Imbran segera menyuapi pria itu dan tanpa sengaja memercikkan setetes air spiritual ke matanya sendiri.
Imbran menggosok matanya dan tidak terlalu memedulikannya. Kemudian, dia segera membuka mulut pria itu dan menuangkan air spiritual.
"Bocah, menurutku sebaiknya kamu segera panggil polisi dan telepon ambulans saja. Pria ini jelas-jelas bukan orang baik. Dia bahkan mau memerasmu tadi."
"Benar. Kini, dia hanya menerima karma, Siapa suruh dia berakal busuk?"
"Ini juga demi kebaikanmu. Kalau seandainya kamu Tidak bisa menyembuhkan penyakitnya, nantinya dia malah memerasmu lagi. Bukankah ini mencari masalah?"
Setelah Salsa Mengeksposnya, banyak orang di industri ini juga menyadari kepalsuan batu tinta itu. Mereka biasanya paling membenci tindakan pemalsuan dan pemerasan. Itu benar-benar sungguh memalukan.
Kini, penyakit jantung si pelaku kambuh. Mereka tentu tidak akan berbelas kasihan. Menelepon ambulans sudah merupakan batasan akhir mereka untuk tidak membiarkannya mati begitu saja.
(To Be Continued)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments