"Manajer itu berpikir sejenak, lalu melihat imbran dan menyebutkan harganya.
"tujuh ratus juta rupiah per-butir."
"Apa bisa lebih tinggi lagi?"
Sebenarnya, delapan ratus juta rupiah sudah sesuai dengan keinginan Imbran. Akan tetapi, keterampilan tawar-menawar tetap perlu diperjuangkan.
"Harga terakhirnya satu miliar rupiah untuk satu butir. Tapi, saya punya satu persyaratan.
Semua mutiara ini harus dijual kepada saya. Selain itu, kelak mutiara dengan kualitas yang sama juga harus dijual lebih dulu kepada Paviliun Mutiara kami." Setelah berpikir sesaat, manajer tersebut menaikan lagi harga yang di awal tujuh ratus juta kini bertambah tiga ratus juta. Pada saat yang sama, dia juga mengajukan persyaratannya.
"Itu gak masalah." Asalkan uangnya ada, Imbran tidak terlalu mempermasalahkan hal lainnya.
Setelah itu, Imbran meninggalkan informasi kontaknya setelah menerima transferan dari manajer.
Manajer juga memberikan kartu namanya kepada Imbran.
Akhirnya, Imbran tahu bahwa manajer itu bernama Dodi Bobs.
"Pak Dodi, kalau begitu, aku pergi dulu. Kalau kelak ada barang bagus, aku pasti akan memberikannya kepada Paviliun Mutiara lebih dulu." Begitu menerima uang sebesar enam miliar rupiah, imbran merasa sangat bahagia.
"Pak imbran, mari saya antar," ucap Dodi sambil tersenyum setelah memasukkan mutiara itu ke dalam brankas.
Setelah meninggalkan Paviliun Mutiara,
Imbran kegirangan hingga hampir menari di jalanan ketika dia teringat bahwa sekarang dia sudah memiliki harta mencapai enam miliar rupiah.
Untungnya, akal sehat Imbran sudah menekan dorongan dalam hatinya.
Selanjutnya, imbran pergi ke toko buah dan membeli lima ponsel keluaran terbaru yang tahan air.
Salah satu ponsel di antaranya adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan empat ponsel lainnya akan dia bawa pulang nanti.
Sekarang, dia sudah punya uang. Jadi, sudah seharusnya dia pulang agar tidak membuat keluarganya khawatir.
Saat membayar, pegawai wanita itu terus menatap menatap Imbran dengan tatapan yang jelas berbeda.
Namun, Imbran sama sekali tidak peduli.
Setelah dicampakkan oleh sang kekasih, Imbran tidak akan menyukai wanita yang tergila-gila dengan uangnya.
Saat kembali ke rumah kontrakan, Imbran merasa bahwa dia harus mengubah tempat tinggalnya ketika melihat mutiara yang dia masukkan ke kotak sepatu dengan sembarangan seperti itu.
Jika sampai semua mutiara ini dicuri, menangis pun Sudah tidak berguna lagi baginya.
Sepertinya, aku masih harus mendapatkan uang yang lebih banyak lagi. ucap Imbran berpikir demikian.
Dia memang memiliki uang enam miliar rupiah yang sudah lebih dari cukup untuk membeli rumah di starfford. Namun, yang ingin dibeli Imbran adalah sebuah vila. Dengan pemikiran seperti itu, uang enam miliar rupiah ini benar-benar tidak akan cukup.
Keesokan harinya, Imbran pergi ke tepi pantai lagi untuk menyewa Perahu dan pergi melaut seusai sarapan.
Akan tetapi, tidak ada yang mau menyewakan padanya kali ini.
"Ada apa ini?" Imbran sama sekali tidak menduga bahwa Dickiano yang sudah membuat masalah di belakangnya.
Saat berpikir untuk mencari tempat terpencil untuk diam-diam melaut, Imbran tiba-tiba mendengar ada seseorang yang memanggilnya.
"Imbran? hey Pak Imbran?"
Imbran menoleh ke belakang dan melihat orang itu adalah Salsa yang membeli lobster Biru kemarin.
"Salsa, kebetulan sekali aku bertemu denganmu di sini," ucap Imbran sambil tersenyum.
"Ya, aku gak menyangka bisa bertemu lagi denganmu" Nada bicara Salsa jelas terdengar kaget.
"Tadinya, aku akan menyewa Perahu untuk melaut. Tapi, anehnya orang-orang di sini berkata bahwa mereka Tidak akan menyewakan kepadaku. Ini benar-benar aneh," kata Imbran dengan sedikit tak berdaya.
"Kamu mau melaut? Aku juga ingin pergi memancing. Kalau kamu Tidak keberatan, bagaimana kalau kita pergi memancing bersama-sama?" Jawab Salsa.
"Itu benar-benar sesuai dengan harapanku." Jika ada perahu gratis untuk melaut, tentu aku tidak akan menolak.
Melihat Imbran setuju, Salsa pun membawanya ke perahu nelayan miliknya.
Setelah perahu dihidupkan, perahu tersebut langsung melaju ke depan.
Ditemani oleh wanita cantik, Imbran tidak merasa bosan di sepanjang jalan. Dia
bahkan juga mulai belajar cara berlayar.
Setelah mendapatkan kemampuan superanatural, Imbran merasa otaknya menjadi makin pintar. Dia tidak akan pernah melupakan apa pun selama dia membaca dan mencoba Bahkan, dia juga mempelajari segala sesuatu dengan sangat cepat.
Dua jam kemudian, setelah berkendara sejauh puluhan kilometer, Salsa menghentikan perahunya.
"Imbran, apakah kamu bisa memancing?"
Setelah selesai bertanya, Salsa tiba-tiba merasa pertanyaannya sedikit konyol sehingga wajahnya sontak memerah. Imbran sangat pandai berenang, bagaimana mungkin dia tidak bisa memancing?
"Dulu, aku memancing di sungai kampung halamanku, tapi aku benar-benar belum pernah memancing ikan di laut."
Meskipun Imbran kuliah di Starfford selama empat tahun, ini dia baru pertama kalinya Pergi ke laut memancing.
"bukankah kamu Penduduk lokal?" tanya Salsa dengan penasaran.
Kemarin, Salsa melihat Imbran menyelam di laut dalam waktu yang lama sehingga mengira Imbran adalah Penduduk lokal. Tak disangka, ternyata Imbran bukanlah orang lokal. Hal ini membuat Salsa menjadi penasaran.
"Ya, aku dari Kabupaten warlington. Di sana memang gak ada laut, tapi ada sungai. Jadi, aku cukup jago berenang." Jawab Imbran tahu apa yang membuat Salsa penasaran sehingga dia pun menjelaskannya sejenak.
"Oh." Salsa menganggukkan kepala dan memercayainya.
Lagi pula, urusan berenang ini juga belum tentu harus dipraktikkan di laut.
"kamu masih belum menyerah untuk memancing ikan ekor kuning?. Sebenarnya, kamu bisa menggunakan uang untuk membelinya. ikan ekor kuning memang sedikit, tapi masih bisa ditemukan di pasar," ucap Imbran sembari menatap Salsa.
Sebenarnya, dengan kemampuan finansial Salsa, dia bisa saja menggunakan uang untuk membeli ikan itu. Dia tidak perlu membuang waktu untuk memancing di laut apalagi dia seorang wanita.
"Aku tahu, tapi aku juga punya alasan sendiri." Saat dia berbicara, Salsa sontak terlihat sedih.
Meskipun Salsa tidak mengatakan alasannya, Imbran juga dapat memahami bahwa itu jelas bukan hal yang baik.
"Oh, kalau begitu, biarkan aku membantumu. Selama dua hari ini, keberuntunganku sangat bagus. Mungkin saja, aku bisa menangkapnya," jawab Imbran sambil tersenyum.
"Terima kasih." Salsa tahu bahwa Imbran sedang mencoba menghibur dirinya sendiri. Jadi, dia pun terpaksa menyunggingkan senyuman di wajahnya.
Setelah Salsa mengajari Imbran cara menggunakan pancing profesional, sisanya hanya tinggal menunggu penampilan Imbran.
Asalkan Imbran melempar kail ke laut, ikan akan mengambil umpan dalam sekejap, seolah-olah mereka tidak sabar untuk ditangkap oleh Imbran.
Hanya berlalu selama lima menit, tong ikan di belakang Imbran sudah dipenuhi dengan lebih dari belasan ikan laut yang beragam rupa. Hal itu pun membuat Salsa yang melihatnya menjadi tercengang.
"Ba... bagaimana kamu melakukannya?" Seketika, Salsa tergagap-gagap.
"Aku juga gak tahu. Intinya, ikan-ikan ini berusaha mati-matian untuk membuatku menangkap mereka. Mungkin karena aku tampan." Imbran sengaja membuat sedikit lelucon.
Sejujurnya, Imbran tidak menggunakan kemampuan supranaturalnya untuk memerintah semua ikan itu. Namun, ikan-ikan itu yang ingin menggigit kailnya. Hal itu mungkin juga berkaitan dengan kemampuan supranaturalnya.
Jika ada waktu luang, dia harus menggali lebih jauh kemampuan supranaturalnya ini dan melihat apakah masih ada kemampuan yang lain.
Tak disangka,Salsa juga sengaja menatap Imbran dengan cermat, lalu mengangguk sambil berkata, "Ya, memang sedikit tampan."
Setelah berkata demikian, keduanya tertawa bersama-sama.
"Hahaa.a
"setelah saling memandang selama beberapa detik.
Imbran dapat mengetahui bahwa Salsa
tersenyum bahagia tanpa kepura-puraan sedikit pun.
Setelah tertawa, Salsa berkata dengan acuh tak acuh, "Ini adalah tawa paling bahagia yang aku miliki selama ini."
"Salsa, kamu sangat cantik. Kamu akan makin cantik kalau lebih sering tertawa." Imbran merasa bahwa setelah tertawa kali ini, jarak antara mereka menjadi lebih dekat sehingga dia pun Berani berbicara dengan santai.
Salsa sontak memutar bola matanya. kepada Imbran. "Kamu terlihat jujur. Tapi, gak disangka, ternyata kamu juga Tidak begitu serius."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Bee
jangan bilang kalo hp Apple ada yang jual di toko buah?
2023-07-05
0
Taufik Hidayat
hauahahha amjir ngakak asem masa ketoko buah buat Beli Ponsel🤣🤣
2023-06-19
1
Taufik Hidayat
anjay untuk 6 butir mutiara harga total 6 Milyar
2023-06-19
1