Sudah dua minggu ini Mesya kembali menjalani hidupnya seperti biasa. Tidak ada lagi tetangga yang menggunjingnya seperti waktu itu. Mesya juga kembali bekerja menjadi buruh cuci dan setrika.
Meski kandungannya kini sudah semakin membesar karena sudah hampir berusia lima bulan. Tapi Mesya tidak pernah bermalas-malasan meski badannya cukup lelah.
Pagi ini Mesya telah menyelesaikan semua cuciannya. Baju-baju itu juga sudah di jemur berjejer di samping rumahnya. Bibirnya tersenyum lebar karena dia bisa beristirahat sebentar sebelum cuciannya kering.
"Jadi ini wanita nggak bener yang berani-beraninya ngambil langganan laundry gue" Mesya di kejutkan dengan kedatangan seorang wanita dan dua orang pria di belakang wanita itu.
"Maaf, kalian siapa ya??"
"Nggak usah belagu lo, pakai pura-pura nggak kenal segala!! Lo yang udah ngambil langganan gue tau nggak!!" Wanita itu berkacak pinggang menatap Mesya dengan garang.
"Tunggu, maksud Mbak ini apa ya??" Mesya masih belum tau apa yang wanita itu maksud. Pagi-pagi sudah datang ke rumahnya dengan wajah dan kata-katanya yang tak mengenakkan hati sama sekali.
"Heh, lo udah hasut mereka pakai cara apa sampai mereka semua berhenti nyuci di tempat gue dan malah pindah ke sini??"
Kini Mesya mengerti, dan sidah tau siapa wanita yang tiba-tiba marah di depannya itu.
"Maaf Mbak, saya tidak bermaksud mengambil langganan Mbak. Tapi mereka sendiri yang merasa puas dengan pekerjaan saya. Jadi jangan asal menuduh sepertu itu"
"Jadi maksud lo, kerjaan gue nggak beres gitu??"
"Bu-bukan begitu maksud saya"
"Halah nggak usah banyak omong!! Cepat bereskan semuanya!!" Perintah wanita itu pada kedua pria di bawahnya.
"Apa yang ingin kalian lakukan??"
Mesya melihat kedua pria itu mulai mendekati semua jemurannya.
"Hey hentikan!!"
"Cepat hancurkan semuanya!! Jangan sampai ada yang tersisa!!" Perintah wanita itu kepada keuda anak buahnya yang sedang merusak pakaian yang telah di jemur Mesya secara membabi buta. Bukan cuma itu, mereka juga menghancurkan tali-tali jemuran dan juga masuk ke dalam rumah.
"Apa yang kalian lalukan, jangan hancurkan semua barang ku!!"
Mesya mencoba mempertahankan setrika satu-satunya. Barang berharga miliknya yang di gunakan untuk mencari uang.
"Lepaskan!!" Perintah pria itu.
"Tidak akan!!" Mesya tetap mempertahankan setrika itu di tangannya.
"Lepaskan sebelum kita berbuat kasar!!"
Tapi Mesya tetap mempertahankan setrika di tangannya dan tak menghiraukan peringatan dari mereka. Tapi sayang, dengan sekali hentakan setrika itu langsung terlepas dari tangan Mesya dan hampir membuat Mesya terdorong ke belakang.
BRAKKK....
Mesya menatap nanar barang yang begitu berharga baginya itu hancur di hadapannya.
"Rasakan akibatnya karena berani menghancurkan usahaku!!" Ucap wanita tadi namun sudah tidak di dengarkan oleh Mesya.
Kini Mesya hanya bisa menangis melihat semua pekerjaannya hancur. Mesya tidak tau dengan cara apa dia mengganti semua baju-baju milik pelanggannya itu.
"Ayo pergi dari sini!!" Mereka bertiga, tamu yang tak di undang itu meninggalkan rumah Mesya.
Tangan Mesya meraih setrika yang sudah hancur tak berbentuk itu.
"Ya Allah cobaan apalagi ini??"
"Sampai kapan akan terus seperti ini?? Rasanya aku sudah tidak sanggup, hiks.. hiks..."
Mesya bersimpuh di lantai menangisi hidupnya yang malang itu. Tak ada lagi teman ataupun keluarga untuk tempatnya bersandar di saat seperti ini.
Menanggung semuanya sendiri rasanya sungguh terlalu berat bagi Mesya. Seandainya masih ada papanya, mungkin Mesya tidak akan sesedih ini.
"Bagaimana caranya mengganti semua pakaian yang telah rusak itu?? Aku hanya punya sedikit tabungan. Itupun untuk periksa ke Dokter besok, juga untuk persiapan lahiran nantinya. Tapi dengan uang yang tak seberapa itu, tetap masih kurang untuk mengganti semuanya"
Mesya lekas bangkit lalu mengambil kotak yang ada di dalam lemari kayu.
Dengan air mata yang masih bercucuran, Mesya menghitung uang yang telah ia sisihkan dari hasil buruh cuci setiap harinya.
"Cuma satu juta. Uang segini mana cukup untuk mengganti baju-baju yang banyak itu. Belum lagi membeli setrika baru" Mesya menempelkan keningnya pada lemari kayu yang tingginya hampir sama dengannya itu.
"Aku harus bagaimana??" Kepala Mesya terasa pusing, bahkan hampir meledak rasanya.
Ternyata memulai usaha dari nol tidak semudah yang dia bayangkan. Dulu Mesya membangun butiknya juga berkat koneksi dari Papanya. Jadi banyak kalangan atas yang tertarik dengan hasil karyanya yang memang bagus, tapi tanpa koneksi pastilah Mesya akan merangkak untuk mendapatkan kesuksesan.
Mesya jadi teringat Alya, dia benar-benar membangun butiknya dari awal. Mesya tau betapa susahnya Alya mempromosikan hasil desainnya. Tapi dengan teganya, Mesya dulu sempat membakar desain milik Alya.
"Maafkan aku Alya" Gumam Mesya.
-
-
"Kenapa kalian bisa seceroboh itu??"
"Maaf Bos, tadi kami tinggal sebentar untuk membeli minum. Tapi setelah kembali, semua jemuran dan juga baju-baju yang telah di cuci Bu Mesya telah di hancurkan" Lapor anak buah Bisma.
"Dasar bodoh!! Kalian bisa cari minum sendiri-sendiri kan?? Kenapa harus berdua??"
Bisma yang sedang berada di bandara untuk menjemput Mamanya yang baru pulang dari luar negeri di kejutkan dengan laporan anak buahnya di rumah Mesya.
"Kami minta maaf Bos"
"Siapa yang berani melakukan itu??"
"Menurut orang yang melihatnya, mereka pemilik laundry yang merasa tersaingi dengan Bu Mesya Bos"
"Jangan biarkan usaha mereka berjalan lancar mulai sekarang!!"
"Siap Bos"
"Lalu di mana Mesya??"
"Dari tadi Bu Mesya belum juga keluar Bos"
"Tapi apa terjadi sesuatu kepadanya??" Bisma sendiri heran kenapa tiba-tiba dia khawatir denhan keadaan Mesya.
"Tidak Bos, Bu Mesya baik-baik saja"
"Ya sudan, laporkan apapun setelah ini"
"Baik Bos"
Bisma kembali melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Jika saja Bisma tidak berjanji untuk menjemput Mamanya, pasti dia sudah pergi ke tempat Mesya sekarang juga. Tapi tidak mungkin dia meninggalkan Mamanya yang sebentar lagi akan tiba. Bisma mencoba membuang jauh-jauh rasa khawatirnya itu.
Sudah dua minggu ini Bisma memang tidak melihat Mesya dari kejauhan seperti biasanya. Semua itu karena rasa marahnya setelah melihat fotonya di ponsel Mesya saat reuni malam kelam itu.
Tapi setelah beberapa hari Bisma tidak melihat wanita yang katanya di bencinya itu, rasanya ada yang terus mengganjal di hati Bisma.
Bisma bahkan terus menyibukkan diri dengan tumpukkan pekerjaan agar bayang-bayang wajah Mesya penuh air mata itu hilang dari pikirannya. Tapi tetap saja, Mesya sudah bagaikan hantu yang bergentayangan di manapun Bisma berada.
"Sebenarnya ada apa denganku??"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Mak e Tongblung
mulai tumbuh benih2 cinta
2024-11-26
0
Edah J
Bisma seberapa kerasnya hatimu dan sebesar apa bencimu ingat hatimu bisa berubah bila sang pencipta mu telah menurunkan kuasanya kamu tak kan bisa apa"😊
2024-06-18
0
" sarmila"
satu kata benci
d rubah jdi bnar2 cinta
2024-03-28
1