Mesya terus berjalan ambil mencari bagaimana dia mengisi perutnya. Kepalanya sudah sangat pusing, rasa mual juga mulai menyerangnya. Apalagi keadaannya saat ini yang sedang hamil, pasti rasa mulanya jauh berkali-kali lipat dari rasa lapar biasa.
Hari sudah sangat terik, matahari juga sudah tepat berada di atas kepalanya. Mesya mulai mendengar suara adzan dzuhur.
Tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, terdapat sebuah Masjid yang tidak terlalu besar. Berada di pinggir jalan namun tidak dekat dengan area penduduk. Jadi masjid itu masih terlihat sepi di waktu sholat seperti ini.
Mesya memandang nanar ke arah Masjid yang dari dulu tidak pernah ia sambangi itu.
"Apa ini teguran dari-Nya?? Apa semua ini memang sebuah hukum karma yang aku terima karena telah mengabaikan Tuhan ku selama ini??" Air mata Mesya kini berhasil lolos kembali.
Dia merasa tak pantas untuk masuk dan meminta pertolongan kedalam sana setelah semua yang ia perbuat.
Tapi kaki Mesya seakan mempunyai keinginan tersendiri. Mesya di bawa semaki jauh masuk ke pelataran Masjid yang mempunyai rerumputan hijau itu.
Mesya pergi ke tempat wudhu untuk mensucikan dirinya sebelum masuk ke dalam rumah Allah itu.
Air yang begitu bersih dan segar mengalir dari kran yang telah di nyalakan Mesya. Tanpa pikir panjang, tanpa adanya rasa jijik atau apapun, mesya menyatukan kedua telapak tangannya, menampung air sebanyak mungkin di dalam ya lalu meneguknya beberapa kali.
Rasa segar setelah dahaganya yang begitu menyiksa itu hilang, langsung membuat Mesya tersenyum bahagia.
"Apa ini petunjuk darimu ya Allah?? Terimakasih" Mesya lekas membasuh dirinya dengan berwudhu. Mungkin dia tidak pernah melakukan kewajibannya itu. Namu dulu di sekolah dia pernah di ajarkan bagaimana caranya berwudhu dan mengerjakan sholat.
Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, akhirnya Mesya bersujud di hadapan Tuhannya. Menangis, menyesal dan meminta ampunan atas segala dosa-dosanya.
Mesya benar-benar menumpahkan segalanya dalam sujudnya. Pundaknya terus bergetar saat kedua tangannya menengadah ke atas memohon ampunan.
Setelah beberapa saat, setelah semua perasaan telah Mesya tumpahkan, kini wanita hamil itu mulai beranjak dari tempat suci itu. Meski belum tau akan kemana, tapi saat ini ia butuh mengisi perutnya. Bisa saja setelah ini dia pingsan seperti kemarin, dan Mesya tidak mau itu terjadi. Bagaimana nasibnya nanti jika ia pingsan di jalanan, siapa yang akan peduli dan merawatnya.
Mesya tiba di tempat yang lebih ramai, di sana banyak tempat-tempat makan dan juga anak-anak muda yang sedang menikmati makan siang mereka. Mungkin karena penampilan Mesya yang sudah lusuh jadi tak ada yang mengenali Mesya saat ini. Padahal berita tentang Mesya satu bulan ini terus berseliweran di media sosial.
Mesya meneguk air liurnya yang mengucur ketika melihat orang-orang begitu lahap menyantap makan siang mereka. Mesya kini tau rasanya menjadi pengemis-pengemis yang dulu pernah ia hina. Dulu Mesya lebih memilih menghambur-hamburkan uangnya dengan tidak jelas daripada memberikan sekotak nasi pada orang yang membutuhkan. Namun saat ini Mesya justru ada di posisi itu.
Mesya duduk tak jauh dari meja-meja sebuah tempat makan yang terbuka. Di sana atas meja itu masih terisa banyak makanan yang tidak di habiskan oleh pemiliknya.
Mesya ragu untuk mendekat ke sana. Tapi rasa laparnya sudah tidak bisa lagi di tahan.
"Apa iya, aku haru memakan makanan sisa itu?? Tapi kalau tidak, bagaimana aku mendapatkan makanan. Kasihan anakku, kalau aku meminta pekerjaan di sana, yang ada aku akan pingsan lebih dulu sebelum bekerja" Batin Mesya.
"Mbak, tunggu Mbak!!" Mesya menghentikan pelayan yang ingin membereskan sisa-sisa makanan tadi.
"Iya kenapa Kak??"
"Emmm, boleh tidak kalau sisa makanan ini buat saya?? Tolong Mbak, saya belum makan sama sekali" Mungkin inilah hal yang paling memalukan yang dilakukan Mesya selama hidupnya, tapi sekarang urat malu itu sudah terlanjur putus.
"Tapi Kak, saya takut di marahi sama Bos saya. Peraturan di sini tidak memperbolehkan siapapun memakan makanan sisa di sini" Ucap pelayan itu dengan tak enak hati.
"Mbak, saya mohon. Saya janji saya akan habisin makanannya dengan cepat" Mesya sudah mengesampingkan kenyataan bahwa yang dia minta sampai memohon-mohon itu adalah sisa dari orang yang tidak ia kenal.
"Baik Kak, tapi saya ambilkan plastik saja ya. Nanti Kakak bisa bawa pergi dari sini supaya saya dan Kakak nggak di marahin Bos saya"
"Iya nggak papa, terimakasih banyak ya" Wajah Mesya berubah berbinar, akhirnya dia bisa mengisi perutnya yang kosong.
Tak lama pelayan itu datang lagi membawa katung plastik dan langsung membungkus sisa-sisa makanan tadi.
"Ini Kak"
"Makasih ya Mbak"
Mesya lekas pergi dari sana dengan membawa satu kantung plastik kecil makanan tadi.
"Alhamdulillah ya Allah"
Mesya mulai memakannya di bangku taman yang sepi. Bahagia rasanya karena dia akhirnya bisa memberikan asupan makanan untuk bayi di anaknya di dalam sana. Namun pundaknya yang kini begitu rapuh itu terus bergetar tak bisa menahan tangisnya.
"Maafkan Mama ya Dek, hari ini kita makan kaya gini dulu. Habis ini Mama akan cari cara biar besok kita bisa makan yang layak" Mesya menyeka air matanya yang tak di ijinkan keluar itu dengan tangan kirinya.
"Puas lo sekarang!!" Ferry benar-benar habis kesabaran melihat kejamnya Bisma pada Mesya.
"Tentu saja!!"
"Bisma!! Gue nggak peduli lagi lo mau potong gaji gue atau lo mau pecat gue sekalian. Gue udah nggak tahan lihat kekejaman lo ini. Lo mau balas dendam sama Mesya atas perlakuan buruknya sama Alya. Tapi apa bedanya dia sama lo sekarang?? Lo nggak lihat dia sekarang kaya gimana?? Dia lagi hamil anak lo Bis!! Dia butuh makan butuh tempat tinggal. Kok lo sampai hati lihat dia sampai makan makanan sisa kaya gitu Bis?? Benar-benar b****sek lo, b**dap!!"
Setelah mengeluarkan semua unek-uneknya, Ferry keluar begitu saja dari mobil Bisma. Ferry sudah tidak tahan lagi karena sejak tadi mengawasi Mesya dari kejauhan.
Sementara Bisma masih diam tak menahan kepergian Ferry sekalipun. Dia kini beralih kembali kepada wanita yang kini telah selesai dengan makanan sisanya.
Bisma kembali melirik tas yang berada di sebelahnya. Tas yang dia ambil dengan paksa melalui orang suruhannya tadi.
Dengan kejamnya Bisma benar-benar merampas semua yang dimiliki Mesya di dunia ini. Bisma dengan teganya membiarkan wanita yang sedang mengandung anaknya itu terlunta-lunta sendirian di jalan sampai tak bisa makan dan minum seperti tadi.
Bisma memang mengikuti Mesya sejak dia keluar dari rumahnya pagi tadi. Bisa juga melihat bagaimana Mesya meminum air dari kran juga mesya yang menangis sesenggukan dalam sholatnya.
Bisma yang memang sudah tak memiliki perasaan itu juga menertawakan Mesya yang sudah bersujud meminta ampunan itu.
Perhatian Bisma kembali teralihkan pada Mesya yang mulai beranjak pergi dari sana. Namun kali ini, dia memutuskan untuk tidak mengikuti Mesya. Bisma hanya mengirim pesan pada anak buahnya untuk kembali mengawasi Mesya seperti biasanya.
"Mesya, kehancuran mu sudah mulai kau rasakan. Jadi bertahanlah sebisa mu, atau kalau kau mau menyerah sekarang juga, aku sudah tidak akan mencegah mu"
Menyerah yang di maksud Bisma disini adalah menyerah dalam hidup seperti apa yang Alya lakukan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
ALNAZTRA ILMU
Allah yang Maha Pengampun dan Maha menyiksa.. kau sebagai manusia pasti dapat balasan.. setiapyg kita lakukan pasti tak lepas dari Nya
2025-02-04
0
JandaQueen
ah kan, lo jadinya kurang kerjaan, ngikutin si mesya terus... moga tar si mesya insyaf lo yg kena karma...
2025-01-21
0
Akbar Razaq
Wah Bisma kaunspt Tuhan saja ,Srdangkan Tuhan Maha Pengasih dan Pengampun.Kau siapa menhakimj orang sedemikian kejam Awas nanti berbakik kepadamu.Bukankah Tuhan kuasa atas Hati umatnya?
2024-10-08
1