Malam ini malam terakhir Mesya berada di rumah mewah yang menjadi tempat ia di besarkan sampai saat ini. Mulai besok dia akan meninggalkan semua tentang rumah itu. Kenangan di rumah itu bersama kedua orang tuanya, kamar besar dan mewah yang sangat nyaman, juga segala fasilitas mewah di rumah itu.
Siapapun pasti akan berat melepaskan rumah yang begitu banyak menyimpan kenangan itu. Apalagi Mesya juga belum tau besok akan tinggal di mana. Sementara uangnya saja hanya tersisa sedikit, tak akan cukup untuk membeli rumah. Jangankan membeli, mengontrak rumah yang layak saja sepertinya tidak cukup. Mungkin dengan uang yang Mesya miliki, ia hanya bisa mengontrak rumah petak saja.
Mesya mengusap perutnya kembali. Dia teringat dengan janin yang di kandungnya. Mesya tak tau kenapa rasa sayang kepada janin itu tiba-tiba muncul begitu saja setelah kemarin dia sempat menolaknya.
"Dek, kamu mau temani Mama melewati semua ini kan??" Hati Mesya me sangat ketika menyebut dirinya sendiri dengan kata "Mama"
Bahagia langsung menyerangnya ketika membayangkan anaknya nanti memanggilnya seperti itu.
"Tidak papa jika pria itu tidak mau mengakui kamu sebagai anaknya. Ada Mama disini!! Mulai besok kita berjuang bersama ya?? Selama ada Mama, semua pasti akan baik-baik saja" Mesya menyeka ujung matanya yang basah.
Sepertinya Mesya sudah mulai menerima keadaannya saat ini. Dirinya yang sudah jatuh miskin, dirinya yang sendirian dan ditinggalkan, juga dirinya yang sedang mengandung benih dari pria yang begitu membencinya saat ini.
Mesya tak punya tempat mengadu saat ini. Tak ada orang yang mau meminjamkan bahunya untuk tempat Mesya menyandarkan kepalanya meski hanya sebentar.
*
*
*
*
Pagi harinya, Mesya sudah siap dengan barang-barangnya yang dia kemas hanya di dalam satu koper besar. Hampir semalaman Mesya tidak tidur hanya untuk mengemas barang-barang yang menurutnya penting saat ini.
Kini Masya sadar jika memang roda kehidupan itu ada, dan kini Mesya sedang berada di titik paling bawah.
Mesya berjalan keluar dari kamarnya dengan rasa tak rela dalam lubuk hatinya. Mesya sempat menoleh ke belakang sebentar, menyimpan memory setiap sudut kamarnya yang besar itu.
Saat Mesya turun ke bawah, dia sudah mendapati Luna sedang mengeluarkan barangnya bersama seseorang yang Mesya kira adalah jasa angkut.
"Kebetulan kau sudah turun. Aku akan pergi setelah ini karena waktu kita tidak banyak lagi. Aku tidak tau harus menyampaikan salam perpisahan seperti apa, tapi aku harap kau baik-baik saja setelah ini. Aku pergi" Luna berbalik melangkah menjauh tanpa menunggu Mesya mengeluarkan sepatah kata pun.
"Maaf"
Luna menghentikan langkahnya karena mendengar kata-kata keramat keluar dari bibir Mesya.
"Ya??" Luna sampai tak percaya dengan apa yang ia dengar karena itu tidak pernah Mesya ucapkan sekalipun kepadanya.
"Maafkan aku atas semua yang perilaku buruk ku kepadamu. Kau juga minta maaf karena ulahku kamu jadi kehilangan suami mu. Aku memang bukan wanita yang baik, tapi aku akan berusaha menjadi Ibu yang baik untuk anakku sesuai dengan keinginan mu"
Luna tersenyum tipis mendengar Mesya bisa berubah menerima kenyataan ini. Luna juga bisa melihat adanya perubahan yang sangat besar di dalam sorot mata Mesya.
"Aku memaafkan mu, Papa mu meninggal juga bukan karena mu. Mungkin karena takdir, jadi jangan terus menyalahkan dirimu atas kepergiannya. Maafkan aku kemarin yang terbawa emosi dan menyalahkan dirimu"
"Sekarang aku pergi dulu" Luna kembali melangkah keluar namun kali ini dengan perasaan yang lebih baik.
Mesya juga mengikuti Luna yang lebih dulu meninggalkan rumah. Langkah kakinya berat dengan menyeret kopernya di pinggir jalan.
Dia masih belum punya tujuan sampai saat ini. Wanita yang sedang hamil muda itu hanya mengikuti langkah kakinya yang terus menyusuri jalanan yang mukai terik itu.
"Benar-benar gelandangan" Mesya tersenyum kecut menertawakan dirinya sendiri.
Mau kemana dia sekarang. Sanak saudara tak punya, teman tak punya. Uang dan keberanian juga saat ini tak punya.
Mesya menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya dengan punggung tangannya. Rasa haus karena sejak tadi berjalan mulai menyerang tenggorokannya. Air liurnya pun rasanya sudah teramat kering untuk sekedar membasahinya terlebih dahulu.
Bukan hanya rasa haus, kini lapar juga mulai menyerangnya. Dia ingat jika terakhir kali dia makan adalah sesaat sebelum pulang dari rumah sakit. Pantas saja perutnya sudah sangat melilit saat ini.
Mesya mencoba terus berjalan mencari tempat makan, karena jalanan yang dilaluinya saat ini cukup sepi.
"Siapa kalian??" Langkah Mesya terhenti karena ada dua laki-laki yang menghadang jalannya.
"Mau apa kalian??" Mesya ketakutan melihat orang-orang bertato dengan celana yang sobek di berbagai sisi itu.
"Tidak udah banyak tanya, seakan saja semua barang mu!!" Todong pria itu sambil mengacungkan pisau kecil ke arah perut Mesya.
"Tidak akan!! Pergi kalian, atau aku akan berteriak" Ancam Mesya tanpa rasa takut.
"Coba saja kalau berani" Kedua pria tadi langsung menarik koper dan juga tas yang di bawa Mesya.
"Jangan!! Lepaskan!!" Mesya terus mencoba mempertahankan barang-barang terkahir yang dimilikinya.
Tapi jelas tenaga Mesya kalah besar dengan dua orang laki-laki itu. Mesya tak berdaya saat tas dan kopernya sudah berpindah tangan.
"TOLONG!! RAMPOK!!" Mesya mencoba mencari bantuan meski tak ada seorangpun di sekitarnya saat ini.
"TOLONG!!" Mesya terus berteriak sembari berusaha mengejar orang-orang itu.
Tapi saat di persimpangan jalan, Mesya sudah kehilangan jejak mereka.
Nafasnya yang sudah tersengal juga rasa hausnya membuat Mesya hanya pasrah. Tubuhnya merosot terduduk di trotoar jalan.
"Apa lagi ini?? Kenapa semua ini terus menimpaku??"
Mesya menertawai dirinya sendiri yang bagaikan gelandangan sekarang. Tak punya tempat tinggal, tak ada uang, baju juga tersisa selembar yang dikenakannya saja.
Belum sempat dirinya membeli makanan untuk mengisi perutnya, uangnya sudah musnah. Tak terisa sepeser pun di tangan Mesya saat ini.
"Maafkan Mama ya Dek. Kita cari air saja dulu ya?? Nanti Mama coba cari makan buat kita. Kamu pasti sudah lapar ya??" Ingin rasanya menangis saat ini, namun Mesya malu pada anak di dalam kandungannya.
Sementara itu, di dalam sebuah mobil mewah, seorang pria telah menunggu kedatangan orang suruhannya.
"Ini Bos, hanya ini yang dia bawa. Tidak ada yang lain lagi" Seorang pria menyerahkan sebuah koper dan tas perempuan kepada Bosnya.
"Kerja yang bagus. Sekarang gantilah baju kalian itu lalu lanjutkan tugas kalian lagi" Perintah Bosnya.
"Baik Bos"
Pria yang di panggil Bos itu tersenyum dengan licik mendapati tas yang berisi dompet dan juga ponsel canggih keluaran terbaru yang dimiliki oleh pemilik tas itu.
"Bos, gimana kalau seandainya Mesya benar-benar tidak punya uang sepeserpun sekarang?? Bagaimana cara dia membeli makanan, dia sedang hamil anakmu Bos" Ferry mengingatkan Bosnya yang semakin hari semakin keterlaluan itu.
"Aku tidak peduli. Mau dia mengais makanan sisa di tong sampah pun aku tidak akan pernah peduli" Ucap Bisma dengan hatinya yang sudah membatu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
ALNAZTRA ILMU
gila.. apa yg diperbuat.. akan berbalik jugak
2025-02-04
0
karissa 🧘🧘😑ditama
parah gila sih nih bisma😂😂
2024-09-25
0
Edah J
Bisa kuat kalau soal Mesya karena perbuatannya
tapi kalau menyangkut anak
air di mataku g bisa ditahan kak Santi Santi😢😢😢
2024-06-17
1