Mesya dan Luna masih menunggu Dokter yang kembali memeriksa keadaan Papanya setelah tadi sempat kejang-kejang hebat. Kekhawatiran terlihat jelas di wajah dua wanita yang duduk berjauhan itu.
Setelah pertengkaran tadi yang di menangkan oleh Luna karena Mesya langsung terdiam setelah Luna mengatakan kedatangan Bisma. Kini Mesya tampak terdiam sejak tadi.
Kini hari sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Namun keduanya masih belum mendapatkan kepastian tentang keadaan Papa dan suami mereka di dalam.
Mesya langsung berlari menghampiri Dokter yang keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana keadaan Papa saya Dokter??" Luna juga mendekat mengikuti Mesya.
"Maaf, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tuhan berkehendak lain. Pasien tidak bisa di selamatkan. Saya mewakili Dokter dan rumah sakit ini mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya"
"Tidak, Papa nggak mungkin meninggal!! Enggak!!" Mesya merosot terduduk di lantai.
"MAAASSS!!" Teriak Luna dengan histeris.
Dokter tadi tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memilih menyingkir, memang sudah sewajarnya mereka seperti itu karena kehilangan salah satu keluarganya.
Kini Mesya hanya bersama Luna yang akan mengurus pemakaman Papanya. Tidak ada lagi anak buah yang setia membantu Prabu kapanpun dan di manapun. Karena tak ada uang maka tak akan ada yang bertahan. Sepertinya kalimat itu cocok menggambarkan Mesya saat ini.
Mau bagaimana lagi. Takdir yang telah di digariskan Tuhan tidak akan bisa di rubah, termasuk kematian. Mesya dengan sangat tidak rela harus melepaskan Papanya pergi secepat itu. Disaat hubungan dirinya dan Prabu sedang tidak baik-baik saja.
Tanpa ada salam perpisahan, tanpa sempat Mesya mengucapkan maaf atas semua kesalahannya, Prabu sudah lebih dulu meninggalkannya. Kini Mesya benar-benar tak punya siapapun lagi di dunia ini. Sedangkan Luna, Mesya tak tau nasib hubungan mereka berdua setelah ini.
Pemakaman Prabu di lakukan esok harinya. Kabar meninggalnya Prabu itu juga sangat mengejutkan bagi khalayak ramai. Pasalnya Prabu juga pengusaha tersohor di kota ini.
Kematian Prabu menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Mereka menyangkut pautkan meninggalnya Prabu dengan masalah yang menjerat Mesya akhir-akhir ini. Semua orang berpikir jika Prabu menjadi seperti ini karena terlaku stres memikirkan kelakuan Putrinya, atau lebih tepatnya mereka menyalahkan Mesya dalam hal ini.
Selama pemakaman berlangsung, gunjingan-gunjingan itu terus terdengar di telinga Mesya. Meski tak sepantasnya mereka membicarakan hal itu di tengah pemakaman.
Namun Mesya tak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak ingin acara pemakaman Papanya di warnai dengan kerusuhan yang ia buat. Sudah cukup dia membuat Papanya kesusahan di akhir hidupnya. Mesya tidak mau memberikan Papanya rasa malu di hari pemakamannya.
Telinga Mesya yang sudah begitu panas sejak tadi akhirnya bisa dingin juga setelah satu persatu pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Kini hanya tinggal Mesya dan juga Ibu tirinya yang ada di sana.
"Papa, maafkan Mesya. Mesya sudah menjadi anak durhaka sama Papa. Mesya bukan anak yang baik, Mesya selalu saja menyusahkan Papa. Bahkan di akhir hidup Papa, Mesya belum sempat meminta maaf" Mesya menangis memeluk nisan Papanya.
"Benar kata orang-orang tadi kalau Papa meninggal itu gara-gara Mesya. Maaf Pa, mesya menyesal karena tidak pernah menjadi anak yang berbakti sama Papa. Tapi sekarang penyesalan Mesya seperti tidak ada artinya lagi karena Papa sudah nggak ada lagi di sini" Suara Mesya bahkan hampir habis karena terus menangis.
"Mas, aku juga hancur karena kepergian mu. Aku sendirian saat ini Mas. Aku bisa apa tanpa kamu di sisiku. Tapi aku ikhlas melepas kepergian kamu Mas. Maafkan aku jika selama ini aku belum menjadi istri yang baik buat kamu. Tunggu aku di sana, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu"
Luna terus menatap sinis pada Mesya. Dia tidak merasa iba pada anak dari suaminya itu. Dalam benaknya hanya ada kebencian untuk Mesya saat ini. Bukan hanya orang lain, tapi Luna juga menyalahkan Mesya tentang kepergian suaminya. Baginya Mesya tetaplah sumber masalah dari.semua kekacauan ini.
Luna yang sudah berniat pergi langsung menghentikan langkahnya ketika dia melihat dari ekor matanya Mesya ambruk di pusaran Prabu.
"Hey bangun!!" Luna menggunakan kakinya untuk membangunkan Mesya.
"Dia pingsan??" Pikir Luna saat tak ada pergerakan dari Mesya.
Luna lekas berjongkok dan memeriksa keadaan Mesya.
"TOLONG!!"
"TOLONG, ADA ORANG PINGSAN DI SINI!!"
Luna terus berteriak siapa tau masih ada pelayat yang ada disekitar sana. Tidak mungkin jika Luna akan memapah Mesya yang tak sadarkan diri itu sendirian.
"Kalian siapa??" Luna terkejut karena tiba-tiba dua pria berbadan besar dan berpakaian serba hitam mendekat ke arahnya dan langsung menggendong Mesya.
"Sudah tidak udah banyak tanya!! Cepat ikut, kita bawa dia ke Rumah sakit"
Luna yang ketakutan hanya mengangguk lalu mengikuti kedua orang tadi masuk ke dalam mobil hitam yang parkir agak jauh dari tempat pemakaman Prabu tadi.
Dengan waktu kira-kira tiga puluh menit mereka baru bisa menemukan Rumah sakit terdekat untum memberikan pertolongan pertama pada Mesya. Saat ini memang itu yang Mesya butuhkan.
"Cepat tolong wanita ini!!" Ucap salah satu pria tadi setelah menidurkan Mesya di brankar Rumah sakit kecil itu.
Meski Luna menyimpan keberanian terhadap Mesya, tapi dia tetap berada di sana. Biar bagaimanapun dia masih wali dari Mesya. Tetap saja dia yang akan di hubungi jika sesuatu terjadi pada Mesya.
Luna masih menunggu Dokter yang sedang menangani Mesya. Dengan rasa kesal karena telah membuang-buang waktunya.
Saat Luna melihat ke sekitarnya, dia baru sadar kalau dua pria tadi sudah tidak ada di sana.
"Sebelumnya siapa mereka?? Kenapa misterius sekali?? Tiba-tiba datang dan sekarang sudah hilang bagai di telan bumi" Gumam Luna memberi mencari ke setiap sudut pandangan matanya.
"Ah sudahlah, itu tidak penting bagiku"
"Keluarga pasien atas nama Mesya??" Panggil Dokter wanita yang begitu keibuan itu.
"Saya Dokter, Saya Kakaknya" Luna mendekat, dia tak mau mengaku menjadi Ibu sambung bagi Mesya. Apalagi sekarang statusnya sudah janda.
"Baiklah kalau begitu, haru saya sampaikan kalau pasien saat ini masih belum sadar. Pasien mengalami seperti ini dehidrasi berat karena lambungnya kosong, sama sekali tidak ada makanan atupun cairan di dalamnya. Saya mohon kepada anda untuk lebih memperhatikan adik anda atau mungkin bisa di sampaikan kepada suami dari pasien unt..."
"Suami??" Luna sempat membeku sejenak.
"Iya betul, karena kondisi pasien yang sedang hamil muda jadinya pasien sangat butuh perhatian ekstra terutama asupan makanan yang harus di konsumsinya. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi karena bisa membahayakan Ibu dan janinnya"
"Ha-hamil Dokter??" Luna bahkan tidak bisa mengondisikan mulutnya yang terus menganga karena terlalu terkejut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Edah J
seikat 🌼🌹🌻🌺🌸 buat kak author Santi Santi
2024-06-17
2
SUGA 💙💚💛💜💝💘
Thor lopiyu😘😘😘🤧🤪🤣
2023-09-16
0
Rambe Rambutan
tambah lagi upnya donk thor😘😘😘
2023-05-31
1