"HENTIKAN!!"
Tangan yang menarik Mesya lepas begitu saja setelah mendengar teriakan dari Pak Rt. Pria paruh baya yang mengenakan peci itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri keramaian yang sedang terjadi.
"Kenapa Pak Rt?? Kita harus segera mengusirnya dari sini. Kita nggak mau kampung kita ini dijadikan tempat wanita nggak bener kaya dia"
"Ibu-ibu sabar, kalian jangan jadi provokator. Semua yang kalian tuduhkan belum tentu benar, nanti jatuhnya fitnah!!"
Mesya hanya diam saja karena dia tidak bisa melakukan pembelaan apapun. Mau menyangkal tapi kenyataannya memang dia hamil di luar nikah. Tapi Mesya tidak terima di sebut wanita tidak benar, karena dia hamil juga karena di paksa oleh Bisma.
"Fitnah apanya Pak Rt?? Jelas-jelas dia hamil, dia juga tidak punya KTP. Katanya sih hilang, tapi kita yakin itu cuma akal-akalannya saja untuk menutupi aibnya!!"
"Benar itu!!"
"Benar Pak Rt!!" Keadaan menjadi riuh seketika.
"Sudah, sabar sabar!! Tenang dulu!!" Pak Rt merogoh sesuatu dari kantung kemejanya.
"Mbak Mesya ini tidak bohong, KTP nya memang hilang. Tadi pagi ada orang yang mencarinya sampai ke rumah saya dan menitipkan KTP nya sama saya. Dan yang kalian tuduhkan juga tidak benar, karena di sini Mbak Mesya statusnya sudah kawin. Jadi sudah menikah ya Ibu-ibu!! Tapi kita juga tidak berhak ikut campur sama rumah tangga Mbak Mesya. Kalian tidak perlu menanyakan keberadaan suaminya di mana. Itu terlalu melanggar privasi namanya"
Mesya membekap mulutnya karena dia tidak percaya mendengar penjelasan Pak Rt. Bagaimana mungkin KTP nya bisa ada di tangan Pak Rt. Lalu bagaimana bisa statusnya sudah berubah seperti itu.
"Yang benar Pak Rt??" Tanya salah satu dari mereka.
"Coba lihat kalau tidak percaya!!" Pak Rt memberikan KTP atas nama Mesya yang dia bawa.
Mereka semua langsung terdiam setelah melihat bukti yang Pak Rt bawa.
"Wah kalian ini gimana sih?? Kalau belum tentu benar, ngapain ngajak kita ngusir Mbak Mesya kaya gini!!" Ucap salah seorang Bapak-bapak kepada Ibu-ibu tukang gosip itu.
"Ya kita kan nggak tau!!" Jawab mereka tak terima.
"Sudah sudah, sekarang lebih baik kalian bubar saja. Masalah ini saya anggap selesai. Jadi jangan sampai terulang lagi. Mengerti??"
"Huuuu!!" Teriak mereka sambil membubarkan diri tanpa meminta maaf kepada Mesya.
"Mbak Mesya, saya minta maaf atas nama warga saya ya?? Dan ini KTP nya" Mesya menerima KTP aneh itu dari tangan Pak Rt.
"Nggak papa kok Pak Rt, saya paham kalau mereka pasti penasaran dengan status saya, apalagi saya sedang hamil begini. Tapi ngomong-ngomong, siapa yang mengantar KTP saya ke rumah Pak Rt??"
Mesya begitu penasaran dengan siapa orang yang datang ke rumah Pak Rt. Alamat KTP Mesya masih di rumah yang lama, bagaimana bisa orang itu menemukan Mesya di sana. Lagipula kalau tau Mesya di sana, kenapa tidak menemuinya langsung. Berbagai keanehan itu membuat Mesya menyimpan banyak pertanyaan.
"Dia tidak menyebutkan namanya Mbak. Tapi dia seorang laki-laki. Kira-kira umurnya hampir tiga puluhan. Pakaiannya rapi kaya orang kantoran, tinggi dan ganteng" Jelas Pak Rt yang mengingat jelas ciri-ciri pria yang tadi datang ke rumahnya.
"Ya sudah Pak Rt, terimakasih atas bantuannya. Kalau tadi Pak Rt tidak datang, pasti saya sudah di usir dari sini"
"Itu sudah kewajiban saya Mbak Mesya. Jadi kalau ada apa-apa, Mbak Mesya bisa lapor sama saya atau sama istri saya"
Mesya tersenyum dengan tulus, karena masih ada secuil dadi banyaknya orang yang baik kepadanya.
"Sekali lagi terimakasih Pak Rt"
"Sama-sama Mbak, kalau begitu saya permisi dulu"
Setelah kepergian Pak Rt, Mesya masih betah memandangi kartu persegi panjang yang tipis itu.
"Siapa orang itu?? Apa dia Kak Bisma??" Ciri-ciri dari yang di sebutkan Pak Rt itu sama dengan perawakan Bisma.
"Tapi tidak mungkin!! Untuk apa Kak Bisma menolongku. Dia justru akan tertawa senang melihatku di perlakukan seperti tadi. Untuk apa juga dia repot-repot mengubah status palsu seperti ini. Ya, pasti bukan dia!!" Mesya menggenggam erat kartu itu di tangannya.
Pikirannya menyangkal jika bukan Bisma yang datang mengantarkan kartu itu. Tapi hatinya berharap besar jika Bisma peduli kepadanya.
"Apa jangan-jangan, preman-preman itu suruhan Kak Bisma??"
Mesya menunduk sedih, ternyata benar jika Bisma sama sekali belum puas untuk menyakitinya. Mungkin Bisma tidak pernah muncul di depannya. Namun Bisma masih mengawasinya.
"Apa papa kamu sebenarnya tau tentang kamu Dek??" Mesya mengusap perutnya dengan lembut.
Sementara itu, Bisma melihat Mesya yang sedang mengusap perutnya yang membuncit itu dengan sedih.
Bisma tidak tau apa yang sedang Mesya pikirkan, tapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya kala melihat raut wajah sedih itu.
Kini Bisma mengambil sebuah dompet yang tersimpan di dashboard mobilnya. Dompet yang sudah beberapa bulan ini ia rampas dari pemiliknya.
Bisma mengeluarkan sebuah kartu yang sama persis seperti yang di pegang Mesya sekarang. Dan ternyata, Bisma lah orang yang menemui Pak Rt dan memberikan KTP palsu itu, karena yang asli kini masih berada di tangan Bisma.
Dia tidak tau kenapa dia sampai membuat KTP palsu itu untuk Mesya. Padahal seharunya dia senang karena melihat Mesya yang akan di usir dari sana. Tiba-tiba saja hatinya tergerak begitu saja setelah memikirkan omongan Ferry waktu itu.
Bisma kemudian beralih pada benda pipih nan canggih berwarna soft pink itu.
Sejak Bisma mendapatkannya dari Mesya, dia sama sekali belum pernah melihat isi didalamnya.
Bisma mencoba mengetikkan password ponsel itu sesuai dengan tanggal lahir Mesya yang ada pada KTPnya.
Namun sayang, angka-angka yang Bisma masukkan tetap salah meski sudah mencoba membolak-baliknya. Hingga Bisma menoleh kembali pada Mesya yang kini duduk merenung di teras rumahnya masih dengan tangan yang mengusap perutnya. Hingga Bisma dengan asal mengetikkan enam angka di ponsel Mesya.
Mata Bisma sedikit melebar kala dia berhasil membuka ponsel Mesya dengan angka-angka itu.
"Dia menggunakan tanggal lahir ku sebagai password ponselnya?? Cih.. dasar bodoh!!"
Bibir Bisma memang mencibir, tapi ada perasaan hangat menyerang hatinya karena kenyataan kecil itu.
Yang pertama kali menarik perhatian Bisma di dalam ponsel itu tentu saja galeri ponsel Mesya. Bisma ingin sekali membandingkan penampilan Mesya yang dulu dan sekarang melalui foto-fotonya.
Tapi yang menyambut Bisma pertama kali adalah sebuah foto candid dirinya di saat reuni SMA sebelum kejadian yang menimpa Alya terjadi. Dan itu adalah foto terakhir yang Mesya ambil melalui ponselnya.
Kemudian masih banyak lagi foto-foto candid yang Mesya ambil dari Bisma. Entah itu di kantor saat mereka sedang meeting atau di saat Bisma tak sengaja berada tak jauh dari Mesya.
Tiba-tiba saja perasaan Benci itu muncul kembali di benak Bisma. Entah mengapa melihat foto-foto itu mengingatkannya kembali pada Alya. Apalagi foto terakhir yang di ambil Mesya.
Bisma langsung mematikan ponsel itu dan mengembalikannya lagi ke tempat semula. Karena kemarahannya itu, Bisma memilih pergi dari sana, meninggalkan Mesya yang sedari tadi ia awasi dari kejauhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
rinny
kenapa di KARMA bawang banget bawangnya kak outhor 😭😭😭
2024-09-21
0
Edah J
Rasa yang penuh nano nano disini
komplit😊👍
2024-06-18
0
Cen Li
semangat nei
2023-11-02
1