Mencari bantuan

Tak ada yang namanya waktu berhenti begitu saja, waktu tetap terus berjalan sebagaimana mestinya. Begitu pula dengan hari-hari Mesya. Dampak dari penurunan saham di perusahaan Papanya adalah hutang yang mulai menggunung. Semua aset yang Prabu punya mulai di jual satu per satu. Tapi semua itu masih belum cukup juga.

Prabu terus memutar otaknya untuk mendapatkan dana secepatnya. Sementara aset untuk jaminan bank saja sudah tidak punya. Mau tak mau Mesya ikut mengeluarkan tabungannya untuk membantu Papanya. Butiknya juga ikut menjadi korban. Bangunan yang sudah kosong beberapa minggu itu akhirnya terjual juga. Namun uang yang Mesya dapat tak seberapa, karena dia menjual dengan cepat tentu saja harga yang ia dapat hanya seadanya.

Semua itu ia lakukan karena rasa bersalahnya pada Papanya. Semua itu terjadi juga karena ulahnya. Apalagi saat ini kondisi Prabu semakin memburuk. Prabu sangat susah untuk di ajak ke Rumah sakit dengan alasan sayang dengan uang yang terbuang untuk biaya Rumah sakitnya. Prabu berpikir lebih baik uang itu di gunakan untuk mencicil hutang-hutangnya.

"Pa, kita ke Rumah sakit ya??" Bujuk Mesya lagi. Sudah puluhan kali Mesya mengatakan itu pada Papanya yang hanya diam duduk di ruang kerjanya.

"Benar kata Mesya Mas, kondisi kamu sudah semakin memburuk" Tambah Luna.

"Kamu jangan dengarkan anak s*alan ini Luna!! Aku sudah mencoba menutup telingaku agar tidak mendengar suaranya, jadi kamu jangan ikut-ikutan. Uhuk.. Uhuk...!!" Prabu terbatuk memegangi dadanya.

Sebenarnya dia sendiri sudah tau jika tubuhnya sudah sangat butuh bantuan Dokter. Namun dia tetap berusaha kuat di depan istri dan anak yang saat ini menjadi beban untuknya.

"Aku nggak peduli mau Papa marah sama aku atau memaki aku nantinya. Tapi sekarang Papa harus ikut ke rumah sakit!!"

Kali ini Luna sepemikiran dengan Luna. Dengan sigap dia membantu Mesya yang memapah Prabu keluar dari ruang kerjanya.

Mereka berdua benar membawa Prabu ke rumah sakit dengan Pak Din yang menjadi supir mereka. Ketika di dalam mobil Prabu mulai kehilangan kesadarannya. Tak ayal hal itu membuat Mesya dan Luna panik.

"Pa, Mesya mohon bertahan Pa. Mesya akan berubah menjadi anak yang baik dan berbakti sama Papa asalkan Papa mau bertahan" Mesya menangis sesenggukan sambil memeluk Papanya.

"Bertahan Mas, aku yakin kamu pasti kuat" Bisik Luna pada Prabu. Usia Luna dan Prabu memang selisih dua puluh tahun. Namun Luna begitu tulus mencintai Prabu. Hanya saja sejak sepuluh tahun yang lalu mereka menikah, Mesya tidak pernah bisa menerimanya menjadi Ibu sambungnya.

Tak butuh waktu lama, Pak Din akhirnya membelokkan mobil yang dikendarainya ke Rumah sakit. Mobil satu-satunya yang tersisa milik Prabu setelah semuanya di jual untuk menutup semua hutangnya. Itupun belum separuh dari hutangnya.

Prabu langsung mendapat pertolongan pertama. Setidaknya Mesya bisa tenang karena Papanya masih terselamatkan kali ini.

"Titip Papa sebentar, kalau ada apa-apa hubungi aku!!" Luna adalah orang yang di ajak Mesya berbicara.

"Mau kemana kau??"

"Cari pinjaman, aku nggak bisa diam aja kaya gini. Bisa-bisa keadaan Papa semakin parah kalau masalah ini tidak kunjung selesai"

"Bagus, memang itu yang harus kau lakukan. Ini semua salahmu jadi setidaknya kau mau bertanggungjawab. Karena kalau sampai terjadi sesuatu dengan suamiku, kau adalah orang pertama yang akan aku salahkan!!"

Mesya tersenyum kecut. "Yang kau sebut suami mu itu, Papa ku!! Jadi jangan belagu!!"

Mesya meninggalkan Luna dengan perasaannya yang seperti terbakar. Rasanya ingin mengeluarkan udara panas dari dalam dirinya.

Tangan Mesya melambai menghentikan taksi di depan Rumah sakit. Mulai beberapa hari yang lalu dan mungkin seterusnya entah akan sampai kapan, Mesya tidak akan lagi mengemudikan mobilnya sendiri. Hal itu karena mobilnya sudah ikut di jual bersama butik dan juga barang-barang berharganya yang lain termasuk tas dan sepatu bermerk.

Kali ini tujuannya adalah ke tempat sahabatnya. Siapa tau mereka mau membantunya meskipun tak seberapa.

"Mau minum apa??" Steffi yang baru turun dari kamarnya langsung menawarkan minum kepada tamunya.

"Nggak usah steff, gue cuma sebentar di sini"

Steffi mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur. Akhirnya dia memilih duduk berhadapan dengan Mesya.

"Ada apa??" Menurut Mesya, mimik wajah Steffi saat ini terlihat tidak bersahabat.

"Steff, gue yakin lo udah dengar berita tentang keluarga gue saat ini. Gue juga nggak mau basa-basi lagi, kedatangan gue ke sini adalah untuk meminta bantuan sama lo. Gue mau pinjam uang Steff, Bokap gue masuk Rumah sakit, dan hutang Bokap gue masih terlalu banyak meski aset berharga kita sudah di jual semua. Jadi tolong bantu gue Steff"

Lagi-lagi Mesya harus memohon kali ini. Seakan dirinya sudah tidak ada artinya lagi seperti dulu yang selau disegani dan di takuti oleh teman-temannya.

"Mey, sorry. Bukannya gue nggak mau bantu lo. Tapi tabungan gue udah terkuras habis buat bangun usaha baru gue yang sampai saat ini belum juga beroperasi. Jadi kalau lo datang ke gue saat ini, itu bukan solusi yang tepat Mey"

Mesya tak menyangka, dulu dirinya dengan mudah membantu teman-temannya yang kesusahan. Bahkan terkesan menghambur-hamburkan uangnya agar mereka semua tunduk pada Mesya. Kini giliran Mesya yang butuh, mereka sembunyi tangan begitu saja seolah tak pernah merasa hutang budi.

"Nggak bisa gitu dong Steff!! Dulu gie keluar uang banyak buat bantuin lo permak wajah lo yang sekarang kaya nenek sihir itu. Gue yang keluar duit banyak termasuk biaya implan p*****ra lo. Sekarang gue lagi butuh bantuan, lo nya yang nggak tau diri!!" Emosi Mesya memuncak hingga ia berdiri dan menunjuk-nunjuk wajah Steffi yang semuanya hasil permakan itu.

"Jangan ngungkit-ungkit masalah itu ya!! Lo yang dulu g*blok karena menghambur-hamburkan uang Bokap lo. Dulu juga gue nggak pernah maksa lo bayarin semuanya. Kenapa sekarang lo nggak terima??"

Mereka mulai beradu mulut. Persahabatan yang sudah bertahun-tahun lamanya kini mulai retak hanya karena masalah uang.

"Jelas gue nggak terima, karena lo nggak ada balas budinya sama sekali!!"

"Gue nggak peduli!! Sekarang lo pergi dari sini!!" Steffi mendorong Mesya hingga dengan terpaksa Mesya berjalan keluar dari rumah yang sekarang mulai ia benci itu.

"Jangan datang kesini lagi. Rumah ini haram di injak sama lo!!"

BRAAKK...

Steffi membanting pintu setelah Mesya menginjakkan kakinya satu langkah keluar.

"STEFFI S*ALAN!!" Teriak Mesya dari luar.

Mesya memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut karena teriakannya itu. Ia juga baru ingat kalau sejak pagi dia belum mengisi perutnya sama sekali. Sedangkan ini sudah hampir pukul lima sore. Namun Mesya membuang jauh rencananya untuk mengisi perutnya. Masih ada satu lagi sahabatnya yang harus ia temui.

Jika tadi Mesya berada di rumah Steffi, kini menjelang malam, Mesya sudah tiba di rumah yang cukup besar milik keluarga Sonya. Salah satu sahabat Mesya juga

"Permisi Tante, Sonya ada??" Mesya tersenyum ramah mendapati Mamanya Sonya yang membuka pintu untuknya.

"Mau apa kamu kesini?? Sonya tidak ada di rumah!!" Mesya sempat tersentak karena perubahan sikap Mamanya Sonya. Padahal dari dulu wanita yang selalu menggunakan lipstik berwarna merah terang itu begitu baik kepadanya. Bahkan terkesan menjadi penjilat agar Mesya terus membantu Sonya dalam hal.

"Kenapa Tante berubah seperti ini?? Ini aku Mesya Tante" Mesya yang mengira Mamanya Sonya lupa pada dirinya hingga bersikap kasar sepeti itu.

"Saya tau dan saya tidak pikun. Saya ingat dengan jelas kalau kamu itu si pembuat masalah kan?? Saya tidak tau dan tidak mau tau alasan apa yang membawamu kemari. Tapi mulai sekarang jangan pernah temui datang ke sini atau menemui anak saya lagi!! Pergi!!"

Mesya lagi-lagi tersentak dengan suara lantang wanita berumur itu.

"Memangnya apa salahku sampai Tante melarang untuk menemui Sonya??"

"Salah kamu banyak!! Saya hanya nggak mau anak saya terseret kasus kamu yang terus bermunculan itu. Dasar wanita nggak bener!!"

BRAKK...

Kedua kalinya dalan sehari Mesin di tampar dengan suara bantingan pintu tepat di depan mukanya seperti itu.

"Dasar nenek lampir!! Gue bahkan belum sempat mencaci maki, tapi dia sudah menutup pintunya begitu saja!!" Kesal Mesya sembari menjauh dari rumah Sonya.

Sementara itu dari kejauhan, ada seseorang yang terus memandangi gerak-gerik Mesya.

"Halo Bos"

"Gimana??"

"Dia juga tidak dapat apa-apa dari rumah Sonya Bos"

"Bagus, awasi terus jangan sampai dia mendapatkan bantuan dari siapapun"

"Baik Bos"

Seseorang itu adalah suruhan Bisma. Secara diam-diam Bisma menyuruh orang untuk terus mengawasi Mesya di manapun dia berada. Bukan karena khawatir atau merasa iba dengan apa yang menimpa Mesya saat ini. Tapi Bisma tak mau sampai Mesya mendapatkan bantuan atau memilih mengakhiri hidupnya dengan cepat. Karena kalau sampai itu terjadi, usaha Bisma untuk membuat Mesya hancur lebur akan sia-sia.

Terpopuler

Comments

JandaQueen

JandaQueen

si mesya emang jahat, tp klw gini sih, si bisma jg jahat, balas dendam mbabi buta hingga ortu si mesya yg ga tekait langsung kena dampak mderita jg. kasian.

2025-01-21

1

Edah J

Edah J

Berusaha untuk lebih baik itu sangatlah butuh proses dimana ada masa lalu yg pastinya akan selalu mengikuti kita tapi tak apa anggap sebagai pembelajaran untuk hidup kita😉

2024-06-17

1

Anggun Anggriana

Anggun Anggriana

kurangi typo nya thor

2023-07-22

2

lihat semua
Episodes
1 Awal kehancuran
2 Janjiku
3 Jebakan Mesya
4 sebelum kejadian
5 Menemui Bisma
6 Ancaman demi ancaman
7 Mencari bantuan
8 Syok
9 Dua pria misterius
10 Serpihan dari dirinya
11 Masalah lagi
12 Jadi gelandangan
13 Petunjuk
14 Rumah kumuh
15 Di pecat
16 Usaha menyambung hidup
17 Masalah baru
18 Status palsu
19 Masalah belum berakhir
20 Tanpa sengaja bertemu
21 Permintaan maaf
22 Meminta maaf pada Alya
23 Mulai sadar
24 Profesi baru
25 Wanita bodoh
26 Mulai peduli
27 Menyadari kehadiranmu
28 Luka berbalut luka
29 Mencari kepastian
30 Terimakasih Kak Bisma
31 Bagian dari dirimu
32 Anakku
33 Calon orang tua yang gagal
34 Sangat mengenal dirimu
35 Asal kamu bahagia
36 Datang terlalu cepat
37 Kalian tanggung jawabku
38 Maafkan Papa
39 Mencintai wanita lain
40 Bumi dan langit
41 Tidak harus menikah
42 Kamu pemilik hatiku
43 Akhirnya
44 Belum berakhir
45 Ingin melindungi mu
46 Pergi dari sini!!
47 Mencari Mesya
48 Menemukanmu
49 Aku juga mencintaimu
50 Tidur seranjang
51 Menukar Mesya
52 Selamat tinggal
53 Hanya mimpi
54 Dejavu
55 Wanita bodoh
56 Menjauh
57 Semakin yakin
58 Kebohongan
59 Bukti
60 Satu syarat
61 Lamaran yang menghancurkan
62 Bimbang
63 Mencari tau kebenaran
64 Aku tidak mau orang lain
65 Kembali ke pemiliknya
66 Keputusan Mesya
67 Pergi
68 Wanita jahat
69 Tempat persembunyian
70 Pilihanmu sendiri
71 Kesempatan ke dua
72 Mencari kenangan
73 Pria lajang
74 Sama-sama tersakiti
75 Membawa seseorang
76 Aku merindukannya
77 Kekhawatiran yang tiada artinya
78 Peluk aku
79 Marah
80 SEBATAS PENGHANGAT RANJANG
81 Karya baru SEBATAS PENGHANGAT RANJANG
82 Selesai
83 Ekstra part 1 terbangun dari mimpi
84 Ekstra part 2 terbangun dari mimpi
85 Ekstra part 3 Kebahagiaan milik semuanya
Episodes

Updated 85 Episodes

1
Awal kehancuran
2
Janjiku
3
Jebakan Mesya
4
sebelum kejadian
5
Menemui Bisma
6
Ancaman demi ancaman
7
Mencari bantuan
8
Syok
9
Dua pria misterius
10
Serpihan dari dirinya
11
Masalah lagi
12
Jadi gelandangan
13
Petunjuk
14
Rumah kumuh
15
Di pecat
16
Usaha menyambung hidup
17
Masalah baru
18
Status palsu
19
Masalah belum berakhir
20
Tanpa sengaja bertemu
21
Permintaan maaf
22
Meminta maaf pada Alya
23
Mulai sadar
24
Profesi baru
25
Wanita bodoh
26
Mulai peduli
27
Menyadari kehadiranmu
28
Luka berbalut luka
29
Mencari kepastian
30
Terimakasih Kak Bisma
31
Bagian dari dirimu
32
Anakku
33
Calon orang tua yang gagal
34
Sangat mengenal dirimu
35
Asal kamu bahagia
36
Datang terlalu cepat
37
Kalian tanggung jawabku
38
Maafkan Papa
39
Mencintai wanita lain
40
Bumi dan langit
41
Tidak harus menikah
42
Kamu pemilik hatiku
43
Akhirnya
44
Belum berakhir
45
Ingin melindungi mu
46
Pergi dari sini!!
47
Mencari Mesya
48
Menemukanmu
49
Aku juga mencintaimu
50
Tidur seranjang
51
Menukar Mesya
52
Selamat tinggal
53
Hanya mimpi
54
Dejavu
55
Wanita bodoh
56
Menjauh
57
Semakin yakin
58
Kebohongan
59
Bukti
60
Satu syarat
61
Lamaran yang menghancurkan
62
Bimbang
63
Mencari tau kebenaran
64
Aku tidak mau orang lain
65
Kembali ke pemiliknya
66
Keputusan Mesya
67
Pergi
68
Wanita jahat
69
Tempat persembunyian
70
Pilihanmu sendiri
71
Kesempatan ke dua
72
Mencari kenangan
73
Pria lajang
74
Sama-sama tersakiti
75
Membawa seseorang
76
Aku merindukannya
77
Kekhawatiran yang tiada artinya
78
Peluk aku
79
Marah
80
SEBATAS PENGHANGAT RANJANG
81
Karya baru SEBATAS PENGHANGAT RANJANG
82
Selesai
83
Ekstra part 1 terbangun dari mimpi
84
Ekstra part 2 terbangun dari mimpi
85
Ekstra part 3 Kebahagiaan milik semuanya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!