POV NISSA
Hari ini aku masih berjibaku dengan setumpuk berkas yang tiada habisnya, melihatnya saja membuat kepalaku pusing, dan aneh nya akhir-akhir ini tubuhku sering sekali merasa lelah dan capek. Sebenarnya aku ingin sekali periksa ke dokter tapi karena banyaknya pekerjaan yang harus aku jalani membuatku tak punya waktu untuk pergi ke dokter atau apa aku hanya malas saja? entahlah! yang penting sekarang aku harus menyelesaikan laporan ini sesuai deadline, batinku.
Saat sedang memeriksa laporan keuangan dengan angka-angka yang begitu rumit, dan harus teliti karena salah sedikit tidak akan balance, tiba-tiba HP yang ku taruh di meja berbunyi menandakan ada yang menghubungi ku. Saat ku lihat nama yang menghubungiku adalah Mamah dan langsung saja aku angkat telepon dari Mamah ku.
[ Assalamu'alaikum Mah kenapa? ]
[ Nissa, si siluman kadut teh emang sudah nyaho kalau kamu punya restoran Nak? ] ucap Mamahku dengan logat sundanya, ibuku memang berasal dari Bandung, tapi kakekku berasal dari Kalimantan yang mempunyai tanah yang luas dan perkebunan sawit yang sebelumnya di urus oleh kakekku dan adik kakek ku, sekarang perkebunan itu di urus oleh Om ku yang tinggal di Kalimantan tapi masih tetap di awasi oleh Mamah dan Papah karena sebenarnya tanah itu milik kakekku tapi hasilnya di bagi 70/30 dengan Om ku.
[ Ia Mah, dia kemarin makan sama om-om gitu mah di restoran aku, ya tapi aku gak peduli juga sih dia mau ngapain. Hanya aku foto saja mereka, buat bukti biar kalau suatu saat nanti dia berulah dan bakalan aku kasih ke istrinya Om-Om itu ].
[ Kamu tau emang Om-Om nya itu?]
[ Tau Mah, dia Client di perusahaan ini, sebenarnya istrinya yang Client di perusahaan ini, kenapa Mah ada masalah emangnya? ].
[ Tadi dia kesini sama Mamahnya, minta ngomong sama Papah kamu, Minta di balikin rumah Nenek kamu biar di tempatin Mayang lagi, dan yang lebih gila nya lagi si Fina minta kerjaan sama kamu Nak, dia ingin jadi Manager di restoran kamu, Apa dia gak punya otak kali ya, sama gak punya rasa malu Mamah jadi geregetan sama mereka, Terus pake ngehina kamu segala lagi, katanya kamu gak bisa punya anak, dia bilang di depan muka Mamah dan Langsung saja Mamah tampar dia sekencang-kencangnya sampe pipinya merah begitu ].
[ Dia juga dari semalem chat aku Mah, minta kerjaan itu ke aku, tapi gak aku gubris karena males aku ngeladeninnya ].
[ Ya sudah pokoknya kamu jangan lengah ya nak, sebenarnya Mamah juga masih Gedeg sama Papah kamu, masih saja ia ngasih uang ke adiknya walaupun cuma sejuta. Tapi kata Papah kamu, kasian dia katanya dia sudah janda, tapi kamu sudah gak ngasih uang kan ke Tante kamu Nak? ]
[ Gak Mah, aku sudah stop semuanya, saat aku pertama kali mergokin mereka berzina di kamarnya Fina. Oh ia Mah, rumahku sudah ada yang nawar gak apa apa kan ya mah, aku jual aja ya rumah itu, sertifikat juga kan masih atas nama Mamah ].
[ Ia sayang jual aja, Biar buang sial karena ulah si codot-codot itu, Ya sudah Mamah tutup dulu ya, kamu kan lagi kerja, assalamu'alaikum ]
[ Waalaikum salam Mah ]. Ucapku mengakhiri panggilan telepon Mamahku yang langsung di matikan oleh Mamah duluan. Aku pun langsung melanjutkan pekerjaan ku yang masih teramat banyak. Tapi kenapa pusing yang aku rasakan ini makin menjadi, Apalagi saat mendengar Mamah cerita tentang kelakuan Fina hari ini yang datang ke rumah. yang kelakuannya selalu ada-ada saja.
Tapi kalau Fina sudah tau tentang restoran ku, tidak menutup kemungkinan dia juga pasti bakalan cerita sama mas Herman. Hmmmm..... aku punya firasat yang gak bagus, Semoga mereka berdua gak bakalan ganggu aku lagi." Aku pun segera menyelesaikan pekerjaan ku walaupun rasa pusing ini masih ada tapi tetap aku tahan, ya semoga saja tidak berlarut-larut karena pekerjaan ku masih banyak dan tadi juga sempat tertunda karena ada telepon dari Mamah.
Saat jam istirahat tiba, aku langsung menghubungi Sera dan Arsyi untuk makan siang bareng, tapi saat aku akan menghubungi mereka berdua dengan mengambil HP ku yang ada di atas meja, kepalaku makin terasa sakit, bahkan tubuhku sangat terasa lemah, seketika aku menyenderkan badanku ke kursi dan memijit kepalaku yang semakin berdenyut, Saat rasa sakit itu kian terasa aku pun tak kuat menahan tubuhku lebih lama, sayup-sayup ku dengar suara Sera memanggil tapi mataku langsung terpejam, dan seketika saja semuanya menjadi terlihat gelap.
"Nis bangun Nis! Lu kenapa Arsyi cepat telepon Danu! Kita harus bawa Arsyi ke klinik sebelah kantor," ucap Sera panik karena sampai ruangan Nissa, dia langsung mendapati Nissa pingsan di kursinya.
"Sudah lu telepon Danu ...."
"Sudah dia OTW," ucap Arsyi sama paniknya dengan Sera.
Tak berapa lama Danu pun datang, dan tanpa berkata apa-apa, dia langsung mengangkat tubuh Nissa yang lemah dan sedikit kurus, jadi Danu terlihat tidak sulit sama sekali saat mengendong Nissa ala bridal style.
"Bu Sera.... Bu Nissa kenapa bu?" ucap Diana saat melihat Nissa di angkat oleh Danu.
"Nisa kedapatan pingsan, kita mau bawa dia ke klinik sebelah kantor, kamu tolong izin ke pak Boy ya, takutnya Nissa belum siuman sampe waktunya jam masuk," ucap Sera dan langsung di pahami oleh Diana dengan anggukan kepalanya.
POV Author
Sera, Arsy dan Danu langsung menuju ke lantai bawah dengan masih menggendong Nissa, saat melewati Lobby semua karyawan menatap ke arah mereka, dan beruntungnya pada saat itu Herman tidak melihat kejadian itu karena masih berkutat dengan pekerjaan nya di meja kerja nya.
Saat sudah sampai di klinik, Nissa pun langsung di bawa ke ruangan perawatan yang ada di klinik tersebut. Dan dokter pun langsung menghampiri mereka bertiga dan langsung memeriksakan apa yang terjadi di tubuh Nissa.
"Kenapa dengan teman saya dok?" ucap Sera setelah dokter selesai memeriksakan tubuh Nissa dengan alat stetoskop nya.
"Bu Nissa tidak apa-apa hanya terlalu capek dan seperti terlalu memforsir badannya, dan itu tidak baik untuk kandungannya. Jadi saat mba Nissa sudah siuman tolong mba Nissa nya di bawa kerumah sakit saja untuk di periksa oleh dokter kandungannya supaya lebih jelas ya Bu tentang kondisi kandungannya itu," jelas dokter yang bernama dokter Adi itu.
"Apa Nissa hamil Dok......? apa benar Dok?" tanya Arsy kurang percaya.
"Ia sepertinya kalau mau lebih jelas nya lagi seperti yang saya katakan tadi lebih baik di bawa ke Dokter kandungan saja biar lebih jelas," ucap dokter Adi lagi yang langsung di angguki oleh ketiga orang itu.
"Baik Dok, terima kasih atas bantuannya."
"Ia sama-sama, ya sudah kalau begitu saya tinggal dulu ya Bu, tinggal menunggu mba Nissa siuman maka mba Nissa sudah langsung bisa dibawa pulang, tapi saran saya lebih baik mba Nissa nya langsung ke dokter kandungan saja habis itu ia suruh istirahat aja dulu Bu! jangan langsung kerja."
"Ia Dok, sekali lagi terima kasih ya Dok," ucap Sera dan Dokter Adi pun segera meninggalkan ruangan perawatan Sera dengan menatap wajah Sera yang begitu dalam, sehingga Sera yang di tatap Dokter adi pun menjadi gugup.
"Gue ke bagian administrasi dulu ya," ucap Sera lagi.
"Ia hati-hati jalannya ya Ser jangan gugup pas liat dokter Adi di depan." Ucap Arsyi mengejek.
"Apaan sih lu," ucap Sera dengan wajah yang semakin merah seperti kepiting rebus. Sedangkan di pojok ruangan Danu hanya menatap tidak suka dengan interaksi Sera dan Dokter Adi barusan, Danu merasa marah dan cemburu.
"Tunggu Sera gue ikut," ucap Danu melangkah mengikuti Sera dari belakang.
"Ya Allah gue lupa si Danu kan naksir Sera..... Kenapa gue malah bilang kaya gitu, Begok banget sih gue," ucap Arsyi saat Danu dan Sera sudah keluar ruangan.
"Ser tunggu," ucap Danu semakin menyamai langkah Sera.
"Ia Danu, kenapa lu berisik banget sih, tinggal ikutin aja gue dari belakang terus nyamain jalan gue," ucap Sera misuh-misuh.
"Lu gak lagi naksir sama dokter tadi kan?" ucap Danu langsung pada intinya, karena dia tak mau kehilangan Sera, Danu selama ini hanya bisa memendam perasaannya kepada Sera dan tidak berani mengungkapkan perasaannya sedikit pun, karena dia merasa malu akan jabatan Sera yang lebih tinggi darinya , tapi Danu yakin cintanya tulus untuk Sera.
Sebenarnya Danu berasal dari keluarga yang berkecukupan. Orang tua Danu juga memiliki usaha restoran seperti Nissa hanya saja bergerak di masakan Nusantara dan restoran nya juga cukup maju karena mempunyai 3 cabang yang tersebar di Jakarta, Bandung dan Bogor. Hanya saja Danu memilih bekerja di perusahaan yang sama dengan Sera karena mereka berdua adalah teman dekat sejak kecil. Dan dari kecil Danu sudah memiliki rasa terhadap Sera hanya saja Sera pada dasarnya perempuan yang tidak peka, juga tidak pernah menganggap perasaan Danu yang hanya menganggap Danu sebagai sahabatnya saja.
"Kenapa lu nanya kaya gitu, mau komplen lagi masalah pacar gue," ucap Sera yang sedikit risih karena Danu selalu ikut campur tentang pacarnya Sera walaupun pada akhirnya semua yang dikatakan Danu adalah kebenaran, yang mendekati Sera hanya ingin memanfaatkan Sera saja karena kepolosan wanita itu.
"Enggak Ser, gue lihat dokter Adi baik kok, orangnya gak neko-neko lagian dia juga Dokter gak mungkin juga kan dia morotin lu kaya mantan lu yang dulu," ucap Danu.
"Sudah deh gak usah di bahas yang lalu biarlah berlalu, itu salah satu kebodohan yang pernah gue lakuin, makanya sekarang gue hati-hati banget soal urusan hati gue ini. Gue gak mau pacaran-pacaran lagi, capek!" ucap Sera saat berjalan bersama Danu di lorong klinik dan akhirnya mereka pun sampai di ruangan administrasi.
"Lu sama Nissa bisa senasib gitu ya, sama- sama dapet orang yang salah, Bedanya lu belum nikah jadi gak terlalu sakit, lah Nissa?." Ucap Danu menggantungkan ucapannya.
"Kenapa lu khawatir sama Nissa, naksir lu sama Nissa," ucap Sera mengejek.
"Ya kagak lah, gue gak punya perasaan apa- apa sama Nissa, kalo gue suka dari dulu aja gue tembak dia sebelum dia nikah karena di jodohkan," ucap Danu jujur.
"Ya kalau lu naksir sama Nissa juga gak apa- apa gue dukung banget malah. Seenggaknya sahabat gue yang satu itu dapetin lelaki yang baik, bertanggung jawab." Ucap Sera ko tulus namun ada sedikit kemurungan dalam wajahnya.
"Sayangnya yang ada di hati gue bukan Nissa," ucap Danu.
"Siapa? gue kenal gak, kenalin dong, akhirnya sahabat gue yang satu ini sadar dari kehilafannya ha ha ha," ucap Sera tertawa dan mereka berdua sedang mengambil membayar biaya administrasi.
"Tar gue ceritain ya sudah kita balik ke kamar Nissa,"
"Ia yuk."
Saat Sera dan Danu sudah sampai keruangan Nissa ternyata Nissa sudah bangun dari pingsannya, dan di kamar itu pun sudah ada orang tua Nissa yang sudah datang, yang tadi di hubungi oleh Sera saat perjalanan ke klinik.
POV Nissa
Saat aku membuka mataku, ku lihat sekeliling ruangan ini, dan di sampingku sudah ada Mamah yang memegang tanganku dengan matanya yang merah, aku tau Mamahku pasti habis menangis, tubuhku masih sangat lemah hanya untuk berbicara ke Mamah, dan aku pun hanya tersenyum lemah ke Mamah.
"Sayang sudah kamu istirahat dulu ya, Kamu harus istirahat hari ini langsung pulang ke rumah jangan kerja, Kalau perlu kamu resign aja dari kantor ya. Gak usah kerja lagi," ucap Mamah masih memegang tanganku, dan aku yang ingin membantah ucapan Mamah hanya bisa terdiam karena saking lemahnya.
"Kamu makan dulu.... Papah lagi beliin kamu makan, pokoknya kamu makannya harus di jaga sekarang Nak, karena kamu sedang hamil sayang, Alhamdulillah akhirnya kamu hamil Nak, apa yang kamu inginkan akhirnya Allah kabulkan.
Aku pun hanya menyimak ucapan Mamah , dan masih tidak percaya dengan apa yang aku dengar ini, aku ingin bicara tapi aku masih sangat lemah untuk berucap.
"A...pa benar yang Ma....mah ucapkan," ucapku lemah.
"Ia sayang, kita ke rumah sakit ya habis kamu agak sedikit kuat, kita periksakan segera kandungan kamu."
"A.....ku pengen sekarang Mah," ucapku. lemas.
"Aku kuat Mah, aku ingin melihat anakku."
"Ya sudah Mamah hubungi Dokter kamu dulu ya sebentar, tapi kamu harus makan dulu kita juga harus tunggu Sera dan Danu, tadi ada Arsyi disini, tapi dia sudah kembali ke kantor.
"Ia Mah gpp,"
"Mah, apa Nissa sudah sadar?" ucap Papah ku saat masuk ke dalam ruangan ku, saat ku melihat Papah, beliau langsung menghampiri ku dan memeluk ku haru.
"Papah bahagia Nak, sangat selamat ya sayang pokoknya kamu harus resign Nak dari kerjaan kamu, toh kita juga masih mampu membiayai kehidupan kamu, belum juga usaha kamu Nak, jadi lebih baik kamu istirahat di rumah jaga kandungan kamu Nak" ucap Papah antusias.
"Ia Pah, tapi aku mau ke rumah sakit, aku mau cek pah, aku sudah kuat kok." Ucapku semangat.
"Nissaaa.......... Alhamdulillah akhirnya lu siuman juga, Selamat ya akhirnya lu bakalan jadi ibu..... Dan gue bakalan jadi Tante yang cantik..... Ya gak Dan?" ucap Sera heboh saat masuk ke ruangan perawatan ku. Dan Danu yang di tanya seperti itu hanya menganggukan kepalanya saja.
"Om Tante, karena kalian sudah datang aku dan Sera izin kembali ke kantor ya Tan, terus kamu juga sudah di kasih izin dari pak boy atasannya Nissa, agar bisa tidak kembali lagi ke kantor Tan," ucap Danu.
"Ia Mah, Nissa gak usah balik lagi ke kantor biar dia istirahat di rumah," ucap Sera yang sudah terbiasa memanggil Mamahku dengan sebutan Mamah juga.
"Ia sayang, makasih ya Nak sudah bawa Nissa ke klinik."
"Ia sama-sama Mah, Nissa kan saudara aku, kami menyayangi Nissa juga, ya sudah Mah kita berdua balik dulu ke kantor mah assalamu'alaikum," ucap Sera yang langsung memelukku.
"Makasih ya Ser, Dan sudah nganterin gue ke sini," ucapku.
"Ia sayang kita balik dulu."
Lalu Sera dan Danu pun keluar dari klinik untuk kembali ke kantor karena pekerjaan mereka masih banyak dan harus di selesaikan.
Setelah aku makan dan menyelesaikan segala hal yang menyangkut klinik, aku dan orang tuaku langsung saja kerumah sakit untuk memeriksakan kandungan ku ke rumah sakit besar yang ada di dekat kantorku. Dan Alhamdulillah jadwal praktek Dokter kandungannya masih ada dan antriannya tinggal sedikit, jadi kami berdua pun tidak perlu untuk mengantri lama.
Disaat kami sedang mengantri di lorong tiba-tiba Papahku di panggil oleh saudaranya, yaitu sepupu ayah.
"Hay kalian sedang apa disini, Arum kamu hamil lagi?" ucap Tante ku sepupu dari Papahku. Aku pun mencium tangan Tante ku sebagai tanda hormat ku kepada yang lebih tua.
"Bukan ka Dwi, Nissa yang sedang hamil," ucap Mamah ku menjelaskan..
"Nissa kamu hamil? Alhamdulillah selamat ya sayang kamu bakalan jadi ibu sekarang, akhirnya apa yang kamu inginkan sudah Allah kabulkan, tapi kamu gak apa apa Nak gak ada suami yang nemenin kamu," ucap Tante Dwi.
"Gak apa-apa ka Dwi, ada aku dan Papahnya yang bakalan jagain Nissa sekarang, Nissa dan anaknya gak butuh orang seperti Herman."
"Ia kamu bener, Herman sama Fina itu adalah manusia durjana dan gak punya otak, oh ia aku mau ngasih ini kebetulan ketemu kalian, aku habis anterin anakku cek up rutin, sebentar lagi Liana mau nikah, kalian jangan lupa datang ya...... Ini undangannya," ucap Tante Dwi sambil menyerahkan undangan itu ke tangan Mamahku. Aku pun hanya bisa tersenyum bahagia dan memeluk Tante Dwi dengan hati karena akhirnya Liana saudara ku yang baik itu menikah juga, setelah di tinggalkan nikah saat hari pernikahan nya dulu.
"Selamat ya Tante..... Kami semua pasti datang," ucapku tulus.
"Dito tadinya aku mau gak undang Mayang Dit, malas banget kalau harus ketemu sama Fina dan juga si Herman itu, tapi kalau aku gak undang dia, gak bakalan adil sama Mayang, walau bagaimanapun dia adalah adik kami satu-satunya." Ucap Tante Dwi.
"Gak apa-apa mba, undang saja Mayang, aku gak apa-apa kok," ucap ayahku.
"Oh ia Nis, apa Herman sudah tau kamu hamil?"
Deg...
Ia aku belum memikirkan akan hal itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments