POV Fina
"Akhhhhhh sial, Mamaaah," teriak Fina dari dalam kamar memanggil ibunya yang berada di dapur.
"Mamah, Kemana sih orang itu?" gerutu Fina.
"kenapa kamu Fin? teriak-teriak terus.
"Mah, Apa Mamah tahu kalau Mba Nissa itu punya restoran mewah Mah?"
"Iya, Mamah tahu, emangnya kenapa?"
"Kenapa mamah gak ngomong? Aku kan bisa minta kerjaan ama Mba Nissa. Mamah tahu gak restorannya gede dan mewah, bayangin saja kalau aku jadi manajernya, aku pasti dapet gaji gede. Jadi aku gak perlu pacaran sama tua-tua bangka itu mah."
"Emang bagus banget ya restorannya?"
"Bagus banget Mah, mana harganya mahal makanannya juga enak-enak," ucapku antusias.
"Ya sudah, kita kesana aja yuk, Kita bilang aja bahwa kita adalah saudara si Nissa, biar kita bisa makan enak dan gratis disana, kan Nissa saudara kita."
"Iya mah, besok kita kesana. Tapi aku sebel sama mba Nissa mah."
"Kenapa lagi?"
"Itu loh, aku minta kerjaan sama dia malah dibaca doang, ditelepon pun ga diangkat."
"Kurang ajar memang si Nissa itu. Nanti biarin Mamah yang bakal bilang sama kakak Mamah, bapaknya Nissa. Kalau Nissa sama ibunya sudah semena-mena sama kita."
"Iya mah, sebelum ke restoran Mba Nissa, kita ke rumah Tante Arum dulu ya."
"Fin, si Herman belum pulang ya, sudah malam kaya gini juga."
"Belum Mah, mungkin dia nginep di rumah Ibunya kali. Biarkan saja lah Mah, urusan dia, aku sudah gak peduli sama dia."
"Tapi Kamu sudah ngambil tabunganmu kan?"
"Belum Mah, HP-nya dikunci mulu, aku gak tau password-nya apa?" ucapku lemas.
"Ya sudah Mah, aku mau tidur dulu ya," ucapku langsung bergegas ke kamarku karena aku sudah sangat mengantuk. Karena Hari ini benar-benar melelahkan sekali.
Pagi pun telah tiba, aku bangun dan langsung kulihat jam yang ada di nakas. Hmmm.... masih jam delapan, masih pagi. Aku pun menoleh ke sampingku, ternyata tidak ada mas Herman di sampingku. Apa dia tidak pulang ya semalam? atau dia sudah berangkat kerja? Aku pun langsung ke kamar mandi yang ada di dapur. Saat di dapur aku melihat Mamahku sedang sibuk membersihkan rumah, tapi biarlah, pikirku. Langsung saja aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat selesai mandi, aku melihat Mamahku sedang ada di meja makan, sedang memakan sarapan yang dia buat sendiri. Aku pun langsung bergabung bersama Mamah di meja makan untuk memakan nasi goreng buatan Mamahku.
"Wangi sekali nasi gorengnya Mah pasti enak ya Mah?" ucapku yang langsung memasukkan nasi goreng dengan sendok makan ke mulutku.
"Anak cewek jam segini baru bangun, suami dirumah pun gak dilayani keperluannya," Ucap Mamahku.
"Mas Herman pulang Mah?" tanyaku ke Mamah.
"Iya, dia pulang semalam, tadinya mau nginap di rumah ibunya, tapi disuruh pulang sama ibunya. Katanya dia harus bertanggung jawab sekarang sebagai suami kamu."
"Ya, emang seharusnya mas Herman kaya gitu kan Mah?"
"Lah, kamu gimana jadi istri, tanggung jawab gak?" tanya balik Mamahku
"Aku kadang malas Mah, apalagi sekarang mas Herman sudah gak ada duitnya."
"Fin, kamu rayu aja tuh si Herman biar bisa tinggal di rumah ibunya, jadi kan kita gak usah ngontrak kaya gini lagi. Lumayan kan uangnya buat nambah-nambah uang belanja."
"Iya sih Mah bener juga kata Mamah. Apalagi rumah ibunya mas Herman lumayan cukup besar, ya walaupun cuma satu lantai tapi lumayan ada ART nya disana, jadi Mamah gak usah capek-capek beberes. Ada yang melayani kita, lalu lama-lama kita kuasain dah rumahnya, supaya nanti jadi milik kita."
"Bener itu kamu, Fin? Ya, kamu buat alasan apa ke, mau ngurusin ibu kamu sekalian atau apa, biar kita bisa berhemat."
"Iya Mah, nanti aku omongin lagi. Mending sekarang kita ke restoran Mba Nissa aja dulu. Aku mau kerja di sana pokoknya."
"Hayu!"
Akhirnya kami pergi ke restoran Mba Nissa menggunakan taksi online. Saat sudah sampai, aku melihat restoran Mba Nissa cukup ramai, malah sangat ramai. Padahal, harga makanannya lumayan mahal disini. Makanan di sini memang harus aku akui sangat enak. Kami pun masuk, dan aku langsung duduk di meja yang sudah disediakan karena ada yang kosong.
Saat aku mencari Waitress untuk melayani aku dan ibuku, aku menoleh ke samping ternyata ada Waitress kemarin yang melayani aku dan Mas Beni. Aku masih kesal dengan wanita itu, Aku kerjain aja dia sekarang, batinku.
"Hey, kamu pelayan sini," ucapku memanggil Waitress yang kemarin.
"Iya bu. Silahkan ini menunya."
"Saya pesan makanan yang paling enak dan paling mahal yang ada di restoran ini dua porsi, dan untuk minumnya saya pilih wine. Cepat kamu persiapkan!" ucapku sombong.
"Kamu tau kan siapa saya? Saya itu calon manajer di sini, karena Mba Nissa itu kakak sepupu saya. Jangan pake lama, siapin segera."
"Benarkah, ibu saudaranya Bu Nissa?"
"Iya, benar. Kami saudara Nissa. Dia itu keponakan ku. Kalau kamu gak percaya, telepon aja si Nissa. Jangan lupa, pesanan kita berdua cepat di siapkan, jangan pake lama," ucap Mamahku.
"Baik, saya akan menelpon dulu Mba Nissa," ucap Waitress tersebut.
Si Waitress pun mengambil HP nya untuk menghubungi Mba Nissa.
[ Hallo Bu, disini ada yang mengaku saudara Bu Nissa dan beliau juga mengaku calon manajer di restoran ini, Bu ]
"Maaf, nama ibu siapa?" tanya pelayan resto.
"Nama ku Fina. Sini, biar aku yang ngomong."
[ Iya, Bu. Baik, katanya beliau ingin bicara dengan ibu.....Baik, sebentar Bu ], lalu Handphone pelayan itu diserahkan ke Fina.
[Haloooo... Mba Nissa, akhirnya kamu mau bicara sama saya juga, mba. Aku ingin makan di restoran mu mba, kamu kan kakakku, jadi aku mau makanan yang paling enak dan gratis ya mba ] ucapku langsung to the point.
[ Jadi selain jadi pelakor, benalu kamu juga gak punya urat malu ya? Oh... aku tau kamu itu gaya selangit tapi ekonomi mu sulit kan Fina! Kalau gak mampu bayar, gak usah minta makan yang enak, mana mintanya yang mahal lagi! Kalau mau makan, bayar sendiri ], ucap Mba Nissa, membuat hatiku geram.
[ Mba, tapi aku ini saudaramu, ngapain harus bayar di tempat usaha saudaranya sendiri ]
[ Saudara kamu bilang! aku gak pernah tuh punya saudara yang jadi duri dalam rumah tanggaku, yang kasih ************ nya sama mantan suamiku. Jangan mimpi kamu ], ucap Mba Nissa yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Sial, Mba Nissa."
"Kenapa Fin? Nissa mau kan?"
"Maaf Bu. Itu HP saya, jangan dipegang kaya gitu. Tar ibu banting lagi HP ku."
"Nih HP jelek aja bangga," ucapku sambil memberikan telepon itu kepada pelayan tadi.
"Jadi bagaimana bu dengan pesanannya? Saya diminta untuk menagih tagihannya terlebih dahulu sebelum menyajikan makanan yang Ibu pesan, dan ini rinciannya bu," ucap pelayan tersebut seraya menunjukkan daftar menu yang menunjukkan rincian harga makanan yang kami pesan.
"Gila, segitu doang sampai 10 juta,
"Bagaimana Fin, Nissa mau membayar kan?" tanya ibuku yang penasaran.
"Ayok, Bu, kita pergi ke rumah Tante Arum saja. Om ada kan di rumah? Ibu harus memberitahu Om kalau anaknya berbuat jahat kepada kita," ucapku.
Kami pun segera meninggalkan restoran dan aku memesan taksi online untuk menuju rumah Tante Arum, Ibu dari Mbak Nissa yang merupakan kakak Mamahku. Om pasti mau membela aku dan Mamah dan akan memarahi Mbak Nissa karena telah mengusir Mamah dari rumah Nenek Mbak Nissa dan tidak mengakui aku sebagai saudaranya.
Sesampainya di halaman rumah Tante Arum, aku dan Mamah dihadang oleh Satpam penjaga rumah untuk tidak langsung masuk. Aku semakin geram karena mereka memperlakukan aku seperti ini, padahal aku juga bagian dari keluarga majikan mereka.
"Pak, tolong bukain gerbangnya, saya mau masuk ke dalam," ucapku sedikit berteriak pada Pak Satpam di dalam.
"Oh....., ada Mbak Fina dan Bu Mayang. Sebentar ya, saya telepon Nyonya dulu di dalam," ucap Pak Satpam.
"Ngapain sih pake laporan segala, biasanya juga langsung masuk, Ribet amat sih." Ucapku.
"Silahkan masuk!"
"Ayok Mah," ucapku pada Mamah. Kami pun langsung masuk ke dalam, dan di dalam rumah kami disambut oleh Om Dito dan Tante Arum. Mereka sedang duduk di ruang depan sambil minum kopi dan beberapa cemilan.
"Mayang dan Fina? duduklah! Bibi akan membuatkan minuman untuk kalian berdua," ucap Om Dito. Aku tersenyum dan bersorak gembira dalam hatiku, karena aku yakin Om Dito pasti akan membela kami dan menegur anaknya.
"Ada keperluan apa kalian berdua ke sini?" tanya Om Dito.
"Gini Mas, aku cuma mau bilang ini, loh. Mbak Arum kok tega ngusir adik ipar sendiri dari rumah yang selama ini aku tempati Mas. Aku tahu rumah itu adalah rumah ibunya Mbak Arum, tapi kan aku sudah lama tinggal di situ Mas," ucap ibu sambil berpura-pura menangis, dan aku mengacungkan jempol untuk akting Mamahku.
"Iya Om, kasian sekali Mamah sekarang terlantar. Untung ada aku dan Mas Herman yang bisa menampung Mamah di rumah kontrakan kami yang kecil Om," ucapku berakting sedih sambil melirik Tante Arum yang masih dengan wajah datarnya.
"Oh...." ucap Om Dito.
Aku kaget, apakah Om Dito hanya bilang "oh"? Gak salah, kan?
"Lalu, istri saya di mana? Kamu memang pantas diperlakukan seperti itu, Mayang. Setelah apa yang kamu lakukan ke keluarga kami," ucap Om Dito sedikit marah.
Aku bisa merasakan dia sedang menahan diri untuk tidak memarahi Mamah.
"Maksudnya, Mas?" tanya Mamah.
"Hmmm, jangan bilang tidak tahu apa-apa atau berpura-pura bodoh Mayang! Saya sudah tahu semuanya, apa yang kalian lakukan sama anak kami, Kalian berdua ini memang saudara yang tidak bisa menjaga diri. Dan kamu Fina! Om benar-benar tidak pernah mengira kelakuan busuk kamu. Apa kamu tidak tahu, setiap bulan Nissa selalu memberikan uang untuk ibu kamu, lima juta setiap bulan untuk membantu uang sekolah kamu. Juga menampung kamu dirumah anakku Nissa dan menampung Ibu kamu Mayang, di rumah orang tua istriku. Tapi dengan seenaknya kamu menggoda Herman, suami Mbak kamu sendiri, dan berbuat zinah di rumah yang kami berikan untuk Nissa. PUNYA OTAK GAK KAMU, FINA!" ucap Om Dito marah dengan suara teriakan yang menggema di ruangan itu.
Aku dan Mamahku sampai kaget karena teriakan Om Dito yang terlalu keras itu, dan aku melihat Tante Arum hanya tersenyum sinis sambil melihat majalah tanpa memperhatikan aku dan Mamahku seakan kami berdua tidak ada di sana.
"Tapi Om, itu adalah kesalahan Mbak Nissa sendiri yang tidak bisa menjaga suaminya, mas Herman, apalagi sampai sekarang Mbak Nissa belum hamil. Berarti dia mandul dong?" ucapku.
"Aih!" aku merasa terbelakang dan pipiku terasa perih. Aku melihat wajah Tante Arum sudah memerah setelah menampar aku dengan sangat kencang.
"Kalian berdua benalu masih punya muka datang ke sini dan masih berani menghina anak saya. Pergi kalian berdua dari rumah saya! Dasar tidak tahu diri kalian berdua," ucap Tante Arum dengan nafas memburu.
"Mbak Arum, kenapa kamu menampar Fina? Mau saya laporkan kamu ke Polisi karena kasus penganiayaan," ucap Mamahku.
"Silakan laporkan, saya juga bisa menuntut balik anak kamu atas kasus perzinahan dengan mantan suami anakku si Herman. Dan saya yakin kalian tidak akan mampu menjebloskan kami ke penjara, karena kalian tidak punya uang. Pergi kalian dari sini!" ucap Tante Arum lagi.
"Mas, kamu tega melihat keponakan kamu ditampar oleh istri kamu Mas," ucap Mamahku. Aku hanya melihat wajah Tante Arum dan Om Dito yang masih kesal menatap aku dan seakan ingin menelan aku hidup-hidup.
"Kenapa aku harus membela Fina, anakmu yang sudah menghina anak saya. Kalau saja saya boleh memukul wanita, dari tadi saya yang akan memukul mulut anakmu yang tidak tahu diri itu. Keluarlah kamu Mayang! bawa anakmu yang murahan itu. Dan kamu, Fina! kamu juga selalu berzinah dengan Herman, Apa kamu sekarang sudah hamil ? belum kan! semoga saja ucapannya itu berbalik ke diri kamu sendiri," ucap Om Dito.
"Keluarlah kalian berdua! dan jangan pernah mengganggu keluarga saya lagi ataupun mengganggu Nissa. Dan kamu Fina! kamu mau minta kerja di restoran Nissa? bahkan jabatan manajer, Mimpimu terlalu ketinggian Fina, otakmu sudah geser sepertinya, kamu tidak pernah berpikir bahwa Kamu telah mengacaukan rumah tangga Nissa, dan dengan merasa tak berdosa kamu meminta pekerjaan dari orang yang telah Kamu sakiti.
Sekarang Anda pergi atau saya akan melaporkan Anda atas kasus perzinahan. Ingat aku, Fina! camkan kata-kataku baik-baik Fina, bahwa hidupmu tidak akan pernah merasakan bahagia." ucap Tante Arum masih merah wajahnya dan kesal saat mengucapkan kata-kata itu.
"Joko, keluarkan mereka dari sini dan jangan biarkan mereka menginjakkan kakinya dirumah ini lagi, Aku sungguh sangat malu memiliki adik seperti Mayang dan benar-benar marah mempunyai keponakan seperti Fina. Dan asal kalian tahu semua keluarga besar kita telah mengetahui tentang kelakuan anakmu ini. Kami akan melihat apa yang akan dilakukan oleh keluarga besar kami untuk Anda berdua," ucap Om Dito.
Aku melihat Satpam tadi masuk dan langsung ingin menyeret tanganku dan Mamahku.
"Lepaskan aku, aku bisa jalan sendiri. Ayo Mah, kita pulang."
"Ayo Fin," ucap Mamah.
Kami keluar dari rumah Tante Arum dan Om Dito dengan perasaan marah dan kesal. Ini memang salahku, tapi apa aku salah juga mencintai mas Herman yang selalu membuatku bahagia dan memperlakukan ku dengan baik bahkan jauh lebih baik, apa yang aku katakan adalah sudah benar. Sampai sekarang Nissa belum hamil juga, meskipun mereka sudah menikah selama lebih dari setahun.
"Akhhhhhh, mereka menyebalkan!" ucapku kesal.
Saat sudah berada di luar gerbang, aku memesan taksi online yang akan membawa kami pulang.
"Bukankah harusnya mereka merasa simpati dan membantu kita? Tapi yang aku dapatkan malah tamparan," ucapku sambil menangis.
"Kita tidak perlu lagi mengganggu mereka. Setelah memikirkannya, apa yang dikatakan oleh Tante Arum memang benar. Inilah kejadian akibat kesalahan kita. Terutama Fina, jika kamu mengungkapkan yang sebenarnya, itu takut akan berbalik pada dirimu sendiri," kata Mamahku.
"Sudahlah Mah! aku lagi kesel, Jangan malah menyudutkanku. Aku tidak akan mengacuhkan apa yang mereka omongkan," ucapku sambil terdiam. Akhirnya, taksi online pun tiba dan Kami berdua bergegas pulang ke rumah kami.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Sukliang
betul sekali kata2 om dito
2023-07-08
1