Ku ingat kembali bagaimana pertama kali kita bertemu, ku pandangi foto pernikahan ku yang terpampang di ruangan ini, begitu bahagia senyum terukir dari kami berdua dengan tulus, dari awal aku menikah aku tak pernah merencanakan apa pun hanya seperti air yang mengalir, karena prinsip ku saat aku sudah menikah aku adalah milik suamiku seutuhnya, ku layani suamiku dengan sebaik- baiknya, ku patuh padanya ku berikan kesetiaan itu pada suamiku yang bertujuan untuk mendapatkan ridho dari Tuhanku.
Tapi semuanya kini kandas, pernikahan ku sudah berakhir karena cobaan yang tak pernah bisa ku tanggung, dan aku tak mampu menjalani semua sendiri, lumpuh sudah semua pertahanan ku, keangkuhan yang ku perlihatkan kepada mereka berdua, pada hakikatnya aku hanya seorang wanita dan seorang istri yang rapuh yang akan hancur seperti kebanyakan istri lainnya saat pernikahan nya kandas. Aku pun melangkahkan kaki ku ke arah kamar kami berdua, dan aku menatap nanar kamar ini yang menjadi tempat mesum mereka berdua.
"Kalian berdua memang lancang sudah mengotori rumahku sekarang berusaha mengambil rumah ku" ucapku kesal.
Aku pun langsung mengambil HP ku, untuk menghubungi mamah dan menceritakan semua yang terjadi hari ini, tapi aku melihat ada chat dari Bu Rumi yang berisikan Bu Rumi telah meng upload Video penggerebekan mas Herman tadi dengan selingkuhannya di sosmed berlogo biru itu dan ternyata menjadi viral, aku pun membalas chat dari Bu Rumi dan hanya mengucapkan terima kasih. Dan aku pun langsung mencari kontak mamahku dan menghubungi mamahku, kutunggu dering pertama belum di angkat oleh mamah, tak lama kemudian mamah langsung mengangkat teleponku.
"Haloooo assalamu'alaikum mah," Ucapku
"Wa alaikum salam sayang.... Gimana mereka gak ngelakuin apa apa kan?"
"Lebih dari itu mah, mereka berdua telah pergi dari rumah ini dan telah menikah!"
"Kok bisa mereka menikah! siapa yang menikahkan mereka?"
"Mas Herman dan Fina aku grebek mah bersama pak satpam dan tetanggaku jadi aku langsung memanggil pak RT dan pak penghulu untuk menikahkan mereka berdua."
"Apa kamu baik-baik saja nak?"
"Aku baik-baik saja mah, bahkan mas Herman sudah mengucapkan talak kepadaku dan seminggu lagi sidang pertama kami mah."
"Kamu harus kuat nak."
"Aku pulang ya mah aku gak mau tinggal lagi di sini, aku mau ke Apartemen ku aja, aku mau jual rumah ini gak apa-apa kan mah?"
"Kamu tinggal sama mamah aja untuk sementara nak, dari pada kamu sendirian."
"Enggak mah aku butuh sendiri sekarang aku akan ke Apartemen aja mah."
"Ya sudah kamu hati-hati ya nak jaga diri kamu baik-baik,"
"Jangan beritahu siapapun ya mah kalo aku ada di apartemen!"
"Ia sayang, kalo butuh apa pun langsung telepon saja mamah ya!"
Setelah mematikan sambungan telepon dengan mamah gegas aku memasukan pakaian ku ke dalam koperku untuk ku bawa ke Apartemen, ya aku mempunyai 1 unit Apartemen hasil dari gajiku sebelum menikah dan usaha toko ku tanpa mas Herman ketahui kalau selama ini aku mempunyai beberapa aset dan usaha, setelah dia tau pasti dia akan menyesal telah berkhianat dari ku.
Tiba-tiba telepon pun berbunyi pas ku angkat ternyata itu dari Tante Mayang, mau apa lagi keluarga benalu ini.
[ Haloo assalamu'alaikum kenapa Tante? ]
[ Halo Nis apa Kabar? ini Tante Mayang ]
[ Ia aku tau ini Tante Mayang kenapa Tante? ]
[ Tante mau tanya Nissa maaf sebelumnya itu tunggakan Tante yang biasa kamu bantu, kartu kredit Tante, Nis kok belom kamu transfer ya sampai tanggal ini udah mau jatuh tempo Nis ]
[ Oh itu maaf Tante aku sudah memutuskan untuk gak membantu Tante lagi, dan juga sudah satu tahun kan aku bantuin Tante, aku rasa sudah cukup uang yang aku keluarin untuk Tante. Fina juga sudah kelar kuliahnya suruh lah dia cari kerja dan bantuin kebutuhan Tante, Tante kan juga ada mas Robi anak Tante yang cowok, ia sudah kerja juga kan ].
[ Tapi kan kebutuhan mereka banyak Nis, lagian kamu kan juga udah janji mau bantu Tante ]
[ Tante pikir aku juga emangnya gak punya kebutuhan, banyak kebutuhan aku juga Tante lagian aku cuma bantu, seperti yang Tante bilang, dan gak mungkin aku terus-terusan ngasih uang untuk memenuhi kebutuhan Tante, enak amat yang jadi anak Tante tinggal kaki doang ibunya juga aku yang urusin. emang Tante itu siapa ibu aku? sudah ya Tante jangan ganggu aku lagi, aku gak bisa bantu Tante lagi ] Ucapku kesal langsung saja ku tutup teleponnya.
"Nih anak kenapa langsung di tutup sih teleponnya, gak sopan sama orang tua! gimana ini mana banyak banget lagi tagihan bulan ini!" kesal Tante Mayang. Aku pun segera melanjutkan kembali acara beberes barang-barang ku yang tidak banyak, barang- barang berharga seperti perhiasan yang aku kunci di laci pun, aku bawa serta koleksi tas ku yang hanya sedikit juga aku taro di dalam koper, jadi banyak sekali koper yang akan ku bawa ke Apartemen untuk di amankan.
Setelah membereskan semua barang-barang ku ke dalam koper, aku pun segera membawa koper ku ke dalam mobil dan ku lihat di luar ternyata mas Herman dan Fina pergi membawa motornya mas Herman, baguslah setidaknya dia hanya mengambil milikinya saja, aku pun mengunci pintu tapi aku lupa bagaimana ini mas Herman mempunya kunci cadangannya dia bisa saja masuk ke rumah ini, kalau ganti kunci sekarang sudah malam. Aku pun langsung naik ke mobil ku untuk ke supermarket terdekat untuk membeli gembok pagar dan pintu agar pintu tidak bisa di buka seenaknya oleh mas Herman. Setelah sampai supermarket aku pun langsung mencari 1 set gembok yang ku butuhkan langsung saja aku bayar dan kembali lagi ke mobil agar cepat sampai rumah karena hari sudah semakin malam. Ku pasang gembok dan talinya di pintu depan dan untungnya aku tidak punya pintu samping dan jendela pun di beri teralis, jadi pintu yang di gunakan hanya pintu ini saja lalu pagarnya pun sama aku beri gembok juga, agar mas Herman gak seenaknya masuk, biarlah nanti besok siang baru akan aku ganti semua kunci pintunya. Setelah semua selesai, aku langsung membawa mobil ke daerah Apartemen elit di Jaksel yang agak jauh memang dari rumahku, itu sengaja aku lakukan untuk menjauhi sejenak pikiran yang semrawut dan jauh dari orang-orang toxic itu.
Setelah sampai Apartemen ku dengan membawa 4 koper yang di bantu oleh staf Apartemen, aku langsung memasukan semua barang-barang ku dan menatanya di kamar, untung saja Apartemen ku selalu bersih, karena aku selalu meminta orang untuk membersihkan Apartemen ini seminggu 3 kali. Setelah selesai menata semuanya, aku pun langsung bergegas membersihkan diri ke kamar mandi.
"Hmmm... segarnya serasa semua beban hidup terlepas hanya dengan berendam air hangat, perut ku lapar sekali ini," ucapku setelah mengganti dengan pakaian tidur. Aku pun memegang perutku yang berbunyi.
"Kayanya aku beneran lapar deh, malas banget masak, pesen online aja kali ya," ucapku.
Setelah pesanan yang aku pesan lewat online datang, aku pun langsung makan dengan lahap, karena sungguh laparnya dari tadi perutku. Dan setelah makan aku membereskan bekas makan lalu sejenak aku terdiam menghitung berapa hari lagi sisa cuti ku yang ternyata masih 1 Minggu lagi, kayanya seru nih kalau bisa healing jalan- jalan.
"Ku ajak Sera sibuk gak dia ya?" tanyaku dalam hati
Segera ku ambil HP dan ku telepon Sera, tetapi sudah telepon yang ke tiga kalinya tidak di angkat juga sama dia! ya sudahlah mending aku tidur untuk mengistirahatkan tubuh, hati dan jiwaku.
...................
Sementara di tempat lainnya .......
POV Herman
Setelah aku di grebek oleh Nissa dan aparat setempat aku langsung menikahi Fina dan membawa keluar Fina dari rumah ini, walaupun Fina merengek dan menangis minta tidak ingin keluar dari rumah inu, tapi aku bisa apa? saat aku akan keluar dari rumah ini bersama Fina menggunakan motor ku, Fina lagi-lagi berteriak kepadaku dan marah-marah lagi, aku hampir pusing di buatnya.
"Mas kita pake motor ini? sebelah kan mobil kamu ayo buka mobilnya mas, mana kuncinya" ucap Fina.
"Fin, mobil ini, kunci dan STNK nya ada di Nissa, ayok kita pergi dari sini mau kamu di penjara."
"Tapi mas, kenapa semua mba Nissa yang pegang, kamu gak bawa apa-apa mas, kamu gak dapat apa-apa?"
"Sudah ayok kita ke luar dulu, kita cari penginapan atau kontrakan murah dulu."
"Apa kontrakan? gak mau aku mas dari pada kontrakan kecil ya lebih baik kita pulang ke rumah mba Nissa saja, aku mau tinggal di sana itu kan rumah aku juga jadinya, aku kan sekarang istri kamu."
"Kamu ngerti gak sih Fin, itu rumah punya Nissa dari orang tuanya, ayo sekarang kita pergi naik motor ini sebelum kamu di laporkan ke penjara."
Dengan masih menahan amarahku karena kesal kepada Fina dan kejadian penggerebekan yang sebelumnya terjadi, aku benar-benar pusing di buatnya, jadinya aku hanya berputar-putar dengan Fina mencari kontrakan, yang akhirnya aku dapatkan dengan sisa uang yang ada di dompetku tentunya karena aku belom tarik uang di ATM.
"Ya tuhan mas, ini rumah kontrakannya, gak ada yang lebih besar dari ini?"
"Sudah untuk sementara saja sampai aku gajian."
"Tapi kan uang kamu banyak di ATM mas?"
"Aku gak mau menghamburkan lagi uangku yang di ATM, kita harus berhemat!"
"Tapi mas, gak kaya gini juga kali mas, mana sempit gak ada AC, aku bakalan kepanasan" keluh Fina
"Kamu tau, dengerin kamu ngoceh terus bikin kepalaku tambah makin panas pengen meledak rasanya, bisa diem gak! berhenti ngomong Fin!"
"Kok kamu jadi kasar gitu sama aku mas, kamu kan janji akan buat aku bahagia terus kalau kaya gini gimana bisa aku bahagia, aku gak mau hidup seperti ini, aku gak mau tinggal di rumah sempit jelek kaya gini!" ucap Fina teriak.
Aku pun pusing mendengarkan ocehan Fina yang gak bermanfaat dan memilih keluar kembali untuk mengambil koperku yang tertinggal di luar. Biarlah besok aku izin setengah hari untuk menemui Nissa kembali dan meminta dia untuk memaafkan aku, dan kembali rujuk, jujur saja aku juga gak bakalan sanggup untuk hidup susah kaya gini dan memikirkan semua kebutuhan ku dan tidak bisa bersenang-senang lagi, apalagi Fina sangat boros, batinku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Sukliang
hahahaha emang enak di usir
2023-07-08
1