Sebulan kemudian...............
POV Nissa
Sebulan sudah perjuangan ku untuk keluar dari rumah tangga yang sudah tak sehat ini, dan Alhamdulillah surat yang kutunggu akhirnya bisa ku pegang, ia hari ini pengacara ku datang menemuiku di kantor untuk menyerahkan surat perceraian antara aku dan mas Herman di jam istirahat kantor, dan aku pun sangat bahagia mengetahui proses persidangan ku sangat cepat karena dari pihak masing-masing tidak ada yang hadir dan itu sangat menguntungkan ku.
"Alhamdulillah, pak terimakasih atas bantuannya ya pak untuk mengurus perceraian saya," ucapku.
"Ia Bu, sama-sama semua ini sudah jadi tanggung jawab saya, dan saya cuma bisa mengatakan semoga setelah ini ibu selalu berbahagia," ucap pengacaraku Pak tulis.
"Tak ada tuntutan apa-apa kan Pak tentang harta Gono-gini misalnya?"
"Tidak ada Bu, karena semua bukti sudah memberatkan pak Herman bu, serta harta milik ibu hanya mobil yang dulu di pakai oleh Pak Herman dan itu pun harus di berikan lagi ke ibu karena ibu yang membelikan dan atas nama ibu."
"Berarti mas Herman tidak mendapatkan apa pun dari harta saya ya pak?"
"Ia Bu, pak Herman tidak mendapatkan apa pun."
"Baiklah kalau begitu terima kasih banyak Pak atas bantuannya."
" Ia Bu saya izin undur diri."
Setelah Pak pengacara ku pergi, aku pun memasukan kembali surat akta perceraian ini ke dalam tas ku, lalu akupun kembali ke kantor karena waktu istirahat ku sudah mau hampir habis.
Saat aku sudah kembali ke kantor tiba-tiba seseorang dari belakang ada yang menabrak punggungku hingga aku langsung terdorong ke depan, sial sekali siapa sih yang mendorong ku, batinku.
"Mas Herman!" ucapku kaget karena aku melihat mas Herman di kantor ini.
"Nissa ngapain kamu disini?" tanya mas Herman yang kulihat sedang mengerutkan dahinya.
"Ya aku kerja lah mas, masa main di kantor sebesar ini, sial banget sih pake ketemu kamu segala lagi," ucapku kesal langsung saja aku berusaha untuk berdiri sendiri.
"Ekh Bu, maaf kan kami bu, saya dan Herman tidak melihat ibu," ucap lelaki di sebelah Herman.
"Kamu ngapain panggil dia ibu? palingan dia balik kerja disini jadi cleaning service, kamu jadi tukang bersih-bersih sekarang? kasian sekali. Sok-sokan sih minta cerai dari aku segala, gak ada yang kasih makan kamu? sampai kerja jadi tukang bersih-bersih," ucap Herman sombong.
Aku hanya melihat mukanya yang menjijikan itu, muak sekali aku lama-lama disini, dan tanpa memperdulikan mas Herman aku pun langsung memutar badanku untuk pergi menjauhi nya.
"Lu ngomong apaan sih man, dia mantan istri lu yang sering lu ceritain itu," ucap temen Herman Beni.
"Ia, dia Nissa mantan istri gue, tapi dia kerja lagi disini palingan jadi OB kan dia?" ucap mas Herman menghina.
"Begok banget lu Herman, kenapa cewek secantik dan sesukses Bu Nissa bisa lu selingkuhan dan cerein sama lu! Gak punya otak emang," ucap Beni kesal sambil memegang kepalanya.
"Ia sih, kok dia makin cantik banget ya abis pisah sama gue," ucap Herman sedikit menyesal.
"Lu tau dia itu siapa?" ucap Beni membuat Herman penasaran.
"Emang Nissa kerja apaan disini?" tanya Herman.
"Dia itu Direktur Keuangan disini yang seminggu yang lalu baru diangkat dari Manager jadi Direktur, bego banget lu ya!" Ucap Beni dengan suara agak tinggi.
"Gak mungkin hahaha..... Dia Direktur keuangan, orang sebelum gue cerai dia bilang di keluarin dari kantor ini."
"Hahahaha berarti dia udah tau lu selingkuh makanya dia bohongin lu....... Hahahha Herman Herman," ucap Beni tertawa bahagia.
"Sial jadi selama ini Nissa sudah tau dan membohongi ku masalah pekerjaan nya, pembohong emang dia," ucap Herman kesal.
..................
"Astaghfirullah kenapa harus ketemu sama tuh si codot di kantor ini sih? apa dia kerja disini......? Jangan sampe dia kerja disini masa harus ketemu dia lagi....... Dia lagi....., Gak bakalan tenang hidup gue nantinya." Ucapku bermonolog sendiri setelah sudah sampai di ruangan ku. Ini adalah ruangan baruku tepatnya seminggu yang lalu karena kinerja ku bagus, aku diangkat jadi direktur keuangan, karena direktur sebelumnya terkena skandal penggelapan dana dan perselingkuhan.
Dari pada pusing mikirin si Herman yang kerja disini, lebih baik aku kerjakan semua pekerjaan ku dengan selesai lalu langsung pergi ke butik untuk mengecek penjualan sebentar, batinku.
Saat sedang mengerjakan tugasku tiba-tiba sekertaris ku mengetuk pintu, katanya ada yang ingin bertemu denganku, ku persilahkan saja masuk tanpa ku lihat siapa yang datang ke ruangan ku.
"Jadi benar Nis, kamu sekarang kerja disini dan menjabat menjadi direktur?" ucap orang yang ada di depanku. Aku pun mendongak kaget menatap mas Herman yang ternyata orang yang ingin menemuiku.
"Oh pak Herman..... Ada keperluan apa ya? datang menemui saya," ucapku di buat se biasa mungkin.
"Jangan terlalu Formal lah Nis, kaya sama siapa aja."
"Maaf ya pak Herman.... Disini status saya lebih tinggi jabatannya dari anda, jadi saya harap anda bisa sedikit punya sopan santun sama saya, kalau tidak ada yang mau di bicarakan silahkan keluar! karena saya sedang sibuk," ucapku malas meladeni ucapan unfaedah Herman.
"Sombong sekali kamu Nis, baru jadi Direktur Keuangan saja, udah berlagak sok jadi Bos."
"Diana bisa kamu minta bapak Security ke ruangan saya untuk mengusir pak Herman dari sini, karena ia sangat menggangu saya!" ucapku langsung menghubungi Sekertaris ku lewat sambungan telepon.
"Ia..... Terimakasih dan kamu juga tolong masuk" ucapku.
"Kamu apa-apaan Nis, gak usah pake satpam segala buat bikin aku keluar, aku juga akan keluar sekarang," ucap Herman panik.
"Ya sudah Silahkan anda keluar, kedatangan anda ke ruangan saya sangat sangat menggangu kinerja saya, anda bisa saya laporkan ke HRD sekarang juga, atas kelakuan tidak menyenangkan, apakah anda mengerti!" jelasku panjang lebar.
"Aku ke sini cuma pengen ngomong sama kamu Nis," ucap mas Herman tapi langsung terpotong karena Security dan si Diana sudah masuk.
"Ia Bu Nissa ada yang bisa kami bantu?" ucap bapak security yang sedikit tambun itu.
"Ia pak tolong antarkan bapak ini keluar dari ruangan saya, karena dia mengganggu kerja saya. Tapi yang bersangkutan tidak mau keluar," ucapku.
"Loh pak Herman ngapain Bapak di lantai petinggi kantor ini, ruangan bapak kan di bawah di Staf biasa, Bapak seharusnya tidak ada keperluan dengan Direktur. Ayok Pak keluar jangan buat masalah!" ucap Pak Security yang badannya sedikit tambun, yang ternyata bernama bapak Joko.
"Ia Pak Joko saya juga mau keluar, jangan tarik saya kaya gitu, saya bisa jalan sendiri," ucap Herman kesal dan langsung saja dia keluar dari pintu di ikuti dia Bapak Security.
"kalau begitu kami izin pamit undur diri Bu," ucap Pak Joko.
"Ia terima kasih atas bantuannya ya Pak."
"Sama-sama Bu," setelah itu mereka semua keluar kecuali Diana yang masih berada di ruangan ku.
"Oh ya Diana kamu ingat-ingat wajah Bapak yang tadi, namanya Herman kalau dia mau ketemu saya lagi dan menemui saya di ruangan ini, kamu langsung usir saja ya! Saya males berurusan sama orang gila kaya dia.
"Baik Bu! akan saya ingat Bu," ucap Diana.
"Ok. makasih Diana, kamu sekarang boleh keluar."
"Permisi Bu,"
"Hmmmmmm........ Gara-gara si Herman ganggu aja kerjaan orang. Untung saja sudah pisah sama orang gak jelas kaya gitu, Alhamdulillah banget ada hikmah di setiap rasa sakit yang kurasakan jadi aku bisa tau sifat Herman kaya gimana, Allah memang maha baik," ucapku.
Waktu pun berjalan begitu cepat, tak terasa sekarang sudah waktunya untuk pulang. Dan untungnya kerjaan ku juga sudah rapih semuanya.
Aku pun langsung membereskan meja kerjaku agar tampak rapih esok harinya. Walaupun aku tau setiap hari sebelum aku datang ruangan ku sudah di bersihkan oleh OB disini.
Aku pun segera mengambil tas dan kunci mobil, lalu meraih HP di dalam tas ku, bermaksud untuk menghubungi Sera dan Arsyi kabar bahagia ini. Ku cari kontaknya lalu ku panggil dan sambungan pun langsung terjawab.
[ Haloooo Sera lu ajak Arsyi ya, Kita nanti ketemuan di lobby. Gue mau traktir kalian bertiga di restoran milik gue gimana? ] ucapku antusias.
[ Ok. gue langsung turun nih ya sama Arsyi pakai mobil lu? ] tanya Sera.
[ Ia pake mobil gue aja, entar kalian pulangnya naik taksi tapi ya, gue juga mau ngajak si Diana ]
[ Dalam rangka apa ini? ]
[ Pokoknya kejutan, ya sudah gue turun sekarang, lu berdua tunggu di lobby ya gue mau ke basemant ngambil mobil ].
[ Ok ].
Setelah sambungan telepon terputus aku pun langsung saja keluar ruangan ku untuk menghampiri Diana di luar.
"Diana sudah kamu beresin kerjaan kamu? sekarang kamu ikut aku ya?"
"Tapi Bu ini belum kelar, kita mau kemana Bu?" tanya Diana bingung.
"Sudah beresin aja sekarang, nanti bisa lanjut besok lagi, ayok ikut saya!"
"Baik Bu!"
Setelah Sampai di bawah bersama Diana, aku pun langsung menuju ke lobby kantor untuk menjemput temanku Sera dan Arsyi, setelah sampai Lobby Sera dan Arsyi pun langsung saja masuk ke mobil dan mengambil tempat duduk di belakang. Saat kedua temanku naik sayup-sayup aku mendengar ada suara yang memanggil ku, aku pun tersentak ternyata mas Herman bisa melihat aku dari mobil, karena kaca di bagian Diana di buka lebar.
Aku pun langsung saja menginjak gas dan menjalankan mobilku untuk menghindari perdebatan unfaedah bersama mas Herman.
Kulihat dari kaca spion di samping mobilku. Ku lihat mas Herman sedang memanggil ku dan berusaha untuk menghentikan mobil yang ku bawa.
"Nis, itu si Herman yang lagi ngejar mobil ini Nis?" ucap Sera dengan wajah kaget saat melihat ke belakang ada Herman yang tadi sedang lari mengejar mobil ini.
"Ia itu si kupret ternyata kerja disini, apes banget gue, entar di Resto gue ceritainnya ya," ucapku menjelaskan sambil menyetir mobil.
Tak berapa lama, mobil pun sampai di pelataran restoran yang di bilang cukup mewah dan berkelas, restoran ini mengusung tema western yang memiliki harga yang lumayan mahal, karena kategori setiap pengunjung yang datang dari kelas menengah ke atas, dan ini adalah restoran pertama yang ku bangun 3 tahun lalu, jauh sebelum aku menikah dengan mas Herman, dan mas Herman pun tidak tau kalau aku punya usaha dua restoran western dan masakan Nusantara, serta 3 buah butik yang ada di Mall besar dan gedung sendiri.
Saat sudah sampai kami pun langsung masuk ke ruangan VVIV di restoran ini, ruangan yang khusus aku buat untukku saat makan bersama keluarga sahabat dan kerabat, kalo di pikir-pikir aku tidak pernah membawa mas Herman makan disini, hanya ibu mas Herman saja yang pernah dua kali aku ajak makan disini.
Saat kami semua sudah masuk dan menaiki tangga untuk naik ke lantai ke dua, tiba-tiba Sera menyenggol tanganku dan menunjuk dengan dagu nya salah satu meja customer yang sedang makan.
"Nis liat...... Bukannya itu si Fina ya?" tanya Sera.
"Ia itu si ulet keket, ngapain dia sama kakek botak itu, kayanya orang bule ya?" ucapku.
"Ia mana mesra banget. Pake peluk-peluk mesra segala," ucap Sera.
"Ya sudah biarin saja, Ekh tapi bentar dulu aku mau foto mereka, sebagai bukti biar dia gak buat onar lagi dalam hidup gue."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Uthie
sekali jalang tetap jalang teroosss 😏
2023-07-02
1