POV Herman
Sambungan pun di putus sepihak oleh ibu, aku bingung apakah aku harus kesana kerumah mamah? gimana kalau ada bapak? bisa mati aku nanti di gebukin, mana bapak galak banget, sadis, bagaimana ini ya......? Batinku.
"Fina.... udah kelar belum masaknya?"
"Belum lah mas, kamu kira masak itu gampang apa? kamu kan tau mas, aku itu gak bisa masak."
"Terus gunanya kamu jadi istri itu, apa? kalau apa-apa saja gak bisa."
"Mas, aku itu jadi istri buat seneng-seneng, di jadikan ratu sama kamu, bukan malah di jadiin babu ya!"
"Sudahlah, pusing aku dengar ocehan kamu terus, aku mau kerumah mamah dulu, ada ibu aku di sana, jadi kamu selesain masakan kamu, biar nanti sesampainya aku balik lagi kesini, makanan sudah kamu siapkan! aku pergi dulu."
"Mas mau kerumah Tante Arum? ada mba Nissa gak di sana? aku ikut mas."
"Mau ngapain kamu ikut, gak usah! nanti bikin masalah lagi disana."
"Mas denger ya! kalau di sana ada mba Nissa, aku mau nanyain ke dia tas aku sama perhiasan aku mas, lagian sekalian kamu juga bisa kenalin aku ke ibu kamu mas, aku kan sekarang menantu dia."
"Gak usah Fina, diem di rumah saja, gak usah bikin masalah lagi, masalah ku sudah banyak gara-gara kamu," ucapku sambil meninggalkan Fina dan tak memperdulikan teriakkannya.
Aku pun langsung menaiki sepeda motor ku dan melaju ke rumah Mamah yang tidak terlalu jauh dari sini, aku berharap Bisa bertemu dengan Nissa dan bicara dengannya.
"Mas Herman.... aku di tinggalin lagi kan, tar aku susul aja deh," teriak Fina.
Saat sampai di depan rumah, Mamah aku pun langsung masuk dan ku lihat mamah dan ibu sudah ada di ruang tamu, tapi aku tidak melihat Nissa di pandanganku.
"Assalamu'alaikum, Mah" ucapku sambil menghampiri Mamah dan mencium tangannya.
"Wa alaikum salam, duduk Herman. Aku dan ibu kamu sudah tau tentang perceraian kamu, sidang kalian pun akan di adakan satu Minggu lagi. Jadi, Mamah harap kamu bisa koperatif dan tidak menggangu jalannya sidang," ucap Mamah.
"Mah, maafkan aku Mah, sekali lagi aku benar-benar minta maaf, sebenarnya aku gak mau berpisah dengan Nissa Mah, aku gak mau bercerai, bisakah bantu aku Mah untuk bilang ke Nissa, tolong kasih aku kesempatan satu kali lagi Mah," ucapku memelas dan ku lihat ibu hanya diam saja, mungkin ibu syok.
"Maaf Herman! Mamah sudah gak bisa bantu kamu, lagi pula Nissa tidak akan menghadiri sidang kalian, semuanya akan diwakilkan oleh pengacara Nissa."
"Bu Endang, nanti langsung tanyakan saja sama Herman tentang Video yang saya tunjukan ke ibu tadi, jika ibu tidak percaya cerita saya," ucap Mamah Nissa.
"Tidak Bu Arum aku sudah percaya, hanya dengan melihat Video itu, aku benar-benar tidak menyangka bu, Herman bisa berbuat sebejad itu, astaghfirullah." ucap ibu sambil menangis.
Aku ikut sedih dan menjadi merasa sangat bersalah melihat ibu ku menangis, ku pegang tangan ibuku yang mulai keriput tapi ibuku malah menyingkirkan tanganku.
"Herman, jangan pernah meminta tolong pada ibu untuk membujuk Nissa atau tentang rumah tanggamu yang baru, dan kamu harus tau, ibu gak akan pernah mau mengakui istri mu yang sekarang sebagai menantu ibu, paham kamu!"
"Bu maafkan Herman, aku salah bu," ucapku
"Mas Herman......." Tiba-tiba terdengar suara nyaring teriakan Fina yang sekarang sudah masuk ke rumah Mamah Nissa karena pintunya tidak tertutup, ya tuhan ada apa lagi ini.
"Tante Arum, mba Nissa mana? saya mau minta ganti rugi Tante, di mana mba Nissa telah menyita perhiasan dan tas saya, di kemanakan barang-barang saya?" ucap Fina tidak sopan.
"Ekh, ulet kadut gak punya sopan santun kamu ya, datang ke rumah orang teriak-teriak, kamu kira disini hutan" ucap Tante Arum.
"Sudahlah Tante, gak usah banyak drama, Tante, aku cuman mau barang-barang aku saja," ucap Fina sengit.
"Kamu pikir aku peduli! sana telepon Nissa, gak usah kamu rusuh di rumah ku, dasar ponakan otak se ons!" Maki mamah Arum.
"Apa Tante bilang!"
"CUKUUUUPPPPP.........!" Teriak ibu Herman.
"Siapa kamu datang-datang ke sini langsung bikin onar, siapa dia Herman?" tanya ibuku
"Dia Fina bu, istri kedua ku," jawabku.
"Apa? istri kamu modelan kaya gini Herman, kamu buta Herman! apa sudah picek mata kamu.
Herman..... Herman.... Ibu heran, ibu jodohkan kamu dengan wanita pintar dari keluarga baik, berbudi pekerti luhur, kamu tukar dengan boneka Annabelle kaya gini!" Ucap ibu Herman sambil memegang dada.
"Apa Bu boneka Annabelle, setan dong saya, siapa nih ibu-ibu ini mas? ngatain orang seenaknya saja!" tanya Fina.
"Diam kamu Fina! dia itu ibuku, sudah aku bilang jangan menyusul, bikin ribut saja, pulang sekarang!" ucapku kesal.
"Gak mau mas, aku gak mau tau pokoknya barang aku harus balik! aku yakin barang-barang aku tuh di simpan sama mba Nissa."
"Herman... Herman... kamu ngasih anak saya sejuta sebulan, tapi kamu belanjain gundik itu bisa kamu ya man, pantas Nissa gugat cerai kamu man, saya yakin kamu bakalan nyesel man!" ucap Mamah Arum dengan seringainya.
"Apa Tante? bilang mas Herman nyesel, Justru mas Herman tuh bahagia sama saya Tante, dari pada sama anak Tante yang membosankan dan juga mandul itu," ucap Fina sarkas.
Di tampar nya pipi Fina dengan sekuat tenaga oleh Mamah Arum hingga membekas merah.
"Kamu..... tutup mulutmu busuk! kamu itu manusia gak tau malu, gak ada akhlak, sudah di tolong anak saya, sekarang begini balasan kamu hah, pergi kamu dari sini! saya pastikan kamu akan menderita Fina, saya akan ambil semua apa yang sudah di kasih Nissa ke keluarga kamu, camkan itu! kamu ingat Fina, rumah yang ibu kamu tempatin itu masih atas nama saya, saya akan buat ibu kamu gembel sekarang juga!" ucap Bu Arum ngamuk.
"Maksud Tante apa? heh dengar ya Tante rumah itu sudah di berikan, apa-apaan, yang sudah di berikan tidak bisa di minta lagi, malu dong," ujar Fina.
"Heh denger ya! ulet keket jelmaan siluman, itu rumah saya, saya hanya iba pada ibu kamu yang memohon untuk tinggal di rumah peninggalan ibu saya dulu, tidak ada niatan untuk memberi, apalagi melihat kelakuan kamu kaya begini, ogah saya kasian-kasian lagi sama keluarga benalu kaya kalian, sekarang mending kamu bawa istri kamu itu keluar Herman, sebelum kesabaran saya habis."
"Ia Mah........ Ayo Fina, bebal banget jadi orang ayok keluar!" ucapku sambil menarik tangan Fina.
"Tante gak bisa kaya gitu, Tante gak bisa usir Mamah dari rumahnya, itu rumah saya Tante.
"Apaan sih mas, lepasin aku mau jambak tuh Tante Arum enak aja," kekeh Fina .
"Pak Joko..... Kesini," panggil Bu Arum ke luar memanggil Security depan rumah .
"Ia Bu!" jawab pak Joko.
"Ingat baik-baik dua orang ini, pak Joko jangan pernah izinin mereka masuk ke dalam rumah saya lagi, mengerti! sekarang usir mereka berdua dari sini pak," ucap Bu Arum.
"Baik bu! ayo bu, pak silahkan pintu keluarnya ada di sebelah sana.
Aku pun kembali menatap wajah mertuaku, saat dia bilang aku tidak boleh menginjakkan kaki ku di rumah ini lagi, aku terusir untuk ke dua kalinya, dan ini semua gara-gara Fina! kutarik tangan Fina dan ku bawa dia pulang menggunakan sepeda motor ku tanpa berkata apapun kepada mamah atau pun ibuku yang hanya melihat kami tanpa bisa membelaku.
...............
"Maaf Bu Endang, ibu harus melihat seperti ini dan harus mendengarkan keputusan saya, kalau saya tidak bisa lagi menerima Herman untuk kembali menjadi menantu saya dan menerima dia lagi di rumah ini." Jelas Bu Arum.
"Ia gak apa-apa bu, Saya mengerti, kalau begitu saya izin pamit pulang bu, taksi sudah menunggu di depan," ucap Bu Endang.
"Ia Bu hati-hati." Ucap Bu Arum kembali dan bu Endang pun pulang dengan taksi yang sudah menunggu di depan rumah Bu Arum dengan kesedihan.
Bu Arum pun langsung menghubungi salah satu anak buah suaminya untuk mengeksekusi rumah bu Mayang Mamahnya Fina, karena rumah itu memang di pinjamkan oleh Bu Arum ke Bu Mayang karena kasihan.
"Halooo....... Pak Budi bisa bawa Bodyguard gak?" ucap Bu Arum.
"Ia haloo.... bisa Bu, untuk kemana ya bu" jawab pak Budi.
"Tolong eksekusi rumah di jalan bla...bla...bla... Saya minta di kosongkan hari ini juga rumah itu, kalau yang tinggal tidak mau keluar, paksa saja suruh mereka keluar, bisa kan pak Budi?" jelas Bu Arum.
"Rumah yang di tempati saudaranya ibu bukan bu, ibu Mayang?" tanya pak Budi.
"Ia, bisa kan, eksekusi hari ini juga ya pak!"
"Baik Bu! akan saya laksanakan setelah makan siang nanti," ucap pak Budi.
"Ia terimakasih," telepon pun langsung di tutup oleh Mamah Arum.
...................
POV Nissa
Nikmatnya hidupku bebas, tanpa beban hari ini, masih tersisa jadwal cuti aku, apa aku ke Mall aja ya untuk shopping, sudah lama aku gak ke Mall, aku telepon Mamah dah. Langsung saja aku mengambil HP dan menekan kontak Mamah.
Tapi sebelum aku menekan nomer Mamah, ku lihat banyak sekali pesan dan panggilan yang masuk dari Fina dan mas Herman, mau apa lagi sih mereka? gak ada bosen-bosennya gangguin aku, batinku. Aku pun mengabaikan pesan mereka karena ku tau isinya yang pastinya tidak berfaedah semua, aku pun langsung melihat kontak Mamah dan menekannya kembali.
[ Haloooo assalamu'alaikum Mah lagi apa? ke Mall yuk Mah, bete nih Mah, mumpung aku masih cuti ]
[ Waalaikum salam boleh sayang, sekalian ada yang mau Mamah ceritain, seru pokoknya ]
[ Apaan mah? jadi kepo! ]
[ Tar aja kita ketemuan aja langsung di Mall bla..bla, di Lobby ya, nanti Mamah naik taksi saja ]
[ Ok. aku otw sekarang ya mah, assalamu'alaikum ] aku pun menutup telponnya setelah mendengar Mamah mengucapkan salam. Setelah bersiap-siap, aku langsung saja turun ke parkiran bawah mencari mobilku dan melaju ke Mall bla.. bla..bla, tempat janjian ku bersama Mamah.
Perjalanan ku cepat dari Apartemen menuju Mall, apalagi jalanan gak macet, jadi aku gak usah berpusing-pusing ria, sampai di Mall, aku langsung mencari parkiran di lantai 2 dan setelah dapat parkirannya, aku meninggalkan mobilku dan menuju lobby untuk menunggu Mamah.
Hmmm... panas juga hari ini ya, tapi Mall nya juga lumayan rame padahal Masih siang," ucapku bermonolog sendirian. Saat sedang menikmati angin sepoy-sepoy dan minum teh tarik kesukaanku tiba-tiba bunyi ponsel pertanda ada yang telepon.
Drt...Drt...Drt.
"Siapa sih ni?" aku pun melihat siapa yang menghubungi HP ku, mataku malas, ku masukin lagi tuh HP ke tas biarin saja berdering sendiri. Sudah 10 menit berlalu dan Mamah baru datang menggunakan taxi, aku pun langsung menghampiri Mamah dan memeluk Mamah kangen sekali.
"Kangen Mah!" ucapku.
"Tidur di rumah mangkanya," ucap Mamah.
"Gak ah, aku di Apartemen saja soalnya lebih deket ke kantor nantinya."
"Oh ia, kamu gak kerja Nak?"
"Aku lagi cuti Mah, mau santai-santai dulu, kita shopping pakai uangnya mas Herman Mah."
"Kok uangnya Herman?"
"Tar Nissa ceritain, ayok Mah kita makan dulu di dalam."
"Hayuuu," ucap Mamah.
Drt...Drt...Drt.
Saat kita berdua sedang berjalan di dalam Mall, tiba-tiba HP Mamah berbunyi tanda ada panggilan dari Tante Mayang.
"Siapa Mah? kenapa gak diangkat!"
"Mayang..... Dia Mamah usir dari rumah Nenek, karena Fina anaknya punya mulut sampah ngata-ngatain kamu."
"Ngatain aku? ngatain apa dia Mah?"
"Tar aja di bahas nya, biarin saja kita happy- happy aja sekarang sayang."
"Ok. mah, siap!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Sukliang
fina dan ibunya sama aja ya
2023-07-08
1
Uthie
keluarga benalu dan gak tau diri gtu emang harus di kasih pelajaran telak 👍👍😡
2023-07-02
1