POV Herman
Pagi pertama di kontrakan sempit bersama Fina, dan sialnya aku telat bangun, waktu sudah menunjukkan jam 7 pagi, sedangkan aku melihat Fina pun dia masih terlelap dengan tidurnya, karena pagi-pagi aku sudah kesal langsung saja aku tarik tubuh Fina hingga membuat dia jatuh dari kasur supaya cepat bangun dan membuat sarapan.
"Aduuuuuhhhh mas sakiiit, kamu KDRT ini, pagi-pagi sudah siksa-siksa aku kaya gini, maksud kamu apa?" teriak Fina kesal.
"Bikin sarapan sana aku lapar, bentar lagi aku mau kerja gak usah malas kamu Fin." ucapku dan langsung keluar kamar untuk ke kamar mandi tak memperdulikan teriakan Fina.
"Bodo amat, makan saja sana sendiri, aku ngantuk," ucap Fina naik ke kasur untuk tidur kembali.
Setelah habis mandi segar dan sudah siap dengan pakaian kerja ku yang aku bawa ke kamar mandi, aku pun langsung menuju dapur dan ku lihat di meja makan tidak ada satu pun makanan yang tersaji, ya tuhan si Fina kerjaan nya apa aja sih, batinku. Gegas ku kembali ke kamar dan ku lihat dia masih saja tidur di bawah selimutnya, aku pun menghela nafas sebentar, dan kembali ku ingat saat bersama Nissa yang tak pernah bangun kesiangan dan selalu melayani dan menyiapkan keperluan ku saat berangkat kerja.
Dan tak mau larut dalam penyesalan, aku pun langsung pergi meninggalkan kontrakan kecil ku untuk bekerja menggunakan sepeda motor ku yang lama, dan kembali di jalan aku teringat pada mobil kesayangan ku yang di belikan Nissa, aku hanya berkali-kali menghembuskan nafas kasar selama perjalanan ke kantor.
Saat sampai kantor ku lihat semua orang melihatku dengan ekspresi yang macam- macam, aku gak bisa menebaknya, kenapa dengan mereka, ucapku dalam hati. Pas sampai di ruangan ku baru aja aku duduk tiba- tiba si Juned kawanku, datang terpogoh pogoh sambil berlari.
"Gawat lu Herman kenapa lu begok banget sih!"
"Maksudnya apaan nih, terus kenapa orang kantor pada ngeliatin gue Kaya gitu sih!" ucapku heran.
"Video lu itu beneran yang lagi di grebek sama sepupu bini lu sendiri, gak nyangka gue, kenapa lu bisa nekat sih man," paceo Juned.
"Akh yang bener lu," ucapku kaget.
"Pak Herman, Bapak di tunggu sama pak Roy di ruangan sekarang pak," ucap sekertaris Bos, dan dia pun langsung pergi tanpa menunggu jawabanku.
"Mampus lu man! tamat riwayat lu sekarang," ucap Juned.
"Lu jangan nakut-nakutin gue akh," gegas aku langsung pergi keruangan pak Roy yang berada di lantai 5 dengan hati yang tentu saja dar der dor. Ku ketuk pintu ruangan kerja pak Roy, lalu ada balasan dari dalam untuk menyuruhku segera masuk.
"Masuk!" ucap pak Roy.
"Ia pak, Maaf pak saya di minta menghadap bapak oleh sekertaris bapak, kalau boleh tau ada apa ya pak?" tanyaku gugup.
"Oh ia pak Herman, ini surat pemecatan bapak perhari ini pak, dan sudah kami diskusikan dengan pimpinan yang lain, di karenakan atas Viral nya Video penggerebekan dan itu membuat malu instansi pemerintah disini pak Herman, dan saya harap pak Herman bisa mengerti, jadi silahkan langsung ke HRD saja untuk mengambil gaji dan mengambil pesangon bapak," jelas pak Roy panjang lebar.
"Tapi pak, apa saya harus langsung di pecat, tidak di beri peringatan dulu pak?"
"Keputusan ini sudah bulat dikarenakan Video itu juga termasuk Video asusila, dan anda juga berselingkuh, dan perselingkuhan adalah hal yang di larang di instansi ini, kalau mau selingkuh boleh, asal jangan ketahuan apalagi sampai Viral, hukumannya berat sekali pak, anda tau kan akan hal tersebut!"
"Ia pak saya mengerti, hanya saja apakah saya tidak bisa di berikan kesempatan atau dari pada pemecatan, saya rela di turunkan jabatan saya pak, asal jangan di keluarkan dari kantor ini pak."
"Maaf pak Herman, untuk kasus bapak ini sangatlah berat, tidak ada kesempatan maupun penurunan jabatan hanya ada pemecatan saja, harusnya bapak berpikir dua kali untuk melakukan hal itu atau kalau mau berpikir cerdas pak, apalagi bapak sekarang kan PNS, sayang sekali jabatan yang bapak punya!" ucap pak Roy dengan wajah datar.
"Baiklah kalau begitu pak saya izin undur diri"
"Silahkan pak!"
"Sungguh apes banget hidup gue sekarang, hidup susah, sekarang tambah di pecat, salah apa sih gue bisa sial kaya gini," umpatku kesal. Aku pun langsung menuju ke ruang HRD untuk mengambil gaji dan pesangon ku. Saat sampai ruangan HRD kebetulan Bu Rima ada di kantornya jadi aku tidak perlu berlama- lama di kantor ini.
"Silahkan tanda tangan disini pak Herman! dan untuk gaji nya sudah kami transfer ke rekening bapak secara Full, sedangkan untuk pesangon akan di bayarkan akhir bulan ini sesuai pembukuan pak, dan ini rincian gaji dan pesangon bapak, bisa di baca dulu," jelas Bu Rima.
"Ia Bu, semuanya sudah jelas, terimakasih untuk semuanya Bu," ucapku.
Alhamdulillah aku masih ada pegangan uang gaji, tabungan dan pesangon sebesar 40 juta untuk modal usaha atau simpanan, sepertinya aku harus nyari kerja dah. Aku gak boleh biarin Fina tau uang ini, kalo enggak bakalan di ambil sama dia.
Setelah urusan dengan HRD selesai, aku langsung saja menuju meja kerja ku untuk membereskan barang-barang ku yang tertinggal di kantor, saat sedang membereskan, tiba-tiba telepon ku berbunyi dan itu telepon masuk dari ibuku.
Deg.....gawat.......
[ Halo assalamu'alaikum Bu ]
[ Herman, kenapa ada surat dari pengadilan? Herman siapa yang mau cerai? kamu dengan Nissa ada apa nak? ] tanya ibuku ditelpon.
Jadi Nissa sudah mendaftarkan gugatan cerainya, padahal aku niat ingin mengajak dia rujuk lagi.
[ Nanti Herman pulang ke rumah bu, Herman jelasin semuanya ]
[ Gak usah, ibu akan pergi langsung ke rumah kamu aja ]
[ Jangan Bu, aku sudah gak tinggal di situ lagi, Nissa ngusir aku Bu! ]
[ Gak mungkin Nissa ngusir kamu, kalo kamu gak berbuat salah, sudahlah, ibu akan cari tahu sendiri karena ibu gak percaya sama kamu ] telepon pun di matikan sepihak oleh ibu.
"Sial gimana ini, kalo ibu sampai tau, bisa mati aku," kesal ku.
Drt drt drt
"Apalagi sih nih siapa? Fina pakai telepon segala!"
"Udah bangun kamu hah, ada apa?" teriakku.
"Mas aku lapar, kamu gak ninggalin makanan, gak ninggalin aku uang, pergi main pergi aja, gak tanggung jawab banget kamu jadi suami." ucap Fina ditelpon.
"Kamu pikir, kamu sudah bener jadi istri! ngelayanin aku enggak, siapin sarapan aku juga enggak, bangun siang, mau aku tanggung jawab sama hidup kamu, mimpi kamu! Jadi istri dulu yang bener, baru aku kasih hak ke kamu," ucapku langsung saja aku mematikan HP ku.
Karena aku kesal, aku langsung saja membereskan barang-barang ku, setelah beres aku pun langsung pergi dari kantor ini dan aku gak peduli semua mata yang melihatku dan berbisik-bisik membicarakan ku.
Saat berada di jalan tak lupa aku mampir untuk ke ATM, karena uang cash yang ku punya sekarang sudah habis. Aku pun menunggu dengan sabar di ATM, setelah orang di dalam selesai segera aku masuk dan mengeluarkan ATM ku, pas ku lihat ke tampilan isi saldo, mata ku terbelalak, kenapa isinya cuma ada 7 juta! se ingatku tabungan ku masih banyak masih ada 50 jutaan, aku pun langsung melihat rincian mutasi tapi tidak ada jejaknya.
"Akhhhhh sial, kemana uangku?" teriakku tanpa berpikir panjang aku pun langsung mengambil uang cash sebesar 1 juta rupiah untuk pegangan ku dan makan, kalau kaya gini terus, lebih baik aku kembali tinggal di rumah ibu, tapi apa ibu mau menerima Fina, apes banget ya tuhan! kenapa cobaan terus datang kepadaku. Keluhku.
Aku pun langsung membeli perlengkapan bahan makanan untuk di rumah, biar di masak sama si Fina, biar gak boros, setelah selesai aku pun langsung pulang ke kontrakan. Saat sampai kontrakan aku melihat Fina yang sedang santai dan tertawa dengan keras sambil melihat TV kartun. Ya tuhan itu anak kerjaannya cuma berantakin rumah saja, bukannya di beresin malah enak-enakan.
"Fina! kamu ngapain saja dirumah, berantakan banget, betah kamu kaya gini!"
"Mas, kok sudah pulang sih, bawa makanan gak? aku lapar mas,"
"Pikiran kamu tuh gak jauh-jauh dari uang sama makanan, sini duduk!" ucapku sambil menyerahkan tas belanjaan kebutuhan makanan.
"Kamu masak ini nih bahan makanan, gak ada kita sekarang beli-beli lagi di luar, kita harus hemat! Aku di pecat dari kantorku dan kamu tau! tabungan aku pun ikutan ilang, jadi kamu harus cari kerja buat bantu-bantu keuangan kita, karena aku gak bakalan kasih kamu uang lagi mulai sekarang, aku cuma mau beli kebutuhan rumah saja."
"Mas di pecat? terus kalau mas di pecat aku gimana mas? aku gak bisa shopping lagi, gak bisa ke salon lagi, gak bisa nongkrong di cafe lagi, pokoknya aku gak mau mas, mas harus secepatnya cari kerja! aku tuh gak mau hidup miskin!" teriak Fina.
"Terserah kamu Fina, aku akan cari kerja, tapi buat memenuhi semua keinginan kamu, aku gak bisa, kalo kamu mau semua itu cari kerja sana!"
"Mas aku tuh istri kamu, kamu tuh harus ngebahagiain aku mas, kasih aku nafkah bukan malah aku yang di suruh kerja."
"Sudahlah, cepet masak ini! katanya tadi lapar? aku mau beberes rumah, liat rumah sudah kaya kandang kebo."
"Hmmm, bukannya mau hidup enak malah sekarang jadi susah kaya begini, nasib-nasib."keluh Fina.
Tak ku dengar lagi ocehan Fina yang seperti petasan ketika lebaran, berisik! baru aku tau sifatnya kaya gitu, kemana aja aku ya selama ini, kok bisa tergoda oleh rayuan maut nya, dulu yang selalu berkata lembut sekarang ya tuhan! padahal kalau aku liat lagi kecantikan Fina, gak ada apa-apanya di bandingkan Nissa, aku benar-benar menyesal, habis makan dari sini aku akan langsung ke rumah Nissa...., ia... aku harus ngajak Nissa balikan. se enggaknya walaupun dia gak kerja, hidup dengan Nissa gak akan pernah sengsara kaya begini. Ucapku bicara di dalam hati. Dan saat sedang membereskan rumah yang sebentar lagi selesai tiba-tiba HP ku berbunyi kembali, ini telepon dari ibu.
Drt...Drt...Drt...
[ Halo assalamu'alaikum Bu ] ucapku lembut.
[ Herman kamu kerumah mertuamu sekarang, ibu ada disini! ]
Deg....
Apa ibu sudah tau ya? dan mamah sudah bilang semuanya, gawat ini! batinku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Alevin
pns g da pesangon kak 🥲dan kalau pemecatan itu prosesny g secepet ini
2025-03-17
0
Sukliang
jadi babu kamu pelakor
2023-07-08
1