Setelah mendapatkan nomer HP pengacara dari Sera, aku pun langsung menelpon bibi untuk menjalankan rencana yang akan aku buat. Tapi sebelum itu aku nge chat dulu ke mas Herman bahwa aku akan lembur dan pulang telat terlebih dahulu.
" Haloo, assalamualaikum bi, nanti bibi keluar rumah ya jam 5 sore terus ketemu aku, aku di supermarket dan tunggu aku di Food Court ya bi," ucapku pada bibi langsung sat-set.
" Ia non, tapi kalo tuan nanya mau kemana gimana non?" tanya bibi.
" Ya jawab aja mau membeli keperluan bulanan sama keperluan bibi, dia pasti ia-ia aja, soalnya ada hal yang mau aku bicarakan sama bibi."
" Ok. non siap!" Jawab bibi dengan Lantang.
Lalu aku mematikan telpon dengan bibi setelah mengucapkan salam, gak terasa waktu berlalu dan sudah menunjukan jam 4 sore, ya walaupun hatiku sedang sakit dan terluka karena dua orang yang paling aku sayang dan aku percayai selama ini. Tapi aku pun gak mau bersedih berlarut-larut karena percuma juga, toh semuanya sudah terjadi. Lalu aku teringat satu hal Ini, yaitu sesuatu yang harus aku lakukan, urgent sekali. Aku langsung mengambil telpon dan memanggil Linda untuk masuk ke ruangan ku.
" Linda tolong kamu berhentikan pembayaran yang selalu aku berikan untuk bi May (ibunya Fina) tiap bulan, aku sudah tidak mau lagi membantu membiayai kebutuhan mereka perbulannya, apa pun itu mengenai bibi Maya aku sudah tidak perduli dan satu hal lagi kalau ibuku bertanya masalah Ini tolong minta ibuku langsung mencari ku Saja," ucapku kepada Linda saat ada di ruangan ku.
" Baik Bu, ada lagi Bu?" balas Linda bertanya.
Ya walaupun bantuan itu hanya uang dua juta rupiah perbulan, tapi melihat tingkah laku anaknya aku jadi muak dan marah untuk membantu keluarga mereka, apalagi sekarang Fina sudah mau Lulus pasti dia akan mencari kerja, lagi pula sebenarnya anak bibi itu udah ada yang kerja kenapa mereka selalu merongrong Mamahku buat minta bantuan merasa aneh batinku.
"Satu lagi jika ada orang luar yang bertanya aku sebagai apa disini, bilang aja aku hanya staff biasa," ucapku lagi kepada Linda.
" Loch kenapa Bu?" Tanya Linda penasaran!
" Gak apa-apa, aku hanya sedang melakukan sesuatu kepada orang yang sudah nyakitin aku aja termasuk keluarga aku sendiri, kamu jangan bilang siapa-siapa ya!" ucapku dengan mimik muka serius.
" Baik Bu, kalo begitu saya izin keluar," ucap Linda sambil melangkahkan kakinya keluar ruanganku.
Setelah Linda keluar ruangan, aku segera bersiap-siap untuk pulang dan menuju supermarket, tempat janjian aku sama bibi (art ku). Tapi sebelum kesana aku akan menyempatkan untuk membeli CCTV ukuran sangat mini hingga tidak terlihat.
Setelah sampai Supermarket, aku langsung saja menuju Food Court tempat janjian aku bersama Bibi, dan tanpa susah mencari, aku langsung bertemu bibi dipojokan sedang duduk sendiri.
" Assalamualaikum, sudah menunggu lama ya bi?" tanyaku ke bibi, dan aku langsung aja duduk dekat bibi, kebetulan disini tempatnya sepi jadi aku tidak khawatir ada orang yang akan mendengarkan.
" Wa alaikum salam non, bibi juga baru datang non, jadi bagaimana non Nissa bisa membalas non Fina? jujur bibi kesel juga sama non Fina! kelakuannya makin kesini makin ngawur non," ucap bibi.
" Gini bi aku mau minta tolong bibi untuk untuk tempelin atau taruh CCTV mini Ini bi, tapi arahnya ke kasurnya Fina ya bi, jangan sampai ada yang kelihatan ya bi atau bener-bener tersembunyi, nanti bibi naruh nya pas bibi beres-beres kamarnya Fina ya," jelasku singkat.
"Ia siap non bibi faham, " ucap bibi.
" Oh ia Ini pasang juga diruang keluarga, di dapur, ruang kerja mas Herman juga, kalo kamar aku biar aku yang pasang," jelasku lagi sambil aku menyerahkan bebrapa CCTV mini ke bibi.
" Oh ia bi, mereka berdua tadi ada dirumah gak?" tanyaku ke bibi.
" Tidak ada non, non Fina dari tadi pagi belum pulang sedangkan tuan ada dirumah, ia baru saja pulang," jelas bibi.
" Yaudah bi kalau begitu, bibi pulang sekarang dan jangan lupa belanja segala kebutuhan ya bi, biar gak curiga," ucapku. Tak berapa lama aku dan bibi pun berpisah, bibi melanjutkan belanja sedangkan aku menuju parkiran untuk pulang ke rumah.
Setelah aku sampai kerumah aku tidak melihat mas Herman, kemana ya dia? pikirku.
Langsung aja aku naik ke lantai atas ke kamarku, dan ku dengar ada seseorang dikamar mandi, mungkin itu mas Herman dan ku lihat HP mas Herman tergeletak dimeja, langsung aja aku mengambil HP mas Herman untuk ku tahu isinya.
Akh sial! pake dikunci segala tumben amat, ucapku pelan sambil kesal Dan aku menaruh kembali HP mas Herman ke meja.
" Mas kamu dikamar mandi?" ucapku.
Kemudian pintu kamar mandi terbuka.
" Kamu udah datang sayang, udah makan belum? tumben Malam banget pulangnya," Tanya Mas Herman dengan wajah sok dibuat- buat.
Aku hanya diam saat mas Herman bertanya entah kenapa aku jadi jijik melihat wajah mas Herman sok khawatir seperti itu, sebelumnya aku selalu senang karena merasa diperhatikan saat mas Herman bilang seperti tadi dan sekarang ikh kalo bahasa sundanya mah geuleuh.
" Aku lelah mas biasa lah banyak kerjaan, kan tau sendiri aku cuman karyawan biasa," jelasku sambil langsung masuk ke kamar mandi tanpa tersenyum ke arahnya. Mungkin dia bakalan bertanya kenapa aku jadi dingin sama dia, tapi bodo amatlah.
Saat aku selesai mandi mas Herman sudah tidak ada dikamar dan HP nya pun sudah dibawa olehnya, mumpung dia diluar aku langsung aja memasang CCTV mini yang langsung terhubung ke HP ku, dan kulihat HP ku juga sudah terpasang dengan CCTV yang lain yang ada dirumah Ini, kerjaan bibi emang top markotop.
Aku melihat mas Herman lewat CCTV, ternyata dia sedang diruang Televisi Dan kebetulan sekali dekat CCTV itu, sehingga aku bisa mendengar dengan jelas apa yang dia katakan.
" Ia sayang kamu gak pulang hari Ini", yaudah hati-hati dirumah temen kamu ya, dan mudah-mudahan cepet Lulus ya, nanti kalo kamu Lulus kita akan jalan-jalan ke Labuan bajo," Ucap mas Herman ditelpon.
"Aku yakin pasti Mas Herman lagi ngobrol sama si ulet keket Fina," pikirku.
Aku langsung turun kemeja makan untuk makan malam dan ketika aku melihat mas Herman, dia langsung gugup dan langsung menutup telponnya dan tanpa basa-basi, aku makan aja sendiri tanpa mengajak dia makan.
" Sayang kok kamu malah makan duluan? aku padahal nungguin kamu loh!" ucap Mas Herman.
" Aku liat kamu lagi asik ngobrol ditelpon jadi aku gak mau ganggu kamu mas, lagian aku lapar mas, maaf ya aku gak siapin makan ke kamu, Aku capek banget, habis makan aku mau langsung tidur aja," ucapku.
" Oh ia mas Mana Fina?" tanyaku
" Oh dia gak pulang yang, katanya dia mau nginep dirumah temen yang, untuk ngerjain skripsi," jelas mas Herman.
" Kok kamu tau mas ?" tanyaku pura-pura.
" Tadi dia chat aku, ia ,dia chat aku yang, " jawab mas Herman tambah gugup.
" Kok dia gak bilang ke aku ya, malah chat nya ke kamu mas, aneh ? yaudah lah aku juga gak mau terlalu pusing," jawabku sambil aku melihat ekspresi mas Herman yang terlihat menghembuskan nafasnya legal, Kalo mukul suami pake pentungan gak dosa mah, udah aku pukul mukanya dari tadi, menyebalkan munafik si Herman," gumamku dalam hati.
" Aku ke kamar duluan ya mas ngantuk," ucapku, dan dia hanya menundukkan kepala saja dan akupun tak lagi menoleh dan bicara kepadanya, rasanya aku sudah tidak sanggup untuk berdekatan dengan mas Herman apa lagi dalam ruangan yang sama, hati Ini Masih sesak, tapi aku harus sabar Pembalasan Ini baru saja mau dimulai, aku akan membalas kalian semua dengan begitu pedih. batinku dengan amarah terpendam.
Jam dua aku terbangun dan aku melihat mas Herman disebelahku sedang tertidur sangat damai seperti tidak mempunyai beban atau rasa bersalah sama sekali karena sudah selingkuh dari aku, langsung aja aku ambil HP nya yang ada di dekat nakas, dan aku letakan jari mas Herman untuk membuka kunci lewat fingerprint ( fingger touch), dan akhirnya bisa terbuka.
Kubuka Aplikasi chat dan menscroll is chat nya tidak ada yang mencurigakan, kecuali satu nama Fina si ulet keket, dan aku foto semua isi chat mesra mereka dan apa aja yang dilakukan mereka untuk dijadikan bukti, Dan aku pun menyadap aplikasi chat Mas Herman kedalam HP ku. Setelah urusan HP Ini selesai langsung aku taruh lagi HP Ini ditempat semula, Dan aku keluar kamar ke tempat kamar Fina berada, Ini kesempatan aku, kebetulan sekali si ulet keket tidak ada dirumah, aku pun berjalan pelan-pelan turun kebawah dan masuk ke kamar Fina. Sepertinya aku memang beruntung sekali malam Ini kamar Fina tidak dikunci, aku pun melihat-lihat kamarnya serta membuka semua tempat penyimpanan serta lemarinya.
Ku lihat banyak tas berharga jutaan, dari mana dia mendapatkan semua Ini? jangan- jangan tabungan mas Herman habis lagi buat poya-poya sama si anak da'jul, batinku.
Langsung aja aku mengeluarkan semua tas itu dan aku pun kembali melihat tempat yang lain dan aku menemukan perhiasan kalung yang sebelumnya nota pembelian yang pernah aku liat di tas mas Herman, aku pun mengambilnya lalu aku satukan dengan tumpukan tas serta aku mengeluarkan baju-baju mahal dan jam tangan lainnya. Aku gak peduli apa barang Ini ada yang dia beli sendiri atau pun mas Herman yang belikan, pokoknya aku ambil semuanya, lalu aku foto semua barang itu ku kirim fotonya ke temanku Sera lewat chat, kau meminta tolong sama Sera untuk dicarikan tempat jual barang bekas, aku akan jual semua dan mengambil hak aku selama Ini.
Setelah selesai aku langsung bawa semua barang ke Gudang karena aku tau mas Herman gak pernah masuk ke Gudang dan kuncinya selalu aku yang pegang, setelah itu aku langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajud meminta ampunan serta permohonan kepada Allah atas semua Ini supaya hariku menjadi lebih tenang lalu aku pun tidur kembali.
" Mas bangun sholat shubuh!" ucapku sambil menggoyangkan badan mas Herman, tapi kulihat dia masih saja tidur dan aku pun meninggalkannya untuk sholat shubuh sendirian.
" Yang kamu kok gak bangunin aku sih? tumben amat, gak sholat shubuh kan aku jadinya, untung gak telat," ucap Mas Herman dengan muka sedikit kesal. Aku hanya mengangkat bahu tanda aku tidak perduli dan malas menjelaskan.
" Mas duluan ya, udah telat soalnya," ucapnya sambil mencium rambutku, dan aku pun Salim tangan sambil mengucapkan salam. Setelah itu aku pun bersiap ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaanku dan menyerahkan surat cuti yang sudah lama tidak aku ambil.
Waktu pun tak terasa berjalan begitu cepat karena sudah memasuki jam pulang.
" Ah aku mau telpon bibi dulu bentar," ucapku bicara sendirian.
" Haloo bi assalamualaikum tuan udah datang bi?
" Wa alaikum salam non, belom datang non, non Fina juga belum datang non.
" kemana tuh orang dua ya, jangan-jangan janjian lagi, aku punya ide yaudah bi aku tutup dulu." "Assalamualaikum " langsung aku tutup sambungan telpon bibi dan lanjut ku telpon pelakor kecil itu.
" Haloo Fin kamu kenapa kemaren tidak bilang mba? kalo akan menginap dirumah temen kamu!" tanyaku saat telpon sudah diangkat.
" Maaf mba aku lupa tapi aku udah chat Mas Herman kok mba, balas Fina.
" Kenapa malah chat Mas Herman, aneh kamu ya Fin! kamu tidak ada hubungan apa-apa kan sama mas Herman? tanyaku langsung.
" Ya enggaklah mba, masa aku ada hubungan, mas Herman kan suami mba, saudara aku juga, maaf ya mba aku gak akan mengulanginya lagi gak ngasih kabar ke mba Nis kalau gak pulang kerumah," Jawab Fina dengan suara agak gugup. Aku tau dia pasti kaget aku tanya gitu langsung.
" Yaudah hari Ini kamu pulang gak?"
" hari Ini aku gak pulang lagi mba karena Masih nyusun Skripsi dirumah temen aku, soalnya rumah temen aku dekat dengan dosen pembimbing jadi biar gak bolak-balik mba.
"Yaudah kalo gitu, " aku langsung tutup telponnya.
" Dasar mba Nissa gitu aja kok repot, males banget sama tante-tante satu itu, kalo gak ada perlu ya males banget aku sok baik ama dia, lihat aja setelah aku Lulus kamu akan dicerai mas Herman dan akan ku pastikan kamu akan keluar dari rumah itu," Ucap Fina kesal.
Hmmm sepertinya aku minta jemput mas Herman aja, enak banget dia! Mobil aku yang beliiin, dia malah enak-enak di pake buat jalan sama ulet keket itu. Mobilnya lebih baik aku jual lagi aja." kemudian aku langsung saja mencari kontak mas Herman
" Assalamualaikum, Haloo, Mas dimana? bisa jemput aku gak di kantor? tanyaku ke mas Herman.
Wa alaikum salam sayang, mas baru saja sampai rumah, emang Mobil kamu kemana?
" ucap Mas Herman.
"Mobil aku mogok mas, aku tunggu di Lobby ya," ucapku.
"Yaudah, Mas OTW sekarang." saut mas Herman.
Setelah menunggu 20 menit, akhirnya Mobil mas Herman datang, langsung aja kami melanjutkan perjalanan untuk pulang.
" Mas nanti aku dirumah mau ngomong sama kamu penting," ucapku tanpa melihat wajah mas Herman.
" Ngomong apa sayang? sekarang aja!" ucap Mas Herman.
" Tar aja mas dirumah aja," ucapku lagi.
Setelah sampai rumah, tanpa menunggu waktu lagi aku langsung duduk di kursi depan bersama mas Herman untuk membicarakan bahwa aku sudah tidak bekerja, padahal aku Masih bekerja di perusahaan itu dan untuk mendukung RENCANA yang sudah aku susun, aku pun sudah mengajukan cuti selama dua minggu, karena sudah 2 tahun Ini aku tidak mengambil cuti ku.
" Mas aku sudah tidak bekerja lagi, aku bekerja hanya sampai akhir bulan Ini, aku bingung, bagaimana Ini ya mas? kamu bisa kan menghandle kebutuhan kita kedepannya, Gaji PNS kan lumayan dan kamu juga pasti banyak tabungan kan mas? selama Ini kan kamu hanya ngasih aku sejuta tiap bulannya.
Aku melihat mata mas Herman langsung terbelalak kaget.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Uthie
bagus 👍😏
2023-07-02
2
Edi Mihardi
good......
2023-06-03
2