Namaku Herman aku menikah dengan Nissa karena sebuah perjodohan, aku setuju saja karena aku memang kenal dia sejak kecil. kami itu teman masa sekolah dulu, dan aku lihat sekarang dia cantik dan juga sukses terbukti dengan pekerjaannya yang menurut aku lumayan berbeda denganku yang hanya pegawai PNS di BUMN, tapi aku mengaku padanya hanya pegawai sekolah biasa.
Pernikahan kami pun di gelar secara sederhana itu pun atas permintaan dari calon istriku. Dan keluarga Nissa sudah menyiapkan rumah untuk kami tinggali berdua, yah harus aku akui keluarga Nissa adalah keluarga yang berkecukupan, mangkanya aku sangat mendukung perjodohan ini.
" Nis kamu cantik sekali, mas sangat beruntung menikahi kamu, terimakasih sudah mau menikah dengan mas ya Nis," Ucapku saat berada di kamar berdua, ini adalah malam pertama kami.
" Ia mas tapi Nissa punya permintaan mas, jangan ada penghianatan di antara kita ya mas, karena Nissa benci sekali perselingkuhan," ucap Nissa.
" Ia Nis, mas janji mas bakalan setia sama kamu, bolehkah mas panggil kamu dek dan bisakah kita melakukan itu sekarang?" Tanyaku.
Nissa hanya tersenyum dan menunduk malu malu dengan semburan merah wajahnya yang memiliki kulit putih mulus. Dan kami pun melakukan kewajiban sebagai suami istri di malam itu.
Setahun lebih pun berlalu aku sangat bahagia punya istri seperti Nissa yang menurut dan bisa melayaniku dengan baik. Aku baru tau ternyata dia bekerja di perusahaan besar, walaupun hanya sebagai staf biasa tapi gajinya sama denganku yaitu kisaran 7 juta, aku tidak pernah memberitahukan mengenai pekerjaan asliku kepada Nissa, yang dia tau aku hanyalah seorang guru PNS yang mempunya gaji hanya 4 juta rupiah setiap bulannya, akhirnya aku memberikan dia uang bulanan hanya sebesar 1 juta rupiah, karena aku beralasan menanggung kebutuhan ibu dengan memberikan uang 1 juta dan kebutuhan ku juga 1 juta lalu aku tabungkan 1 juta, dan dia hanya menuruti semua kata-kata ku, jadinya Nissa yang menutupi kebutuhan kami setiap bulannya.
Dan seperti weekend sebelumnya kita selalu menghabiskan waktu berdua di rumah untuk bersantai ria, aku sedang melihat majalah mobil dan aku sangat ingin membeli mobil, apalagi Nissa juga punya mobil aku selalu di bully temanku kerja di BUMN tapi tidak punya mobil dan masih pake motor, ya walaupun motornya juga keren motor gede bukan motor bebek ,tapi aku pengen mobil, apa Nissa mau membelikan mobil untukku, harus aku coba batinku.
" Dek mas tabungannya masih lama banget dek, mas lagi pengen ada yang di beli," ucapku dengan wajah ku buat sememelas mungkin.
" Kamu mau beli apa mas?" tanya Nissa.
" Ini dek, mobil ini tapi tabungan mas masih kurang banyak dek," ucapku lagi sambil memperlihatkan iklan di majalah.
" Aku bisa beliin mas tapi palingan bekas gpp kan mas, kalo yang baru uangku juga gak ada," terang Nissa
" Gpp dek, asalkan masih bagus," sautku.
" Yasudah besok aku tanyain ke teman aku yang jual mobil bekas ya mas," ucap Nisa.
" Ia dek makasih ya, makin cinta deh sama istriku yang cantik ini," rayuku sungguh sangat beruntung aku mendapatkan istri secantik Nissa.
Seminggu kemudian mobil pun di beli Nissa walaupun bekas tapi aku senang sekali karena selama ini aku sangat menginginkan mobil tapi belum kesampaian, banyak juga ternyata tabungan Nissa, batinku.
Sejujurnya aku sangat mencintai Nissa dan berniat akan selalu ada buat Nissa sampai kapan pun.
Tetapi suatu hari tiba-tiba datang sepupu jauhnya Nissa yang bernama Fina, saat di kenalkan pun aku hanya biasa saja, karena ketika ku perhatikan Fina wanita yang biasa tidak bisa di bandingkan dengan istriku, tapi saat tidak ada Nissa di rumah, dan aku kebetulan sedang pulang cepat. Fina selalu berusaha menggoda ku, beberapa bulan ini sampai akhirnya dia nekat menciumiku dengan buasnya saat aku sedang menonton TV sendiri.
Saat malam ketika orang rumah sedang tidur, aku memang selalu tidur hingga larut malam untuk menonton tayangan bola kesukaanku, sebagai lelaki normal apalagi di suguhkan pemandangan indah yang baru aku tau ternyata Fina memiliki tubuh seperti Nissa sifat liar ku sebagai lelaki pun tergoda dan aku pun membalas ciuman itu, apalagi Fina memakai baju yang kurang bahan sekali, dan terjadilah pergulatan kita malam itu.
Sejak saat itu aku pun menjalin hubungan terlarang dengan Fina di belakang Nissa, sungguh permainan Fina lebih hebat di bandingkan dengan Nissa, dan aku sangat menikmatinya.
" Mas jadikan, kita jalan-jalan ke puncak mas?" tanya Fina.
" Ia janji nanti aku akan kasih tau ke Nissa, akan ada acara seminar keluar kota, tapi aku mau minta tambahan uang dulu ke dia," ucapku sambil membelai paha Fina yang tidak memakai apa pun di dalam selimut nya, ya saat ini kita sedang berada di kamar Fina, setelah melakukan kegiatan panas kami aku sengaja keluar dini hari dari kamar hanya untuk bersenang senang dengan Fina. Dan jujur semenjak ada Fina aku jadi jarang menyentuh Nissa beberapa bulan ini.
" Emang mba Nissa mau kasih kamu uang mas?" tanya Fina.
" Pastilah!" ucapku yakin.
Esok harinya saat di kantor aku berniat menelpon Nissa untuk meminta uang itu, karena besok sudah masuk hari Sabtu jadinya untuk aku siap-siap saja.
Aku pun langsung menelepon Nissa, tapi anehnya berapa kali pun aku telpon tidak diangkat, kemana Nissa ya? lalu aku chat dia aja untuk meminta uang 5 juta kepada Nissa.
Untuk jalan-jalan ke puncak bersama Fina, batinku.
Selama ini pun Nissa selalu memberikan uang kepadaku jika aku meminta tapi tidak banyak palingan hanya 500ribu atau paling banyak sejuta, tapi untuk kali ini aku ingin meminta 5 juta karena uang tabungan ku tak mau aku gunakan untuk bersenang-senang dengan Fina, karena Fina sudah sering meminta uang padaku dan memintaku untuk membayar belanjaan dia yang lumayan mahal bagiku, karena dia memberikan servis yang memuaskan jadi aku menurutinya.
Karena tabungan aku sudah menipis maka aku akan memakai uang Nissa saja untuk bersenang-senang, lagi pula Nissa wanita bodoh yang gampang di bohongin oleh rayuan maut ku.
" Kemana Nissa ini telpon ga diangkat, chat pun Gak di balas bikin sewot aja!" ucapku dengan kesal karena jam makan sudah akan berakhir, aku memasukkan kembali HP ku kedalam kantong untuk bekerja kembali takutnya aku telat.
Saat tiba waktunya pulang aku pun kembali mengecek HP ku, dan benar saja Nissa sudah membalas pesanku, tapi sial dia tidak bisa memberikan uang 5 juta itu karena dia pikir uangnya terlalu besar dan dia tidak punya tabungan sama sekali, karena menutupi kebutuhan rumah. Aku pun tetap menjalankan rencana ku pergi ke puncak bersama Fina memakai uangku sendiri.
Setelah beberapa bulan menjalin hubungan dengan Fina, aku melihat sifat dan sikap Nissa agak berbeda, tapi aku tidak memusingkan itu semua yang terpenting hidupku sekarang bahagia, tapi dalam beberapa hari ini Fina tidak bisa pulang ke rumah, padahal aku kangen berat dengannya.
Setelah sampai rumah aku melihat rumah masih kosong lekas aku masuk ke kamar untuk membersihkan diri, setelah itu aku turun untuk menonton TV sambil menunggu Nissa pulang dari kantor, tak berapa lama HP ku bunyi dan ada tulisan Fina memanggil.
" Ia sayang, kamu gak pulang hari ini?" tanyaku.
" Ia mas aku masih di rumah teman biar gampang nemuin dosen pembimbing yah palingan 2 Minggu lagi aku sidang mas," jawab Fina ditelpon, sungguh aku merindukan suaranya.
" Yudah hati-hati di rumah temen kamu, mudah-mudahan kamu cepet lulusnya."
" Tapi jadikan kita ke labuan bajo, mas udah janji loh sama aku, kalo aku lulus aku akan ke sana "
" Ia habis kamu lulus kita akan jalan-jalan ke labuan bajo, tapi sebelumnya palingan aku mau minta uang ke Nissa dulu, buat akomodasi kita disana."
" Kalo mba Nissa mau ngasih mending mintanya yang banyak mas, biar kita bisa shopping mas."
" Yah palingan aku bilang buat biaya ibu, kamu gak usah khawatir, gampang si Nissa mah, ia baik sama ibuku dan juga royal, dia pasti mau kasih buat ibu aku," ucapku pada Fina
Aku langsung saja mematikan telepon karena takutnya Nissa sudah kembali, dan benar saja Nissa sudah kembali dan sedang makan sendirian, padahal aku menunggunya pulang untuk makan bersama, batinku.
" Sayang kok kamu malah makan duluan, aku padahal nunggu kamu loh," ucap ku dengan wajah di buat terkejut padahal aku sedang menahan kesal.
" Aku lihat kamu lagi asik ngobrol jadi aku gak mau ganggu kamu, lagian aku lapar mas, maaf ya aku gak siapin makan kamu, aku capek banget, dan habis makan aku langsung tidur ya," ucap Nissa.
" Mana Fina mas?" tanya Nissa
" Oh dia gak pulang dek, katanya nginep ngerjain skripsi akhir di rumah temennya," jelasku sambil menuangkan nasi di piring karena perutku juga lapar.
" Kok kamu tau?" tanya Nissa lagi dengan wajah terkejut.
" Tadi dia chat aku, ia dia chat aku dek," ucapku gugup, kenapa aku malah kelepasan seharusnya aku bilang saja tidak tau, batinku.
" Kok dia gak bilang ke aku! malah chatnya ke kamu doang, aneh ya sudahlah aku juga gak mau terlalu pusing," ucap Nissa.
Setelah itu pun Nissa langsung naik ke kamar untuk tidur, dan aku pun segera menyelesaikan makananku dan menonton acara favorit ku di TV.
Hari pun berlalu, tumben sekali Nissa telepon jam segini,
" Halo assalamu'alaikum mas di mana? bisa jemput aku gak di kantor? " Ucap Nissa di telepon.
" Mas baru sampai rumah dek, emang mobil kamu kemana?" tanyaku
" Mobil aku mogok mas, aku tunggu di Lobi ya," ucap Nissa
" Ya sudah, mas jalan sekarang," balasku padahal aku baru saja nyampe dan masih lelah.
Perjalanan dari kantor Nissa ke rumah hanya membutuhkan waktu paling lama 20 menit dan beruntungnya jalanan tidak macet, di dalam mobil Nissa hanya diam dan aku melihat wajahnya sepertinya lelah sekali atau sedang banyak pikiran, tapi karena aku sedang menyetir aku tidak pernah mengajak Nissa ngobrol dan akhirnya setelah sampai rumah, Nissa langsung turun sendiri.
" Mas nanti aku di rumah mau ngomong sama kamu penting," ucap Nissa dengan wajah serius.
Jujur aku gugup karena aku takut perselingkuhan ku dengan Fina ketahuan dan aku gak mau kehilangan keduanya, mereka memberikan kesenangan buatku.
" Ngomong apa dek, sekarang aja " ucapku memancing.
" Tar aja mas di rumah," ucap Nissa langsung masuk kerumah.
Aku pun mengikuti Nissa yang sudah memasuki rumah dan aku melihat Nissa sudah duduk di kursi dengan muka yang sangat lelah, semakin penasaran aku di buatnya, semoga saja tidak terjadi apa-apa, karena sampai kalo aku kehilangan Nissa aku akan kehilangan kemewahan yang aku punya, dan Nissa tak akan memaafkan aku karena dia benci sekali perselingkuhan. Aku pun langsung duduk di sebelah Nissa sambil ku pegang tangannya berharap Nissa tak meminta untuk berpisah jika dia sudah tau.
" Mas aku sudah tidak bekerja lagi sekarang di perusahaan, aku bekerja hanya sampai bulan ini saja, aku bingung mas bagaimana ini? kamu bisa kan menghandle kebutuhan kita kedepannya, gaji PNS kan lumayan dan kamu juga pasti banyak tabungan kan mas secara kan kamu hanya kasih aku sejuta tiap bulan." terang Nissa.
Jujur aku kaget mendengar penuturan Nissa, what dia di pecat bagaimana ini kedepannya, bagaimana dengan jalan-jalan aku ke labuan bajo bersama Fina? batinku.
Aku hanya menatap wajah Nissa mencari kebohongan disana, tapi aku tak melihat itu pantas saja wajah Nissa sangat murung dan terlihat lelah sehabis pulang bekerja.
" Akan mas usahakan ya dek, kamu kan tau sendiri gaji mas hanya 4 juta makanya mas hanya kasih kamu satu juta, itu pun mas pegang 1 juta sisanya buat keperluan ibu, tapi mengapa kamu sampai tidak bekerja lagi dek?" tanyaku.
" Ada pengurangan karyawan mas di bagianku, kan mas tau aku hanya karyawan biasa di bagian keuangan, aku juga tidak tau, tapi ya mungkin dengan ini ada hikmahnya aku bisa istirahat di rumah dan memulai program hamil kita mas, kita sudah satu tahun mas menunda mempunyai anak, mas mau kan punya anak dari aku?" tanya Nissa dengan wajah sedikit ceria.
" Ia tentu sayang, siapa yang tidak mau punya anak dek, apalagi dari istri yang cantik dan baik seperti kamu, ya sudah, nanti mas usahakan untuk memenuhi kebutuhan rumah ini, mas mandi dulu ya dek," ucapku sambil berlalu meninggalkan Nissa dan menuju ke kamar.
Setelah sampai kamar aku tak langsung masuk ke kamar mandi, aku memikirkan apa yang di katakan oleh Nissa tadi.
Bagaimana ini mana aku udah janji buat jalan- jalan ke labuan bajo sama Fina dua Minggu lagi, terpaksa aku harus menggunakan tabungan ku lagi, kalo tau kaya gini tiap gajian aja aku terus minta uang sama Nissa lebih banyak buat banyakin tabunganku, kenapa sih Nissa harus pake di pecat segala, sekarang dia benar-benar tidak berguna.
karena amarah yang terus ku tahan dari pada ketahuan Nissa aku langsung saja pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badan ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Ria Lita
Herman edan
2025-03-14
0
Uthie
ternyata laki lintah darat tohhh 😏
2023-07-02
2