Mata mas Herman langsung terbelalak mendengar ucapan ku, dan dia pun menarik nafas seolah punya penyakit asam bertahun- tahun dan kehilangan inhaler nya, melihatnya saja sudah membuat aku mua! apalagi sampai di buat-buat memelas seperti itu.
" Akan mas usahakan ya, kamu kan tau sendiri gaji mas hanya 4 juta, makanya mas hanya kasih kamu satu juta, itu pun mas pegang 1 juta sisanya buat keperluan ibu, tapi mengapa kamu sampai tidak bekerja dek?" ucap mas Herman.
" Ada pengurangan karyawan mas di bagianku, kan mas tau aku hanya karyawan biasa, aku juga tidak tau, tapi ya mungkin dengan ini ada hikmahnya aku bisa istirahat di rumah dan memulai program hamil kita mas, kita sudah satu tahun mas menunda mempunyai anak, mas mau kan punya anak dari aku?" tanyaku.
" Ia tentu sayang, siapa yang tidak mau punya anak dek apalagi dari istri yang cantik dan baik seperti kamu, ya sudah nanti mas usahakan untuk memenuhi kebutuhan rumah ini ya dek, mas mandi dulu dek," ucap mas Herman sambil berlalu ke ruang kamar.
Melihat punggung mas Herman menjauh, aku seketika tersenyum, ini baru permulaan mas akan aku ambil semua hak aku selama ini, enak saja aku membiayai hidupmu di rumahku, capek-capek aku kerja sedangkan kamu menghabiskan uang untuk perempuan tidak tahu malu itu," ucapku dalam hati.
Makan malam pun tiba, semua makanan sudah disiapkan bibi di meja makan, dan semua makanan ini, gaji bibi dan kebutuhan rumah ini aku yang bayar sejuta mana cukup buat sebulan, aku terus saja memaki suami da'jul ku itu dalam hati, saatnya rencana ku di mulai.
Sebelum mas Herman turun ke bawah, lekas aku menaruh obat tidur tanpa bau di minuman mas Herman, agar mas Herman tidur dengan nyenyak karena aku mau pergi dan menghabiskan seluruh uang yang ada di tabungannya serta menjual barang-barang milik pelakor itu pada teman Sera.
Kami pun makan dalam diam, dan setelah makan selesai aku terus memperhatikan ekspresi wajah mas Herman, sepertinya mas Herman mengantuk, terbukti beberapa kali dia menguap.
" Hoammm, lelah sekali badan mas dek, mas tidur duluan ya ngantuk berat," ucap mas Herman.
" Ia mas, sautku.
" Masalah tadi nanti kita diskusikan lagi besok ya, mas ke kamar duluan," ucapnya sambil melangkah kakinya ke arah kamar, tapi tiba-tiba handphone mas Herman berbunyi, seketika aku lihat mas Herman berhenti dan mengeluarkan HP nya lalu berdiri sebentar untuk melihat, tanpa membalas pesan itu mas Herman langsung masuk ke kamar.
Setelah mas Herman masuk kamar, segera saja aku mengambil HP ku dan membuka aplikasi chat, disitu aku melihat percakapan mas Herman dengan Fina yang barusan saja mengirimkan chat nya yang berisi dia meminta uang terus saja, ku perhatikan isi chat tersebut dan menunggu jawaban mas Herman.
( Fina : sayang, kamu kangen gak sama aku?.
Aku kangen banget tapi aku lagi gak punya uang nih, pusing banget ngerjain skripsi,
seminggu lagi aku aku sidang terus habis sidang, kita langsung ke labuan bajo ya, kamu kan udah janji mas).
( Herman : ia kamu lama banget berarti pulang kesini nya ya, padahal aku kangen berat, kangen goyangan kamu juga, untungnya hari ini aku lelah yaudah besok mas transfer ya, mas capek banget soalnya, tapi kirim dulu foto seksi kamu ).
( Fina : mengirim gambar )
Geram rasanya hati ini, menjijikan mereka apalagi si ulet keket ini, ya tuhan segitu hina nya dia demi uang receh, ampe mau foto kaya gitu dadanya keliatan, maki ku dalam HP.
" Kamu gak bakalan dapat apa pun lagi Fina dari si da'jul itu, liat saja nanti," gumamku.
Sepuluh menit kemudian aku langsung naik saja ke kamar, dan ku lihat benar saja mas Herman sedang tidur bahkan sambil mendengkur.
Tidur ya mas, kalo bisa sampai siang, biar gak usah kerja sekalian dan kamu di pecat jadi gembel, hidup sama cewek matre itu, gumamku dalam hati.
Tanpa membuang waktu aku langsung saja mengambil HP mas Herman dengan meletakkan jari di finger print HP itu supaya kuncinya terbuka, karena aku gak tau password nya apa? setelah terbuka HP nya aku langsung saja membuka mobile banking mas Herman dan betapa beruntungnya aku m bangking nya bisa di buka oleh finger print tangan mas Herman juga, setelah terbuka ku lihat ternyata tabungan mas Herman ada sekitar 50 jutaan lebih, banyak juga tabungannya kan, sebulan gajinya hanya 4 juta kata dia, aku jadi bingung ku mulai membuka mutasi dan mataku terbelalak ternyata selama ini dia membohongi ku, seketika air mataku keluar begitu saja. Ternyata gaji mas Herman selama ini sama denganku sebanyak 7 juta dan setiap 6 bulan sekali dia selalu mendapatkan sertifikasi, dan kulihat beberapa bulan ini tak ada kiriman ke no rekening ibunya, dengan tangan terkepal dan menahan amarah aku langsung aja memindahkan semua uang mas Herman di rekeningnya ke rekening teman ku Sera dan hanya menyisakan uang 50 ribu saja di rekening mas Herman, dan menghapus jejak transaksi itu di semua HP nya termasuk pemberitahuan SMS dan Email, lihat mas ini baru awal pembalasan ku, akan jauh lebih menyakitkan untuk kalian berdua.
Setelah urusan uang mas Herman selesai langsung saja aku mengambil surat-surat berharga seperti sertifikat rumah ini, BPKB dan STNK mobil mas Herman, akan aku ubah sertifikat rumah ini menjadi atas nama mamah ku supaya dia tidak menggungat harta Gono gini dan akan aku buat mobil mas Herman hilang padahal akan ku jual. Aku langsung saja menelpon Sera untuk menjual juga semua barang pelakor kecil itu.
" Halo, assalamu'alaikum Sera , lu dimana Bestie? jadikan kesini kita kan mau jualan ini!" ucapku saat ada di luar kamar.
" Ia ni lagi di jalan masuk komplek lu bentar lagi ya, lu siap-siap aja, sama keluarin barang barang nya," ucap Sera.
Langsung aja aku turun ke bawah memanggil si bibi, untuk membantuku mengeluarkan barang-barang si pelakor itu karena lumayan cukup banyak banget.
" Bibi bantuin aku yuk bawain barangnya Fina ke bawah bentar lagi Sera mau datang," ucapku pada bibi.
" Tuan gimana non?" tanya bibi.
" Tuan udah ngorok bi, gak bakalan bangun, dia tadi kayanya obat tidurnya kebanyakan dah kelebihan dosis kayanya hehehehe," ucapku lagi sambil ke atas bersama bibi menuju gudang.
Setelah semua barang berhasil aku keluarkan bersama bibi, Sera pun datang dan langsung mengambil barang-barang itu untuk di masukan ke dalam mobilnya, dan aku pun ikut membantunya, habis itu kita berdua langsung aja pergi ke butik temannya Sera yang menjual berbagai macam barang-barang branded, baik itu baru maupun bekas dengan harga pasaran.
Saat sampai aku sedikit takjub dengan toko ini, di desain dengan gaya mewah tapi tetap mengusungnya dengan elegan, dan kami pun langsung menemui sang pemilik toko tersebut untuk menjual barang barang Fina seperti tas, sepatu, jam tangan, dengan total semuanya ada 17 buah.
" Selamat malam Bu Marni, maaf nih malam- malam mampir ganggu gak Bu?" ucap Sera saat kami sedang di toko Bu Marni. Dan kebetulan karena hari sudah menjelang malam dan toko Bu Marni pun akan tutup mangkanya toko sepi pengunjung dan tidak menggangu aktifitas aku dan Sera.
" Gak ganggu kok, malahan saya seneng banget loh dapat barang-barang bagus kaya gini, tapi harganya lumayan lah," ucap Bu Marni.
" Ini barang-barang punya sodara nya Nissa Bu, temannya Sera, tapi dia jadi pelakor di rumah tangga nya, dia selingkuh sama suaminya jadi kita itu mau ngasih pelajaran sama tuh ulet keket Bu," jelas Sera panjang kali lebar.
" Ia Bu saya gak ikhlas, saya kerja keras, suami saya malah selingkuh sama sepupu saya sendiri, padahal saya yang nampung dia di rumah Bu," jelas ku lagi.
" Ia aku tau rasanya nak Nissa, karena ibu juga korban perselingkuhan suami ibu, tapi kamu tenang saja, tuhan itu tidak tidur! akan ada balasan bagi siapa yang melakukan kejahatan, dia pasti akan menuai keburukan pula! percaya saja, tapi kamu juga jangan mau di injak-injak. Saya setuju sekali sama tindakan kamu ini, dan untuk pembayaran akan saya transfer sekarang sesuai dengan harga yang sudah kita sepakati ya!" ucap Bu Marni.
Dan seketika HP ku pun berbunyi menandakan ada notifikasi yang masuk, setelah itu aku pun membuka HP dan melihat Alhamdulillah uang hasil penjualan tas Fina sebanyak seratus juta lebih sudah masuk ke rekening ku.
" Alhamdulillah uangnya sudah masuk Bu, terima kasih banyak ya Bu," ucapku dan aku hanya melihat Bu Marni menganggukan kepalanya dan tersenyum ke arahku.
" Yaudah Bu, karena ini sudah malam juga, kita berdua pamit pulang ya Bu kami karena harus kerja besok," ucap Sera mengalihkan perhatian ku dan kami berdua pun berdua pamit pulang, setelah di luar toko yang besar milik ibu kami pun langsung masuk ke mobil untuk pulang.
" Oh ia Nis bentar, gue transfer aja sekarang uang lu, ntar gue takutnya lupa.....tuh udah masuk ya?" ucap Sera.
" Ia Ok." jawabku sambil mengangkat jempolku.
Dan setelah itu kami pun langsung pulang. Sera mengantarkan aku dulu pulang, kemudian dia langsung pulang kerumahnya tanpa mampir.
Esok paginya saat subuh aku pun langsung bangun dan melihat mas Herman masih saja tidur dengan pulas ya sengaja tidak aku bangunkan, karena aku ingin memakai mobilnya hari ini, kebetulan hari ini mobilku masih di basemant kantor, biarin saja dia naik ojek, ucapku dalam hati.
Setelah bersiap-siap dan menyiapkan sarapan untukku dan mas Herman aku pun langsung menulis memo di kaca meja rias dengan tulisan yang besar! agar mas Herman dapat jelas membacanya. Aku yakin mas Herman gak rabun, masa selingkuh sama si Fina yang cantikan aku ke mana-mana. Langsung saja aku berangkat menuju ke kantor pengacara yang sebelumnya aku sudah membuat janji waktu kemarin, dan aku meminta izin ke pak Roy untuk datang terlambat.
Setelah sampai di gedung Firma, wah lumayan juga kantornya bagus sekali, tapi masih bagusan tempat kerja ku, batinku sedikit sombong.
" Selamat siang, bisa saya bertemu dengan pak David? saya sudah membuat janji dengan beliau," ucap ku saat bertemu dengan resepsionis gedung.
" Baik, atas nama siapa Bu?" tanya wanita cantik itu yang bernama Jennie yang terlihat dari name card nya.
" Saya Nissa "
" Tunggu sebentar ya Bu, dan silahkan duduk dulu," ucapnya ramah.
Setelah aku menunggu beberapa menit pak David pun bergegas bertemu denganku dan membawa kami keruangan nya di lantai 2.
" Maaf pak, saya kesini ingin mengajukan penggugatan cerai dengan suami saya, ini berkas nya, pa," ucapku sambil menyerahkan berkas yang aku bawa didalam amplop coklat yang besar.
" Dan pak, saya mau tanya tentang harta berdua itu bagaimana ya pak? apakah bisa menjadi milik saya semua pak?" tanyaku.
" Sebelumnya apa kah ada surat perjanjian secara tertulis pra nikah Bu?" tanya pak David.
" Tidak ada pak." jawabku.
" Untuk harta bersama semuanya itu termasuk dalam harta Gono gini harus di bagi dua. Kecuali, atas persetujuan suami ibu menyerahkan seluruh hartanya kepada ibu secara tertulis dan ada tanda tangannya suami ibu." Ucap pak David panjang lebar.
" Apakah ada aset atas nama suami ibu?" tanya pak David kembali.
" Tidak ada pak semua aset yang kami punya semua atas nama saya," jawabku.
" Kalo begitu satu-satu nya jalan ibu, harus mengubah kepemilikan semua aset ibu atas nama orang terdekat ibu, misalnya keluarga ibu atau anak ibu, karena jika aset atas nama orang lain tidak akan bisa di ganggu gugat." jelas pak David.
" Baiklah apakah bapak bisa mengubah sekalian pak?" tanyaku .
" Bisa, saya hanya perlu surat kuasa ibu yang ibu tanda tangani dan berkas nya Bu," ucap pak David.
" Baik pak, besok saya akan kembali sambil membawa berkas dan persyaratannya, sebelumnya makasih ya pak, atas bantuannya." Ucapku sangat berterima kasih.
Setelah urusanku selesai dengan pak David aku pun langsung pamit dan kembali ke kantor, karena pekerjaan ku banyak yang harus aku kerjakan sebelum liburan panjang ku.
Saat tiba di ruangan ku, Ada masuk chat di aplikasi dan ku bacanya langsung yang ternyata mas Herman menghubungi ku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments