Ngerjain Fina sungguh sangat menyenangkan, sedikit mengobati rasa sakit hatiku kepada dua manusia ini, bahkan tadi aku tak melihat mas Herman memperhatikan Fina, dia pasti lebih mikirin masalah mobil yang di bawa sama aya. Sekarang lebih baik aku chat ibu dulu.
"Mah aku nanti bawa mobil mas Herman ke rumah ya, kalo mas Herman nanyain bilang aja mobil mau di minta bapak, aku kerumah sekarang mah aku mau cerita banyak mah" tulis ku di chat aplikasi warna hijau itu yang baru terkirim centang dua tapi belom di baca, biarlah nanti saja aku langsung berangkat.
"Kenapa Fina? kamu capek!"
"Ya capek lah mba, pake tanya lagi"
"Lah kenapa jadi sensi, orang saya tanya baik baik."
"Udah ya mba aku gak kuat mba lagian rumah Segede ini di pel sama aku sendirian doank tepar aku bisa-bisa," keluh Fina.
Itu memang tujuanku Fina, untuk membuat badan kamu jadi remuk, batinku.
"Ya udah istirahat sana, gak usah di terusin lagi, tapi beresin itu tempat pel nya, saya mau siap-siap pulang ke rumah mamah, kamu mau keluar gak hari ini?" tanyaku.
"Enggak mba, aku mau tidur aja seharian di kamar"
"Kalau mau keluar kunci pintunya!" pintaku.
aku pun langsung naik ke atas ke kamarku untuk bebersih dan mempersiapkan diri, tak lupa mengunci semua laci, lemari dan kotak kotak penting lainnya, dan membawa berkas berkas aset ku, baik itu rumah mau pun tempat usaha yang mas Herman tidak pernah tahu yang sudah di balik nama atas nama mamah, supaya lelaki itu tidak nuntut harta bersama, setelah semuanya rapih dan aku yakin tidak ada yang tertinggal aku pun bergegas keluar dari kamar, tapi saat aku ingin turun tiba-tiba ada telepon dari pengacara yang mengurus perceraian ku.
[ Halo selamat siang Bu Nissa ]
[ Siang pak Danu, ia gimana pak kelanjutannya masalah proses perceraian? ] tanyaku.
[ Ia Bu berkas sudah masuk dan dalam waktu 1 Minggu sudah bisa di kirim suratnya dari pengadilan bu ]
[ Baik pak, terimakasih banyak atas bantuannya ya pak ]
[ Ia sama-sama bu, selamat siang ]
Akhirnya berkasnya sudah masuk, walau Terluka di Mata Hatiku ini tapi aku harus kuat demi masa depanku, untuk apa bertahan dengan suami yang banyak tingkah macam dia, batinku.
Aku pun lanjut pergi keluar rumah dan langsung menuju rumah ibu yang letaknya tidak cukup jauh dari rumahku hanya butuh waktu setengah jam saja, apalagi sekarang sudah melewati jam masuk kantor jadi semoga tidak macet. Setelah sampai di rumah aku pun langsung saja masuk ke dalam dan kulihat sepi sekali apa mamah sedang keluar batinku.
"Assalamu'alaikum Mah........ Mamah dimana?" ucapku sedikit teriak."
"Wa alaikum salam Nissa, tumben kamu kesini, gak kerja kamu Nis?" tanya Mamahku, aku dan mamah pun duduk di ruang tamu, dan saat itu pun ada bi Jum yang menghampiri kami berdua.
"Eh ada Non Nissa, bibi bikinkan minum ya Non sebentar," ucap bibi.
"Ia bi makasih," sautku dengan senyum ke bibi.
"Aku lagi cuti, aku mau cerita sama mamah," ucapku manja sambil memeluk mamah seolah memberi kekuatan dalam dadaku yang begitu sesak ini.
"Kenapa sayang? muka kamu murung ada apa? ada masalah?"
"Ia aku mau bercerai sama mas Herman mah"
"Apa.....? Jangan bercanda Nak, kenapa bercerai Nis, kalian ada masalah bicarakan baik-baik saja dulu," ucap Mamah sedikit kaget lalu melepaskan pelukan kami.
"Gak bisa di bicarakan lagi, dia sudah banyak berbohong sama aku, apalagi dia sudah selingkuh Mah, dan Mamah tau dia selingkuh dengan siapa, sama Fina Mah, sepupu yang gak punya otak, gak punya malu, padahal selama ini keluarganya aku bantu, dia bahkan tinggal di rumahku gratis, makannya juga aku yang tanggung," ucapku sambil menangis di depan Mamah.
"Fina anak Bu Mayang yang sekarang tinggal di rumah kamu itu, udah mamah bilang berapa kali jangan di kasih izin nak membawa wanita lain kerumah tangga kamu, walaupun itu saudara sendiri, bakalan jadi bumerang untukmu Nak, dan ternyata benar kan apa yang dikhawatirkan sama Mamah.
"Sekarang keputusan ada di tangan kamu Nak, mamah bakal mendukung semua apa yang akan kamu lakukan, tapi jangan beritahu ayah dulu ya, biar nanti kita bicarakan setelah ayah kamu di rumah." Ucap Mamahku.
"Ia Mah hari ini aku tidur disini mah, di rumah ada mereka berdua, melihat mereka saja membuat hatiku semakin sakit Mah."
"Kalau mereka berdua di tinggalin bareng keenakan dong, bisa berbuat zina terus mereka!"
"Sudah Mah...... Mereka sudah ngelakuin itu, aku bahkan sudah punya bukti dan Videonya"
"Terus kamu tinggalin aja mereka berdua untuk semena-mena di rumah mu sekarang Gitu....! jangan ngaco kamu Nis, rumah kamu di jadikan tempat maksiat, kamu mau apa....? pokoknya Mamah gak mau tau kamu pulang hadapi mereka jangan pernah gunakan lagi rumah itu jadi tempat maksiat kalau perlu kamu jual rumah itu sekarang."
"Ia mah, seminggu lagi surat pengadilan keluar Mah, aku akan mengusir mereka berdua, Tar sore aku pulang Mah," ucapku.
................
POV Fina
"Jam berapa ini siang banget kayanya lapar" ucapku sambil Ku lihat jam tangan da di dinding. Mataku membola ternyata sudah jam 3 sore pantas aja perutku lapar, batinku. Segera saja aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebentar, setelah dari kamar mandi aku langsung menuju ke dapur melihat di meja makan tidak ada makanan, di kulkas kosong," apa-apaan ini mba Nissa pergi ke rumah Tante tanpa ninggalin makanan cuma Air minum doang," ucapku kesal langsung saja aku mengambil HP untuk menelpon mas Herman karena satu jam lagi mas Herman akan segera pulang.
( Halo sayang kapan kamu pulang?)
( Kaya biasa sayang emang kenapa? Nissa gak ada di rumah kan? Bentar lagi aku pulang tunggu mas ya! )
( Ia mas cepetan pulang....! Sekalian beli makanan ya aku lapar, soalnya di rumah gak ada makanan sedikit pun, mba Nissa kayanya sengaja deh )
( Ya sudah biarin aja si Nissa, mas juga Gedeg sama dia mobil mas malah di ambil, nanti mas beliin makanan yang enak buat kamu ya tunggu mas pulang )
Telepon pun langsung di tutup oleh mas Herman, dan aku pun tidak ada kegiatan apapun.
Hm...... mumpung mba Nissa gak da di rumah aku mau keliling rumah ini, aku mau ke kamar mba Nissa deh.
Aku pun langsung naik ke atas ke kamarnya mba Nissa, tapi pas aku sampai ternyata pintunya ke kunci, sialan si Nissa pake di kunci segala sih, niat banget, kalo mau pergi sekalian aja pergi, gak usah balik lagi ke rumah ini, batinku. Karena tidak bisa membuka pintu kamar mba Nissa aku pun berjalan ke luar balkon di lantai dua melihat pemandangan sekitar.
"Bagus banget rumah ini mewah, beda banget sama punya mamah, gak sabar buat nempatin rumah ini terus tendang si Nissa, apa aku cepetin aja ya nikah sama mas Herman? biar si Nissa gak belagu dan bisa ku tendang jauh-jauh, aku jadi gak sabar," ucapku sambil senyum-senyum.
Gak terasa sudah setengah jam aku diam di balkon sambil menikmati angin sepoy-sepoy, damainya hatiku.
"Fina sayang kamu di mana?" teriak Herman di bawah.
"Mas Herman udah datang" ucapku.
"Ia mas aku di atas, ke sini naik mas!" pintaku saat aku melihat mas Herman di ruang keluarga, laki-laki ku itu memang tampan, beruntung aku bisa memiliki mas Herman.
"Kamu lagi ngapain sayang ada di atas?" tanya mas Herman yang langsung naik ke atas, aku pun langsung memeluknya seperti melepas semua rasa lelah akibat kerja rodi yang di suruh mba Nissa tadi pagi.
"Mas aku pengen masuk ke kamarmu sama mba Nissa mas, tapi di kunci sama dia, kamu punya kunci cadangan kan mas?"
"Di kunci? ngapain dia pake kunci segala sih? ya sudah aku ambil dulu cadangan nya ya" mas Herman pun pergi ke ruang kerjanya di sebelah kamar mas Herman dan mba Nissa, tanpa menunggu lama dia pun langsung membuka kamar itu dan kami pun masuk berdua.
"Mas kamar ini bagus sekali, mewah, luas banget, beda sama kamar aku di bawah, aku mau tidur disini mas!" rengek ku.
"Tar ya sayang kalo aku udah nikahin kamu, aku bakalan bawa kamu ke sini dan kita tidur nya di kamar ini"
"Ya sudah mas kita nikah aja besok" ucapku.
"Sabar sayang, mas lagi urus penghulunya dan kamu mau minta mahar kan, besok kita belanja ya, mas akan izin kerja setengah hari."
"Sungguh mas! makasih sayang," ucapku sambil langsung memeluknya erat.
"Mas, aku mau lihat lemarinya kak Nissa dong, pengen tau baju nya kaya gimana?"
"Boleh buka aja sayang, mas mau mandi dulu ya bersih-bersih."
Aku hanya menganggukan kepalaku, ketika aku buka lemari mba Nissa ku lihat bajunya mba Nissa sangat biasa saja tapi ada satu yang menjadi incaran ku, koleksi tas mba Nissa, ada satu tas yang sangat ingin aku punya tas merk branded, tas kecil ini harganya bisa nyampe 20 jutaan bagus banget, ku ambil saja tas ini dan akan aku bawa ke bawah sebagai koleksi ku, ada brangkas di lemarinya mba Nissa tapi aku gak bisa membukanya susah sekali, pake di kunci segala, batinku.
Sambil menunggu mas Herman selesai mandi aku bersantai di kursi yang ada di kamar sambil asik menonton TV dan memegang tas yang lucu ini.
Sepuluh menit kemudian mas Herman pun selesai mandi dan sudah lengkap memakai baju santai juga.
"Sayang Ayo makan!"
"Ayo mas"
"Tunggu dulu itu tas Nissa kan? taruh lagi aja itu tas kesayangan dia, tar jadi masalah lagi!"
"Gak mau, aku mau tas ini, mas ini tuh tas lucu, mahal lagi harganya, kalo mba Nissa nanyain, bilang aja ilang."
"Ya sudah terserah kamu aja"
Saat sudah di bawah, aku pun langsung ke kamar ku untuk menaruh tas kecil ini di kasur, setelah itu aku bergegas kembali ke dapur untuk makan malam bersama mas Herman dan aku lihat mas Herman sudah menyiapkan makanan di meja makan lengkap dengan piring dan minumnya, benar-benar suami idaman yang dapat di andalkan.
"Enak sekali mas wanginya harum"
"Ayo kita makan sayang"
Kami pun makan dalam diam, setelah makan kami berdua langsung pindah ke ruang keluarga untuk menonton TV tanpa membereskan meja makan yang berantakan.
Saat sedang menonton TV kami memutuskan untuk mencari film romance yang ada adegan kissing nya, seketika itu mas Herman langsung saja membelai paha ku yang hanya memakai celana pendek, lalu tangannya meraba ke dalam baju ku, terjadilah pergulatan kami di depan Televisi yang sedang menyala.
..............
POV Nissa
Aku memikirkan apa yang di katakan ibuku tadi, benar kalau aku meninggalkan mereka berdua di rumah mereka bakalan ke enakan, ini sudah jam setengah 4 lebih, berarti mas Herman sebentar lagi akan sampai rumah atau udah sampai rumah. Segera saja aku mengambil kunci mobil dan tak lupa untuk pamitan ke Mamah.
"Mah aku pulang dulu ya Mah "
"Ia sayang hati hati ya"
"Ia Mah Assalamu'alaikum" ucapku langsung keluar rumah dan menaiki mobilku.
Tak menunggu waktu lama karena jarak rumah mamah ke rumahku cukup dekat dan beruntung aku tidak terjebak macet. Saat aku sedang mengendarai mobil aku pun melihat HP ku yang langsung tersambung ke CCTV yang ada di rumah, mataku pun Membola saat ku lihat mas Herman sedang duduk berdua di ruang TV tapi mereka sedang Kissiing berdua, melihat itu aku pun segera mengebut kendaraan ku.
Saat sudah sampai di komplek perumahanku sengaja mobil ku parkir di pinggir jalan agar tidak terdengar oleh manusia da'jul berdua itu kalau aku sudah datang ke rumah, aku pun melihat lagi HP ku dan mereka mulai melepaskan baju mereka satu persatu, aku pun langsung saja menelpon RT setempat untuk melaporkan kegiatan perzinahan di rumahku, dan untungnya ada pak Satpam komplek 2 orang lewat yang sedang keliling langsung saja aku panggil dan tak lupa aku mengetuk pintu tetangga Bu Rumi untuk ku jadikan saksi juga dan meminta Bu Rumi untuk mem Video kan aktivitas mereka berdua dan penggerebekan mereka.
Kami pun masuk bersama dan ku lihat mas Herman dan Fina yang sedang asik main kuda kuda-an di kursi, tanpa sehelai benang pun di tubuhnya dan kami kaget dengan mata terbelalak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Sukliang
udah pelakor tukang maling pula
2023-07-07
1
Uthie
Wahhh...bagus banget itu, biar sama2 hancur tuhhh Manusia gak tau diri itu 👍😏
2023-07-02
1