POV Fina
"Ahhhh sial, kenapa semuanya jadi seperti ini sih, tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Hidupku kini melarat, menderita dan diusir di mana-mana. Mana si Om sekarang sudah gak ngebelain aku lagi, mas Herman sudah gak bisa kukendalikan lagi seperti dulu. Sial.... Sial....," batinku.
Apa yang harus aku lakukan ya sekarang? Aku gak bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa beli apa-apa yang kuinginkan dan Aku gak sanggup jika harus hidup miskin. Mana rumah kontrakan kecil banget juga panas, gak kaya rumah Mamah dan mba Nissa dulu. Apes banget sih aku.
"Mah, cari solusi dong. Mamah ngomong lagi sama om Dito biar mba Nissa mau memperkerjakan aku jadi Manajer di restoran nya, kemudian selanjutnya kita bisa kembali ke rumah itu lagi Mah."
"Iya Mamah tau, tapi kalau mas Dito sudah berucap seperti itu, susah Fin buat ngerubahnya, susah buat ngerayu dia lagi. Lagian kamu sih pake kepergok segala sama si Herman, begok banget kalian berdua ini, Rumah si Nissa belum dapat, tapi sudah ketahuan, Kamu juga kalau punya mulut harusnya bisa dijaga dan kalau mau ngomong itu saring dulu, jangan main asal jeblak aja, dipikir dulu. Mau minta kerjaan kok ngomongnya ngawur kaya gitu, jadi orang tuanya ngamuk lah, anaknya kamu hina-hina kaya gitu."
"Ya, aku kan bicara fakta saja Mah, kenyataan nya emang kaya gitu, sudah mau 2 tahun malah, Tapi mba Nissa belum hamil-hamil juga kan."
"Belum dikasih aja kali, Fin. Lagian nih ya, gara-gara kamu ketahuan sama si Herman, hidup Mamah ikut kena imbasnya, jadi ikutan susah dan belangsak juga. Jatah Mamah dari Nissa dihapus sama dia, belum jatah dari mas Dito juga yang biasanya dikasih 5 juta sekarang cuma dikasih sejuta Nis. Kamu bayangin Mamah sebulan sekarang cuma pegang uang sejuta, sedangkan kamu sama si Herman gak bisa Mamah andelin, kalian berdua gak ada yang kasih Mamah uang sama sekali."
"Ya makanya mamah harus bujuk terus Om Dito, biar aku bisa kerja di restoran mba Nisa yang super gede itu. Kalau aku bisa jadi manajernya, aku bakalan kasih mamah uang juga setiap bulannya. Pokoknya aku gak mau tau ya mah. Mamah harus bujuk Om Dito titik. Dia kakak mamah, masa tega ngebiarin adiknya sendiri susah kaya gini," ucapku sambil mengumpat.
Kami masih berada di taksi online. Aku melihat sopir taksi hanya memandang kami dengan wajah datar, tapi sesekali melirik ke arah kami. Perjalanan kali ini terasa sangat lambat. Aku ingin segera sampai rumah dan menunggu mas Herman pulang untuk pindah ke rumah ibunya. Setidaknya di rumah mertuaku lebih nyaman dari pada rumah ini, batinku.
Sesampainya di rumah, hari sudah menjelang sore, dan sebentar lagi waktunya mas Herman pulang. Aku harus mengambil hati mas Herman kembali seperti dulu. Sepertinya aku harus mencoba untuk ngerayu dia lagi dan berpura-pura menjadi istri yang baik agar dia kembali luluh. Aku akan menyiapkan makan malam dulu saja buat dia, biarpun mas Herman pelit sekarang dan hanya bisa memberikan uang 2 juta rupiah untuk makan kami sebulan, tapi aku masih belum bisa meninggalkan mas Herman seutuhnya. Karena mas Beni belum bisa memberikan aku rumah, aku pun segera ke dapur untuk menyiapkan makan malam karena rumah pun sudah bersih setiap harinya dibersihkan oleh Mamah.
Tok... Tok... Tok...
Aku mendengar bunyi ketukan pintu, sengaja aku mengunci pintu agar aku bisa mendengar jika ada yang datang, agar aku bisa menyambutnya ketika mas Herman pulang. Dan benar saja yang datang ini adalah mas Herman. Aku pun langsung mencium tangannya dan mengambil tas kerjanya. Setelah itu, langsung ku taruh tas kerja mas Herman di kamar kita berdua. Lalu aku pun langsung membuatkan teh manis kesukaan mas Herman. Saat melakukan semua itu, mas Herman hanya terdiam bengong, sampai tak tahu ia harus mengatakan apa.
"Kamu kenapa Fin kesambet ya?" ucap mas Herman heran.
"Apaan sih mas, kok ngomong gitu?"
"Ya enggak, heran saja sama kelakuan kamu hari ini, tumben amat biasanya juga kamu masa bodo sama aku."
"Ya enggak mas. Aku sudah sadar bahwa aku kan sekarang sudah jadi istri kamu jadi aku harus melayani mu benar-benar, aku ingin sekali berubah menjadi yang lebih baik."
"Ya, semoga saja kamu beneran berubah, bukan karena ada maunya kan?"
"Ya enggak lah mas. Kamu kan suami aku sekarang. Hal yang ingin banget aku wujudkan dari dulu."
"Mas mandi dulu mau bebersih, nanti kita makan malam bareng ya mas, sama ada hal yang ingin aku ceritakan tentang mba Nissa."
"Nissa? Kenapa dia?" ucapan Herman penasaran. Bisa kulihat matanya langsung menatap ke arahku.
Apa mas Herman berencana kembali lagi ke mba Nissa? Sebenarnya gak apa-apa sih kalau dia balik lagi sama mba Nissa, malah bagus banget menurut aku.
"Entar aja habis makan kita baru ngobrol." Mas Herman pun tak menjawab ucapan ku kembali, karena dia langsung pergi ke kamar mengambil peralatan mandi dan baju untuk mandi di kamar mandi belakang dekat dapur.
Setelah selesai berbenah dan menyiapkan makan malam, mas Herman langsung keluar kamar dan menghampiri kami berdua untuk duduk di meja makan. Kami pun makan dalam diam dan hanya ada bunyi sendok saja. Setelah menyelesaikan makan malam, mas Herman langsung ke depan ke ruangan TV yang dijadikan satu dengan ruang tamu.
Beginilah keadaan aku sekarang. Makan seadanya, rumah pun sempit, uang dari mas Beni pun tidak bisa aku gunakan semuanya karena kartu kreditnya ada limitnya, hanya bisa berbelanja keinginan ku saja. Aku pun segera membereskan piring bekas makan kami tadi dan langsung mencucinya agar tidak menumpuk di wastafel.
Saat kami semua sudah berkumpul di ruang depan, aku langsung duduk di sebelah mas Herman.
"Mas, selama kamu nikah, apa kamu tau tentang harta nya mba Nissa mas?" ucapku langsung to the poin.
"Harta Nissa maksudnya? Setahu aku Nissa hanya mempunyai gaji yang besar dulu dan rumah yang kami tempati itu adalah rumah orang tuanya."
"Mas, apa kamu gak heran dari mana mba Nissa bisa membelikan kamu mobil cash walaupun bekas dan bisa memenuhi kebutuhan rumah? Kadang-kadang memenuhi apa yang kamu minta selama hampir 2 tahun ini mas? Ya....walaupun kamu mintanya gak pernah banyak sih."
"Ya, saya bilang gaji Nissa itu besar, hampir 8 juta per bulan dan dia malah naik jabatannya menjadi Direktur Keuangan di Perusahaan tempatnya bekerja sekarang," ujar seseorang dalam percakapan itu.
"Dari mana kamu tahu?" tanya ku lagi.
"Sekarang aku satu kantor dengan Nissa, tetapi jabatannya jauh lebih tinggi dari pada aku yang hanya seorang Staf biasa saja," jawabnya.
"Kamu tidak menyalahkan aku karena berpisah dari mba Nissa kan mas?" tanya ku lagi.
"Awalnya aku menyesal, tapi Nissa tidak mau kembali kepada aku lagi."jawab Mas Herman.
"Saya yakin bahwa mba Nissa masih mencintaimu mas. Coba rayu dia lagi dan katakan kamu sudah melepaskan aku agar kita bisa hidup bersama lagi dan hidup bergelimang harta seperti dulu lagi mas. Aku tidak ingin hidup terus seperti ini, tidur di rumah yang sempit seperti ini," ucapku sambil merengek dan memegang lengan mas Herman.
"Dia berasal dari keluarga kaya dan menjadi ahli waris kekayaan ibunya Tante Arum yang memiliki kebun sawit yang luas, dan sekarang diwariskan kepadanya. Kamu tidak ingin hidup bersama Nissa lagi seperti dulu, mas? Kamu bisa meminta segala sesuatu yang kamu inginkan, rumah, mobil bahkan makanan enak setiap hari. Kamu tidak perlu bekerja mas. Kita bisa melanjutkan hubungan kita seperti dulu lagi mas," lanjutku.
"Mertua aku sebenarnya sangat kaya dan akan mewariskan kekayaannya pada Nissa. Mengapa kamu tidak memberitahuku, Fin?" kata mas Herman.
"Saya pikir kamu sudah tahu mas," ucap ku.
"Sekarang Nissa semakin kaya setelah menjadi Direktur dan memiliki restoran mewah di Jakarta Selatan. Aku benar-benar mengandalkanmu mas. Bujuk rayumu yang akan bisa kembali bersama Nissa dan kita bisa mendapatkan kekayaannya. Sepertinya sudah terlihat di depan mata kita," ujarku.
"Bagaimana nasibmu, mas? Apakah kamu ingin kembali bersama Nissa demi kepentingan kita semua?" tanyaku.
"Sebenarnya aku ingin kembali bersama Nissa, tetapi bagaimana caranya? Setiap kali dia melihatku, dia melarikan diri," jawab Herman.
"Kamu harus berusaha mas, Janganlah menyerah begitu saja. Jika mba Nissa tidak bisa tertarik padamu, tuntutlah harta tersebut selama kamu menikah dengan dia," pintaku.
"Tapi aku sudah mencoba di persidangan kemarin. Kamu tahu sendiri, aku tidak bisa menuntut. Jika aku tetap memaksanya, aku akan kalah dan bahkan mungkin masuk penjara karena telah berselingkuh denganmu dan tidak memberikan nafkah yang cukup untuknya," ujar Herman dengan lesu.
"Kamu pun berisiko Fin, atas tuntutan yang sama," jelas mas Herman.
"Maksudmu kenapa aku bisa di penjara, apa yang salah padaku?" tanyaku belum faham.
"Kamu yang berselingkuh denganku, dan nafkah yang seharusnya untuk Nissa ku berikan padamu. Pengacara Nissa mempunyai bukti semua ini. Jadi, sebelum persidangan kemarin, pengacara Nissa datang untuk membicarakan masalah ini," jelas Herman.
"Apa?" Teriak Mamahku dengan bernada tinggi.
"Kalian ini seperti anak kecil. Kenapa harus ketahuan? Seharusnya kamu Herman! bisa mengelola kebun sawit milik orang tuamu bersama Nissa karena akan diwariskan padanya, dan Fina bisa mengelola restoran Nissa yang besar itu," tutur Mamahku.
"Aku akan mencoba membuat rayuan lagi kepada Nissa. Aku akan merawatnya dengan sangat baik sehingga dia bisa luluh dan kembali bersama ku. Aku sudah lelah dengan keadaan finansial aku yang kurang memadai, Aku tidak bisa membeli sesuatu yang Aku inginkan atau bahkan bersenang-senang lagi," ujar Herman.
"Kamu harus berhasil mas. Jika perlu, mas mencari pakar untuk membantumu menaklukkan hati seorang wanita. Tetapi, sebelum itu berhasil, kita sebaiknya pindah ke rumah ibumu mas, sehingga kamu bisa dekat dengan ibumu," ucapku lagi
"Maksud mu?" tanya mas Herman dengan sangat kaget sambil menegang dagu nya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Uthie
nyebelin banget mereka 🤨😡
2023-07-03
1