POV HERMAN
"Si Fina itu, sudah tau keuangan lagi kaya gini, malah nyuruh ibunya buat tinggal bareng disini, bukannya aku gak mau nampung tapi nanti malah ngeluarin duit lebih banyak lagi buat ngasih makan ibunya, bener-bener apes aku. Mana besok aku mau kerja hari pertama, cuma berbarengan harus ke pengadilan juga! coba aku telepon Nissa dulu aja dah, kali aja kini dia mau angkat telepon ku," ucapku.
Aku pun mengambil HP yang ku simpan di saku celana ku, ku lihat status Nissa yang sekarang, ia lagi berlibur ke Labuan Bajo, sejenak aku miris, padahal kan aku yang punya rencana terlebih dahulu untuk berlibur kesana bersama Fina, tentu saja memakai uangnya Nissa, karena aku mana mau mengeluarkan uangku sendiri.Tapi lihat sekarang, malah uang tabungan ku yang ilang dan sebaliknya yang liburan malah si Nissa, sedangkan aku sendiri gak di ajak, apes-apes, batinku.
Langsung saja aku menelpon Nissa, tapi tetap saja mau berapa kali pun aku menghubungi dia, tak pernah sekali pun dia mengangkat nya, Biarin saja.
"Sekarang kamu boleh senang-senang Nis, kita lihat saja, setelah perceraian kita dan kamu menjadi janda, apalagi sekarang kamu gak kerja, gak ada yang mau kasih kamu nafkah, mau ngapain kamu? pasti gak bakal ada yang mau sama kamu, lalu kamu akan menjadi beban orang tuamu," ucapku dengan seringai di bibirku.
"Dan kamu juga pasti akan datang lagi sama aku, buat ngemis-ngemis rujuk sama aku dan saat itu gak apa-apa kita akan rujuk tetapi dengan satu syarat rumah kamu jadi milikku dan aku bisa tinggal di rumah itu lagi hahahhaha," ucapku tertawa senang.
"Aku kabulkan sekarang permintaan kamu ini Nis, mau cerai dari aku okeee........ emangnya siapa yang mau sama janda seperti kamu, kaya juga engga, kerja juga enggak, pasti hanya aku saja yang mau Nerima kamu lagi Nis," ucapku ku lagi sambil tertawa senang membayangkan hidup kembali bersama di rumah besar itu.
Aku pun langsung mencari kontak ibu untuk memberitahukan bahwa besok aku tidak akan ke pengadilan jadi biarkan saja biar cerai sekalian, lagian aku sudah mengucapkan talak terhadap Nissa.
[ Halo Bu besok aku gak jadi ke pengadilan Bu, mau kerja hari pertama," ucapku saat sudah tersambung telepon dengan ibuku.
[ Loh kenapa Herman? ini penting sekali, apa kamu yakin mau bercerai dengan Nissa? ibu cuma pengennya Nissa yang jadi mantu ibu! bukan ulet keket itu, kelakuan yang attitude nya nol sekali Herman! ] ucap ibuku sambil membicarakan Fina. Ya aku akui Fina walaupun anak kuliahan tapi tetap saja nol besar, tau lah di kampus dia belajar? apa hanya main-main saja, tapi kenapa dia bisa lulus ya, walaupun lama juga sih kuliahnya.
[ Yudah gak apa-apa Bu, kalau Nissa mau cerai, cerai saja, lagian aku yakin nanti Nissa pasti balik lagi ke aku! secara dia sudah gak kerja lagi, janda lagi, mana ada yang mau sama dia ]
[ Jangan remehkan Nissa Herman! Nissa itu wanita yang cerdas dan mandiri ] ucap ibuku berapi-api menjelaskan.
[ Udah Bu, biarin saja, gak apa apa kok, pokoknya aku gak mau datang ke pengadilan. Sekali pun buang-buang uang dan waktu. Sudah ya Bu aku tutup telponnya. ] ucapku langsung memotong pembicaraan ibuku dan menutup telepon secara sepihak. Ia Nissa memang mandiri, tapi nanti dia juga ngemis- ngemis buat balik lagi, secara kan dia gak kerja lagi sekarang.
"Si Fina kemana sih? dari tadi sepertinya ia di kamar gak keluar-keluar, tuh orang tidur apa pingsan sih di dalam,? Tapi bodo amatlah, mending aku keluar aja cari angin", ucapku sambil menengok ke arah kamar dan melangkah ke pintu depan. Saat aku mau membuka pintu, tiba-tiba saja pintu sudah terbuka dari luar dan kulihat Bu Mayang mertuaku langsung saja nyelonong masuk ke dalam tanpa mengucapkan salam sedikit pun, dia langsung saja duduk di kursi depan.
"Man untung kamu disini, minta tolong man bayarin dulu itu taksi online yang di depan ya, mamah capek banget," ucap mamah mertuaku.
Aku hanya menyipitkan mataku, apa ni orang datang-datang sudah minta duit saja, tekor yang ada aku. Aku pun melangkah keluar menuju taksi online yang sudah menunggu di depan yang sedang menurunkan koper milik mamah mertua ku yang berjumlah 3 koper, banyak juga bawaannya.
"Berapa Pak ongkosnya?" tanyaku ke pak sopir.
"150.000 pak, ini pak barangnya sudah turun semuanya ya pak," ucap pak supir.
Aku pun langsung menyerahkan uang pas yang di sebutkan oleh Pak supir tadi dan hanya memberikan tip 10k karena terlihat kasian Pak supirnya yang capek setelah menurunkan koper-koper besar itu, lalu pak supir pun pamitan dan langsung pergi dari rumah ku, setelah itu aku pun langsung ke dalam rumah, dengan membawa 2 koper milik ibu mertuaku, biarlah yang satunya lagi biar ibu mertuaku yang memasukkan nya sendiri.
"Mah itu koper satu lagi nya masih di luar mah," ucapku.
"Sekalian dong masukin man, Mamah capek tau"
"Capek Mah? kan Mamah datang-datang cuma duduk, di perjalanan pun cuman duduk doang mah" ucapku kesal.
"Ia duduk, tapi itu juga capek man, Mamah lapar nih, ada makanan gak man?" tanya Mamah mertua kelaparan.
Aku pun hanya melihat sekilas ibu mertuaku tanpa menjawab pertanyaan dia, langsung saja aku ke kamar membangunkan Fina untuk mengambil koper ibunya, enak saja anaknya cuma tidur, aku yang harus angkat koper itu semua.
"Fina, bangun!" ucapku sambil menggoyangkan badan fina.
"Kenapa sih mas?" ucap Fina sambil membuka matanya malas.
"Bangun kamu, tuh mamah kamu sudah datang, minta dibawakan masuk kopernya dan juga ibumu minta makan."
"Mamah sudah datang? ya sudah aku keluar sebentar ya " ucap Fina langsung bangun dan menuju ke luar kamar.
Aku pun mengikuti Fina keluar untuk menemui Mamah Mayang, saat aku sampai di ruang tamu, baru saja duduk, Mamah Mayang sedang makan di meja makan yang di sediakan oleh anaknya Fina, aku pun tak menanggapi mereka berdua, aku hanya sibuk dengan HP ku yang melihat status Nissa yang sedang jalan-jalan ke Pulau komodo. Sepertinya senang sekali dia disana, sambil menampakan senyum yang begitu lebar, dan dia sangat terlihat cantik sekali.
Aku tak pernah memperhatikan istriku itu sebelumnya, karena hanya uang, tertutup Mata Hatiku ini, kulihat hanya Nissa seorang yang dengan kesederhanaannya tanpa make up yang menor-menor, berbanding terbalik dengan Fina yang sengaja selalu bermake-up dan memakai baju seksi di depan ku saat tidak ada Nissa di rumah.
"Herman... Mamah minta uang man! kamu punya kan man dua juta saja lah," ucap Bu Mayang yang tiba-tiba menghampiri ku.
"Uang 2 juta buat apa mah?" tanyaku.
"Buat bayar arisan man, di tempat tinggal yang dulu, bulan ini Mamah udah nunggak man, sebelum kesini Mamah tadi sudah di tagih terus," ucapnya.
"Gak ada mah, kan mamah tau sendiri aku sudah gak kerja dan baru besok kerja lagi di tempat yang baru."
"Ya elah man, kamu kan punya tabungan juga pastinya, masa uang dua juta aja gak ada sih? jangan pelit man sama ibu mertua kamu sendiri."
"Enggak pelit mah, emang duit nya gak ada, lagi pula kan selama ini Fina sering minta uang ke Herman minta saja sama Fina Mah.
"Gak ada mas! enak saja, uang ku ya uangku aku gak mau uang aku kasih ke ibu," ucap Fina dari arah meja makan.
"Kamu aja gak mau kasih, gimana aku yang cuma menantu, kamu kan anak kandungnya."
"Sudah........... cukup kalian berdua! kamu man, kamu ini kan menantu saya, kita berdua ini sudah jadi tanggung jawab kamu man, segala kebutuhan kita berdua, kamu yang harus nanggung semua, gimana sih, anak saya itu cantik masih gadis pula lulus kuliahan juga, sebentar lagi kerja dan karirnya juga pasti bagus, gak bakalan kalah sama Nissa, tapi dia tetap mau sama kamu bahkan di suruh tinggal di rumah kontrakan yang kecil kaya begini. Mana...... Janji kamu yang bakalan bawa Fina buat tinggal di rumah Nissa yang mewah itu, Gak bisa kan! malah kamu juga ikutan di usir."
"Mamah ini banyak banget nuntut ya ke saya, Mamah kalau gak terima, sana bawa pergi anak Mamah itu, asal mamah tau gara-gara saya kegoda sama Fina, hilang semua kebahagiaan saya, kemewahan dan hidup senang saya bersama Nissa, asal Mamah tau hidup sama Fina itu rugi sekali, dia tuh gak bisa apa-apa, cuma bisa ngelayanin di ranjang saja..... Kerjaannya ngebantah gak pernah nurut sama suami."
"Maksud kamu apa mas ngomong kaya gitu sama mamah? aku sudah turutin semua mau kamu mas, aku bakalan cari kerja tenang saja, kamu gak usah pusing, tapi tolong pinjemin dulu uang ke Mamah, nanti kalau aku sudah dapat kerjaan terus gajian, aku bakalan ganti mas, udah ya kalian berdua ga usah ribut " ucap Fina menengahi perdebatan.
"Sudahlah Fina,. . mending kamu cari lagi aja sana laki-laki yang jauh lebih kaya dan segala galanya dari si Herman ini, sekarang dia sudah gak bisa apa-apa lagi, sudah bangkrut, ngapain kamu masih bertahan sama dia, mana pelit banget, ngasih uang buat mertuanya aja gak mau."
"Sudah Mah, jangan marah-marah " .ucap Fina menenangkan mamahnya.
"Ya sudah kalau mamah gak suka dengan keadaan ku sekarang, silahkan kalian berdua pergi dari rumah ini, saya juga gak rugi kok kalo di tinggal sama Fina," ucapku kesal dan sedikit berbicara tinggi.
"Sudah mas yah, Mah sudah Mah nanti uangnya Fina Carikan, Mamah istirahat aja di kamar " ucap Fina lagi.
"Urus ibu kamu Fina, jelasin sama ibu kamu aku bukan ATM berjalan kalian, kalau kalian mau aku tanggung jawab terhadap hidup kalian berdua, kalian harus ikuti aturan aku disini, kalo gak mau silahkan pergi dari sini ucapku kesal. Setelah mengatakan itu ke Fina aku pun langsung saja pergi dari rumah ini dan mengendarai motorku entah mau pergi kemana belom aku pikirkan.
Aku benar-benar sial setelah berpisah dari Nissa, ada saja kesialan yang aku dapatkan sekarang, nyesel banget, mendingan aku kerumah ibu untuk mendinginkan otakku yang hampir meledak ini. Sial......sial.......sial........, Batinku.
POV Fina
"Bu ayolah, kerja sama dikit sih Bu sama aku, sekarang keadaan kita lagi mendesak kaya gini, mas Herman sudah gak bisa aku plorotin lagi kaya kemarin -kemarin, ibu harus sabar kalau masih mau tinggal disini Bu."
"Habisnya ibu kesal sekali sama suami kamu itu Fin, lagaknya aja kaya orang kaya tapi kere."
"Ya kan itu sekarang Bu, dia baru di pecat dari kerjaannya, beruntung besok dia sudah bisa mulai bekerja lagi, aku juga mau cari kerja sambil cari cowok lain yang lebih kaya, tapi untuk sementara, kita masih membutuhkan mas Herman buat makan kita sehari-hari dan tempat tinggal Bu."
"Ia kamu benar, ya sudah ibu akan mengalah sekarang, tapi kamu jangan lama-lama, kalau bisa kamu ambil duitnya ,si Herman tanpa sepengetahuan dia Fin, ibu pengen makan enak shopping kaya biasa, ibu yakin uang Herman masih banyak itu."
"Ia Bu, aku juga tau, tar malam pas mas Herman tidur aku bakalan ambil ATM nya mas Herman Bu, nanti ibu minta maaf sama mas Herman ya, ambil hati dia lagi, pokoknya kita harus manfaatin mas Herman sekarang, aku belum ambil uang dia semua soalnya Bu."
"Ia kamu mangkanya harus gesit "
"ia Bu tenang aja serahin semuanya sama Fina Bu, ya sudah ibu istirahat sekarang, aku mau lanjut tidur capek "
"Terserah kamu lah tukang tidur."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments