"Mbak, lauknya ini beneran? kok kaya gini sih, si bibi mana? kok gak keliatan, gak bener banget kerjanya masa majikannya di kasih makanan ginian sih!" ucap Fina kesal sambil memegang tempe goreng dan mengacungkan ke atas, aku hanya diam mendengar omongan tak berfaedah dari Fina, biar nanti ku jelaskan saja sehabis makan karena aku butuh tenaga untuk memberantas tikus kecil ini.
"Kalo kamu gak suka, beli aja sendiri di luar! tinggal makan doang susah banget sih!" jawabku cuek.
"Udah-udah Fina makanlah, ini juga enak, bosen makan daging mulu setiap hari, sekali- kali kita juga harus mencoba makanan seperti ini!" ucap mas Herman menengahi.
"Tapi kan, gak makanan kaya gini juga, aku tuh gak bisa makanan kaya gini!" ucap Fina lagi dengan nada sedikit tinggi.
Aku yang sedang menyendokan makanan dan baru saja mau menyuapkan nasi kedalam mulutku sudah tidak tahan dengan ocehannya, ku gebrak meja dengan kerasnya.
"Kamu Fina! kalo gak mau makan sana beli di luar! jangan ganggu orang mau makan, mending kamu pergi saja sekarang, ngilangin nafsu makan saya aja!" ucapku menyentak Fina dan bisa kulihat Fina langsung kaget dengan bentakan ku barusan.
Aku melihat mas Herman memberi kode untuk Fina supaya diam dan lanjutkan saja makan dan jangan mencari masalah, dan akhirnya Fina pun makan dengan sendirinya. Setelah selesai makan malam tiba-tiba saja Fina berdiri dan ingin kembali ke kamarnya tanpa mengatakan apa pun dan membiarkan piring bekas makanan dia di meja makan .
"Mau kemana kamu Fin?" ucapku masih mode pelan.
"Mau ke kamarku mba, aku capek!" ucap Fina
"Beresin dulu piring kotor kamu, langsung cuci sendiri, jangan asal main kabur aja!"
"Lah kan ada si bibi yang beresin, ngapain harus aku yang ngerjain mba?" ucap Fina
"Gak ada si bibi, dia sudah gak kerja di sini lagi, bibi sudah pulang kampung, jadi kalau kamu masih mau makan dan tinggal disini kamu harus ikutin aturan saya ngerti kamu! kalo gak mau terserah, tinggal keluar saja dari rumah ini," terangku.
"Gak bisa kaya gitu dong mba, aku bukan pembantu disini!" jawab Fina kesal.
"Terus kamu pikir aku pembantu di rumah ku sendiri? kalau kamu gak mau bantu bersihkan rumah ini dan mengurusi rumah ini, silahkan besok kamu angkat kaki dari sini!" ucapku kesal dan sedikit marah.
"Cepat, Cuci bekas makan kamu! "
" Ia mba!" dongkol Fina,
"Awas aja mba setelah mas Herman cerai dari kamu, aku yang akan menendang kamu dari rumah ini liat saja nanti," ucap Fina dalam hati.
Setelah selesai membersihkan tempat makan dan peralatan bekas makan, aku dan mas Herman berpindah duduk keruang nonton TV, sebenarnya aku malas meladeni mas Herman tapi aku tidak mau gegabah dan membuat mas Herman curiga dengan niatku.
"Mas aku lelah, aku ke kamar dulu gak apa-apa kan, seharian ini aku membersihkan rumah sendirian saja."
"Ia Dek, masuklah ke kamar istirahat, mas masih mau nonton TV Dek sebentar lagi."
"Ya sudah mas aku naik dulu ya," ucapku langsung naik ke atas sengaja aku tinggalkan mereka berdua di bawah agar mereka tak curiga.
Aku akan diam-diam memperhatikan mereka, apa yang akan mereka lakukan di rumah ini?
Langsung saja aku masuk ke kamar dan membuka Handphone ku, sehabis itu aku membuka Video CCTV yang langsung tersambung ke HP ku sendiri. Sejauh ini belum ada perkembangan yang berarti mas Herman masih setia dengan TV nya dan Fina masih di kamar belum keluar, apa mereka menunggu ku pules ya? pikirku.
Beberapa menit kemudian aku melihat Fina keluar dari kamarnya dan Astaghfirullah mataku kaget seketika dengan apa yang di gunakan oleh Fina dia memakai lingerie yang sangat-sangat kurang bahan apalagi membuat bagian dada nyembul ke atas, benar-benar si Fina ulet keket kecil itu, apa yang akan mereka lakukan lagi di rumahku, tapi tunggu kenapa si Fina adem ayem ya dia belum tahu apa? barang-barangnya sudah aku jual, ucapku.
Untungnya CCTV ini posisinya pas, kualitasnya pun gak kaleng-kaleng hingga merekam dan menyimpan semuanya dengan jelas. Apa yang mereka katakan pun terdengar sangat jelas jadi aku tau apa yang mereka rencanakan dan bisa aku jadikan bukti setelah gugatan ku nanti selesai.
Dari kamar ku, aku terus memperhatikan mereka.........
"Hay sayang, seksi sekali kamu malam ini, bikin aku kepingin aja, tapi takut Nissa belum tidur, tar aja ya," ucap mas Herman saat melihat Fina menghampiri dirinya lalu tanpa menjawab Fina langsung saja mencium bibir dengan sangat bernafsu.
"Ia sayang aku tunggu di kamarku ya nanti, aku udah mode On banget sayang, oh ia mas kapan kamu akan menceraikan mba Nissa? dan segera nikahin aku mas, aku pengen cepat-cepat nendang dia dari rumah ini," ucap Fina.
Apa??? jadi mereka berniat menikah dan mengusirku dari rumah ini, gak punya otak emang mereka pikir ini rumah siapa? rumah ibu ku! kesal ku, sambil terus mendengarkan pembicaraan ulet keket dan si da'jul itu.
"Emang bisa kita menendang dia dari rumah ini, kamu kan tau ini rumah dia, di kasih sama mamahnya ya palingan masuknya harta bersama sih setahu aku, sayang!" ucap mas Herman menjelaskan sambil tangannya mengelus paha mulus Fina.
"Jadi kalo kalian bercerai akan mendapatkan harta gono-gini gitu mas, ya sudah deh gak apa-apa, yang penting nanti kamu harus segera nikahin aku ya, kalo enggak, kita nikah siri aja dulu mas sebelum kamu cerai sama mba Nissa," pinta Fina.
"Kamu mau nikah siri dulu gak apa apa? aku sih ayo aja!" seru mas Herman.
"Ia gimana kalo seminggu lagi, kita nikah mas di rumah aku," ucap Fina senang.
"Ia nanti mas urus, mas kan juga harus cari alasan ke Nissa dulu nantinya." jawab mas Herman.
"Ya sudah aku pingin maharnya satu perhiasan ya mas tar kita belanja ya besok mas," ucap Fina semangat, mas Herman hanya menganggukan kepalanya saja.
"Ya sudah cepetan kamu ke atas lihat mba Nissa udah tidur apa belum? aku sudah gak tahan mas," goda Fina.
"Ia sayang, mas juga udah gak tahan ya sudah mas ke atas dulu ya, sebentar aku cek keadaan Nissa," ucap mas Herman langsung naik ke atas.
Mas Herman sudah mulai naik ke atas, aku mau pura-pura tidur," ucapku segera saja aku merebahkan diriku di kasur lalu menyelimuti badanku hingga setengah badan.
Herman berjalan mengendap-endap sambil membuka pintu dan melihat Nissa sudah terlelap.
"Yes, dia sudah tidur," batin Mas Herman, langsung saja dia menutup pintu dan langsung turun ke kamar Fina di bawah.
Setelah mengetahui mas Herman menutup pintu kembali langsung saja aku mengambil HP ku kembali dan melihat kejadian apa yang akan di lakukan mereka berdua, sebenarnya aku sudah tau, tapi aku penasaran ya walaupun aku tahu aku pasti akan merasa sakit hati, tapi tetep kekeh aku ingin melihat sebentar.
Fina sedang tiduran di Kasur dengan posisi menantang dan tak lama kemudian mas Herman masuk lalu mereka pun berciuman dengan penuh nafsu, seketika langsung saja air mata ku keluar begitu saja, walaupun aku sudah pernah mergokin mereka melakukan itu tapi hati ini masih terasa sesak dan sakit.
Walau bagaimanapun kami pernah mengalami manis hidup bersama selama dua tahun ini sebelum pelakor itu datang, langsung saja aku mematikan HP ku karena aku sudah tidak kuat melihat apa yang mereka lakukan. Video CCTV ini nantinya yang akan menjadi bukti seperti Video Yang lainnya.
Aku berjanji dalam hatiku yang terluka dan menangis akan aku buat hidup mas Herman menjadi miskin semiskin-miskinnya! aku pun langsung tidur dan tidak memperdulikan lagi apa yang terjadi karena aku butuh tenaga untuk menghadapi manusia da'jul itu besok.
Azan subuh pun berkumandang dan saat ku terbangun aku melihat mas Herman sedang tidur di sebelahku dengan dengkuran halusnya, aku pun segera pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap sholat subuh, setelah sholat subuh aku membangunkan mas Herman, tapi dia tidak kunjung bangun, biar sajalah, biar dia telat sekalian nanti berangkat ke kantornya!
Aku tau hari ini mas Herman gajian mangkanya aku sengaja memakai uang cash yang ada di rumah untuk di berikan ke mas Herman sebagai pegangan dia selama sebulan dan aku juga sudah memperbaiki motor mas Herman yang dulu sering dia pakai untuk ke kantor sebelum dia pakai mobil.
Biarlah dia pakai motor lagi berangkat kerja, biar tau rasa! Langsung saja aku ke dapur untuk menyiapkan sarapan, tapi sebelum membuat sarapan aku mau membangunkan tikus got itu dulu untuk dijadikan pembantu gratisan dirumah ini biar dia tau diri, jam 5 kaya gini dia belum bangun, dasar pemalas!
Kamar Fina tidak di kunci, langsung saja aku membangunkan dengan sedikit kasar, tapi dia tidak bergerak lekas aku membawa air se gayung dan langsung aku siram saja ke mukanya.
Byuuuuurrrrr......
"Banjir-banjir, tolong!" ucap Fina kaget.
"Mba, apa-apaan sih pake nyiram aku segala basah semua kan jadinya!" ucap Fina dengan nada agak tinggi.
"Bangun kamu! cepat ke dapur, kerja, beres- beres rumah, ayo bangun kamu! kalo enggak aku siram lagi seember, mau?" ucapku.
"Apaan sih mba! ini masih pagi aku masih ngantuk mba," ucap Fina membaringkan tubuhnya kembali ke kasur.
Melihat Fina kembali ingin tidur langsung saja aku menghentakkan tangannya dengan sekuat tenaga hingga dia jatuh dari kasur.
"Aw....Mba Nissa sakit tau, penganiayaan ini namanya, mau aku laporkan ke Polisi," ucap Fina.
"Oh mau di laporkan ke Polisi silahkan! asal kamu aku tendang dulu, pergi dulu dari rumah ini sekarang juga, silahkan, aku tidak takut! ayo bangun."
"Ia mba, tunggu sebentar, ia aku bangun, mau jalan ini dikit-dikit, ngancemnya ngusir Mulu!" gerutu Fina.
Dengan langkah santai Fina pun mengikuti aku ke dapur, setelah sampai dapur Fina pun duduk di meja makan dan aku ingin mengambil sapu dan pel untuk di gunakan Fina membersihkan rumah ini.
"Mba Nissa, kok belom ada makanan mba? aku lapar," ucap Fina tidak tau malu.
Aku hanya diam sambil membawa peralatan kebersihan lalu menaruh nya di depan Fina.
"Nih sapu sama pel nya, cucian kamu cuci di mesin cuci, baju kamu tuh semua banyak sama baju mas Herman juga kamu cuci sekalian! aku mau membuat sarapan, lapar kan kamu."
"Yah mba, gak bisa apa makan dulu, kerja kan butuh tenaga juga mba."
"Sudah gak usah protes kamu! cepetan kerjain biar cepet selesai."seruku.
Dengan langkah pelan Fina pun berjalan ke arah ruangan mesin cuci untuk mencuci pakaian dia dan pakaian mas Herman, dia pun memasukan semua pakaian itu ke dalam mesin cuci.
Saat sedang mencuci, Fina baru sadar kenapa baju mas Herman dia cucikan juga bukan istrinya yang mencuci bener-bener nih mba Nissa ngerjain ini pasti, batin Fina.
"Finaaaa...... sini kamu! dari pada berdiri doang kaya patung Pancoran mendingan sapu dulu kamar kamu sama ruang di bawah, habis kelar, baru lanjut nyuci," ucapku saat mendatangi Fina di ruangan tempat nyuci baju.
"Tar aja sih mba habis nyuci, baru aku nyapu, kerjain tuh satu-satu, yang ada tar aku malah tepar dan gempor lagi mba" ucap Fina.
Mana semalem habis di gempur sama mas Herman Ampe jam 3 pagi ini badan remuk banget, ngeselin emang nih si Nissa!" ucap Fina dalam hati.
"Gak ada alasan, ayo cepetan sebentar lagi jam 6 atau kamu gak mau makan hah? nyuci kok lelet banget!"
"Ia ini di kerjain," gerutu Fina yang langsung mengambil sapu.
Aku melihat Fina menyapu seperti orang yang sedang mengepel lantai, bagaimana caranya biar lantai itu bersih dari debu kalo nyapu nya aja modelan kaya gitu, aku menghembuskan nafas kasar langsung saja aku mendatangi Fina ke ruang keluarga dan mendorong badannya tapi dia tidak sampai terjatuh.
"Hei...hei... sepupuku! kerja tuh yang bener kenapa sih kamu ini cuma di suruh bebersih rumah aja ogah-ogahan kaya gitu, itu debu nya berterbangan kemana-mana! bisa nyapu gak sih kamu?" ucapku dengan tangan di pinggang.
"Aku tuh gak pernah nyapu mbak, seumur umur dirumah aku gak pernah di suruh, lah ini mba saudara doang nyuruh-nyuruh aku nyapu, mamahku aja gak pernah nyuruh aku nyapu atau ngerjain pekerjaan rumah tangga," celetuk Fina kesal.
"Ya sudah Sono, pulang saja ke rumah Mak mu sana! emang kamu pikir kamu disini putri? udah numpang gratis, makan tinggal makan, gak mikirin bayar, timbang di mintain tolong beresin rumah aja kaya gitu lu Fin, baru tau ternyata kelakuan kamu minus kaya gini, kalau gak mau, mending pergi saja dari sini, rumah ini bukan hotel atau rumah milik ibu kamu ya? camkan itu!
"Kenapa sih mba sekarang ini hobinya ngomeeeel mulu, perasaan pertama kali kesini mba Nissa baik banget, ketahuan juga kan mbak kelakuan kaya gimana?"
"Kelakuan saya gimana? kalau kamu kurang ajar dan gak tau malu apa saya mesti diam aja! sudah kerjain yang bener, awas aja saya lihat nanti kesini lagi masih asal-asalan, angkat kaki saja langsung pergi dari sini, bawa baju kamu keluar!"
"Aku aduin mamah loh mba, nyuruh-nyuruh aku kaya pembantu."
"Sono aduin, emang lu pikir gue takut apa! terus lu pikir gue harus kerjain semua jadi pembantu di rumah sendiri dan kamu cuma leha-leha, heh tuan putri bangun jangan ngimpi, cepet kerjain!"
"Awas aja mba! ku balas setiap perbuatan kamu ini, dasar wanita mandul gak punya perasaan," ucap Fina dalam hati.
"Lagian mas Herman kemana sih nih? gak turun-turun, kalau ada dia mungkin dia bisa belain aku biar gak ngerjain pekerjaan kaya gini," ucap Fina pelan.
"Haduuhhhh badanku sakit semuanya ini, mana rumah Segede gaban harus di sapu semua, nyesel banget aku pulang kesini." ucap Fina mengeluh
"Fina, tuh cucian sudah selesai, jemur dulu di belakang, habis itu baru lanjut ngepel!" seruku saat melihat Fina sedang duduk-duduk di meja makan.
"Mba aku makan dulu ya, lapar banget capek lagi,"
"Tar nunggu mas Herman bangun biar makan sama-sama, cepetan sana!" ucapku sambil menarik tangan Fina karena masih betah duduk-duduk di meja makan.
Setelah selesai memasak nasi goreng sosis dan menyiapkan minum di meja makan, aku kembali ke atas untuk membangunkan mas Herman karena waktu sudah mau hampir jam 7 pagi, benar sekali mas Herman masih saja tidur di tempat tidurnya, ku goyang-goyang badannya karena tidak juga bangun, aku ambil air segayung dan mengambil air sedikit oleh tangan, untuk ku siram ke muka mas Herman.
Benar saja dia langsung bangun dan mengusap kasar mukanya. Aku pun hanya memandanginya dengan malas.
"Kamu apa-apaan sih Dek! muka mas kok di cipratin air kaya gini?"
"Lagian tidur kok kaya orang mati, di bangunin dari tadi gak bangun-bangun ini udah jam 7 mas, kamu gak kerja?"
"Jam 7....? kenapa kamu gak bangunin dari tadi sih Dek, mas ada meeting penting pagi ini jam 8," ucap mas Herman langsung pergi ke kamar mandi.
Walaupun mas Herman sudah menorehkan luka di Mata Hatiku ini, aku masih melakukan tugasku menyiapkan baju kerja mas Herman dan ku taruh di kasur seperti biasanya. Setelah itu aku pun langsung kembali ke dapur melihat pekerjaan Fina, apakah dia sudah selesai di bawah. Ku lihat Fina masih saja bergelut dengan pakaiannya di jemuran belakang, dasar gadis manja! aku heran apa yang di lihat mas Herman dari cewek kaya gitu, cuma menang itu nya doang kali, padahal mah nol besar dia gak bisa ngapa-ngapain.
Ku lihat Fina sudah selesai menjemur semua pakaiannya dan dia mengambil alat pel yang aku siapkan tadi, tapi karena mas Herman sudah selesai dan mau turun kayanya si Fina harus makan dulu, dari pada ribet urusannya nanti sama selingkuhan nya.
"Fina sudah taro aja tuh pel-an entar lagi, kamu makan dulu," ucapku memanggil Fina.
"Akhirnya siksaan ku berakhir juga."
"Tar makannya tunggu mas Herman turun"
Baru saja Fina duduk dan akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, gak jadi karena mas Herman belum turun, dan Fina pun menjatuhkan kembali sendok nya.
Mas Herman pun turun dan langsung duduk di tempatnya kami pun makan dalam diam tidak ada yang bersuara, karena sudah terbiasa kalo makan di meja makan jangan ada suara dari mulut atau tidak boleh ada yang ngobrol.
"Mas kunci mobil sama STNK kasih aku sekarang, ayahku mau pakai," ucapku saat kami selesai menyantap makanan.
"Loh kan mas juga mau pakai ke kantor Dek, udah telat ini!"
"Justru karena udah telat ini kunci motor kamu yang lama, kunci mobil siniin, mau di pinta bapak buat usaha bapak di tokonya, jadi aku mau kasih mobil itu ke bapak."
"Kok di kasih ke bapak si Dek! itu kan mobil aku dek!"
"Siapa bilang itu mobil kamu, itu kan aku yang beli, mau kamu kita pindah ke kontrakan dan keluar dari rumah ini mas, bapak minta rumah ini di tukar dengan mobil kamu, karena mobil aku sudah aku jual, ngerti kan kamu mas!" ucapku.
"Ya sudah nih kunci sama STNK nya, di mana motornya?"
"Ada di luar sudah aku service, sudah aku siapin, kamu tinggal terima beres aja, dan satu hal lagi mas!"
"Apalagi sih Dek, ini mas udah telat"
"Santai saja sih mas, tar malam aku gak pulang ke rumah, aku mau ke rumah mamah nginep disana, karena ayah kan lagi keluar kota, jadi aku disuruh nemenin mamah."
"Ya sudah, ia Dek," ucap mas Herman langsung berlalu keluar tanpa menoleh lagi pada manusia yang ada di rumah ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Uthie
saatnya jebakan dimulai 👍😏
2023-07-02
2