POV Nissa
Slip gaji ini milik mas Herman, tapi kenapa tulisannya di BUMN? dan bukan di tempat sekolahan. Aku harus meminta penjelasan kepada mas Herman, dan apa-apaan ini! disitu tertera gaji yang mas Herman terima itu adalah 7 juta setiap bulannya," mataku terbelalak melihat slip gaji mas Herman.
Begitu banyak kebohongan yang dia lakukan terhadap ku, tak terasa aku menangis dalam diam sambil memegang dadaku yang terasa sesak sampai ke Mata Hatiku, kurasakan Luka ini. Tidak habis pikir apa kurangnya diriku selama 2 tahun ini? seluruhnya telah aku kasih untuk dia, bahkan aku hanya diam saat dia memberikan nafkah hanya satu juta perbulan, tapi balasan dia seperti ini! tangisku berlinang air mata.
Tanpa menunggu waktu lama dan berlarut-larut aku turun ke bawah, sebelumnya aku hapus air mataku dulu, dan mulai saat ini aku berjanji aku harus jadi wanita yang tegar, tidak boleh aku menangis lagi untuk lelaki benalu seperti dia. Ayok Nissa...! kamu harus kuat Nissa...! jangan lemah..! seruku dalam hati untuk menguatkan diriku sendiri.
Aku pun langsung turun kebawah menuju ke meja makan, dan kulihat mas Herman menuju ke meja makan juga, lalu langsung melihat lauk yang di hidangkan dengan mengerutkan kening.
"Dek kok lauknya kaya gini doang! sayur tahu sama tempe dan mana ikannya?" tanya mas Herman.
"Kita kan lagi ngirit mas aku sudah gak bisa lagi nambalin kekurangan pengeluaran rumah ini, kamu kan ngasih aku hanya satu juta, uang segitu untuk sebulan mana cukup mas!" ucapku tanpa menatap wajah mas Herman.
"Ya tapi kan gak gini juga Dek! memangnya uang kamu sudah habis Dek? masa buat beli ikan aja gak ada?" tanya Herman lagi.
Aku pun membanting sendok yang sedang aku pegang sambil aku memandang wajah mas Herman tajam, kulihat mas Herman kaget dengan apa yang aku lakukan.
"Kamu itu ya mas! seharusnya jadi suami itu mikir mas! uang sejuta tapi mau hidup enak, mau makan enak, denger ya mas! aku itu di PHK tanpa pesangon dan uang ku itu habis untuk gaya hidupmu yang gak penting itu! kamu ingat kan kamu selalu meminta uang padaku, entah itu sejuta atau berapapun dan terakhir dengan tidak tau malunya kamu meminta 5 juta! kamu pikir aku ATM berjalan kamu mas!" ucapku dengan marah dan mengeluarkan semua unek-unek ku.
"Bukan gitu dek mas cuma...., ya sudah, ia deh mas makan, udah ya kamu jangan marah di meja makan, gak baik loh!"
"Kalo mas gak mau makan, sana beli sendiri aja mas"
"Setelah makan ada yang mau aku omongin dan ini penting sekali!"
"Ia Dek,"
Setelah selesai makan kami pun berlanjut ke ruang TV dan disinilah aku menahan semua kekesalan sejak tadi yang ingin sekali aku tumpahkan ke wajah mas Herman! biarlah aku di sebut istri kurang ajar atau yang tidak menghargai suami sendiri karena selama ini pengorbanan ku hanya sia-sia belaka.
"Ini apa mas? bisa di jelaskan!" ucapku sambil ngasih secarcik kertas ke mas Herman dan ini masih mode satu, belum meledak.
Dibukanya kertas itu oleh mas Herman, dan aku melihat mas Herman kaget dan langsung melihat ke arahku.
"Ini Dek, mas bisa jelaskan dek"
"Ya sudah jelasin sekarang!"
"Ini sebenarnya mas bukan bermaksud berbohong cuma...." jawab mas Herman gugup.
"Cuma apa mas? 2 tahun mas! pernikahan kita 2 tahun mas! dan kamu berbohong masalah itu, kamu berbohong masalah gaji, kamu juga kalo aku gak nemu ini, mau sampai kapan kamu akan berbohong mas dan nyembunyiin semua dari aku!" ucapku kesal.
"Gaji kamu itu 7 juta mas dan kamu cuma kasih aku 1 juta setiap bulan? kamu pikir aku harus memutar otak ku, gimana caranya mengurus keuangan kita mas! dan kamu enak-enakan gak mikirin apa-apa! cuma tau nya makan enak, kebutuhan kamu terjamin, belum lagi kamu selalu meminta uangku entah untuk apa? kamu pikir mobil yang kamu punya aku beli cash? kredit itu mas! dan aku yang bayar cicilannya, kamu mikir gak sih sampai kesitu!" tegas ku.
"Ia aku tau Dek, mas minta maaf, mas pikir karena kamu juga bekerja jadi mas ngerasa kamu cukup jika hanya memegang uang segitu, lagian kan kamu tau mas juga harus ngasih ke ibu mas juga."
"Kamu ngasih ibu cuma sejuta mas setiap bulan dan uang kamu masih sisa 5 juta, terus sisanya kemana? 2 tahun loh mas!"
"Ada dek, mas gak pake buat apa-apa, ada di tabungan mas."
"Mas yakin! gak buat selingkuh dengan wanita di luar sana kan?" tanyaku menyentil.
"Ia yakin dek, udahlah dek masalah ini aja kamu ributin, kamu juga kan kerja Dek, jadi kamu gajian juga tiap bulannya, jadi mas pikir uang kamu banyak Dek.
"Kamu ngomong apa mas? gajiku setiap bulan banyak! pake otak ya mas kalo ngomong."
"Kamu yang kalau ngomong pake otak! aku ini masih suami kamu Nissa! jangan ngelunjak!"
"Denger ya mas Herman yang terhormat, selama ini kamu benalu dalam hidup aku, numpang dalam hidup aku, kamu kasih nafkah aku pun hanya sejuta, masih mau aku hormati kamu! mulai sekarang jangan pernah kamu tinggal di rumah ini, pergi kamu dari sini!!! aku gak mau punya suami penipu dan pembohong seperti dirimu, pergi!!!"
"Jangan Dek, ia mas minta maaf ya, mas janji bakalan kasih kamu lebih uang bulanan, tapi mas mohon jangan usir mas dari sini," ucap mas Herman mengiba.
"Kenapa kamu tidak mau keluar dari sini? gaji kamu kan gede, bisa lah kamu menghidupi diri kamu sendiri."
"Gak Dek, udah ya dek, mas tau kamu lagi emosi, kalau kita marahan terus dan sampai berpisah bagaimana dengan keluarga besar kita Dek, mereka pasti akan malu."
"Ok... Kalau mas Herman gak mau berpisah dan keluar dari rumah ini, mana ATM kamu kasih ke aku biar aku yang urus keuangan kamu."
"Ini dek ATM mas, tapi kamu udah jangan marah-marah lagi ya, ya sudah sekarang kita ke kamar yuk dek udah lama kita kan Dek."
"Udah mas aku tuh lagi kesel sama kamu gak usah kamu pancing! kalau mau tidur duluan aja," ucapku enak aja dia minta haknya padahal badannya udah di obral sama wanita lain yang ada aku jijik.
Sudah 4 hari terlewati dan ini saatnya aku memerankan tugasku yang hanya berdiam di rumah tanpa bekerja dengan mulai bersantai- santai membersihkan rumah, dan ulet keket itu juga belom kesini, mungkin acaranya belom selesai. Bibi sudah aku pulangkan, mungkin mas Herman pastinya akan syok saat tau tidak ada bibi dirumah ini dan Fina juga syok saat kamarnya berantakan apalagi setelah dia tau barang-barangnya tidak ada pada tempatnya, dan nanti lihatlah kalian! permainanku akan segera di mulai....
Aku membersihkan setiap sudut rumah walaupun melelahkan tapi aku menikmati semuanya, karena sudah lama aku tak membersihkan rumah itung-itung olahraga, pikirku.
Mas Herman sudah pergi ke kantor, tentu saja masih menggunakan mobil itu, padahal niatnya mobil itu mau aku bawa pulang untuk di jual. Tapi mending besok aja, aku pura-pura bawa mobil itu untuk di kembalikan ke Dealer karena gak sanggup bayar cicilannya, namun aku bingung apa mas Herman gak cek tabungan dia? kok masih aja kalem-kalem Bae, bodo amat lah, emang gue pikirin, batinku sambil terus mengepel lantai.
Duh capeknya..., tapi badan jadi enteng kaya sehabis olahraga. Habis selesai ngepel aku mau mandi dan setelahnya lalu aku masak. Cepat banget waktu berjalan udah jam 5 aja, bentar lagi mas Herman pulang. Aku bermonolog sendiri.
Setelah membersihkan badan, biar terlihat segar dan fresh aku pun langsung memasak menu biasa saja hanya ada sayur kangkung, tempe goreng, sambal dan tahu bacem, aku harus masak seperti ini aja masa bodo dengan komplenan mas Herman nantinya.
............
POV Herman
"Sayang kamu jangan gitu, kok ngambek." ucap Fina.
"Ya sekarang ATM ku di pegang Nissa karena Nissa udah tau pekerjaan dan gaji aku kalo aku gak nurutin dia, aku di usir oleh Nissa, aku gak mau tinggal sama keluarga ku, apa lagi disana sempit, aku gak mau kembali jadi miskin," ucap Herman saat di kafe bersama Fina
Ya mereka janjian di kafe sore ini setelah bekerja dan Fina juga sudah selesai skripsi dan sidangnya jadi otomatis Fina akan kembali ke rumah Nissa.
"Tapi kan mas kalo uang mas semua di ambil gimana? aku gak kebagian! aku gak bisa perawatan gak bisa shopping lagi! terus apa tadi, mba Nissa di PHK? Kok bisa, padahal aku mau minta bantuan mba Nissa buat ngelamar di perusahaan itu mas," ucap Fina pura-pura sedih.
"Ya sudah kalo gak bisa, nanti mas bantuin naro in lamaran kerja di tempat kerja mas aja ya, udah yang kamu jangan sedih, mas masih punya tabungan dan uang bonus mas juga masih ada, kan kalo bonus di kasih bukan akhir bulan tapi pertengahan bulan, jadi Nissa gak tau." ucapku.
"Bonus kamu berapa emangnya mas?" tanya Fina
"Sebulan dapat lah 2 juta lumayanlah" jawabku
" Dua juta doang, mana cukup mas! ya sudah ayo kita pulang."
"Kami berdua pun pulang meninggalkan kafe itu, karena kami tadi hanya memesan minuman, jadi sekarang terasa sangat lapar, semoga saja dirumah bibi masaknya enak lagi, kaya dulu.
............
POV Nissa
"Sepertinya mas Herman udah pulang" ucapku lalu aku melihat dan ternyata ulet keket itu pun pulang tapi kenapa bareng mas Herman.
"Mba Nissa kami pulang," ucap Fina yang langsung rebahan di kursi duduk, enak banget tuh anak datang-datang nyantai dikira ini rumahnya apa!
"Kenapa kalian bisa pulang bersama!" tanyaku menyelidik.
"Oh aku tadi chat mas Herman mba, minta di jemput, aku takut mba pulang sendirian" jawab Fina menjelaskan
Aku hanya diam dan berlalu lanjut ke kamar untuk bersih-bersih.
"Mas, mba Nissa pergi ke kamar nya, udah ada makanan kali ya, Ayuk kita makan, lapar nih tadi di kafe kan gak beli makanan," seru Fina.
"Tar lah kita tunggu Nissa, ga enak kalo gak bareng, lagian aku mau mandi dulu, jangan macam-macam kamu ya Fin," ucap mas Herman.
"Ya sudah bilangin mba Nissa cepetan gitu, aku juga mau mandi dulu." Ucap Fina.
Setelah aku selesai membersihkan diri kulihat ada mas Herman sedang rebahan di bangku yang ada di kamar mandi sambil memejamkan matanya, terkadang aku masih bertanya-tanya apa kurangnya aku hingga kau lakukan ini, apa aku kurang menarik lagi mas, tapi cepat-cepat aku hilangkan perasaan itu karena sebentar lagi aku akan mengajukan surat cerai dengan mas Herman.
Ku bangunkan mas Herman dari tidurnya dengan menggoyangkan badannya tanpa aku berbicara sepatah kata pun karena rasanya hati ini sudah mati hanya ada perasaan muak dan benci untuknya.
"Udah selesai Dek mandinya? habis aku mandi kita makan yuk Dek, karena mas udah lapar banget nih, tapi kamu tungguin mas ya," ucap mas Herman sambil bergegas ke kamar mandi.
"Ia mas," jawabku singkat padat dan jelas.
Setelah mas Herman selesai mandi kami pun turun ke meja makan bersama dan kulihat sudah ada cacing kremi duduk di meja makan, tapi dia diam saja sambil menatap makanan, mungkin dia sedang tidak berselera bagus, pikirku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Sukliang
dasar uket gatel
2023-07-07
2