"Dek!" ucap mas Herman kaget, seketika langsung saja kulihat dia mendorong tubuh Fina yang ada di atasnya dengan sekali sentakan, pasti sakit sekali, batinku.
Mas Herman langsung memakai baju dan celana nya karena sudah di lihat pak satpam dan Bu Rumi dalam keadaan tak berbusana. Begitu pun dengan Fina yang buru-buru memakai celana dan kaosnya karena merasa malu tubuhnya telah terlihat oleh dua satpam komplek itu.
Dari semenjak masuk Bu rumi sudah memegang HP dan mem Video kan aktivitas mas Herman dan Fina tanpa di ketahui oleh mereka berdua.
"Dek kamu udah pulang, aku bisa jelasin sayang," ucap Mas Herman
Aku langsung menghampiri mereka berdua bersama pak satpam dan Bu Rumi, dan aku pun langsung duduk di bangku sebrang bangku yang di pakai mas Herman dan Fina untuk melakukan perbuatan mesum itu.
"Silahkan duduk kalian berdua!" ucapku tenang.
"Dek, Fina yang godain mas duluan dek," ucap mas Herman dengan suara gugup.
"Kamu apa-apaan sih mas kenapa nyalahin aku doang, kamu kan juga mau, kasih tau aja sama mba Nissa sekarang mas karena dia sudah tau, jadi kita gak usah sembunyi- sembunyi tangan lagi tentang hubungan kita," tantang Fina.
"Diam kau Fina!" bentak Mas Herman.
"Kenapa kamu jadi bentak aku? mba Nissa aku dan mas Herman saling mencintai dan kita sudah menjalin hubungan ini sudah lama dan akan segera menikah juga, jadi aku minta sama mba Nissa untuk mengizinkan mas Herman menjadi suamiku dan menerima aku sebagai madumu mba, Kalau mba Nissa gak mau itu terserah mba Nissa, siap-siap saja bercerai dengan mas Herman dan mba Nissa bisa angkat kaki dari rumah ini," ucap Nissa panjang lebar.
Aku hanya memandang mereka berdua dengan senyuman sinis. Aku perhatikan wajah mereka satu persatu, ku hembuskan nafas ini, karena penjelasan ngawur Fina, jadi dia masih berpikir bisa menyingkirkan aku dari rumah ku sendiri, batinku.
"Dek, mas mohon sama kamu percaya sama mas!
Mas Herman tiba-tiba mendekatiku dan berusaha menarik tanganku, kuhempaskan tangannya karena sungguh aku jijik di sentuh olehnya.
"Bisa mas duduk, kembali dan menjauhiku!" ucapku sarkas. Mas Herman pun kembali duduk ke tempat sebelumnya.
"Dek, please kamu harus percaya sama aku dek, dia menggoda mas duluan, dek kita sudah bertahan sejauh ini dek, kita pun sedang program hamil kan dek, seperti mau mu dek," ucap mas Herman mengiba.
"Kamu kenapa nyalahin aku terus sih mas, kamu juga mau, kok kamu bilang kalau mba Nissa itu membosankan, gak kaya aku hebat apalagi untuk urusan duel di ranjang" ucap Fina.
"Diam kamu Fina! sekali lagi kamu bicara, saya usir kamu dari sini!" ucap mas Herman membentak.
Aku semakin tersenyum masam melihat perdebatan mereka berdua seperti sirkus, apalagi melihat wajah mas Herman yang memerah menahan kesal.
Pak RT pun akhirnya datang sendiri dan segera aku persilahkan masuk.
"Silahkan pak RT masuk, mari duduk disini pak," ucapku.
"Terimakasih Bu Nissa maaf mengganggu pembicaraan ini sebenarnya ada apa Bu?" tanya pak RT.
"Begini pak, saya bersama Bu Rumi dan kedua bapak satpam sudah menggerebek pasangan zina ini pak, sebelumnya saya yang melihat pertama kali, tapi karena saya membutuhkan saksi mangkanya saya mencari pak satpam dan menghubungi tetangga saya pak, biar mereka tidak berkelit menyangkal pak," jelasku setenang mungkin.
"Suami ibu dan Fina ini bukannya sodara ibu?"
"Ia pak, saya ingin bertanya baiknya di apakan ya pak pasangan zina ini pak, apa langsung di nikahkan saja? tapi sebelum mereka menikah, saya ingin suami saya men talak saya terlebih dahulu di hadapan semua yang ada disini."
"Enggak, aku gak akan menceraikan kamu dek!" ucap mas Herman.
"Mas ini biarin aja sih, bukannya ini memang kemauan kita berdua mas malah bagus kita di nikahkan dan mba Nissa langsung minta talak mas," ucap Fina.
"Bagaimana jadinya? kalau mau di nikahkan apa langsung panggil penghulu saja pak?" tanyaku ke pak RT tanpa memperdulikan mereka berdua.
"Begini mba Nissa, kalau mereka berzina memang lebih baik segera nikahkan saja sekarang karena akan membuat bala bagi lingkungan kita, baiklah saya akan telepon penghulunya dulu Bu," ucap pak RT.
Kami pun menunggu penghulu yang telah di panggil oleh pak RT, saat sedang menunggu, aku pun masuk ke kamar dan membereskan pakaian serta barang-barang milik mas Herman, tidak semuanya hanya barang milik mas Herman yang dia beli sendiri bukan di beli oleh uangku.
Saat aku sedang membereskan barang Herman aku melihat ke lemariku, kenapa terbuka? batinku. Lalu aku pun melihat-lihat pakaian yang masih rapi dan brangkas yang masih terkunci, setelah itu aku pun melihat koleksi tas, aku pun mengernyit tas mini kesayangan ku mana? kenapa tidak ada di tempatnya? aku pun mencari di tempat lain dan mengeluarkan semua isi lemari tetap tidak ada, kemana itu tas? pikirku, tas itu adalah tas yang paling mahal yang aku punya dan tas kesayangan ku, gegas aku pun mengambil HP ku dan melihat rekaman CCTV di kamar hari itu, saat ku lihat rekamannya, tanpa kurasa aku memegang HP ini dengan erat kurang ajar mereka berdua berbuat mesum juga di kamarku dan dengan lancangnya si ulet bulu itu mengambil tas kesayangan ku dasar pencuri, aku pun langsung keluar kamar dan menuju ke bawah masuk ke kamar Fina, dari ruang keluarga Fina berteriak memanggil namaku untuk tidak masuk ke kamarnya.
"Mba Nissa mau ngapain mba Nissa masuk kamar aku?" ucap Fina sarkas
"Apa ini hah, tas aku ada disini, di kamarmu di kasurmu!"
"Ini punyaku mba, aku membelinya jangan asal nuduh!"
"Kamu bilang aku nuduh? lalu ini apa? bisa di jelaskan," ucapku memperlihatkan rekaman CCTV di HP ku.
"Itu mba, itu...." ucap Fina gugup.
" Itu apa hah...... Kamu mau saya laporkan ke polisi dasar maling!" ucapku sambil menyeret tangan Fina ke luar kamar dan langsung mendorong Fina saat sudah sampai ruang tamu kembali.
"Mas Herman bisa di jelaskan kenapa tas aku bisa di ambil oleh gundik mu itu! dan kalian lancang sekali telah masuk dan berbuat mesum di kamarku," ucapku sedikit teriak.
"Dek, mas minta maaf, mas udah bilang Fina jangan menyentuh barang-barangmu tapi dia tidak mau dengar," ucap mas Herman menjelaskan.
"Berhenti panggil saya Dek, jijik saya mendengar nya!"
"Pak RT, apa pak penghulunya masih lama pak?"
"Sebentar lagi, nah itu dia mungkin mobilnya, sudah terdengar di luar," ucap pak RT.
"Assalamu'alaikum, permisi" ucap pak penghulu di depan pintu masuk.
"Waalaikum salam pak silahkan masuk, silahkan langsung duduk pak" ucapku.
"Ini pak yang akan menikah, silahkan nikahkan langsung saja mereka pak yang telah ketahuan berzina di rumah ku pak"
"Baik tapi sebelumnya apakah ada wali nikah untuk pihak perempuan," tanya pak penghulu.
"Tidak ada pak, ayah saya sudah meninggal, dan paman saya ada di kampung," ucap Fina percaya diri.
"Nikahkan saja langsung pake wali pak RT bisa kan pak?" ucapku.
"Apakah nona ini bersedia," tanya pak penghulu ke Fina langsung.
"Ia pak saya bersedia asal saya bisa menikah dengan mas Herman," ucap Fina senang.
"Baik mana calon pengantin laki-lakinya," ucap pak penghulu, kami pun semua melihat mas Herman yang hanya bisa tertunduk dan diam, dan dia pun langsung saja maju untuk berhadapan dengan pak penghulu untuk memulai ijab kobul.
Saat acara ijab kobul berlangsung, aku pun masuk ke kamar Fina dan segera ku masukan semua pakaian Fina ke dalam koper lalu menggeret nya keluar, setelah itu aku pun naik ke atas dan membawa 1 koper pakaian mas Herman, lalu aku pun membawakan koper milik mereka berdua ke hadapan dua manusia da'jul tersebut.
"SUdah selesai kan ijab kobul nya, silahkan mas cepat talak aku sekarang juga!"
"Dek, tak bisakah kamu menerima Fina jadi adik madu mu dek, mas janji akan adil Dek, mas ga mau bercerai dengan mu Dek," ucap mas Herman.
"Sekarang talak aku!"
"Tunggu, apa-apaan ini mba kenapa koper kami, kamu keluarkan, gak bisa mba, ini rumah mas Herman juga berarti otomatis rumah ini jadi milikku juga, kalau mba mau pisah dari mas Herman, mba yang harus keluar dari rumah ini!" ucap Fina tanpa tau malu.
"Mas cepat, talak aku, kalau enggak aku akan adukan ke kerjaan kamu supaya kamu di pecat dari pekerjaan kamu," ancamku.
"Mba Nissa denger gak sih, apa yang aku omongin!" bentak Fina .
"Baiklah kalau itu mau mu Dek mas akan men talak kamu sekarang juga, Nissa dengan ini aku talak kamu, talak 1, mulai hari ini kamu bukan istriku lagi."
"Alhamdulillah terima kasih mas, lega rasanya dan silahkan kalian berdua pergi dari rumahku."
"Mas, gimana sih mba Nissa mas! harusnya dia yang keluar dari rumah ini bukan kita, inikan rumah kamu mas!" rengek Fina.
"Pak satpam bisa minta tolong untuk tarik mereka keluar, keluarkan sekarang dari rumah saya pak," tanyaku.
"Bisa Bu, ayo pak jangan bikin keributan," ucap pas satpam.
"Gak, aku gak mau keluar dari rumah ini! mas kamu harus bilang sama mba Nissa mas! kenapa kamu diem aja sih?"
"Sudah Fina ayo kita keluar dari rumah ini!"
"Enggak, pokoknya aku gak mau!"
"Sudah Fina, kita keluar aja!"
"Fina! kamu mau keluar dari rumah ini atau mau aku laporkan ke Polisi atas tuduhan pencurian?" ucapku, Fina pun langsung kaget karena ancaman ku barusan.
"Awas mba Nis, aku akan balas semuanya, aku bakalan pastiin kami bakalan menang di persidangan, mas Herman kamu harus nuntut harta Gono gini mas, kamu harus nuntut rumah ini" ucap Fina.
"Ia, tar kita bicarakan lagi, ayo kita keluar" ucap mas Herman.
"Ia, aku bakalan keluar, tunggu barang-barang aku, tas sama perhiasan aku, disitu cuma ada baju doang," ucap Fina yang langsung masuk ke kamarnya.
"Akhhh............... Mas Herman?" teriak Fina
"Kenapa Fina?" Herman pun langsung masuk ke kamar Fina.
"Mas perhiasan dan tas ku hilang semuanya gimana ini mas ? Hiks....hiks... " ucap Fina menangis.
"Ya sudah, ayok kita cepat keluar saja dari rumah ini, kalau Nissa sampai tau kamu punya itu semua dari aku, susah buat nuntut harta Gono gini nantinya.
"Tapi mas barang-barang aku mas?"
"Sudah ikhlasin aja!"
"Palamu gundul mas, ikhlasin itu mahal-mahal mas harganya!"
"Kenapa sih lama amat cepat keluar dari rumah saya," ucapku.
"Mba di mana semua barang aku mba? perhiasan dan tas tas aku mba, kamu ambil mba?"
"Jangan nuduh kamu ya, emang tadi kamu lihat aku keluar sambil bawa tas dan perhiasan kamu, aku tau aja enggak, barang-barang kamu itu."
"Ooooh.....Kamu membelikan itu semua mas, buat dia?"
"Enggak Dek, aku gak beliin," sangkal mas Herman
"Cepat kalian keluar!"
"Ayok Fina," ucap mas Herman
"Tapi tas ku mas sama perhiasan Ku mas, aku gak rela kenapa bisa ilang semuanya mas hiks... hiks..."
Mas Herman dan si ulet keket pun akhirnya keluar rumah sambil membawa dua koper di antaranya oleh pak satpam.
"Bu, kalau gitu kami berdua sekalian pamit ya Bu" ucap pak satpam.
"Aku juga ya mba Nis, mau pamit ke rumah"
"Ia pak, ia Bu Rumi makasih ya sudah bantuin aku malam ini,"
"Mba Nis aku sama pak penghulu juga mau pamit pulang ya mba Nis," ucap pak RT.
"Ia pak terima kasih banyak ya pak, dan ini untuk pembayaran nya pak atas pernikahan tadi," ucapku sambil menyerahkan amplop yang berisi uang.
Setelah semua keluar dari rumah ini, aku pun langsung mendudukan tubuhku yang terasa lelah, sambil terus melihat sekeliling rumah dan mengingat semua kejadian dan kenangan yang terjadi di rumah ini, kenangan sebelum Fina datang ke rumah ini dan menghancurkan semua kebahagiaan ku, tapi aku bersyukur aku akhirnya bisa membuka Mata hatiku dan Mata Batin ku untuk jauh-jauh dari suami benalu seperti mas Herman."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 174 Episodes
Comments
Sukliang
rasain pelakor
2023-07-08
2
S
Satu yg aku sesali kenapa tidak ada adegan Nissa tampar 2 manusia da,jul itu.
2023-07-04
1