"jadi kondisi Aleta saat ini benar benar buruk. Luka ditubuhnya harus butuh beberapa jaitan . Dan kandungan Aleta saat ini lemah jadi saya akan usahakan semaksimal saya."
"Tolong ya dok selamatkan Aleta dan bayinya."
"Iya saya usahakan ,kalau begitu saya tinggal dulu."
Bara benar benar kalut saat ini. Ia binggung harus bagaimana. Suaminya bisa bisanya menyakiti istrinya sendiri.
"Gue perlu ketemu sama Gendra."
Tut..tutt..Tut...
"Halo bi. Bisa kerumah sakit Medika?"
"Siapa yang sakit tuan?"
"Aleta. Saya bawa Aleta diam diam kerumah sakit tanpa sepengetahuan Gendra. Bibi kesini juga jangan sampai ketahuan Gendra."
"Astaga non Aleta. Baik Tuan saya kesana."
"Minta antar supir ya bi."
"Baik Tuan."
Suster yang dari kamar Aleta kini keluar.
"permisi , pasien di dalam akan dipindahkan kekamar yang mana ya?"
"Pindahkan ke kamar VIP ya nanti saya urus pembayarannya."
"Baik."
Bara mengikuti suster yang mendorong brangkar Aleta. Aleta ditempatkan di ruangan VIP.
"Suter minta tolong ya ,tunggu Aleta sampai yang jaga datang. Jangan ditinggal Sampai yang jaga Aleta datang."
"Baik."
Bara bergegas pergi akan menemui Gendra. Bara dengan emosi yang memuncak. Ia benar benar tak habis pikir dengan temannya itu.
Sampai dirumah Gendra ,Bara langsung mencari Gendra di semua tempat tapi tidak menemukannya.
Saat Sampai di taman belakang Bara menemukan Gendra disana dengan banyak minuman alkohol.
Bughh...Bughhh..
Bara langsung memukul Gendra.
"BRENGSEK LO!!"
"APA APAN SI LO?"tanya gendra yang memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
"LO BRENGSEK. SADAR GEN!! LO HARUS SADAR!! GARA GARA TRAUMA LO ,LO HAMPIR NYELAKAIN ISTRI DAN ANAK LO SENDIRI!!"
"BUKANNYA ITU ANAK LO YA?"
"LO BENER BENER GILA! BISA BISANYA LO NUDUH DIA KAYA GITU. LU PIKIRIN PERASAAN DI NGGA SIH?! DIA ANAK KANDUNG LO!"
"CIIH GUE NGGA PERCAYA! LO KAN SEKARANG LEBIH DEKET SAMA DIA!"
"GENDRA SADARR. LO UDAH BENER BENER GILA. SEMBUHIN TRAUMA LO BIAR LO SADAR!"
"JANGAN BAWA BAWA TRAUMA GUE! GUE NGGA GILA!"
BUGHH...BUGH...BUGHH...
Gendra langsung memukul wajah dan perut Bara. Gendra benar benar tersulut emosi sekarang karna Bara membawa traumanya.
"LO DENGERIN GUE BAIK BAIK. ISTRI LO SEKARANG ADA DIRUMAH SAKIT BANYAK LUKA DITUBUHNYA KARNYA SAYATAN YANG LO BERIKAN! DAN KONDISI CALON ANAK LO LAGI LEMAH!"
"GUE NGGA PERDULI KARNA DIA BUKAN CALON ANAK GUE!!"
Bughh...
Bara memukul Gendra lagi.
""LO YANG BAWA ALETA KESINI JADI LO HARUS TANGGUNG JAWAB SAMA PERBUATAN LO!"
"INGET JUGA GEN , OBATIN TRAUMA LO. LO MAU JADI SEORANG PAPA JADI JANGAN SAMPAI JIKA ANAK ITU LAHIR LO BAKAL SIKSA DIA JUGA. CUKUP ISTRI LO YANG SAAT INI."
Bara lalu pergi meninggalkan Gendra sendiri. Gendra yang mendengar perkataan Bara pun termenung.
"Gue gila?"
...****************...
Disisi lain Aleta yang belum sadarkan diri pun masih ditemani dengan salah satu pembantu dirumah Gendra.
Bara yang dari rumah Gendra pun kini juga sudah ada di ruangan Aleta menunggu Aleta juga.
"Bi ,tidur biar Bara yang jaga Aleta. Bibi tidur di kursi ruang tamu aja. "
"Ngga usah Tuan ,biar bibi aja yang jaga non Aleta. Tuan Bara obatin dulu lukanya."
"Ngga papa bi. Bibi tidur aja gih."
"Beneran Tuan?"
"Iya ,ini juga udah malem."
"Yaudah saya permisi Tuan."
"Maafin gue ya Al ngga bisa jaga Lo. Gara gara gue Lo jadi kaya gini."
"...."
"Sadar Al demi calon anak Lo. Gendra ternyata masih sama kaya dulu setelah orang tuannya meninggal. Dia sulit mengontrol emosinya. Gue pengen beri tahu Lo tapi biar Gendra aja yang beri tau dia yang berhak."
"...."
"Istirahat ya Al. besok pagi Lo harus bangun."
...****************...
Gendra yang kini kembali kekamar dan mihat Aleta yang tidak ada tapi darah Aleta masih menempel di badcover . Gendra merasa bersalah.
"Apa gue keterlaluan sama Lo Al?"
"Gue ngga suka liat Lo Deket sama Bara. Lagian gue juga ngga percaya anak yang Lo kandung adalah anak gue."
"AAAGGGHHHHH...."
Gendra yang kembali merasakan kepalanya sakit. Ia mencari obat yang biasa dia konsumsi saat kepalannya merasa sakit.
kring...kringg....
Tiba tiba telepon Gendra berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
"Tunggu pembalasan gue Gendra."
"Siapa Lo?"
"Lo ngga perlu tau siapa gue. Yang jelas gue bakal buat keluarga Lo hancur kaya orang tua Lo."
"Lo ngga bakal bisa hancurin keluarga gue!"
"Gue bisa. walaupun Lo ketua mafia,tapi Lo bodoh Gendra." kekeh orang itu.
Orang itu langsung mematikan Telponnya. Gendra yang saat ini sedang emosi ditambah lagi dengan adanya ancaman untuknya. Tapi dari suaranya bukan Gabriel.
Kringg...kringg....
"Ada apa?"
"markas ada yang menyerang tuan."
"Siapa?"
"ngga tau tuan. Tiba tiba mereka datang dan langsung menghabisi anggota kita."
"Saya kesana sekarang!"
Gendra lansung mematikan telepon dan bergegas menuju ke markas..Tapis Aat ditengah jalan mobil Gendra dihadang oleh sekelompok orang bertopeng. Gendra yang ingin putar baik juga tidak bisa karna dari depan,belakang dan samping sudah dihadang banyak orang.
"aaarggghh apalagi ini?"
"Keluar Lo!"
Gendra yang tanpa merasa takut keluar dari mobil sang langsung diserang dengan orang itu. Gendra yang hanya membawa senjata pistol itu ia gunakan sebaik mungkin untuk mengalahkan mereka.
Bug...bughh...
dor...dor....
Bug...bughh...
dor...dor....
Setelah beberapa saat kemudian Gendra mengalahkan sekelompok orang itu sendirian. Tapi Gendra juga terluka terkena goresan dilengannya. Gendra tak menghawatirkan itu, ia langsung bergegas ke markas untuk melihat kondisi disana.
Sampai di markas anak buah gendra kini sedang mengobati luka lukanya.
"Tuan."
"Gimana? Siapa mereka?"
"Sepertinya mereka bukan suruhan Tuan Gabriel. Dari jaket yang mereka pakai bukan anak buah Gabriel."
"Kalian gapapa?"
"Gapapa tuan tidak ada yang terluka parah."
"baiklah kalau begitu."
"Tapi tuan sendiri kenapa lebgannya berdarah?"
"Saya tadi juga diserang saat perjalanan kesini. Mereka menyerang saya di jalan sepi."
"Apa mereka juga dari orang yang sama?"
"Selidiki masalah ini!."
"Baik Tuan."
Gendra saat ini istirahat di markasnya. Ia bernar benar lelah .Hari ini banyak masalah yang dihadapinya.
Tunggu Gendra ingat sesuatu. Oaakah orang yang menyerang tadi sama dengan orang yang menelponnya tadi?
"Ma ,pa Gendra capek kaya gini terus. Gendra belum bisa luapin kalian. Gendra binggung harus gimana."
Gendra yang kini tengah berada didalam kamar markasnya pikiran Gendra benar benar kalut entah banyak pikiran yang saat ini ada diisi kepalanya.
Gendra mencoba untuk tidur tapi tidak bisa. Ia mberusaha memajamkan matanya tapi tidak bisa.
Gendra akhirnya membuka obat tidur dan meminumnya. Setelah beberapa bulan ia tak meminumnya kini ia mengkonsumsinya kembali.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments