3. MENIKAH?

"Jangan Aleta ,biarkan ayah dan ibu mati saat ini juga ,kamu jangan mau dengan Tuan Gendra nak!" Lirih ibu dengan Isak tangis yang pilu

"Ayah , Ibu....."

Suasana dirumah Aleta benar benar nampak tegang . Aleta yang binggung harus berbuat apa ia tak inggin kehilangan kedua orangtuanya . Setelah beberapa lama Aleta membuka suaranya.

"Ba-Baik sa-saya mau ikut dengan anda Tuan!" Dengan ragu Aleta mengucapkan kata tersebut , ia terpaksa mau ikut dengan Tuan Gendra.

"Aleta..... " Ucap ibu dengan nada pilu

" Nak ,jangan lakukan itu biarkan ayah dan ibumu--"Belum selesai bicara ucapan ayahnya dipotong oleh Aleta.

"Maaf ya ,aku ngga mau kehilangan kalian berdua ,biarkan Aleta yang berkorban untuk kalian demi hutang kita lunas , Aku janji akan jaga diri baik baik." Isak Aleta

"Tapi nak--"

"SUDAH! Anak kamu sudah mengambil keputusannya jadi ,biarkan dia ikut dengan saya dan saya anggap hutang kalian lunas!"

Tanpa ada perkataan apapun lagi ,Aleta bersiap untuk ikut dengan Tuan Gendra. Ia menatap kedua orang tuanya yang kini tengah menangis . Kedua orang tua Aleta tidak rela jika Aleta hidup bersama seorang mafia mereka takut Aleta diperlakukan semena-mena oleh Tuan Gendra.

"Ayah , Ibu jaga diri kalian baik baik ya ,jangan cemaskan Aleta. Aleta janji akan jaga diri juga! Aleta pamit ya."

Aleta tidak kuat menahan tangisnya ia memeluk kedua orang tuanya . Sedangkan Tuan Gendra hanya menatap dengan tatapan tajam.

"Cepat bawa dia masuk mobil!" Perintah tuan Gendra pada bodyguardnya.

"Hati hati ya sayang ,maafin ayah dan ibu." lirih ayah Aleta.

"Iya , pamit ya yah , Bu."

Kini Aleta berada didalam mobil dengan Tuan Gendra disampingnya. Aleta takut dengan tatapan Tuan Gendra yang tajam. Aleta hanya menatap jalanan dari jendela mobil ia benar benar tidak menyangka nasib hidupnya akan seperti ini , ikut dengan Tuan mafia demi hutang orangtuanya lunas.

Beberapa jam kemudian mereka sampai dirumah Tuan Gendra. Rumah yang begitu megah dan jauh dari kota.

"Turun!" Ucap Tuan Gendra .

Aleta mengikuti Gendra memasuki rumahnya. Rumah dengan banyak penjagaan didepannya.

"Permisi tuan , kamar yang tuan minta sudah dipersiapkan."

"Antarkan dia kekamarnya!"

"Baik tuan!"

Aleta dibawa oleh salah satu pembantu dirumah Gendra menuju kamarnya. Ia berjalan mengikuti pembantu tersebut.

Sesampainya dikamar Aleta nampak terkejut dengan kamrnya yang begitu luas.

"Silahkan masuk non! Ini kamar untuk nona ,selamat istirahat ya non!"

"Makasih ya bi."

"Iya non ,saya permisi!"

Setelah pembantu itu pergi Aleta menutup pintu kamarnya, ia tidak nampak bahagia walaupun ia disedikan kamar yang cukup luas, fasilitas yang bagus dan diperlakukan sangat baik olah pembantu di rumah Gendra. Ia masih tidak rela meninggalkan kedua orang tuanya , ia masih takut bagaimana nasib Aleta selanjutnya hidup dengan Tuan Gendra.

Kini siang telah berganti malam. Aleta masih tetap dikamarnya dari tadi siang ia belum keluar kamar.

Tok tok tok

"Permisi non. Nona sudah ditunggu Tuan Gendra dibawah untuk makan malam!"

"Iya bi ,nanti Aleta kebawah . Aleta belum lapar soalnya."

"Tapi non ,Tuan Gendra tidak suka jika perintahnya dibantah . Sebaiknya nona segera kebawah sebelum Tuan Gendra marah!"

"Bibi bilang aja sama Tuan Gendra kalo saya belum lapar."

"Baik non, saya permisi."

Pembantu tersebut kembali kebawah menuju meja makan .

"Permisi Tuan. Nona bilang dia belum lapar. Saya tadi sudah membujuk nona tapi dia tetap tidak mau."

Tanpa sepatah kata pun Gendra berjalan meninggalkan meja makan menuju ke kamar Aleta.

Tok tok tok

"Bi ,saya sudah bilang saya belum lapar!"

Tanpa membuka pintu Aleta menjawab dari dalam kamarnya .

Tok tok tok

Pintu kamar Aleta kembali diketok, Aleta bergegas membuka pintu kamarnya. Aleta kaget dengan apa yang dilihatnya ternyata didepan pintu kamar Aleta Tuan Gendralah yang telah mengetok pintu tadi.

"Ma-maaf Tuan, tapi saya belum lapar jika tuan ingin makan , makan saja lebih dulu."

"Saya tidak suka perintah saya dibantah!" Ucap gendra dingin.

"Ta-tapi tuan saya benar-benar belum lapar, nanti saya akan ma--"

"SAYA SUDAH BILANG SAYA TIDAK SUKA PERINTAH SAYA DIBANTAH!" Bentak Gendra.

Aleta terkejud apalagi ia belum pernah dibentak sekeras ini ,bahkan ayahnya saja tidak pernah membentak Aleta seperti itu. Aleta menahan tangisnya saat bentakan keras yang diterima tepat didepan wajahnya.

Sekarang ikut saya untuk makan malam di bawah!"

Tanpa menjawab apapun Aleta langsung mengikuti Gendra dari belakang.

Sampai dimeja makan Aleta dan Gendra makan malam tanpa ada berbicara apapun. Sampai dimana mereka selesai makan Gendra membuka pembicaraan.

"Setelah makan nanti kamu keruangan saya!"

"Ba-Baik Tuan."

Gendra langsung berjalan lebih dulu menuju ke ruangannya.

Aleta binggung dimana ruangan gendra ,dan akhirnya Aleta memutuskan bertanya pada salah satu pembantu disana.

"Bi permisi , ruangan tuan gendra disebelah mana ya?"

"Mari saya antarkan saja nona."

"Jangan panggil saya nona ya bi , panggil aja Aleta. Saya kurang nyaman dipanggil nona."

"Tapi non ,saya harus menuruti perintah Tuan Gendra, saya tidak berani membantahnya."

Setelah sampai di ruangan Gendra , pembantu tersebut langung kembali bekerja . Aleta tampak ragu untuk mengetuk pintu ruangannya ia takut. Samapi akhirnya Aleta memberanikan diri mengetuk pintu ruangan Gendra.

Tok tok tok

"Masuk!"

Aleta memasuki ruangan Gendra tapi ia melihat itu adalah sebuah kamar bernuansa hitam.

"Duduk!"

"Saya akan menjadikan kamu istri saya! Besok pagi pernikahan diselenggarakan!"

"Tapi Tuan kenapa anda menyelagarakan pernikahan tanpa persetujuan dari saya? Kenapa tiba tiba?"

"Hei sayang, kamu lupa dengan perkataan kamu tadi hmm? Bukanya kamu menyetujui perkataan saya ,jika kamu ikut dengan saya maka hutang orangtua kamu lunas hmm?"

"Tapi tuan ,saya belum siap untuk menikah ,anda boleh saja membawa saya tapi tidka dijadikan seorang istri . Saya mau jika saya hanya jadi pembantu dirumah ini ,saya mohon tuan." Isak Aleta .

"Sstttt , jangan menangis sayang. Saya tidak mau wanita secantik kamu dijadikan pembantu dirumah saya. Saya mau kamu menjadi istri saya!"

Aleta benar benar tidak menyangka bahwa ia akan dijadikan seorang istri oleh Hendra seorang mafia yang berusia 28 tahun.

"Sekarang kamu istirahat ya sayang persiapkan dirimu untuk besok!"

Aleta tak menjawab apapun. Ia bergegas pergi kekamarnya.

"Apa aku kabur saja dari rumah ini? Tapi bagaimana caranya , rumah ini benar benar banyak penjaganya,mana mungkin aku bisa keluar begitu saja." monolog Aleta.

Samapi larut malam Aleta meuju balkon kamarnya. Ia tidak bisa tidur karna terus memikirkan besok. Jika ia kabur pasti orang tua Aleta yang bakalan terancam tapi ia juga tidak mau menikah dengan Gendra. Sampai akhirnya kamar Aleta dibuka oleh seseorang.

"Mau kabur dari saya hmm?"

Aleta terkejut , ia langsung membalik badan melihat siapa yang datang kekamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Kamu tidak akan bisa melarikan diri dari sini sayang." smirk orang itu.

Terpopuler

Comments

Lady Ev

Lady Ev

dh mmpir yh kk, smngt upnya!

2023-07-22

0

hitari yura

hitari yura

gendra kayaknya udah lama ngincer aleta

2023-07-05

1

◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔

◌⑅⃝𖤐𝑘𝑎𝑧𝑢𝑚𝑖 [𝓗𝓲𝓪𝓽]𒈔

wow, bagus nih ceritanya author 😍 semangatt selalu ya😇

2023-05-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!