16. CEMBURU

Al Lo tadi ngga di apa apain kan sama orang tadi?"

"engga,untung tadi ada Kak Bara. Aleta tadi takut banget."

"Untung ngga di apa apain Al."

"Kak mereka itu siapa? Kenapa mereka selalu nyerag rumah Kak Gendra?"

"Mereka musuh Gendra. Udah lama Gendra dan mereka musuhan. Gabriel yang memimpin anggotanya. "

"Kenapa mereka musuhan ,emang kak Gendra berbuat apa?"

"Ceritanya panjang Al ,suatu saat nanti pasti Gendra bakal ceritain ke Lo."

Gendra yang selesai membersihkan badannya langsung menuju menemui Aleta dikamar Aleta.

"Sayang... masih sakit perutnya?"

"Sedikit kak. Perutnya mau diusap usap kak."

"Sini Kaka usap perutnya."

Gendra mengusap perut Aleta dengan lembut. Sikap Gendra ini membuat Aleta merasa nyaman. Bara yang melihat tidak ada ketakutan di wajah Aleta saat didekat Gendra merasa tenang.

"Bar, Aleta hamil."

Ucap Gendra tiba tiba membuat Bara terkejut.

"HAH?! Beneran?."

"Iya ,kemarin waktu gue ngajak pulang Aleta ,tiba tiba dia pingsan dan kata dokter dia hamil."

"Gue bakal jadi uncle nihh, selamat ya Al. Jaga diri Lo baik baik,kalo ada apa apa telpon gue."

"Gue suaminya!"

"Santai gen, gue ngga bakal ngerebut Aleta dari Lo. Gue udah anggap Aleta adik gue sendiri."

"Makasih ya Kak Bara."

"Iya Al."

"Gendra ,habis ini gue mau ngomong sama Lo. Gue tunggu dibawah."

Gendra mengangguk.

Gendra masih setia mengusap perut Aleta. Sampai Sampai Aleta ketiduran saat ini. Gendra hendak bergegas menghampiri Bara tak lupa ia juga mengecup kening Aleta.

Bara yang kini tengah berada di taman belakang rumah Gendra ia sedang menunggu Gendra disana.

Beberapa saat kemudian Gendra datang.

"Kenapa?"

"Lo ngga mau cek kesehatan Lo lagi? Lo butuh pengobatan buat sembuhin trauma Lo."

"Kenapa Lo tiba tiba ngomong kaya gitu?"

"Gue tau udah lama Lo ngga berobat lagi. Makanya Lo sering banget marah dan sulit mengontrol emosi Lo. Lo juga sering nyakitin istri Lo."

Gendra diam tak menjawab apapun.

"Sekarang Aleta lagi ngandung anak Lo. Gue ngga mau Aleta selalu jadi sasaran emosi Lo. Dia lagi hamil saat ini ,gue ngga mau calon ponakan gue dan ibunya sakit."

"......"

"pikirin baik baik ucapan gue. Kembali berobat Gendra! Demi anak Lo dan Aleta. Gue pamit."

Setelah kepergian Bara , Gendra masih tetap ditempat ia hanya melamun. Entah apa yang saat ini dipikirannya.

...****************...

"AAARGGGHHHHHH....!!"

"Tenang kita masih punya rencana selanjutnya."

"Oke kita akan secepatnya memulai rencana itu. Ada informasi terbaru tentang Gendra dan Istrinya?"

"Belum. Kita tunggu nanti."

Bria dan Gabriel kini memiliki rencana lagi untuk menghancurkan kehidupan Gendra. Mereka yang dari dulu adalah sebagai musuh bebuyutan sulit untuk mendamaikan mereka berdua.

"Lo sekarang kerumah Gendra! Cari informasi disana!"

"Oke gue kerumah Gendra sekarang!"

Bria bergegas kerumah Gendra untuk mencari informasi tentang keluarga Gendra.

Perjalanan tak menempuh waktu lama akhirnya Bria sampai dirumah Gendra.

Ting Tong..

Pintu rumah Gendra terbuka ,menampakkan sosok Bria didepan pintu rumahnya.

"Non Bria."

"Iya bi, Gendranya ada?"

"Ada non ,Tuan Gendra ada ditaman belakang. Silahkan masuk."

"Makasih Bi. Aku langsung kebelakang ya."

"Iya non."

Bria langsung menuju kebelakang menemui Gendra.

"Hai Gendra."

Tak ada jawaban dari Gendra. Sepertinya ia masih melamun dari tadi. Bria yang menyadari itu lalu menepuk pundak Gendra hingga Gendra kaget.

"Heii... kenapa ngelamun Lo."

"Ehh,Bria nggagetin gue aja Lo."

"Lagian Lo kenapa ngelamun disini hmm? Ada masalah ya Lo."

"Ngapain Lo kesini?"

Gendra mengalihkan pembicaraannya.

"Mau main aja, gue juga pengen Deket aja sama istri Lo? Dimana istri Lo?"

"Dia lagi istirahat. Oh ya gue punya kabar baik."

"Ada apaan nih?"

"Istri gue hamil."

Saat Bria mendengar penuturan Gendra ,Bria menyunggingkan senyum. Sepertinya ia memiliki rencana untuk Gendra dan Aleta.

"Hee,Lo denger gue ngomong ngga sih?." Tanya Gendra.

"Iya orang gue dengerin kok. Selamat ya jadi calon Papa nih." Goda Bria.

...****************...

"Eeunghh...."

Aleta terbangun dari tidurnya kini ia menyadari bahwa ia dikamar sendirian tak ada Gendra disini.

Aleta menuju kebawah mencari Gendra.

"Bi, liat Kak Gendra ngga?"

"Oh ,Tuan Gendra ada di taman belakang Non. Ada Non Bria juga disana."

"Bria ada disini ngapain?" Batin Aleta.

"Oh,makasih ya bi."

"Iya non."

Aleta berjalan ke taman belakang ,saat hampir dekat benar saja ia melihat Bria dan Gendra di sana. Entah kenapa Aleta merasa kesal saat Gendra dekat dengan Bria. Entah efek dari kehamilannya atau tidak yang jelas saat ini Aleta cemburu melihat mereka.

"Kak..."

"Heii sayang sini.."

Aleta berjalan menuju ke arah Gendra. Saat sampai Aleta bukanya duduk dikursi tapi ia malah memilih duduk dipangkuan Gendra. Gendra yang menyadari itu pun terlihat senang saat istrinya manja seperti ini.

"Hai Al."

"Hai."

"Katanya Lo lagi hamil ya? Jaga diri Lo ya jangan sampai kecapean."

"Iya."

Jawaban Aleta terdengar cuek. Gendra yang menyadari istrinya sedang cemburu pun hanya tertawa melihat tingkah lucu Aleta saat sedang cemburu.

"Sayang.. mau makan?Dari tadi belum makan kan? "

"Aleta ngga mau makan,Aleta mau makan buah aja."

"Yaudah biar aku panggil bibi ya."

Tiba tiba pembantu dirumah Gendra datang membawakan mereka minuman.

"Bi,ambilin buah ya buat istri saya,jangan lupa dikupas dan dipotong!"

"Baik Tuan."

"Oh ya Gen, tadi gue denger rumah Lo ada yang nyerang lagi ya?"

"Iya tadi rumah gue ada yang nyerang lagi. Oh yang yang masalah kemarin gimana hasil penyelidikan Lo?"

"Masih belum dapet ,gue udah coba lacak lagi tapi ngga bisa. Kayaknya orang itu bener bener udah ngerencanain dengan Mateng deh."

"Tapi hasil penyelidikan itu kenapa ngga mengarah ke Gabriel ya?"

"Iya hasil yang kemarin ngga mengarah ke Gabriel. Tapi siapa?"

Aleta yang tidak tau yang dibahas oleh Gendra dan Bria merasa tidak dianggap disana. Aleta hanya diam dan cemberut. Aleta lalu pindah duduk di kursi samping Gendra.

"Eh ,mau kemana sayang?"

"...."

"Ini non buahnya."

"makasih bi."

"Sama sama non."

Aleta diam memakan buahnya. Sedangkan Gendra dan Bria masih tetap membahas penyelidikan itu.

"Yaudah Gen, gue pamit pulang dulu ya. Al aku pamit pulang dulu."

"Iya,hati hati Lo."

Aleta tak menjawabnya ia hanya diam dan fokus pada buahnya. Setelah kepergian Bria ,Gendra melihat kearah Aleta yang kini sedang cemberut ia tau jika

istrinya itu sedang marah padanya.

"Hei sayang kenapa?"

"Ngga tau."

"marah hmm? Maaf tadi lagi bahas yang nyerang rumah kita."

"Terserah."

Gendra yang gemas dengan tingkah Aleta pun tiba tiba mengendong Aleta untuk duduk dipangkuannya.

"Ehh.. kak..."

"Sst...ngga boleh marah lagi ya.."

"...."

Gendra kini semakin mendekatkan wajahnya pada Aleta. Dan kini bibir Aleta dan Gendra saling menempel. Aleta reflek memejamkan matanya. Hal itu membuat Gendra semakin memperdalam ciumannya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!