Aleta digendong Gendra ke bathub. Dan tiba-tiba Gendra merobek paksa baju yang dikenakan Aleta. Aleta terkejut, saat Aleta ingin memberontak Gendra sudah lebih dulu mencengkram kedua tangan Aleta dengan tangan kanannya.
"Kak.. Aleta mohon jangan lakukan sekarang.. hiks..."
Tanpa memperdulikan rintihan Aleta, Gendra melucuti pakaian Aleta dan dirinya kini mereka berdua sudah telanjang didalam bathub.
"hikk...hikss...Ayahh ibuu...." lirih Aleta
"Diam sayang ,kamu hanya tinggal menikmatinya saja.."
Lalu Gendra mencium bibir Aleta dengan kasar lalu turun dan memulai aksinya.
Setelah beberapa lama kemudian Gendra menyelesaikan kegiatannya. Dan kini Aleta sudah tidak sadarkan diri karna kedinginan dan merasakan sakit di tubuhnya.
Aleta dibawa ke tempat tidur dengan sudah diganti pakainya oleh Gendra.
Gendra kebawah memangil asisten rumah tangganya untuk membuatkan bubur Aleta.
"Bi, tolong buatkan bubur untuk istri saya!"
"Baik Tuan."
"Oh iya ,nanti kalo sudah selesai langsung antar kekamar dan jaga istri saya, saya akan keluar sebentar."
"Iya Tuan!"
"Jangan biarkan istri saya kabur dari rumah ini!"
Gendra pergi ke markas untuk menyelidiki kasus pencurian senjata di markasnya tadi malam. Sampai di markas anggota mafia Gendra sedang berkumpul untuk membahas penyelidikan siapa pencuri senjata tersebut.
"Bagaimana,sudah ada titik terang?"
"Belum Tuan, kami sudah melacak dan melakukan sidik jari tapi tidak terdeteksi sama sekali."
"Kurang ajar ,siapa yang berani memainkan saya?!"
Disisi lain seseorang misterius yang sama berada di dekat markas Gendra. Seseorang tersebut selalu mengintai gerak gerik yang dilakukan Gendra.
"Siap siap saya akan memulai permainan saya lagi Gendra." lirih orang itu.
Kringg...kringg kringg
"Halo Tuan."
"Iya ada apa bi?"
"Rumah banyak orang-orang berbaju hitam menyerang para bodyguard Tuan ,saya takut jika Nona Aleta terluka."
"Baik bi, saya pulang sekarang. Bibi jangan biarkan kamar terbuka ,kunci pintu kamar saya dari dalam dan jangan biarkan Aleta keluar kamar!"
"Baik Tuan."
"Ada apa Tuan?" tanya anggota mafia
"Ada yang menyerang rumah saya. Kalian semua ikut saya!"
"Baik Tuan."
Semua anggota mafia Gendra menuju kerumah Gendra.
Disisi lain Aleta dan salah satu pembantu sedang berada dikamar. Kini Aleta sudah sadar dari pingsannya , Aleta merasakan sakit di tubuhnya dan area intimnya.
"Non ,nona sudah sadar?"
Dor dor dor
Aleta terkejut"Suara apa itu bi?"
"Diluar banyak musuh tuan Gendra sepertinya non. Jadi nona di perintah tuan Gendra untuk tetap dikamar."
"Tapi bi ,sekarang kak Gendra ada dimana?"
"Tuan Gendra sedang pergi tadi ,dan saya sudah menelponnya untuk pulang."
Aleta ingin beranjak dari kasur tapi ia merasakan sakit di bagian bawah.
"Nona mau kemana? Sebaiknya nona tetap disini. Jangan bantah perintah tuan Gendra non."
Aleta diam tak menjawab apapun , ia juga takut jika melanggar perintah Gendra ia akan disiksa lagi.
Ddooorrr......
Tiba tiba kaca kamar Aleta pecah akibat ditembak dari luar.
"Aaaaaa....." Teriak Aleta.
Aleta dan pembantu terkejut akibat tembakan yang mengenai kaca kamarnya.
"Non, nona tidak apa-apa?"
"Bi ,Aleta takut.. hiks..."
"Tenang ya non, sebentar lagi tuan Gendra pasti akan menanganinya."
Gendra dan para anggota saat ini masih berada dijalan ,karna jarak rumah Gendra dan markas cukup lumayan jauh. Gendra benar benar khawatir jika terjadi sesuatu pada Aleta.
Tuttt...tutt...tutt...
"Halo?"
"Iya tuan?"
"Gimana kondisi dirumah?"
"Saat ini masih sama tuan, para musuh tuan masih berada disekitar rumah dan tadi juga ada yang menembak kaca kamar Tuan."
"Aleta gimana ,baik baik saja?"
"Nona alaeta ketakutan Tuan."
" Ingat perintah saya jangan keluar dari--"
Dorrr......
"Aaaaaa......." teriak Aleta ketakutan
"Bi?" suara Gendra dari telpon
"Non tenang ya."
"Bi.... takut ,Aleta takut....hikss..."
"Sayang... Aleta..tenang ya saya sebentar lagi sampai jangan keluar kamar tetep disana , kalau kamu takut masuk keruang kerja saya!"
"hikss...hiksss..."
"Ajak aleta keruang kerja saya! saya sudah sampai jadi akan aman semua!"
"Baik Tuan."
"Mari non ,kita keruang kerja Tuan Gendra agar aman disana. Tuan Gendra sudah didepan mengurus semuanya."
Aleta ingin beranjak tapi area intimnya sangat sakit saat ini.
"Aawww...."
"Kenapa non?"
"Bisa bantu saya untuk berjalan bi?"
pembantu itu mengerti apa yang Aleta rasakan ,akhirnya Aleta dibantu berjalan menuju ruangan kerja Gendra.
Pertama kali Aleta melihat ruang kerja Gendra yang bernuansa hitam dan begitu mewah.
Kini Gendra telah tiba dipekarangan rumahnya, ia segera menghabisi orang orang yang telah menghancurkan rumahnya.
"Siapa kalian? Berani beraninya kalian mau mempermainkan saya?"
Dor dor dor
Tiba tiba Gendra diserang untung saja tembakan itu tidak mengenai Gendra.
Setelah musuh Gendra banyak yang terluka akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari rumah Gendra.
"Siapa sebenarnya mereka?"
"Sepertinya mereka orang suruhan Tuan."
"Bereskan semua masalah disini!"
"Baik Tuan."
Gendra langsung menuju kekamarnya untuk melihat kondisi Aleta.
"Sayang..."
"Sepertinya itu tuan Gendra non. Saya buka pintu sebentar nona tunggu disini saja ya."
"Iya bi."
"Aleta baik baik aja?"
"Iya Tuan. Tapi tadi non Aleta menangis karna takut saat kaca kamar terkena tembakan."
Gendra langsung menuju keruang kerjanya.
Ckelek
"Sayang... are you okey?"
"...."
"Hei ,kenapa hmm?? takut?"
Aleta tidka menjawab, ia bukannya takut tapi ia marah pada Gendra karna telah memaksanya tadi malam dan telah menyakiti.
"Sayang..." Tekan Gendra.
Aleta memalingkan wajahnya dari hadapan Gendra.
"Dengar saya panggilkan?Kenapa tidak mau menjawab hmm?"
Tiba tiba Gendra mengebrak meja kerjanya. Aleta terkejut tak berani menatap Gendra. ia tau saat ini pasti Gendra marah padanya.
"Sayang... jangan pernah kamu lancing emosi SAYA!"
"hikss...hiksss..."
Gendra menahan emosinya, ia lalu menghampiri Aleta dan memeluknya. Aleta tidak memberontak sama sekali ia merasa nyaman dalam pelukan Gendra.
"Jangan pernah pancing emosi saya. Saya sudah peringaktakn kamu berkali kali."
"...."
"Jawab saya Aleta!".
"Iya kak."
"Kamu sudah makan?"
"Be-Belum kak."
"Sekarang makan ya ,saya ambilkan sebentar."
Aleta binggung dengan tingkah Gendra yang kadang ia menjadi seorang yang kasar kadang juga ia bersikap baik padanya.
"Ayah, ibu Aleta kangen."
Gendra kembali membawa nampan berisi bubur yang telah dibuatkan asisten rumah tangganya dan air putih.
"Sayang makan ya.. aku suapin."
"Ngga usah kak, Aleta bisa makan sendiri."
"Mau membantah saya?"
Tanpa menjawab apapun Aleta menerima suapan dari Gendra. Aleta memakan habis makananya.
Tiba tiba Gendra mengusap lembut perut Aleta.
"Saya ingin benih saya cepat tumbuh."
"...."
Gendra lalu mengecup kening Aleta lembut dan kembali kebawah mengembalikan mangkuk bekas makan Aleta.
Aleta ingin kembali ke kamar tidurnya tapi ia susah untuk berjalan rasanya sangat sakit.
"Mau kemana sayang?"
"Mau ke tempat tidur."
"Saya bantu."
Gendra tiba tiba mengendong tubuh Aleta menuju ke tempat tidurnya.
"Masih sakit?"
"I-iya."
"Maaf saya memaksa kamu. Saya bantu obati ya."
"Eemm ti-tidak perlu."
"ngga papa sayang lagian saya juga sudah melihatnya semalam."
"kak tidak perlu saya ingin istirahat saja."
"Baiklah sekarang kamu istirahat. Kalau perlu apa apa panggil saya diruang kerja. Ingat jangan pernah berpikiran untuk kabur dari saya, karna saya punya banyak anak buah untuk mencari kamu."
"I-iya kak."
Aleta istirahat. Sedangkan Gendra berada diruang kerjanya untuk mencari informasi siapa yang mencuri senjatanya dan apakah orang yang menyerang rumahnya tadi juga orang yang sama yang mencuri senjatanya?"
"Halo. Kamu bisa kerumah saya? Saya butuh bantuan dari kamu!"
"saya kerumah kamu? Tapi bagaimana jika Aleta tau siapa saya sebenarnya?" ucap seseorang dari telepon.
"Itu urusan saya, biarkan saya nanti yang menjelaskannya pada Aleta."
"Baik ,saya akan kesana."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments