17. SALAH PAHAM

Beberapa saat kemudian Gendra melepaskan ciumannya pada Aleta.

"Kaka apaan sih? Orang lagi makan buah." ucap Aleta salah tingkah.

"Ngga usah malu sayang ,kamu juga menikmati ciumannya kan?" Goda Gendra.

"Tau ahh ,Aleta mau kekamar aja."

"Sayang jangan marah dong. Maaf ya kalo aku buat kamu cemburu. Lagian Bria juga temen Deket aku."

"Terserah."

"Yaudah ngga papa. Baby mau apa hmm? Bilangin sama mama ya jangan marah lagi sama papa okay?" Ucap Gendra dengan suara seperti anak kecil sambil mengelus perut Aleta lembut.

Aleta yang melihat itu tersenyum tipis ,ia bahagia jika kehadiran si kecil diperut Aleta bisa membuat Gendra berubah menjadi hangat dan tidak menyiksa Aleta. Aleta berharap jika Gendra terus bersikap seperti ini.

"Kak...maaf ya Aleta tadi marah sama Kaka."

"Ngga papa sayang... ucah sekarang mau makan? jalan jalan?"

"Aleta mau disini aja sama Kaka boleh?"

"Boleh sayang..sini deketan sama Kaka."

Aleta kini duduk disamping Gendra dengan kepala yang disandarkan pada dada Gendra. Aleta merasa nyaman sekarang ,Gendra juga merasa nyaman. Apakah Aleta sudah ada rasa cinta pada Gendra?.

"Kak rasanya nyaman banget kaya gini? Sering sering ya kaya gini?"

"Iya.."

Kringg...kring....

Telepon Aleta berbunyi.

"Halo yah..Bu?"

"Halo nak.. kamu baik baik aja kan?"

"Iya Bu, Aleta baik baik aja.."

"Syukurlah..."

"Oh iya Bu, yah Aleta mau kasih tau kalo Aleta hamil.."

"HAA?! Aleta hamil?"

"Iya Aleta hamil Bu,kata dokter usia kandungan Aleta 2minggu."

"Jaga diri kamu ya nak , jangan kecapean? Oh ya kamu ngga ikhlas hamil anak dari Tuan mafia?"

"Aleta berusaha Nerima Bu. Lagian anak ini juga dari Tuhan jadi Aleta berusaha buat jaga dia."

"Iya ,yaudah ya nak,ibu tutup teleponnya."

Selesai menelpon Gendra menatap Aleta dengan tatapan yang sulit diartikan. Aleta yang melihat itu takut jika Gendra akan marah padanya ,tapi ia tak melakukan kesalahan apapun.

"ka-kak kenapa?"

"Dapat handphone darimana?" ucap Gendra dingin.

"Eemmm da-dari kak Bara."

"Kenapa kamu terima? Ada hubungan apa kamu sebenarnya sama Bara hmm?"

"Ngga ada apa apa kak. Kemarin Kak Bara ngasih ini buat jaga jaga aja."

"Kamu pikir saya percaya? Semenjak Bara datang kesini kamu jadi lebih deket dengan dia. Sikap Bara ke kamu juga lebih deket sama kamu."

"Engga kak aku beneran ngga ada apa apa sama Kak Bara. Aku nggangep Kak Bara kaya Kaka aku sendiri."

"Bohong. Dia aja ngasih kamu handphone dan kamu pun ngga beri tahu aku sama sekali. Terus isi nomer handphone itu jangan bilang cuma ada nomer orang tua kamu dan Bara aja?!"

"Kak Bara ngasih ini bu--"

Saat Aleta ingin menejelaskan lagi Gendra lebih dulu pergi meninggalkan Aleta sendirian disana. Aleta saat ini takut jika Gendra marah besar padanya.

Aleta memutuskan untuk mengikuti Gendra. Ia menemukan Gendra masuk kedalam mobil dan Aleta segera berlari untuk menyusul Gendra yang kini sudah akan menjalankan mobilnya.

Tok tok tok

"K-kak buka dulu Aleta mau jelasin semuanya."

Aleta masih berusaha mengetok kaca mobil Gendra namun nihil Gendra tetap menjalankan mobilnya. Yang Aleta takutkan saat ini adalah Gendra mencari Bara dan entah apa nanti yang akan Gendra lakukan pada Bara.

Aleta menyusul Gendra dengan sopir dirumah Gendra. Ia mengikuti mobil Gendra yang sepertinya akan menuju ke apartemen Bara.

Tut...Tut....

"Halo kak."

"Halo Al ,ada apa?"

"Kak kayaknya Kak Gendra mau ke apartemen,tadi ada salah paham sama kak Gendra."

Aleta berusaha menjelaskan kesalah pahaman sama Gendra tadi.

"Yaudah Al jangan khawatir biar aku yang jelasin nanti sama Gendra."

Aleta menutup telponnya, dia masih mengikuti mobil Gendra. Tapi saat lampu merah Aleta kehilangan jejak Gendra. Gendra beberbelok bukan lagi ke arah apartemen Bara.

"Aduh non sepertinya kita kehilangan jejak Tuan Gendra."

"Yaudah pak kita coba ke apartemen kak Bara dulu ya."

"Baik Non."

Aleta yang mengira Gendra akan ke apartemen Bara salah. Kini entah kemana Gendra pergi yang jelas Aleta saat ini kehilangan jejaknya. Ia memutuskan apartemen Bara siapa tau Gendra ada disana tapi lewat jalan lain.

Sampai di Apartemen Bara. Aleta bergegas masuk ,tapi tidak ada Gendra disana.

"Kak..."

"Al? Gendra belum kesini."

"Kak tadi aku kira kak Gendra bakal kesini terus aku ikutin kak Gendra tapi aku kehilangan jejaknya. Aku kira di kesini lewat jalan lain tapi disini ngga ada."

"Tenang dulu Al. Coba gue hubungin dulu Gendra."

Bara mencoba menghubungi Gendra ,tapi tidak diangkat olehnya. Berkali kali mencoba menelepon tapi tidak bisa.

"Al lo pulang aja. Gue yang bakal cari Gendra oke."

"Engga ,aku ikut Kaka cari kak Gendra."

"Sebaiknya Lo pulang. Tunggu dirumah ,nanti kalo Gendra udah ketemu Lo gue kabarin."

"Engga kak , Aleta mau ikut cari kak gendra...hiks...hikss...."

"Jangan nangis Al. takutnya kalo Lo ikut cari Gendra dia bakal salah paham lagi. Lo tunggu dirumah nanti kalo Gendra duluan pulang ke rumah Lo kabarin gue."

"Yaudah ,Aleta pulang. Tapi nanti Kak Bara harus kabarin aku terus ya...hiks...hiks..."

"Iya Al. Lo sama supir kan? "

"Iya."

"Yaudah gue anter kebawah sekalian gue cari gendra."

Bara memutuskan untuk mencari Gendra. Dan Aleta pulang kerumahnya. Aleta saat ini khawatir pada Gendra.

...****************...

"AAARGGGHHHHHH......" Gendra memukul stir mobilnya keras.

"Kenapa gue sulit banget ngontrol emosi gue?"

Gendra berhenti di sebuah jalan sepi ia memukul mukul kepalanya.

"Pah,mana Gendra kangen..hiks...hiks..."

"Gendra ngga bisa tinggal sendiri disini. Gendra kangen ....hiks ..hiks..."

Gendra kembali melajukan mobilnya ke arah Bar. Ya saat pikirannya sedang kacau pasti Gendra memutiskan untuk minum alkohol karna menurutnya saat minum alkohol ia merasa tenang.

...****************...

Tujuan Bara saat ini adalah ke markas Gendra. Tapi saat sampai disana Bara tak menemukan Gendra. Dan saat ini Bara masih mencari Gendra. Malam telah tiba tapi Gendra masih belum ketemu. Bara sudah mencari di Bar disekitar kota itu tapi tidak ada Gendra.

"Al, maaf tapi Gendra belum ketemu."

Ya saat ini Bara sedang ada di rumah Gendra, memberi tahu pada Aleta bahwa Gendra belum ketemu. Ia takut jika Aleta kenapa Napa.

"Tenang Al ,nanti Gendra pasti pulang,sekarang Lo istirahat aja Lo lagi hamil jadi ngga usah banyak pikiran ya."

"Ngga ,Aleta mau cari kak Gendra sendiri aja. Laeta takut kak Gendra kenapa napa...hikss...hiks..."

"Gue yakin Gendra bisa jaga dirinya. Jadi lo sekarang istirahat,kasiah babynya."

"Lo udah makan?"

Aleta menggeleng.

"Makan Al. Lo harus inget di perut Lo ada nyawa. Lo ngga kasian sama baby?"

"Bi ambilin makan ya."

"Baik Tuan."

"Ini makannya Tuan."

"Sekarang Lo makan gue suapin!"

Aleta memakan makanan yang disuapi oleh Bara ia masih kepikiran dengan Gendra. Takut jika Gendra kenapa napa.

Ditengah makannya, Tiba tiba Gendra datang.

Gendra yang melihat Bara menyuapi Aleta pun tersulut emosi dan langsung menghantam Bara.

BUGHHH...

"Kak...."

"Aawss.."

"JADI BENER YA KALIAN ADA HUBUNGAN. BISA BISANYA GUE NGGA ADA DIRUMAH KALIAN MESRA MESRAAN DISINI?"

"K-ka de-dengerin Aleta dulu ya. i-ini ngga seperti yang Kaka kira kok. ta--"

"MAU ALESAN APA LAGI LO HMM? DAN LO BARA GUE BENER BENER NGGA HABIS PIKIR SAMA LO TERNYATA LO KAYA GINI YA DIBELAKANG GUE!!"

"Gen dengerin penjelasan Aleta dan gue dulu ya. Jangan emosi kaya gini!!"

"APA LAGI YANG PERLU DIJELASIN HMM? SEMUANYA UDAH JELAS KAN?"

"kak..."

Gendra lalu kembali menghajar Bara tanpa ampun. Aleta yang melihat itupun takut. Bodyguard dirumah Gendra juga tidak ada yang berani memisahkan mereka berdua.

"Kak...Stopp...hiks...hiks...udah kak...hiks..hiks.."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!