Gendra langsung mematikan telponnya.Siapa yang dielpon Gendra sebenarnya? Ada hubungan apa Aleta dengan orang tersebut?
Beberapa saat kemudian seseorang tersebut telah sampai di rumah Gendra.
"Mau bertemu tuan gendra?"
"Iya ,saya mau ketemu dengan gendra."
"Tunggu sebentar saya panggilkan dulu."
Salah satu pembantu dirumah gendra menuju kekamar gendra.
Tok tok tok
Gendra yang tengah adada di dalam kamarnya langsung membukakan pintu kamarnya.
"Tuan ada--"
"Baik saya akan kebawah."
Gendra segera kebawah menemui orang itu. Dengan Aleta yang masih tertidur lelap tanpa terusik sedikit pun.
"Hai."
Orang itu langsung memeluk dan mencium pipi kanan kiri gendra. Gendra hanya diam tanpa membalas pelukannya.
"Perlu bantuan apa?"
"Ada yang mencuri senjata dan menyerang rumah saya! Saya minta bantuan kamu untuk menyelidikinya."
"Sudah saya duga ,pasti kamu akan meminta bantuan itu."
"Kamu sudah tau masalah saya?"
"Yaa.. anak buah kamu yang selalu melaporkan kesaya setiap masalah anda gendra."
"Bagus.. saya minta kamu selidiki semuanya. Setalah dapat langsung kabari saya."
"Iya gendra ,jangan khawatir saya selalu bisa diandalkan."
Gendra mengangguk .
"Dimana istri kamu?"
"Dia diatas dikamar."
Setelah beberapa saat mengobrol tiba tiba Aleta datang kebawah dan melihat gendra dengan seorang wanita. Siapa dia?.
"Sepertinya aku aku kenal dengan model rambut dan postur tubuh itu? Tapi mana mungkin dia bisa disini?"
Tap tap tap
Gendra dan wanita itu menoleh kebelakang. Aleta terkejut saat tau ternyata wanita itu Bria. Ya itu Bria.
"Briaaa...?"
"Hai Aleta? Ketemu lagi kita?"
Bria menghampiri Aleta dan memeluknya. Aleta diam saja tak membalas pelukannya, ia masih terkejut dengan kedatangan Bria kerumah gendra. Gendra yang hanya duduk pun hanya melihat mereka berdua.
"Sayang, sini duduk."
Aleta menurut dan langsung duduk disamping gendra. Gendra pun dengan cepat memeluk pinggang istrinya.
"Kenapa binggung hmm? Kenapa Bria bisa disini?"
Aleta menganggung
"Bria teman kepercayaan saya."
Aleta menoleh kearah gendra tidak percaya.
"Dia bekerja dicafe ditempat kamu kerja juga karna suruhan saya. Saya yang menyuruh Bria untuk memata matai kamu , karna saya mengincar kamu dari lama sayang." Smirk gendra .
"Dan kamu dikeluarkan dari pekerjaan kamu juga karna saya ,saya yang menyuruh Bria untuk menuduh kamu mengambil uang kasir . Karna agar kamu tidak dapat membayar hutang orang tua kamu dan kamu bisa menjadi istri saya." Ucap gendra sambil mencolek dagu istrinya.
Aleta yang geram mendengar penjelasan gendra pun langsung melayangkan tamparan pada pipi kanan gendra. Gendra hanya terkekeh pelan.
"Kenapa kamu melakukan hal itu hah? Saya berusaha mencari kerja demi membayar hutang kepada anda ,tapi kenapa anda malah berbuat hal licik seperti ini?" Isak Aleta.
"Karna saya menginginkan kamu Aleta." Ucap Gendra santai.
Bria yang melihat pertengkaran suami istri itu pun hanya diam sambil bermain handphone.
"Saya kecewa pada kamu. Bisa bisanya anda berbuat seperti ini pada saya dan kedua orangtua saya."
Tiba tiba Aleta berlari menuju keluar rumah. Gendra yang melihatnya pun terkejut. Dengan sekuat tenaga Aleta berlari keluar rumah untuk melarikan diri dari Gendra.
"BERHENTI ALETA!!"
Aleta tak mendengarkannya. Gendra langsung menyuruh anak buahnya menutup pintu gerbang rumahnya.
"TUTUP PINTU GERBANG JANGAN BIARKAN ISTRI SAYA KELUAR!"
Sampai di depan pintu gerbang rumah Gendra. Aleta kebingungan karena pintu sudah ditutup dengan banyak bodyguard didepannya.
"Maaf nona ,Anda tidka bisa keluar dari sini."
"Saya mohon izinkan saya keluar dari sini... Hikss..."
"Maaf nona ini sudah perintah dari tuan gendra."
"Tapi saya mohon, saya.... Aaaaa......"
Teriak Aleta yang tiba tiba mendengar suara tembakan.
Yaa gendra yang sudah memberi tembakan itu ke atas guna menakut nakuti Aleta.
Gendra yang datang dari teras rumah dan berjalan menghampir Aleta. Dan kini Aleta masih berusaha membujuk bodyguard untuk membukakan pintunya.
"Saya mohon tolong buka pintunya... Hiks... Hikss...."
Dor dor dor
Gendra menembakkan peluru lagi keatas , hal itu membuat Aleta ketakutan menutup telinganya.
Aleta benar benar binggung saat ini ,ia takut gendra akan menyiksanya lagi. Kini gendra tepat didepannya dengan tatapan tajam menyeramkan dan dipenuhi amarah.
"Sayang mau kemana hm?"
"...."
"Sayang .... JAWAB PERTANYAAN SAYA!"
Gendra mencengkeram erat rahang Aleta. Aleta yang kesakitan hanya bisa meringis.
"Sa-sakit kak....hikss...."
"Sayang... Kenapa mau kabur hmm?"
"..."
"Jika ada yang berbicara sama kamu tatap matanya sayang jangan menunduk."
Aleta takut ingin menatap mata Gendra. Ia hanya menunduk dan menangis. Gendra yang geram dengan tingkah Aleta langsung menjambak rambut Aleta Samapi Aleta mendongkak keatas.
"Kak sa....kit le....pas kak...hiks...hikss ...."
Aleta disiksa didepan banyak bodyguard. Tanpa belas kasian gendra semakin menarik kasar rambut Aleta.
"JANGAN PERNAH KAMU COBA COBA KABUR DARI SAYA!"
"Hikss...hiks..."
Gendra menyeret Aleta ke dalam rumahnya. Ia mencengkram tangan Aleta kuat hingga meninggalkan bekas kemerahan di pergelangan tangan Aleta.
"Kak... Sa...kit....hiks...hiks..."
"....."
Setelah sampai didalam rumah Aleta dihempaskan kasar ke lantai oleh Gendra. Bria dan pembantu dirumah pun kaget melihat kemarahan Gendra.
"Aawwss...."
Aleta hanya bisa meringis merasakan punggungnya sakit saat dihempaskan kelantai.
"INI AKIBAT KAMU SUDAH MEMANCING EMOSI SAYA! SEKARANG MAU BERMAIN DENGAN SAYA HMM?" Seringai Gendra.
"hiks...hikss.."
Aleta hanya menangis dan tidak berani menatap Gendra.
"ayahh...ibu....Aleta mau pulang...."lirih Aleta.
Gendra berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Aleta. Gendra mengeluarkan pisau lipat dari sakunya dan diarahkan pada Aleta.
"Mau bermain main dengan saya hmm?"
"K-kak jangan Aleta mohon jangan...hiks...hikss..."
"Tapi saya ingin bermain dengan kamu ALETA!" tekannya pada kalimat terakhir.
"Ayahh...ibu...tolong Aleta..hiks...hikss..."Isak Aleta lirih.
Isakan tersebut hanya bisa didengar oleh gendra.
"Sayangnya orang tuamu tidak ada disini sayang... Hanya ada aku suamimu yang akan menyiksa kamu sendiri." Kekeh gendra.
"Mau dimulai Sekarang hmm?"
"hiks..hikss.."
Bria yang melihat itupun hanya tersenyum jahat. Ia senang melihat Aleta diperlakukan kasar oleh Gendra.
Tanpa berniat membantu Bria malah duduk manis sambil menikmati teh hangatnya.
Gendra tanpa kasihan langsung menggores lengan Aleta dengan pisau lipatnya.
"agghh...kak sa-kit.....hiks...hikss..."
Darah dari lengan Aleta bercucuran dilantai. Gendra yang melihat itu hanya tertawa puas tanpa membantu Aleta. Aleta yang merasakan perih dan sakit dilengannya hanya bisa menangis.
"Ayahh.. ibu... tolong Aleta...hikss ..hikss..."
Dengan teganya Gendra langsung meninggalkan Aleta begitu saja. Gendra menghampiri Bria dan malah ikut menikmati teh hangat yang sudah disiapkan oleh pembantunya.
"Dasar tidak bisa berubah ,padahal istri kamu sendiri."kekeh Bria.
"Sebaiknya kamu harus mulai lagi untuk berobat agar kamu bisa mengontrol emosimu. Apa kamu tidak kasian dengan istrimu,yang menjadi pelampiasan saat kau marah?"
"ck!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Dwi Santono
kak updet lg donggg
2023-05-31
0