"Kenapa kamu takut dengan saya? Kamu sudah melihat saya tadi kan? Siapapun yang menggangu saya ,maka harus mati ditangan saya sendiri . Dan kamu jangan coba coba buat masalah dengan saya! Ingat itu Aleta!" Tekannya di kalimat terakhir.
Setelah acara pernikahan selesai dan semua yang berantakan didepan halaman juga sudah dibersihkan. Aleta dan Gendra kini tengah berada didalam kamar.
"Mulai sekarang kamu tidur dikamar saya! Karna kita sudah menjadi suami istri."
"Iya kak. Eemm... Kak boleh ngga Aleta yang pakai kamar mandinya dulu? "
"Boleh!"
Selesai mandi ,Aleta tidak menemukan Gendra didalam kamar. Tapi saat Aleta sedang menggunakan sedikit polesan untuk wajahnya tiba tiba sebuah tangan melingkar diperutnya.
"Cantik..... Tanpa riasan wajah pun kamu juga sudah cantik sayang."
Seketika Aleta merinding mendengar bisikan sensual di telinganya.Dengan gerakan perlahan Gendra mengubah posisi Aleta yang menghadap kaca kini Aleta beralih menghadap dirinya.
"Ka-kak maaf tapi Aleta mau--"
"Ssstt.... Jangan bantah sayang , masih ingatkan kata kata saya. Jangan pernah membantah perintah saya!"
"I-iya kak. Tapi maaf Aleta lapar sekarang."
"Kamu lapar hmm? Yaudah kita makan sekarang!"
Aleta dan Gendra menuju meja makan ,banyak makanan yang telah disiapkan pembantu Gendra.
"Makan yang banyak sayang kamu harus banyak tenaga karna kita akan menghabiskan malam ini berdua."
Seketika tubuh Aleta merinding dengan perkataan Gendra. Ia takut malam nanti Gendra akan meminta haknya.
Kring kring kring
Suara telepon Gendra berbunyi.
"Iya halo?"
"APA?! SAYA KESANA SEKARANG!"
Gendra langsung bergegas pergi meninggalkan Aleta dimeja makan tanpa berpamitan pada Aleta. Aleta binggung kenapa Gendra terlihat marah saat mengangkat telepon, ada apa sebenarnya?.
Selesai makan Aleta menuju kamar. Dan kini Aleta sedang dibalkon kamarnya menikmati malam yang indah dengan banyaknya bintang dilangit.
"Ayahh.. ibuu.. Aleta kangen , kenapa nasib Aleta menjadi seperti ini? Aleta ngga mau nikah dengan Tuan Gendra yahh.. bu... Bawa pergi Aleta dari sini." Isak Aleta.
Jam seudah menunjukkan pukul 23.00 tapi sampai saat ini Gendra masih belum pulang dan Aleta sudah berada di alam mimpinya.
Disisi lain Gendra sedang mencari tau siapa yang berani datang kemarkasnya dan mencuri seniata senjata Gendra.
"Tadi ketika saya datang kesini kondisi markas sudah berantakan dan semua senjata hilang."
"Siapa yang berani datang kemarkas saya?"
"Kami juga belum menemukannya tuan , Cctv di markas juga sudah rusak."
"Cari tau siapa pelakunya saya tunggu infonya!"
"Baik Tuan!"
Di tempat lain terdapat seseorang berbaju serba hitam dan mengenakan masker serta topi yang sedang mengintai dari jauh markas Gendra.
"Ini baru awal Gendra Argantara." Kekeh seseorang itu
Kini pukul 01.00 Gendra kembali ke rumahnya,ia segera menuju ke kamar dan mendapati Aleta yang sudah tertidur pulas. Gendra langsung membersihkan dirinya dan menyusul Aleta ke tempat tidur.
"Seharusnya malam ini ,malam kita menghabiskan waktu berdua sayang." Lirih Gendra.
Gendra memeluk Aleta dan menyenderkan kepala Aleta pada dadanya sedangkan lengan kanan Gendra dijadikan bantal Aleta.
Pagi hari sinar matahari menembus kaca kamar pengantin baru tersebut ,Aleta bangun dan mendapati Gendra yang tidur disampingnya dengan tangan kanan yang berada diperut Aleta.
"Kenapa saat dilihat dari dekat ,dia begitu tampan dan tenang. Tapi kadang dia juga menyeramkan dengan tatapan tajamnya." Batin Aleta.
Akhirnya Aleta bangun dengan hati hati dan menyingikrkan tangan Gendra dari perutnya ,saat hendak beranjak dari kasur tiba tiba tangan Aleta di tarik oleh Gendra alhasil Aleta terjatuh diatas badan Gendra.
"Aahh..." Teriak Aleta
"Mau kemana sayang? Disini dulu ya temani aku tidur sebentar lagi."
"Maaf kak ,tapi aku harus menyiapkan sarapan untuk Kaka."
"Tidak usah sayang banyak pembantu disini ,jadi biarkan mereka yang menyiapkan itu sudah tugas mereka."
"Tapi kak--"
"Sstt ,kita habiskan waktu kita pagi ini , karna tadi malam saat aku pulang kamu sudah tidur jadi sebagai gantinya pagi ini yaa..."
Saat Aleta ingin menjawab bibir Aleta sudah bertemu dengan bibir tebal Gendra. Aleta benar benar syok dengan apa yang dilakukan Gendra , ya walaupun saat pernikahan kemarin Gendra juga sudah mengambil first kissnya . Tapi saat ini Aleta belum siap memberikan haknya kepada orang yang sama sekali belum ia cintai.
"Eemmhh... Kak... Eemmhh"
"Balas ciumanku sayang!"
Gendra semakin gencar mencium bibir seksi Aleta. Tangan kanannya digunakan untuk memegang tengkuk leher Aleta. Sedangkan tangan satunya digunakan untuk membelai tubuh Aleta. Aleta berusaha memberontak tapi nihil usaha yang dilakukan Aleta malah membuat ia menjadi dibawah Kungkungan Gendra.
"Kak... Emmmhh... Kak...." Aleta memukul dada Gendra karna pasokan oksigennya sudah habis.
Gendra menatap Aleta lekat ,saat ini Aleta benar benar ingin menangis bagaimana bisa seorang lelaki yang baru ia temui dan belum ia cintai akan mengambil haknya.
"Heeii jangan menangis sayang.. kita nikamti pagi ini ,kamu nanti juga akan merasakan kenikmatannya sayang.."
"....hiks ...hiks.."
Kini Gendra mulai membuka kancing baju Aleta. Tapi saat semua kancing terbuka, Aleta tiba-tiba mendorong Gendra sekuat tenaga hingga Gendra jatuh terhuyung ke belakang. Aleta mengambil kesempatan tersebut untuk lari kearah pintu. Tapi ternyata pintunya terkunci.
"Sayang... Mau kemana hmm? Mau kabur iya? Maaf ya sayang kuncinya ada disini." Gendra menunjukkan kunci yang kini sudah berada ditangannya.
"Kak... Aleta mohon jangan lakukan hal itu, Aleta belum siap Aleta mohon kak hikss... Hikss..."
"Kenapa belum siap hmm? Kita sudah sah menjadi suami istri sayang."
Gendra berjalan mendekati Aleta. Kini Aleta masih berusaha untuk membuka pintu kamarnya. Aleta berteriak memintanya tolong tapi tak ada siapapun yang menjawabnya.
"Jangan teriak sayang ,kamar ini kedap suara jadi kamu mau teriak sekencang mungkin Samapi suaramu habis pun tidak ada yang menolongmu."
"kak... aku mohon jangan sekarang hiks.... aku tidak akan memberikan tubuhku untuk orang yang belum aku cintai... hiks...."
"Kenapa hmm? KENAPA?!" Bentak Gendra didepan wajah Aleta.
Kini emosi Gendra benar benar memuncak , Gendra adalah seseorang yang tidak suka jika membantah perintahnya ia juga orang yang sulit untuk mengontrol emosinya. Gendra mencengkeram rahang Aleta kuat.
"Ka...lepas sa...kitt... hikss .."
"SAYA SUDAH PERNAH BILANG JANGAN PERNAH MEMANCUNG EMOSI SAYA ALETTAA!!!"
"hikss... hiksss"
"SEKARANG KAMU TANGGUNG SENDIRI AKIBATNYA!"
Aleta diseret oleh Gendra menuju kamar mandinya. Sampai dikamar mandi Aleta didorong kasar hingga punggungnya mengenai bathub. kini Aleta meringis kesakitan.
"aaasshh... hiks...hiks"
"BERHENTI MENANGIS ALETAA!! INI KAN YANG KAMU MAU!"
Gendra mengambil shower dan langsung mengguyur Aleta dengan air dingin, , Gendra benar benar kalut dengan emosinya. Susah untuk mengembalikan emosi Gendra karna ia pernah mengalami hal yang membuat dirinya menjadi seperti sekarang . Seorang mafia yang kejam dan kasar ,jadi jangan pernah memancing amarah seorang Gendra Argantara.
"Kak.... aku mohon stopp... aku minta maaf... hikss..."
Gendra berjongkok menyetarakan dirinya dengan Aleta.
"Ssttt... jangan menangis sayang... seperti ini kan yang kamu mau? saya berubah menjadi kasar? Ini diri saya . DAN SEKARANG KAMU RASAKAN AKIBAT DARI PERBUATAN KAMU SENDIRI!!" sembari mencengkeram rahang Aleta.
Gendra terus mengguyur Aleta tanpa belas kasihan. Sedangkan Aleta benar benar merasa kedinginan dan merasakan punggungnya yang masih sakit akibat benturan keras.
Beberapa saat kemudian Gendra menyudahi kegiatannya. Aleta sudah tergeletak lemah dengan bibir yang pucat.
"Gimana ,masih mau lagi hmm??"
"Kak.... dingin....hiks..."
"Tapi maaf sayang , aku belum puas menyiksa kamu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
sweet❤️
Astaga
2023-07-18
0