Beberapa saat kemudian Aleta tersadar dari pingsannya.
"Eeunghh..."
"Sayang udah sadar? Ada yang sakit ngga?"
Aleta diam menatap Gendra yang terlihat sangat khawatir padanya.
"Huek..Huekk..."
Aleta lalu berlari ke kamar mandi ,Gendra lalu mengikuti Aleta. Sampai di kamar mandi Aleta masih mual tapi tak ada yang dia keluarkan. Gendra memijat tengkuk leher Aleta.
"Sayang masih mual?"
"Udah engga kak."
Muka Aleta terlihat pucat dan lemas ,Gendra dengan sigap menggendong Aleta menuju ke tempat tidurnya.
"Istirahat dulu aku ambilkan minum."
Aleta mengangguk. Ia merasa tubuhnya sangat lemas ,mual dan kepalanya pusing. Entah apa yang terjadi dengan Aleta ,dia belum mengetahui bahwa dia sedang hamil.
Gendra kembali dengan membawa nampan berisi air putih dan bubur.
"Sayang ,minum dulu. Sayang makan ya ,bibi udah buatin bubur buat kamu."
"Engga kak ,Aleta lagi ngga nafsu makan. Aleta mual."
"Sayang sedikit aja ya ,mual itu wajar buat orang yang lagi hamil." Senyum Gendra.
"Ha-hamil?Aku hamil?"
"Iya sayang kamu lagi hamil sekarang ,disini diperut kamu ada anak kita."
Aleta diam ia terkejut mendengar kabar bahwa dia sedang hamil. Ia tak menyangka akan secepat ini ia memiliki anak. Aleta melamun entah apa yang ia pikirkan tapi ia merasa terkejut.
"Sayang ,heii kamu ngga seneng kamu hamill?"
"engga ,bu-bukan gitu kak. Aleta masih terkejut aja."
"Yaudah kamu sekarang makan dulu ya ,aku suapin."
"I-iya kak."
Aleta memakan bubur buatan bibi. Baru beberapa sendok Aleta sudah tak nafsu makan ,ia merasa mual.
"Udah kak ,Aleta mual."
"Yaudah sekarang kamu minum dulu terus istirahat. pokoknya kamu ngga boleh kecapean."
"iya kak,makasih."
"Aku kebawah sebentar ya ,nanti aku balik lagi kesini."
"iya kak."
...****************...
Bara yang kini sudah pulang dari rumah kedua orang Aleta ,ia sudah ada di apartemennya sekarang.
"Aleta gimana ya? Gue khawatir banget sama dia."
Bara mencoba menelepon Aleta tapi tak ada jawaban.
"Al ,Lo baik baik aja kan? Kenapa telpon gur ngga Lo angkat sih ,bikin khawatir aja."
Bara mencoba menelepon Aleta lagi tapi nihil tak ada jawaban dari Aleta.
"Gue harus kerumah Gendra sekarang ,gue takut kalo Aleta kenapa-napa."
Bara akhirnya memutuskan untuk menuju kerumah Gendra ,tapi saat diperjalanan ia melihat Gabriel musuh Gendra yang sedang bersama anak buahnya. Sepertinya ia akan pergi kerumah Gendra ,karna ini adalah arah kerumah Gendra.
"Gue harus kabari Gendra."
Tut...Tut...Tut...
"Gen ,gue liat ada Gabriel dan anak buahnya sepertinya dia akan kerumah Lo."
Bara langsung mematikan panggilan telponnya ,ia mengikuti Gabriel dari belakang.
...****************...
"Disana nanti kalian harus bergerak cepat ,culik gadis itu dan jangan sampai ada orang yang tau!"
"Baik Tuan."
"Sekarang kita berangkat ,tetap dengan rencana yang sudah kita susun."
Ya mereka adalah Gabriel dan anak buahnya ,mereka akan menyerang ke rumah Gendra dan sudah memiliki rencana matang yang sudah dipersiapkan.
Mereka terdiri dari kurang lebih 70 orang . untung saja Bara mengetahui bahwa Gabriel akan menyerang rumah Gendra jadi Gendra juga sudah siap dengan itu semua.
...****************...
Gendra dan anak buahnya kini tengah berdiskusi untuk penyerangan yang akan dilakukan oleh Gabriel dan anggotanya.
"Semuanya ingat jangan sampai lengah."
"Baik Tuan."
"Ada yang jaga disekitar kamar saya,jangan sampai gadis saya terluka."
Semuanya sudah siap untuk penyerangan.
Beberapa saat kemudian Gabriel dan anggotanya datang. Mereka langsung menyerang anggota Gendra yang ada didepan. Gendra yang sudah menunggu Gabriel dihalaman kini juga sudah mulai menyerang dengan berbagai senjata tajam.
"GENDRAA!!"
"MAU CARI MASALAH LAGI LO? MASIH BELUM KAPOK?"
"GUE NGGA ADA KATA NYERAH BUAT GANGGU KEHIDUPAN LO TERMASUK ISTRI LO!!"
"CIHH,COBA AJA KALAU BISA!"
Dor..dorr..dorr...
Mereka semua saling menyerang banyak yang terluka. Aleta yang kini terusik tidurnya bangun dan melihat dari jendela kamarnya. Aleta terkejut ada penyerangan lagi?.
Aleta kembali ke kasurnya ia meringkuk ketakutan.
Bugh bugh bugh
terdengar suara dari luar kamar Aleta. Aleta yang ketakutan pun masih diam di kasurnya sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya.
BRAKK....
Pintu kamar Aleta terbuka menampakkan seorang yang memakai topeng dan baju serba hitam. Aleta terkejut ia merasa takut saat ini.
"Si-siapa kalian?"
Aleta berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan mundur. Pria itu melangkah maju mendekati Aleta.
"To-tolong... Kak Gendra to..long... hiks..hikss.."
Pria itu semakin dekat dengan Aleta. Aleta yang ketakutan pun binggung harus berbuat apa. Ia meraih vas bunga di samping nakas dan melemparkannya. Tapi tidak tepat sasaran ,Pria itu bergerak cepat meraih tangan Aleta dan membekap mulut Aleta.
"Eeunghh...eungghh..."
Aleta berusaha melepaskan diri. Tapi tidak bisa tenaganya lebih kuat pria itu.
Dor......
"Agghh...."
Aleta terlepas dari dekapan pria itu ,ia melihat pria itu kesakitan karna ditembak oleh Bara. Ya Bara menembak pria itu.
Aleta yang kini ketakutan menjauh dari bara dan pria itu. Mereka saling menghantam dan menyerang menggunakan senjata tajam.
"Aleta msuk keruang kerja Gendra dan kunci pintunya. Cepat...." perintah Bara.
"i-iya kak."
Aleta menurut ia segera masuk ke ruang kerja Gendra dan mengunci pintunya. Dengan nafas yang tidak teratur Aleta merasakan nyeri diperutnya.
"aawwss... kenapa sakit?"
Aleta menahan sakit diperutnya ia mendudukkan dirinya di sofa sambil mengusap perutnya.
Diluar masih sama seperti tadi ,banyak yang masih menyerang dan menghancurkan rumah Gendra. Didalam kamar pun Bara juga masih menghajar pria tadi.
Beberapa saat kemudian suara pukulan ,tembakan sudah berhenti. Entah siapa yang terluka dan mati Aleta tak tau ,yang pasti saat ini Aleta masih merasakan nyeri di perutnya.
Tok tok tok
Tiba tiba pintu ruangan Gendra ada yang mengetuk ,Aleta ingin membukanya tapi takut.
"Sayang... ada didalam? Are you okay?"
"Kak Gendra."
Aleta bergegas membukakan pintu.
"Kak Gendra..." Aleta lalu memeluk Gendra.
Padahal saat ini kondisi Gendra yang dipenuhi darah di lengannya. Dan baju yang sudah berubah warna dari putih menjadi merah ,Aleta tak menghiraukan itu ia sangat khawatir pada Gendra.
"Sayang... peluknya nanti lagi boleh? Lihat semua ada darah sayang..."
"Engga aku ngga mau lepas... aku takut..hiks...hiks.."
"Hei udah ,sekarang ada Kaka ,Kaka ijin ganti baju dan bersihin diri dulu ya.."
"engga kak ,Aleta takut..hiks... tadi ada yang mau culik Aleta...hiks...hikss..."
Tangis Aleta semakin menjadi jadi ,ia ingat tadi saat ia akan diculik oleh orang tadi.
"kamu mau diculik?"
"i-iya tadi aku mau diculik... Aleta takutt... hikss .. Aleta ngga mau ditinggal sendirian..."
"Maaf ya sayang... tapi kamu ada yang luka ngga? "
"Engga,tadi Kaka bara nolongin aku ,tapi perut aku sakit...hiks...hiksss.."
"Sekarang lepasin dulu pelukannya ya ,kita duduk biar aku usap perutnya."
Aleta menurut ia melepaskan pelukannya dan duduk disofa.
"Kak bau huek..huek.."
"Kaka bersih bersih dulu ya... Kamu disini."
"Engga Aleta takut..."
"Al, Lo ngga papa kan?"
Tiba tiba Bara datang .
"Sayang ,ada Bara kamu sama dia dulu ya ,aku mau bersih bersih dulu."
"Iya ,biar gue yang jaga Aleta. Lo bersihin dulu diri Lo."
Gendra membersihkan dirinya. Kekacauan yang ada dikamar dan di halaman juga sedang diberihkan ,kini Aleta pindah untuk ke kamar Aleta dulu. Karna kamar Gendra sedang diberihkan oleh pembantu dirumahnya.
"Al,Lo tadi ngga di apa apain kan sama orang tadi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments