Aleta berusaha berdiri walaupun darah dilengannya masih terus keluar. Ia menahan rasa sakit dan perih di tangannya.
Gendra tidak berkutik sama sekali ia hanya melihat istrinya yang sedang kesakitan tanpa membantu.
"Mari non saya bantu."
Salah satu pembantu dirumah Gendra tiba tiba menghampiri Aleta ,berniat untuk membantu Aleta. Aleta hanya diam tak menjawab apapun.
"Biarkan dia. Jangan ada yang membantunya."
Pembantu itu pun langsung melepaskan tangannya dari Aleta.
Tak berani membantah Tuannya ia segera pergi dari sana. Aleta menatap pilu kearah Gendra.
"Kenapa menatap saya seperti itu hmm?"
"....."
Tak menjawab apapun , Aleta berusaha berjalan menuju kamarnya ia berpegangan pada dinding disampingnya.
Aleta menangis merasakan sakit dilengannya.
"Ayah kenapa hidup Aleta seberat ini? Aleta capek. Aleta kangen ayah sama ibu. Aleta pengen ketemu kalian...hikss..hikss.." Batin Aleta.
Aleta masih berusaha berjalan dan Gendra dan Bria yang hanya menatap tanpa ingin membantu.
"Biarkan aku yang membantu Aleta kekamarnya." Ucap Bria.
"Biarkan dia berjalan sendiri."
"Apa kau tak kasian melihat istrimu yang sedang menahan sakit dilengannya, dan tadi kau juga medorong kasar tubuhnya mungkin saja tulang punggungnya retak."kekeh Bria.
Sampai didepan tangga Aleta berusaha naik dengan menahan sakit di punggungnya dan perih di lengannya. Saat Aleta naik ditangga kedua ia merasakan pening dikepalanya Aleta diam sebentar untuk menetralkan pandangannya yang buram.
"Aawsss..." Aleta memegangi kepalanya yang sakit.
Saat akan menaiki tangga ke tiga tiba tiba Aleta terpeleset dan jatuh kebawah. Gendra yang melihat itupun tak beranjak.dari tempat duduknya. Sedangkan Bria yang ingin membantunya dicekal tangannya oleh Gendra.
Aleta masih sadar ia merasakan tubuhnya benar benar sakit, kepalanya pusing dan perih ditangannya Ki i semakin menjadi akibat terkena lantai saat jatuh.
"Jangan ada yang menghampirinya , biarkan saja dia. Jika ada yang berani membantunya maka akan tau akibatnya. Sekarang kalian kembali bekerja!"
Tak berani membantah Tuan Gendra ,semua asisten rumah tangga dan bodyguardnya kembali bekerja seolah tak terjadi apa apa.
Aleta diam ia sama sekali tidak bergerak karena tubuhnya benar benar sakit. Aleta yang jatuh terlentang kini ia menatap gendra dengan tatapan pucat dan sayu , darah yang masih menetes , dan hidung Aleta yang kini mengeluarkan darah.
"Sakit hmm? Saya tidak akan membantu kamu sayang , jadi berusaha sendiri ya." Kekeh Gendra.
"Kak.. sa-kitt....to-long Aleta kak....aagghhh..." Isak Aleta sambil memegangi kepalanya yang begitu sakit.
Gendra menghampiri Aleta dan berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Aleta.
"Aaggkhhhhh...." Teriak Aleta.
Tanpa belas kasihan gendra malah menekan luka sayatan dilengan Aleta.
"Ini belum seberapa sayang..."
"Gendra, aku pulang dulu nanti jika ada kabar aku akan hubungi kamu."
"hmm"
"Aleta maaf aku ngga bisa bantu kamu ,semoga kamu kuat ya."
Setelah Bria pergi gendra masih berada ditempat dengan Aleta yang kini masih merintih kesakitan. Beberapa saat kemudian Aleta pingsan dengan darah yang keuar dari hidungnya.
Gendra yang melihat itupun langsung menepuk pipi Aleta.
"Heii, bangun jangan kira saya bisa dibohongi oleh kamu, saya tetap tidak akan menolong kamu."
Gendra pergi begitu saja meninggalkan Aleta yang masih pingsan.
"Jangan ada yang berani menolong dia. Biarkan di disana sampai dia sadar dan berusaha sendiri."
"Iya Tuan."
Setelah itu Gendra pergi keluar dari rumahnya entah dia akan kemana. Pembantu dan bodyguard di rumah Gendra menatap Aleta kasihan ,ingin membantu Aleta tapi mereka tidak berani membantah perintah Gendra.
"Bagaimana keadaan rumah tangga mereka?"
"Sangat kacau! Gendra dengan emosi yang sulit dikontrol dan istrinya yang suka membantahnya." Kekeh Bria
Yaa dia Bria dan Gabriel , mereka memiliki rencana untuk menghancurkan Gendra, Bria yang pura pura baik didepan Gabriel karena ia ingin Gendra hancur karena Gendra sudah membunuh orang tua Bria ,Tapi Gendra tidka tau ternyata orang tua yang dibunuh beberapa tahun lalu memiliki anak yang sekarang malah sangat dipercaya oleh Gendra.
"Bagus... Tetap dengan rencana jangan sampai kita ketahuan!"
"Baik sayang...."goda Bria.
Disisi lain Gendra sedang berada di markas untuk menenangkan diri. Ia meneguk wine yang berada didepannya.
"Aagkkkhhhh......." Gendra berteriak sambil menjambak rambutnya.
Disisi lain aleta yang masih pingsan tiba tiba dihampiri seorang laki laki seumuran dengan Gendra. Laki laki itu lalu mengendong Aleta menuju kamar Gendra. Ia tau jika itu istri Gendra karna sudah diberitahu oleh pembantu dirumah Gendra.
"Bi ,panggilkan dokter ya."
"Baik Tuan."
Laki laki itu lalu menyuruh pembantu yang lain untuk mengganti pakaian Aleta ,karna banyak bercak darah yang menempel dibaju Aleta.
Setelah selesai laki laki itu lalu membersihkan darah di sekitar lengan yang digores oleh Gendra tadi.
"Gendra brengsek!"
Kini dokter pribadi keluarga Gendra telah datang dan memeriksa Aleta. Luka yang dibuat Gendra cukup dalam jadi luka Aleta harus dijahit beberapa jahitan oleh dokter. Dan juga kaki Aleta terkilir aibat terjatuh dari tangga.
"Bi buatkan bubur untuk dia."
"Baik Tuan."
"Malang sekali nasibmu.Kenapa kamu harus terjebak dengan Gendra?" lirih laki laki itu.
Beberapa saat kemudian Aleta terbangun dari pingsannya. Ia memegangi kepalanya yang masih sedikit pening.
"Aaawsss..."
"Heii, udah bangun? Ada yang sakit?"
Aleta terkejut, siapa orang itu? kenapa dia bisa dikamar dlbersama Aleta? Aleta takut saat ini.
"Si-siapa kamu?.Tanya Aleta takut.
"oh ya kenalin aku......"
Gendra yang kini masih di bar dan telah menghabiskan 3 botol wine tapi dirinya belum mabuk, karna gendra sangat kuat dengan minum minuman keras. Akhirnya gendra memutuskan untuk pulang kerumahnya dengan keadaan berantakan.
Gendra tiba dirumah hampir sore , Gendraasih ingat ia meninggalkan Aleta dengan keadaan pingsan dan banyak darah. Gendra segara masuk dan sesampainya didalam Gendra terkejut dimana Aleta?. Gendra mendengkus marah. Ia menghampiri pembantunya.
"Dimana Aleta?" Tanya Gendra dengan tatapan marah.
"No-nona Aleta ada dikamar tuan."
"Siapa yang berani menolong gadis itu hmm?"
"Ta-tadi ada......"
Pembantu itu belum selesai menjawab tapi Gendra sudah bergegas menuju kamarnya. Gendra yang dengan keadaan emosi langsung mendobrak pintu kamar. Sedangkan Aleta yang kini tengah makan dan disuapi laki laki itu terkejut. Gendra yang melihat Aleta disuapi laki laki lain langsung tersulut emosi.
"ALETAAA!!"Teriak Gendra.
Gendra langsung menendang laki laki itu ,dan kini Alki laki itu tersungkur dan mangkuk berisi bubur itu tumpah.
"Ka-kak..."
"DIAM ALETA,BERANI BERANINYA KAMU BERSAMA LAKI LAKI LAIN DIKAMAR INI HM?"
Laki laki itu bangkit dan menoleh menatap Gendra. Gendra yang melihat itu pun kaget,ternyata dia adalah sahabat kecilnya Bara Kanendra. Bara yang sudah menjadi sahabat kecil Gendra. Bara baru balik dari luar negeri setelah menyelesaikan sekolahnya dan kini dia kembali ke sini untuk bertemu Gendra dan hidup di Indonesia.
"Bara??"
"Iya, ini gue . Lo kenapa mukul gue anjing."
"Sorry gue ngga tau kalo lo. Kapan Lo Dateng?"
"Baru tadi gue Dateng ,dan langsung kerumah Lo. Dan ternyata setelah sampe sini gue ngeliat istri Lo pingsan ,dan malah ngga ada yang ngebantu istri Lo."
Gendra menatap Aleta yang masih ketakutan.
"Biarin ,harusnya Lo ngga usah bantu dia."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments