Aleta kini merapikan piring makan yang tadi dan dia bergegas menuju ke kamar.
"Kak... Kaka.."
"Apa ada yang salah dengan pertanyaan aku ya? Apa kak Gendra marah sama aku?"
Aleta kini takut jika membuat Gendra marah lagi.Ia takut disiksa lagi oleh Gendra. Akhirnya Aleta memberanikan diri menuju kedepan pintu ruang kerja Gendra.
Tok tok tok
"Gendra gue tau apa yang Lo lakuin didalem ya. Buka Gendra gue mau ngomong sama Lo."
Akhirnya Gendra membuka pintu ruangannya. Tak lupa ia juga menguncinya lagi.
"Kak ,Kaka didalam ya?"
Tak ada jawaban dari dalam. Aleta mencoba lagi.
"Kak Aleta mau masuk boleh?"
Disisi lain Gendra yang kini tengah berada didepan meja kerjanya dengan tiga botol minuman keras dan rokok. Ya diruang kerja Gendra ada tempat dimana ia menyimpan banyak minuman alkohol dan rokok. Jika trauma itu muncul atau sedang ada sesuatu yang menggangu isi kepalanya Gendra pasti akan menghabiskan banyak minuman alkohol.
Gendra diam dengan tatapan kosongnya. Ia kembali mengingat masa lalu yang menjadi traumanya sering kambuh.
Ting tong...
Aleta yang mendengar bel rumah berbunyi akhirnya bergegas keluar melihat siapa yang datang.
"Kak Bara?"
"Hei Al ,kemana Gendra?"
"eeemm kak Gendra ada diruang kerjanya kak."
"Aku boleh kesana?"
"Tapi ruangannya dikunci kak. Oh iya Aleta boleh tanya?"
"Boleh Al mau tanya apa?"
"Kak Gendra kenapa tadi saat Aleta tanya tentang kedua orangtuanya kak Gendra langsung pergi tanpa menjawab apapun tadi juga tatapan kak Gendra kaya marah. Aleta takut."
Deg. Ini yang Bara takutkan , Aleta akan bertanya tentang orangtua Gendra dan pastinya Gendra akan marah besar jika ada yang menanyakan tentang kedua orangtuanya.
"Eemmm Al ,biar Gendra yang cerita sendiri ya nanti. Mungkin ini belum waktunya kamu tau."
"I-iya kak."
"Aku keruangan Gendra dulu ya."
"iya kak ,tolong bilangin ya jangan marah sama Al. Soalnya Al takut kalo kak Gendra marah kaya monster."
Bara terkekeh melihat tingkah Aleta yang mengemaskan.
"Iya Al." kekeh bara sambil mengacak acak rambut Aleta pelan.
"Ihh kak bara jangan acak acak rambut Aleta dong."
Bara tertawa. Ia langsung menuju ke ruang kerja Gendra.
...****************...
Aleta memutuskan untuk berada di ruang tv karna sudah malam juga. Tapi pikiran Aleta saat ini dipenuhi dengan Gendra.
"Kak Gendra sebebarnya kenapa si? Apa ada menyimpan sesuatu yang tidak aku ketahui?"
Disisi lain Bara yang kini sedang ada didepan pintu ruang kerja Gendra dan sudah mengetok pintu tapi tak ada jawaban apupun darinya.
"Gendra buka pintunya ini gue Bara."
Gendra yang mendengar itu suara Bara tetap diam ditempatnya tanpa berniat membukakan pintunya.
"Gendra , gue udah tau apa yang membuat Lo mengunci diri di dalam , Aleta tadi udah cerita sama gue."
"...."
"Gendra ayolah buka pintunya, gue perlu ngomong sama Lo."
"Pergi! Gue ngga mau diganggu sama siapa pun." Teriak Gendra.
"Oke gue pergi sekarang. Tapi gue mohon sama Lo jangan pernah Lo sakitin istri Lo!"
Bara tau yang saat ini sedang Gendra rasakan ,trauma yang kembali pada dirinya dan ia sulit untuk melupakan itu. Ia seharusnya berobat untuk kesembuhan traumanya tapi ia tidak mau menjalaninya.
Bara memutuskan pergi dari sana ,dan menghampiri Aleta yang kini sedang menonton televisi.
"Al,gue izin pulang ya."
"....."
Hening tak ada jawaban. Bara kemudian mendekat dan duduk disebelah Aleta tapi gadis itu masih tidak sadar akan kehadiran Bara.
"Al.." panggil Bara lagi sambil menepuk pelan pundak Aleta.
"Hah..." Aleta terkejut.
Ternyata sedari tadi Aleta tidka menonton televisi melainkan ia melamun.
"Al ,kamu ngelamun ya?"
"Ahh ngga kok kak ,Aleta cuma udah ngantuk aja." elak Aleta.
Ya Aleta berbohong pada Bara,padahal ia dari tadi melamun memikirkan Gendra.
"Aku izin pulang ya Al. Maaf tadi aku udah berusaha buat Gendra buka kuncinya tapi tetap Gendra tak mau membukanya."
"Ngga papa kak biar nanti Aleta aja yang ngebujuk Kak Gendra."
"Al ,nanti kalo ada apa apa atau Gendra nyakitin dan siksa kamu langsung telfon aku ya. Aku tau kalau Gendra marah pasti dia ngga inget siapa yang sedang ia siksa saat itu. Aku udah kenal Gendra dari kecil jadi kamu juga jangan pernah buat Gendra marah ya. Takutnya nanti kamu yang kena siksaanya." Bara benar benar sesayang itu kepada Aleta karna Bara tau sikap Gendra saat sulit untuk mengontrol emosi.
"Oh iya ini ada handphone aku udah isi nomor telpon aku jadi nanti kalau ada apa apa kabari aku ya." Jelas Bara sambil mengusap lembut rambut Aleta.
"Iya kak ,makasih ya Kaka udah mau lindungin Aleta." Tiba tiba Aleta menangis.
"Hei jangan nangis Al." kini Bara mendekap tubuh kecil Aleta.
"Aleta ngga nyangka bakal hidup sama Kak Gendra ,Aleta sebenernya belum siap buat nikah kak.. hiks...hiks...Al-Aleta kangen sama ayah dan ibu..hiks..hiks..."
"Udah ya Al ngga papa aku yakin kamu bisa buat Gendra berubah, Jadi kamu juga harus kuat ya. Nanti aku janji bakal bawa kamu ketemu sama ayah dan ibu. Senyum dulu dong ,kalo nangis ngga cantik tau." Kekeh Bara.
"Iya kak,makasih ya kak. Maaf juga Aleta malah curhat ke Kak Bara."
"Ngga papa ,kamu udah Kaka anggap kaya adik Kaka sendiri. Kaka pamit pulang ya."
"iya. hati hati ya kak."
Bara beranjak pergi dari rumah Gendra.
Kini Aleta juga bergegas menuju kamarnya dan mulai akan membunuh Gendra lagi. Karna hari sudah mulai malam dan Gendra pasti juga butuh istirahat.
...****************...
Didalam ruang kerja ,Gendra kini telah menghabiskan banyak minuman alkohol saat ini ia benar benar mabuk berat.
"Aleta.. sini sayang..."
Gendra sudah mulai ngelantur ,dia berjalan kearah pintu ruangannya.
Aletayang kini juga hampir dekat dengan pintu ruang kerja Gendra ,saat ingin mengetuk pintu tiba tiba pintu itu terbuka dan menampilkan Gendra dengan keadaan yang berantakan.
"Kak.. kak Gendra..."
Ucapan Aleta terhenti saat tiba tiba Gendra mencium bibirnya. Aleta yang terkejut dengan tingkah Gendra pun ingin menghindar tapi tenaga Gendra lebih kuat.
"Kak..emmhh.. ka.. Ge...ndraa..."
Aleta yang mencium bau alkohol dari diri Gendra pun langsung sadar bahwa lelaki itu pasti habis minum.
Gendra memojokkan Aleta ke tembok ,ia juga semakin memperdalam ciumannya. Tak lupa Gendra juga kadang ngomong tidak jelas akibat efek mabuk.
"kak...Le...pas...."
Beberapa menit kemudian Gendra melepaskan ciumannya tapi ia masih mengungkung Aleta.
"ha...hahh...." Aleta menetralkan nafasnya.
"Kak kenapa? Sadar kak!"
"Sayang....." Gendra mengelus pipi Aleta lembut.
Saat Gendra ingin menciumnya lagi Aleta dengan segera mengalihkan wajahnya kesamping.
Gendra yang melihat itu pun menjadi kesal ,bisa bisanya Aleta menolaknya.
"Kak stoppp sadar kak ,Kaka lagi mabuk..Kaka dalam pengaruh alkohol jadi stop sebaiknya Kaka istirahat!."Ucap Aleta dengan nada yang sedikit tinggi.
"kenapa meninggikan suara kamu sayang...?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
hitari yura
bara kasih gw aja 😋
2023-07-05
0