9. MASA LALU GENDRA?

Setelah kesalah pahaman di dalam kamar tadi kini Gendra dan Bara sedang berada di ruang kerja Gendra. Dan Aleta saat ini sedang tidur dikamar setelah minum obat.

"Kenapa Lo bisa ada disini? Dan kenapa Lo ngga kabarin gue kalo Lo mau balik ke indo?"

"Yaa, sebenernya gue balik kesini mendadak jadi ngga sempet buat kasih kabar."

"Oh iya ,kenapa Lo bisa tau kalo dia istri gue?"

Flashback on

Bara kini tiba di rumah Gendra. Ya semua bodyguard dan pembantu dirumah Gendra sudah tau jika Bara adalah sahabat lama Gendra.

"Tuan Bara?mau cari Tuan Gendra?"

"Iya,saya mau cari Gendra. Ada dirumah?"

"Maaf Tuan saat ini Tuan Gendra sedang pergi."

"Oh,yasudah kalo gitu saya tunggu saja didalam."

Bara memasuki rumah Gendra. Dan saat ia masuk keruang tamu Bara terkejut melihat seorang wanita yang pingsan dengan darah di lengan dan dibajunya. Bara menghampiri wanita itu.

"Bi, ini siapa?"

"Eemm ,itu istri Tuan Gendra."

"Istri?Kapan Gendra menikah?"

"Iya, Tuan gendra sudah menikah beberapa Minggu lalu."

"Tapi kenapa istrinya bisa seperti ini? Dan kenapa kalian tidka menolongnya ,dia terluka."

"Maaf Tuan kami semua tidak berani menolongnya, Tuan Gendra menyuruh kita untuk tidak menolongnya."

Tanpa basa basi lagi Bara langsung mengendong Aleta kekamarnya.

"Gendra benar benar tidak berubah."

Flashback off.

"Terus kenapa Lo biarin istri Lo kaya gitu? Dan jangan bilang Lo yang buat luka dilengannya?"

"Ya itu ulah gue ,karna dia udah bikin gue emosi."

"Lo kenapa ngga bisa berubah si? Dan jangan bilang Lo udah ngga pernah berobat lagi? Pikirin kondisi Lo Gendra."

"Lo ngga usah ikut campur urusan gue!"

"Kalo gue ngga ikut campur ,siapa lagi yang bisa ngertiin Lo. Lo aja ngga pernah cerita tentang trauma Lo sama siapapun. Kontrol emosi Lo , Lo harus berobat buat sembuhin trauma itu, ikhlasin semua Gen ,Lo harus mulai kehidupan Lo dengan jangan ingat ingat semua luka di masa lalu Lo. "

"Udah deh Bara ,Lo kalo kesini cuma mau nasehatin gue mending Lo pulang. Gue bisa urus diri gue sendiri."

"Oke gue pulang. Ingat jangan sakiti istri Lo lagi."

Bara memutuskan untuk pulang ke apartemennya yang ada diindonesia, ia tidak mungkin untuk pulang ke luar negeri karna tujuannya untuk melanjutkan hidupnya di Indonesia.

Setelah kepergian Bara ,Gendra kembali ke kamarnya dan melihat Aleta yang kini tengah tertidur pulan dengan tangan kanan yang diperban.

"Maafin saya ,karna saya sulit mengontrol emosi jadi saya melukai kamu." Ucap Gendra sambil menggenggam tangan Aleta.

Kini jam menunjukan pukul 22.00 Aleta terbangun dari tidurnya. Ia mendapati Gendra yang tengah tertidur disampingnya.

"Kenapa kalo dilihat seperti ini , Kak Gendra terlihat tampan dan tenang. Beda lagi jika sudah marah tatapan yang tajam dan menyeramkan. Batin Aleta.

Aleta mencoba bangun untuk mengambil minum. Namun saat hendak turun tangan Aleta di tarik oleh Gendra.

"Mau kemana?"

Aleta terkejut. "Eem ma-mau ambil minum kak."

Namun tiba tiba Gendra bangun dan mengambilkan minum di meja. Aleta yang melihat itu pun kaget kenapa tiba tiba Gendra baik padanya. Gendra menyodorkan minumnya pada Aleta.

"Makasih kak." Lalu Aleta meminumnya.

"Masih sakit?" Tanya Gendra

"Sedikit."

Gendra langsung memeluk tubuh kecil Aleta. Aleta dibawa ke dekapan Gendra. Aleta yang kaget dengan perlakukan Gendra pun tak membalas pelukan gendra.

"Kenapa senyaman ini?" Batin Gendra.

Gendra meletakkan kepalanya pada ceruk leher Aleta. Ia merasakan kehangatan dalam pelukan Aleta. Yang mungkin sudah begitu lama ia tak merasakan lagi pelukan hangat seperti ini setelah kepergian orang tuanya.

"Aawsss ..." Ringis Aleta.

"Kenapa hm? Ada yang sakit?"

"Maaf kak ,tapi tangan kak Gendra tadi kena Luka Aleta."

"Maaf ya sayang." Lalu Gendra mengecup kening Aleta lembut.

"Sekarang tidur lagi ya,masih malam."

"Iya kak."

Aleta dan Gendra kembali tidur dengan Gendra yang memeluk Aleta.

Kini pagi telah tiba ,sinar matahari memasuk kamar mereka berdua membuat Gendra bangun lebih dulu. Gendra yang bangun lalu menatap istrinya yang masih tertidur pulas.

Gendra beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.

Beberapa saat kemudian Aleta bangun.

"Egghhh....."

Ceklek

"Sayang udah bangun hmm?"

Aleta melotot melihat Gendra yang keluar dari kaakr mandi tanpa mengenakan baju dan hanya mengenakan boxer dengan rambut yang basah.

"Kenapa mau pegang?" Goda Gendra sambil menunjuk perut sixpacknya.

"A-apa sih kak." Jawab Aleta malu.

"Mau pegang boleh sayang,tubuh saya milik kamu juga."

Aleta tersipu malu.

"Yaudah ,sekarang kamu mandi ya. Aku mau ajak kamu jalan jalan."

"Iya kak. Eemm kak Aleta ngga bisa buka bajunya."

"Saya bantu ya."

Gendra membantu Aleta membuka bajunya ,karna tangan Aleta masih sakit. Sebenarnya Aleta malu meminta tolong Gendra untuk membantu melepaskan bajunya tapi mau gimana lagi. Setelah baju Aleta terlepas Gendra tiba tiba mengendong Aleta menuju kamar mandi dan mendudukkan Aleta di wastafel.

"Kak... Kak Gendra.... Turunin...."

Diam sayang..."

Belum sepenuhnya pakaian Aleta terlepas . Hanya sisa pakaian dalam dan celana pendeknya. Aleta yang kini duduk diwastafel dan Gendra yang berada didepannya ia merasa takut jika Gendra akan macam macam dengannya.

"Ka-kak ,Kak Gendra boleh keluar sekarang Aleta bi-bisa sendiri."

"Tangan kamu masih sakit sayang , mana bisa kamu mandi sendiri hmm?"

"Ta-tapi kan ,A-aleta..."

Belum selesai melanjutkan bicaranya tiba tiba Gendra mendekatkan bibirnya pada bibir Aleta dan menciumnya dengan lembut. Aleta yang mendapat perlakuan seperti itupun kaget. Tapi ciuman Gendra saat ini benar benar lembut tanpa paksaan dan akhirnya Aleta terbawa suasana dan membalas ciuman Gendra.

Ciuman itu berlangsung cukup lama keduannya menikmati ciuman itu. Lalu Gendra melepaskan ciuman itu.

"Maniss..." goda Gendra.

Pipi Aleta merah ia merasa malu saat ini.

Dan ternyata disaat ciuman tadi pakaian dalam Aleta sudah terlepas semua ,entah kapan itu terlepas yang pasti Aleta tidak menyadarinya.

"K-kak...." Ucap Aleta sambil melihat ke tubuhnya yang sudah tidak memakai sehelai kain pun.

"Saya juga sudah pernah melihatnya sayang.... Saya akan membantu kamu mandi ,saya janji tidak melakukannya."

Setelah beberapa menit Aleta sudah selesai mandi dan sudah memakai baju dengan dibantu Gendra. Gendra yang menepati janji untuk tidak melakukannya, membuat Aleta tersenyum dengan perlakuan Gendra yang sangat manis. Tak lupa juga Gendra mengobati luka pada lengan Aleta.

"Sekarang saya akan ajak kamu jalan jalan." Ajak Gendra sembari mengandeng tangan Aleta.

Gendra mengajak Aleta jalan jalan ke taman ,ia saat ini ingin menghabiskan waktunya dengan Aleta.

"Suka ngga jalan jalan disini hmm?"

"Suka kok kak, indah banget ,sejuk."

Aleta suka dengan tamannya ,karena ia merasa tenang disini dan dengan sikap Gendra yang manis dengannya Aleta merasa sangat nyaman.

Mereka berdua duduk di salah satu bangku ditaman itu. Dengan menikmati indahnya pemandangan disana.

"Mau es krim?" tawar Gendra pada Aleta.

"Boleh?" tanya Aleta ragu.

"Boleh sayang, sebentar ya tunggu disini."

Gendra beranjak pergi menuju ke temapt penjual eskrim. Ia lalu kembali ke tempat duduk dengan Membawa dua buah eskrim di genggamannya.

"Mau coklat atau vanila?"

"Aleta mau yang coklat."

"Ini untuk kamu sayang.."

Aleta merasa bahagia ya walaupun Aleta masih binggung dengan tingkah Gendra yang sering berubah-ubah,kadang ia bersikap baik kadang juga dia berubah sikap menjadi kasar. Tapi hari ini Aleta seperti menjadi wanita paling beruntung karena bisa merasa tenang dan nyaman didekat Gendra.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!